YaAllah, apakah aku bermimpi?
Ketika mendengar ucapan Mas Hadi, seolah duniaku berhenti berputar, kedua kakiku lemas, hancur sudah rumah tangga yang selalu aku jaga. Aku dan Mas Hadi memang menikah karena perjodohan, Tapi setelah membina rumah tangga. Kami berdua sepakat untuk sama-sama membuka hati dan diri, mencoba menerima takdir kami saat itu.
Mas Hadi yang aku tau memang pernah punya pacar saat akan dijodohkan denganku, Tapi Ibu mertuaku bilang bahwa mereka sudah lama putus bahkan sebelum kami menikah. Jadi kupikir, aku tidak akan pernah berurusan dengan masalalu nya. Dan juga, saat itu aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Num, antarkan Ria kekamar tamu"
Lamunanku buyar, aku sempat menatap wajahnya Mas Hadi sebelum dia beranjak pergi menyisakan aku dengan Maduku. Bolehkah aku menyebutnya seperti itu?
Sebelum Mas Hadi pergi, aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Hanya datar, seolah bahkan dia tidak pernah menyesal sama sekali dengan membawa wanita lain kedalam rumah tangga kami.
"Kenapa diam? Budek ya?, Mas Hadi bilang tunjukkan kamar tamu untukku! Aku lelah hari ini. Ayo cepat!"
Aku melihat wanita itu sudah jalan lebih dulu, aku memang selalu patuh baik dan santun jika didepan suamiku. Tapi jika ini hanya wanita tidak tahu diri yang datang untuk merusak rumah tanggaku, aku tentu tidak bisa diam.
Aku menarik tangannya dan membawa dia ke kamar di pojok dekat dapur karena hanya memang itu kamar yang tersisa. Sementara biarlah dia tidur dikamar khusus pembantu karena kamar tamu masih jadi gudang saat ini, biar nanti aku minta orang untuk membersihkannya.
"Ih apanih, Kok aku dikasih kamar pembantu?! Kasurnya juga keras. Aku gak mau!"
Melihat wanita yang cantik tapi berhati busuk ini menolak kamar yang telah kuberikan, jika aku tidak ingat bahwa dia wanita yang dibawa pulang suamiku mungkin aku bisa terima dengan lapang d**a bahwa tiap kalimat yang dia ucapkan dengan nada tinggi. Tapi karena dia hanya istri siri Mas Hadi, tentu jauh berbeda posisinya denganku.
Meski tangan gatal ingin menjambak rambut serta menamparnya, aku tetap tidak ingin tanganku kotor setelah menyentuh manusia yang tidak akan pernah menjadi salah satu Umat Rasulullah.
"Kalau kamu gak mau tidur disini, ada ruang tamu. Kamu bisa tidur di sofa kalau mau"
Kalimatku tenang, aku memang harus tenang bila menghadapi perempuan dengan mulut penuh racun ini agar tidak terpancing emosi dan melakukan tindakan yang bisa membuat rumah tanggaku semakin retak.
Aku tidak ingin menatapnya lebih lama, kulangkahkan kaki menuju lantai dua. Aku membuka pintu dan memasuki kamar kami, Kamarku dengan Mas Hadi.
Tadi aku sempat mendengar wanita itu misuh-misuh dibawah dan berkata bahwa tidak lama lagi Mas Hadi akan mendepakku dari rumah ini.
Oh tidak bisa, tidak semudah itu ferguso. Mas Hadi tidak akan mungkin menelantarkan anaknya.
Kenapa aku bisa seyakin itu?, Karena memang Mas Hadi sangat menginginkan anak. Dulu saat pernikahan kami baru akan memasuki tiga bulan, Mas Hadi malah langsung menyuruhku promil. Dia juga melakukan hal yang sama, Kami sama-sama mengikuti saran dokter saat itu. Ketika tau bahwa aku mengandung, Mas Hadi tidak pernah membiarkan aku membersihkan rumah, Sampai ibu mertuaku geleng-geleng kepala karena tingkahnya saat itu.
Seandainya kamu mengatakan apa kurang dariku, mungkin aku akan merubah diriku seperti yang kamu mau. Bukan dengan cara mengambil wanita lain dengan menjadikannya istri sirimu. Sebab, apa yang ada di dirinya juga ada padaku Mas.
Ketika menutup pintu kamar, aku melihat Mas Hadi baru selesai membersihkan dirinya. Aku ingin bertanya tapi dia sudah lebih dulu merebahkan diri dan menutup mata menggunakan lengannya. Aku mungkin bisa bersabar jika saat ini pertanyaan yang akan keluar bukan menyangkut rumah tangga kami.
Aku menyingkap tangan yang menutupi wajahnya, Mas Hadi membuka matanya dan menatapku bingung. Entahlah, Ranum Ayunda yang dulu menjadi istrinya telah berubah. Ranum yang dulu tidak pernah membuat suaminya tertekan bahkan jika suaminya mengatakan kata-kata kasar penuh cacian yang dilontarkan semata-mata karena lelah bekerja, Ranum tidak pernah mengambil hati.
Kini Ranum bahkan berani mengganggu tidur suaminya, berarti memang sudah tidak bisa ditunda.
"Mas, Mbak Ria itu siapa?, kenapa kamu bawa dia kerumah kami?" Memang aku memanggilnya mbak karena perkiraanku selisih umurku dengannya sekitar lima tahun, Sementara aku dan suamiku selisih delapan tahun.
Saat menikah dengan Mas Hadi aku baru berusia dua puluh tahun dan Mas Hadi yang sudah berusia dua puluh delapan tahun tidak serta merta membuatku mundur, justru karena Mas Hadi lebih tua dariku aku berpikir dia akan lebih bisa membimbingku menuju Jannah. Tapi ternyata, angka hanyalah angka. Sebab ada seseorang yang usianya bahkan lebih muda yang mempunyai pikiran lebih dewasa.
"Besok saja Num, Aku capek hari ini" Ucapannya kali ini membuatku mengerutkan alis lebih dalam, sambil menahan gemuruh didada aku menormalkan suaraku. Aku tidak pernah meninggikan suara ketika berbicara dengan Mas Hadi, meskipun Mas Hadi adalah tipe pria yang keras kepala. Aku yang akan mendinginkan hatinya dengan bersuara lebih lembut.
Kini aku tidak bisa bersikap seolah-olah yang masuk kedalam rumah kami adalah kerabat kami, Dia itu pelakor!
"Gak bisa Mas, Aku tetap mau dengar sekarang"
Mungkin karena melihatku tetap pada pendirianku, Mas Hadi hanya bisa menghela napas dan mencoba menjelaskan dari awal.
Setelah Mas Hadi menceritakan awal kejadian nya, kusimpulkan bahwa Mas Hadi dan Mbak Ria adalah mantan kekasih. Mbak Ria masih menunggu Mas Hadi, dia menginginkan Mas Hadi agar menjadi suaminya. Dia bilang tidak apa-apa jika hanya jadi istri kedua.
Hih, murahan sekali kamu mbak! Bahkan cabai lebih mahal daripada kamu. Cabai dibeli dulu baru dipakai untuk bumbu sementara kamu melemparkan dirimu sendiri tanpa dibayar!
Selanjutnya aku mendengar bahwa ketika ada pertemuan antara rekan bisnis, Mas Hadi kembali bertemu dengan Mbak Ria. Mbak Ria yang melihat Mas Hadi tentu senang bukan kepayang, Saat seperti itu dia mencampurkan obat kedalam minuman yang akan Mas Hadi minum. Namun nahas, Mas Hadi yang sudah merasa curiga malah memberikan minuman itu kesalah satu temannya. Dan Mbak Ria akhirnya ketahuan.
Mbak Ria mengakui kesalahannya dan meminta maaf, memang dasar suamiku ini pemaaf dia langsung saja memaafkan wanita berhati belatung itu.
Sampai berbulan-bulan sudah mereka dekat kembali, Mas Hadi yang mungkin merasakan percikan cinta kembali kepada mereka berdua menerima ajakan Mbak Ria untuk bertemu di King Hotel. Karena Mas Hadi sudah menaruh kepercayaan yang begitu tinggi kepada Mbak Ria. Mas Hadi tidak mengantisipasi bahwa kejadian itu akan menjadi boomerang untuknya.
Mbak Ria yang melihat kedatangan Mas Hadi senang dan menyuruhnya masuk kedalam, mereka ngobrol sambil minum dan makan camilan yang disiapkannya. Sampai tiba-tiba Mbak Ria merasakan kepanasan, membuka seluruh bajunya dihadapan Mas Hadi yang sudah tidak mendapatkan jatah selama hampir satu minggu seketika membuat dia khilaf.
Ketika Mas Hadi menceritakan dengan detail apa yang mereka lakukan saat itu, tak terasa. Air mataku jatuh berhamburan mengaliri pipi mulusku yang selalu kujaga dengan berbagai perawatan demi memuaskan hati suamiku. YaAllah, aku tidak sanggup mendengarnya lagi.
"Maaf Num, Mas sama Ria bukan cuma melakukan sekali. Kami sudah sering ketemu, Dan Maaf sekali lagi Num. Ria sekarang sedang hamil anakku"
Tidak ada angin ataupun hujan, aku mendengar petir menggelegar didalam otakku saat ini, Aku limbung hampir terjatuh jika saja aku tidak memegang meja rias disebelahku.
"YaAllah Mas, memang apa kurangnya aku Mas?, kenapa ketika kamu melihat Mbak Ria saat itu kamu tidak buru-buru pulang kerumah dan menemuiku! Kalau kamu ingin aku berpakaian seperti Mbak Ria hanya untuk menyenangkan kamu aku, sanggup Mas!"
Melihat Mas Hadi ingin meraihku kedalam pelukannya, aku mundur. Lekas kutolak tangannya yang ingin menggapai tanganku, meskipun aku melihat penyesalan di matanya saat ini. Aku tetap tidak bisa menerima alasannya lagi, jika hanya sekali. Mungkin aku maklum, tapi jika sampai membuahkan hasil seperti ini dan bukan cuma sekali aku tidak bisa mentolerir kekhilafannya.
Aku keluar dari kamar kami, lantas aku masuk kedalam kamar anak kami Radit. Semenjak Radit berusia empat tahun aku sepakat dengan Mas Hadi untuk membiasakan dia tidur sendiri, karena kadang kala Mas Hadi tidak tau tempat jika ingin melakukan hubungan.
Kini aku lega, jika saja Radit masih satu kamar dengan kami. Tentu aku tidak bisa memiliki alasan untuk tidak berada didekatnya.