Semakin hari hubungan Alan dan Selda semakin kuat, namun belum ada kepastian dari Alan sampai saat ini tentang hubungan mereka.
"eh b***h!" panggil seorang wanita kearah Selda, ya wanita itu adalah Vanessa.
"kenapa?" tanya Selda selembut mungkin.
"kasih tau nyokap lo itu BAYAR HUTANG!" Selda kebingungan mendengar perkataan Vanessa.
"hutang?"
Vanessa terkekeh pelan "GUYS LIAT NI, MASA NYOKAP NYA DIA PUNYA HUTANG SAMA ORTU GUE! DAN DIA GAK TAU MALU BANGET DIDEPAN KELUARGA GUE!" ucapan Vanessa yang cukup nyaring itu mengundang para murid untuk menyaksikannya.
Selda menggelengkan kepalanya agar para murid tak mempercayai ucapan Vanessa "lo masih mau ngelak Sel? Lo yang pura-pura gak tau atau lo gak dikasih tau nyokap lo itu?"
"sebenarnya apa yang bunda sembunyikan?"
Vanessa maju lebih mendekat kearah Selda. Ia mengangkat dagu Selda yang menunduk "puas banget gue bisa bikin malu lo! Hahaha!"
Selda berusaha kuat, ia tak ingin terlihat lemah didepan para murid, jangan sampai air matanya keluar.
"KENAPA LO? MAU NANGIS? NANGIS CEPAT GUE MAKIN SENENG KALAU LIAT AIR MATA LO!" Selda tak sanggup lagi, air mata Selda sudah mengalir di pipi mulusnya.
"CUKUP!"
Sontak seluruh murid menengok kearah sumber suara
"hay Alan sayang" ucap Vanessa yang sudah bermanja-manja di lengan Alan dan ditepis keras oleh Alan.
Alan langsung menghampiri Selda yang sudah menangis terisak-isak "gue heran sama lo Van, lo gak ada capeknya ya ngurusin hidupnya Selda, sedangkan Selda gak pernah ngurusin hidup lo" ucapnya lalu memeluk badan Selda.
"gue gak bakal ganggu dia kalau dia gak punya HUTANG!"
Alan menatap kearah Selda berusaha meminta penjelasan dari Selda "gue gak tau apa-apa Lan sumpah, nyokap gue gak pernah cerita sama gue" Alan mengelus rambut Selda berusaha menenangkannya.
"ke kelas ya, gue anter" ucap Alan sepelan mungkin.
Selda mengangguk pelan.
"JANGAN LUPA YA HUTANGNYA HAHAHAHA"
Sesampainya dikelas, Vita yang tadinya sibuk dengan novelnya pun menengok kearah Selda dan Alan yang baru datang.
"Sel liat deh ceritanya bikin ba--" Vita menatap Selda dengan tatapan bingung "Sel? Lo nangis? Lo kenapa? Bilang sama gue siapa yang bikin lo kayak gini!"
Vita menatap kearah Alan yang berada disamping Selda "pasti lo kan yang ganggu sahabat gue! Ngaku gak lo!"
"sok tau lo, dia tadi--"
"udah gak usah dijelasin, nanti biar gue yang cerita langsung ke Vita, lo balik ke kelas aja" Selda memotong pembicaraan Alan.
Alan pun mengangguk pasrah dan mengusap pelan rambut Selda lalu beranjak pergi dari kelas Selda.
"jadi sebenarnya kenapa Sel? Gue sibuk baca novel tadi makanya gue gak denger berita apapun"
Selda mulai menceritakan semuanya sejelas mungkin.
"what? Emangnya keluarga lo punya hutang sama keluarga Vanessa?"
Selda menggeleng pelan "gue gak tau, bunda gak ada cerita ke gue"
Vita mengusap pundak Selda pelan "sabar ya, gue pasti bantu cari jalan keluarnya"
Selda tersenyum hangat kearah sahabatnya itu "makasih Vit" ucapnya lalu memeluk Vita.
Vita pun membalas pelukan Selda "apa gunanya sahabat kalau bukan saling membantu? Haha" ucapnya.
Sungguh Selda beruntung mendapatkan sahabat sebaik dan sesabar Vita "Vit, kayaknya gue tau"
"tau apa?"
"buku paket"
"buku paket yang mahal itu? Kenapa? Lo kan udah ada"
"iya, apa jangan-jangan bunda gue minjam duit ke--"
"huss, gak boleh ngomong sembarangan kalau belum ada bukti"
Selda menghembuskan nafasnya, ada benarnya juga perkataan sahabatnya ini "bener juga sih"
"yaudah, coba lo lupain dulu masalah lo ini sejenak, relax oke? Anggap lo seharian ini gak ada masalah apapun"
Selda berusaha mengikuti perkataan Vita. "nah mending kita bahas oppa oppa korea" sambung Vita.
"ajarin gue suka sama oppa dong, gimana sih?"
"hmmm gue akan bantu, kita mulai dari yang mudah dulu"
Selda mengangguk semangat, semoga dengan ini ia bisa melupakan masalahnya "oke oke, mana coba gw mau liat foto oppa oppa itu"
Vita membuka aplikasi galeri yang ada di hp nya, dan Waw ternyata isinya foto korea semua "nah kalau ini namanya jungkook yang sering lo sebut" ucapnya sambil memperlihatkan foto jungkook.
"ternyata ini toh orangnya yang sering gue sebut"
Vita tertawa kecil "haha, lo sih taunya nyebut doang tapi kagak tau mukanya"
"next, ini namanya Taehyung mantan suami gue" Vita menunjukkan foto Taehyung kepada Selda.
"jadi ini yang sering digosipin sama si Tina"
Tina itu teman sekelas Selda, nah Tina itu tiap hari ngegosipin si Taehyung sama teman sebangkunya si Airin.
"next oke, ini Kang Daniel pacar gue" ujar Vita dengan pedenya.
"harus pake Kang ya? Emang dia orang Indonesia gitu manggilnya pake Kang segala?" protes Selda.
"bukan, itu tuh marganya, kalau gue nikah sama dia kan otomatis nama gue jadi Kang Avita Macayla, unch keren banget dah"
"gak berubah jadi Neng? Lo kan cewek" protesnya lagi.
"tau ah, nah itu tuh kakak gue namanya Ong"
"widih beneran ni kakak lu? Kok gak pernah cerita"
"lu percaya amat sih sama gue, ya gak lah"
"tapi mukanya kok kayak blasteran Indo gitu" ucap Selda sambil terus memperhatikan foto Ong tersebut.
Vita memutar bola matanya "ya mana gue tau"
"nah ini dia nih, si muda berbakat, namanya Guanlin, aduh gilasehh muda-muda berbakat" Vita menunjukkan foto Guanlin dari hp nya.
"oh ini yang lahir tahun 2001 itu kan?"
"kok tau?" Vita memincingkan matanya "lo stalker nya Guanlin ya?"
"gak lah, gue mah pernah denger doang"
"oke, ini si imut Jihoon"
"mana mana" Selda merebut hp Vita "gila kok imut banget sih, cocok nih sama gue, gue kan imut mwehehehe"
"jadi jungkook apa jihoon?"
"dua duanya"
"serah deh asal jangan bebeb Minhyun gue"
"percuma lo nyebut si mihun mihun itu ke gue, gue aja kagak tau orangnya yang mana" balasnya dengan watados nya.
"MINHYUN BUKAN MIHUN!"
Selda nyengir memperlihatkan giginya "ya maaf, mulut gue suka typo kalau bicara"
"bisa gitu emang?"
"bisa dong"
Vita sedikit lega karena ia bisa membantu Selda untuk melupakan sejenak masalahnya.
"gue gak bakal biarin lo sedih Sel"