Sekuntum Janji
Bab 1. Gadis Cupu
Seorang gadis berkuncir dua dengan kacamata tebal melangkah cepat dengan sedikit berlari. Dengan nafas yang terus memburu ia memegang tali tas ranselnya agar dapat berlari sedikit kencang. Ini bukan kali pertama seorang Rashila harus datang terlambat ke sekolah.
Bunyi sepatu dari derap langkahnya yang begitu cepat dari kaki jenjang Rashila tak luput menjadi perhatian puluhan mata yang mendengarnya. Namun hanya cibiran dan hinaan yang selalu ia dapatkan. Tapi tak sedikitpun membuat Rashila menjadi down atau malu. Ia langsung mengetuk pintu kelas, dengan nafas yang tersengal ketika guru matematika sudah hendak menutupnya.
"Selamat pagi Pak?!"
Serunya dengan nafas yang sudah diujung tenggorokannya. Lelaki dengan kepala yang ditumbuhi sedikit sekali rambut itu menoleh, membetulkan letak kacamatanya lalu menghela nafasnya berat.
"Rashila, cepat masuk?!"
Tegasnya.
Rashila segera menunduk dan melangkah dengan cepat mengambil bangkunya yang berada di urutan paling belakang. Tak ada satupun yang membuka suara ketika Rashila hadir. Karena tepat sang killer teacher yang sedang berada di ruangan kelasnya kini. Bagi Rashila, kehadiran sang guru adalah penyelamat untuknya.
Karena biasanya, kehadirannya selalu mendapat sambutan lemparan sampah dan paduan suara yang menyoraki keterlambatannya. Belum lagi ia harus segera memunguti satu demi satu sampah yang menghujaninya dan membuat ruang kelas menjadi kotor.
Sepasang mata yang selama ini selalu memperhatikan Rashila menatapnya dengan sorot tajam dari kejauhan. Dialah Arlandika, sosok ganteng dan tampan yang selama ini selalu tebar pesona dengan semua cewek-cewek di sekolahannya. Dia yang pernah tak sengaja melihat sosok asli dari Rashila yang begitu cantik dan anggun menjadi sangat penasaran dengan gadis cupu itu.
Satu bulan yang lalu, Arlan sedang berjalan-jalan menghilangkan penat sepulang sekolah ke sebuah cafe di sudut Kota. Dia yang sudah mengenakan pakaian bebas terlihat lebih dewasa dan semakin berwibawa. Dia duduk di meja paling pojok yang bisa melihat semua sudut ruangan termasuk pintu masuk.
Matanya memicing kala melihat sosok Rashila yang masih lengkap dengan pakaian sekolahnya. Tas ransel besar yang selalu melekat di punggungnya. Kacamata tebal dengan rambut ikal coklat yang selalu terikat dua menjuntai. Meski tak terlihat kusut atau kusam dari rambut Rashila, namun penampilannya sungguh terlihat sangat cupu dan kampungan.
Arlandika memperhatikan dengan seksama semua hal yang dilakukan Rashila dari kejauhan. Dan sang gadis tak menyadari jika dirinya sedang di perhatikan sepasang mata liar agak jauh dari tempat duduknya. Rashila melepas tas ranselnya, lalu seorang pria dengan sopan dan hormat meraihnya dan menggendongnya. Lalu kacamata tebal yang membuat gadis itu terlihat sangat polos dan cupu terlepas dari wajah putih mulus dengan mata yang berbinar. Terlihat Rashila menghela nafasnya, lalu meraih tisu dan mengusap wajahnya perlahan menggunakan tisu.
Arlan tak berkedip, sungguh sangat jauh berbeda dengan Rashila yang setiap hari ia lihat di sekolah. Belum selesai, Rashila melepas ikatan rambutnya dan membiarkannya tergerai indah. Lalu ada seorang wanita yang berdiri di belakangnya dan merapikan tatanan rambut Rashila menjadi sangat indah.
Arlan semakin tak terkesiap, kala Rashila membuka satu persatu kancing seragamnya. Kini ia hanya mengenakan kaos polos putih yang menampakkan lekuk tubuh indahnya. Sang wanita yang berdiri di belakangnya langsung menerima seragam Rashila dan meletakkan ke dalam paper bag. Dan menyerahkan sebuah cardigan berwarna baby peach. Dengan gemulai Rashila mengenakannya, lalu ia berdiri.
Dan wanita itu membuka kancing androk Rashila yang menutupi hingga betisnya. Dan tinggallah kini celana jeans yang tertinggal menempel di bagian pinggang hingga kaki jenjang Rashila. Lekuk tubuh yang sangat sempurna bagi Arlan yang kini menelan salivanya berat. Saat melihat Rashila mulai berjalan gemulai menuju sebuah mobil berwarna putih diikuti dua orang yang membantunya melepaskan semua atribut sekolahnya.
Rashila hilang dari pandangannya dan menyisakan puluhan tanda tanya yang menjejal di dalam isi kepalanya. Siapa sebetulnya Rashila, kenapa penampilannya begitu berbeda.
Hingga hari berganti dan berlalu, sosok Rashila masih terus membayang di dalam isi kepala pemuda itu. Ia masih mengingat wajah cantik yang membuatnya sungguh terpesona. Dan hari ini, ia berniat untuk menemuinya di sekolah.
Bel istirahat berbunyi, semua berhamburan keluar kelas. Kecuali Rashila, gadis berkacamata tebal itu menghela nafasnya panjang. Lalu menyandarkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Huft, aku lelah."
Gumamnya lirih, terdengar olehnya derap langkah perlahan yang mendekati bangkunya. Gegas ia membetulkan letak duduknya, dan melihat siapa yang datang. Sosok idola tampan Arlandika. Rashila membetulkan letak kacamatanya.
Menatap dengan cermat, pemuda yang sedang melangkah santai mendekatinya. Jantung gadis itu tiba-tiba berdetak tak beraturan. Kekuatan getarannya melebihi genderang perang. Nafasnya terlihat naik turun ketika pemuda itu kian dekat dengannya.
Rashila menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ketika Pemuda itu tiba-tiba duduk di mejanya. Rashila menarik tangannya dari atas meja, lalu menundukkan kepalanya.
"Rashila Diandra."
Ucapnya, dan berhasil membuat gadis berkuncir dua itu mengangkat kepalanya perlahan dan menatap pemuda itu. Lalu lengkungan indah tampak terulas dari wajah pemuda yang menyebut namanya dengan lengkap.
"Arlandika."
Ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya ke arah Rashilha. Namun gadis itu kembali tertunduk dan meremas-remas jemarinya sendiri.
"Iya, sudah tahu. Kita kan satu kelas, aku hafal semua nama teman-temanku di kelas ini."
Balas Rashila dengan suara yang terdengar gemetar. Arlan menyeringai, lalu meraih dagu gadis itu. Namun dengan cepat Rashila menepisnya, bahkan dengan sangat kuat. Arlan terkejut mendapatkan reaksi gadis yang terlihat cupu itu.
"Auw. Biasa saja geh nepisnya, sakit tau."
Cetus Arlan yang merasa pergelangan tangannya sangat sakit akibat tepisan tangan Rashila. Gadis itu menatapnya tajam, dengan nafas yang terlihat memburu.
"Jangan menggangguku, pergilah!"
Seru Rashila dengan tatapan yang begitu sinis. Membuat Arlan semakin penasaran dengan gadis itu. Baru kali ini ia ditolak oleh wanita. Pesonanya selalu menjadi sorotan, bahkan ada yang rela menjadi kekasih gelap hanya demi dekat dengannya.
Tapi Rashila, justru menepis sentuhan lembutnya. Arlan menyeringai mendengar ucapan gadis itu. Lalu tangannya meraih wajah gadis itu, namun lagi. Tangan Rashila lebih cepat menarik tangan Arlan, lalu memelintirnya dengan kuat.
"Auw! Lepaskan!"
Teriak Arlan, namun Rashila semakin menguatkan pelintirannya. Dan membuat pemuda itu sampai membungkukkan tubuhnya menahan sakit di tangannya. Dengan suara gigi yang bergemeretak, Rashila terus memelintir tangan pemuda itu.
"Jangan menggangguku! Kau dengar itu!"
Seru Rashila lagi, Arlan mengangguk dengan wajah meringis menahan sakit.
"Iya iya iya! Aku akan pergi, lepaskan tanganku!"
Teriak Arlan lebih kencang saat Rashila memelintir dengan kuat lagi tangan pemuda itu. Arlan sampai harus menghentakkan kakinya mendapatkan perlakuan dari sang gadis. Rashila melepaskannya, lalu menatap wajah pemuda yang memegangi pergelangan tangannya dengan wajah memerah dan bibir merintih.
Ia segera berlalu dari hadapan Rashila, dan berhenti di balik pintu. Dadanya bergemuruh, nafasnya tak beraturan. Ia semakin terpancing untuk mengenal lebih jauh siapa gadis yang bernama Rashila itu.
Ia mengintip dari balik pintu, dan terlihat Rashila yang masih menatapnya dengan sorotan tajam. Dan kali ini Rashila menunjukkan kepalan tinjunya. Arlan segera berlari dengan kencang tak memperhatikan arahnya lagi.
"Siapa dia sebenarnya?" Gumamnya dengan terus berlari, ia menatap ke belakang untuk memastikan gadis itu tak mengejarnya. Dan tiba-tiba ia merasakan semuanya gelap.
❤️ B E R S A M B U N G ❤️