Sasha Pradana duduk di kursi tunggu di lantai dua puluh delapan gedung Treasury Tower, mencoba tidak meremas-remas tisu di tangannya jadi serpihan kecil yang akan membuat malu di lantai marmer.
Ini wawancara ketiga belas bulan ini.
Tiga belas. Sasha sudah menghitung dua minggu lalu. Empat di startup yang tidak dia mau (mereka juga tidak mau dia). Lima di perusahaan menengah yang ternyata salary-nya jauh di bawah ekspektasi. Tiga di posisi yang Sasha tahu dia overqualified. Dan satu — wawancara nomor tujuh — yang berakhir dengan HRD pria yang tatapan matanya membuat Sasha keluar lima menit setelah wawancara dimulai, tanpa pamit, tanpa kembali.
Yang ini, nomor tiga belas, terasa berbeda. Bukan karena dia yakin akan diterima. Justru sebaliknya — Sasha cukup yakin tidak akan diterima. Tapi kalau pun ditolak, setidaknya bukan ditolak oleh pemilik mata yang merayap.
Dia di-PHK dari startup tempat dia kerja delapan bulan lalu — startup logistik bernama E-Logiq yang kolaps karena founder-nya ketahuan pakai uang investor untuk Lambo abu-abu yang dia parkir di basement kantor. Sejak itu, kontrakan di Tebet menumpuk dua bulan, tabungan habis, dan ibunya di Magelang mulai bertanya — dengan nada yang Sasha kenal — kapan Sasha mau pulang.
Sasha tidak mau pulang. Pulang berarti menyerah. Pulang berarti Magelang, dengan tetangga yang akan bertanya kapan menikah, dengan ibunya yang akan menjodohkan dia dengan anak teman arisan, dengan kamar tidur yang sudah tidak terasa miliknya sejak dia umur tujuh belas.
Sasha mau kerja. Di Jakarta. Bahkan kalau itu berarti menahan napas di kursi tunggu sambil menunggu wawancara nomor tiga belas dari CEO yang internet bilang "dingin", "perfeksionis", "tidak bisa dikerjasamakan".
Resepsionis — perempuan berhijab dengan papan nama "Mira" yang Sasha sempat pikir lucu karena nama yang sama dengan sahabatnya di kuliah — mengangkat kepala dari layarnya.
"Mbak Sasha. Pak Aldric siap menerima Anda."
Sasha berdiri. Menarik napas. Sekali, dalam, seperti yang dia latih dari video YouTube tentang interview anxiety. Memasuki ruangan yang Mbak Mira tunjukkan.
Ruang kerja itu... sederhana. Tidak seperti yang Sasha bayangkan untuk CEO startup unicorn dengan valuation lima ratus juta dolar yang dia baca di TechCrunch tadi pagi sambil sarapan roti tawar dengan Nutella sisa dari hari ulang tahunnya. Meja kayu jati besar, tapi tidak mengkilap. Dua kursi tamu dari kulit cokelat tua. Satu rak buku — penuh, kebanyakan filsafat dan sejarah, beberapa biografi, beberapa buku tebal tentang sistem distribusi yang Sasha tidak mengerti judulnya.
Tidak ada foto keluarga. Tidak ada piala di rak. Tidak ada gambar motivasi di dinding seperti yang biasanya dia lihat di kantor CEO startup di Indonesia.
Pria yang duduk di balik meja berdiri saat Sasha masuk.
Tinggi. Mungkin satu delapan puluh lima. Rambut hitam disisir rapi tapi tidak gel berlebihan. Kaos polo abu-abu — bukan jas. Mata coklat tua, dalam, sedikit melelahkan untuk ditatap balik. Wajah yang Sasha akui tampan—wajah yang akan kelihatan luar biasa kalau dia tersenyum.
Tapi dia tidak tersenyum.
"Sasha Pradana?"
"Iya, Pak."
"Aldric. Tidak perlu Pak."
Suaranya rendah. Tenang. Profesional dalam cara yang tidak menjarakkan tapi juga tidak membuka.
"Iya, Pak— Aldric."
Aldric duduk. Sasha duduk di kursi tamu. Aldric menatap CV Sasha di tangan kirinya selama tiga detik—Sasha menghitung—lalu menatap Sasha.
"CV Anda — Anda dari startup E-Logiq. Yang bangkrut. Anda... tahu founder-nya pakai uang investor untuk barang pribadi?"
Sasha mengangguk. "Saya tahu setelah event tutup, Mas Aldric. Tepatnya empat hari setelah pengumuman PHK."
"Apakah Anda terlibat?"
"Tidak. Saya bagian operasional. Saya tahu setelah investigasi BPK keluar di koran online."
Aldric mengangguk pelan. Tidak ada ekspresi.
"Posisi yang Anda lamar — sekretaris eksekutif saya. Tugas: mengelola jadwal saya, koordinasi dengan tim sembilan direktur, screening tamu, menjaga rahasia perusahaan, sesekali menulis draft email strategis untuk saya review. Sembilan hingga delapan, lima hari seminggu, sering kali enam. Gaji tujuh juta lima ratus ribu rupiah, plus bonus tahunan yang tergantung performa Vegasta."
Sasha menelan ludah. Tujuh juta lima. Lebih dari yang dia dapat di E-Logiq, walaupun jam kerjanya brutal.
"Mas— Aldric. Saya bisa."
"Mbak Sasha. Sebelum Anda bilang iya, saya wajib jujur: empat sekretaris saya yang sebelumnya mengundurkan diri dalam dua minggu sampai dua bulan. Karena saya... sulit untuk dikerjasamakan. Itu kata mereka di exit interview. Saya tidak protes."
Sasha menatap Aldric. Hidup yang sudah cukup keras dalam delapan bulan terakhir membuatnya tidak takut lagi pada CEO yang menjual diri sendiri seperti ini.
"Sulit bagaimana?"
"Saya tidak basa-basi. Saya tidak suka kesalahan. Saya tidak merayakan ulang tahun. Saya bekerja tujuh hari seminggu kecuali tahun baru. Saya tidak akan mengingat nama anak Anda kalau Anda punya. Saya akan kasar tanpa sadar kalau saya sedang stress, dan saya stress di mayoritas hari kerja."
Sasha tertawa kecil. Tidak bisa menahan. Suaranya terlalu keras untuk ruangan yang sunyi, dan dia langsung sadar—setengah panik—bahwa ini mungkin akhir dari wawancara.
Tapi dia tetap bilang:
"Mas Aldric. Anda... menjual diri Anda dengan sangat buruk."
Aldric mengangkat alis. Pertama kalinya ekspresinya berubah dari netral.
"Maaf?"
"Anda menjual diri sendiri seperti deskripsi produk yang tidak laku di Tokopedia. 'Beli ini meskipun ada cacat A, B, dan C—dan kalau Anda komplain, salah Anda sendiri.' Itu cara salah berwawancara dengan kandidat, Mas Aldric."
Aldric menatap Sasha lama. Lebih dari lima detik. Sasha mempersiapkan diri untuk diusir.
Lalu — untuk pertama kalinya hari itu — sudut bibir Aldric bergerak. Bukan senyum. Tapi sesuatu yang lebih dari netral.
"Mbak Sasha. Anda kalau saya terima, mungkin akan bertahan."
"Saya bertahan."
"Mulai Senin?"
"Senin, Mas."
Aldric menutup CV Sasha. Mengangguk. "Selamat datang di Vegasta."