07.perjodohan
tiba kami memasuki sebuah mansion terdapat banyak pelayan yang berkeliling dan saat kami masuk semua aktivitas berhenti dan semua orang menunduk pada kami.kami terus berjalan aku menatapnya tajam dan berusaha melepaskan tangannya dari tanganku.
"woi bisu ya lu gua kan bilang lu tuh.."
"AW sakit anjir." dia menggenggam tangan ku dengan erat hingga membuatku merasa kesakitan. aku memukul tanganya hingga membuat dia melepaskan tangannya tetapi merangkul bahuku.
"Bawel banget." kekehnya.
mataku melototi ya.
"gua bingung Lo maunya apasih gak capek apa tarik tarik tangan orang sembarangan. mana main culik gua gitu aja lagi." dia tertawa Pelan dan mengusap kepalaku lembut.
lalu Darega menarik tanganku untuk memasuki sebuah ruangan dimana itu adalah ruang makan. terlihat beberapa orang sudah berkumpul disana. aku sangat terkejut melihat orang orang itu adalah sebagian dari keluargaku.
"tuan Puteri Ana sudah puaskah mengomeli calon suamimu." kata Rafka aku menatapnya terkejut. bukan tidak tahu tapi bagaimana dia ada disini. tadi aku hanya melihat ada ayah dan Bang Ragas. ah benar ada Naishila sudah pasti ada Rafka. mensandiwara menjadi kakaku Zeen. dasar manusia Drama.
"kau menjauhiku karena takut padaku... lihatlah bahkan calon suamimu itu pembunuh Ana." ucap Rafka berbisik sambil menatap Darega. apa maksudnya dengan calon suami.
"jangan berbicara omong kosong mengenalnya saja aku tidak."ucapku Cuek.
"kita lihat dalam beberapa menit lagi."
kulihat wajah Darega lalu beralih pada wajah Rafka. apa yang terjadi apa mereka saling mengenal? jangan jangan mereka bekerja sama untuk..? oh astaga jadi pria pria tadi adalah suruhan Rafka dan Rafka menyuruh Darega menyelamatkanku untuk kemudian Darega culik dan dia bunuh. oh astaga Rafka memang benar benar kejamm. yaampun dia itu.
tuk
Rafka memukul kepalaku sedikit keras. aku menatapnya tajam.
"jangan berpikir macam macam aku tidak serendahan seperti apa yang kau pikirkan."
sialan dia mulai so tau.
"biar kutebak tuan Puteri Ana kau pasti berpikir macam macam."ucapannya itu langsung mendapat pukulan dari Naishila.
"jangan menjailinya Zeen." ucap Naishila yang kemudian mulai membantu pelayan menyiapkan makanan. Rafka hanya menyengir dan aku langsung tertawa tetapi tawaku terhenti saat mendapati tatapan tidak mengenakan darinya.
Aku langsung berlari Rafka mengejarku.
"Abangg jangan kejar aku. abangg tidakkk." aku terus berlari semua orang tertawa.
"huaaa bundaa..." teriakku membuat orang tertegun tanpa terkecuali Rafa.
"huaa ayah Abang mau bunuh aku."
semua orang kembali tertawa. Rafa langsung berdiri dari duduknya dan menghampiriku membuat Rafka langsung berhenti mengejarku.
aku yang melihat ayah langsung memeluknya.
"lihat Abang ayah dia nakal lagi. masa dia nyuruh manusia Kejam itu buat culik aku."
"terus sekarang dia mau bunuh aku."ucapku membuat semua orang tertawa terkecuali Darega yang menatapnya tajam.
"astaga pemikirannya ini."Rafka langsung mendekatiku yang membuatku menyembunyikan kepalaku didada Rafa. tetapi bukanya memukulku dia mengusap kepalaku. ya Rafka meskipun keras dan dingin tapi denganku dia akan menjadi Abang yang rusuh yang selalu membuatku tertawa sekaligus ketakutan. maka dari itu aku tidak pernah berani melawan apa yang dia mau.
dia orang kedua setelah kak Zeen yang membuatku tunduk. seorang wanita paruh baya dengan wajah yang manis dia mendekatiku. Rafa melepaskan pelukannya. aku menggenggam tangan ayahku. ya aku tidak biasa disuasana seperti ini. aku sering gugup.
"astaga nak kau sudah besar. kau tumbuh dengan sangat cantik."
"dia mirip pelita Ra."
"ya sangat mirip pelita..."
"tapi jika kau lebih menelisiknya lebih dalam dia sangat mirip dengan Rafa. lihatlah wajahnya yang kebingungan ekspresinya lalu lihatlah matanya sangat mirip Rafa."perpaduan sikap pelita yang ceria dan Rafa yang cuek dan jail.
"Aku melihatnya dengan Rafka..."
"seperti melihat Agra dan Rafa dulu."
semua orang terdiam. tapi semua orang seperti membenarkannya.
"sayang..."
"kamu sudah sangat besar."
"baby.."Darega merangkul ku dan mencium pipiku.
plak
"gak usah cium cium om saya masih prawan." ucapku menatapnya tajam. semua orang tertawa mendengarnya.
"kamu ingat dek. hari dimana Abang bawa kamu ke suatu acara formal perusahaan waktu kecil." ucap Ragas.
ya aku sangat ingat bagaimana acara itu adalah saat saat aku menunggu kedatangan abangku sendiri. dan aku sangat bahagia saat seorang lelaki yang menjadi asisten abangku mengatakan bahwa Abang akan mengajakku ke suatu acara aku sangat bahagia dan berdandan dengan cantik. tapi setelah abangku mengajakku ke suatu acara itu dia meninggalkan aku sendirian dan aku bertemu dengan seorang anak pembunuh. aku langsung bergidik.
"Abang jangan temuin aku sama anak nakal itu lagi."
semua orang yang tahu apa maksudku langsung menatap Darega. aku bertanya tanya kenapa mereka menatap Darega.
"dia sangat tampan bukan." ucap Rafka terkekeh.
"tampan apanya dia mengerikan beruntung saat itu aku bertemu Abang. kalo tidak dia pasti akan membunuhmu."
semua orang tidak kuasa menahannya dan mereka tertawa.
"bagaimana kalo anak itu yang akan menjadi suamimu."
"aku akan lari."
"kau tidak bisa lari dia akan menemukanmu dimanapun kamu berada." ucap Darega penuh penekanan.
"kalo gitu aku akan mengurungnya dulu untuk bisa lari." ucapku menantang.
dan dia semakin terkekeh.
"dia akan menarikmu untuk terkurung juga."
semua orang tersenyum.
"kamu akan dijodohkan dengan anak itu."
"dan dia ada di sampingmu nak." ucap Rafa.
"maksud ayah dia Darega..?"
semua orang mengangguk aku langsung memeluk Rafka.
"bang tolong aku selamatkan aku."
"gak bisa adikku tersayang karena adikku tercinta itu mencintaimu bahkan sejak pertemuan terakhir kalian."
"hiks tidak mungkin."
"bagaimana dengan ku dan Bumi."
"kalian beda agama ingat itu."
kami makan dengan tenang. dia terus menatapku dengan tatapan dinginya. dan aku terus menatapnya tajam.
Bumi bagaimana dengan kisah kita ini. apa benar kita tidak ditakdirkan bersama. sangat menyebalkan.
malam semakin malam acara makan malam pun telah usai dengan keputusan kami akan menikah dalam waktu bulan ini. hanya tinggal beberapa Minggu.
"bagaimana ini aku saja belum menemukan keberadaan Bumi."
"ada yang mengatakan dia beribadah."
"ada yang mengatakan dia mengurusi pekerjaan."
"kenapa.."ucap Rafka ikut duduk di sampingku sambil memasukkan kakinya kedalam air kolam.
"aku belum ketemu Bumi."
"Zeen maupun Ragas tidak akan menyukai kau bertemu dengannya."
"apa maksud Abang."
"terkadang orang terdekatmu adalah orang yang bisa membunuhmu kapan saja." Rafka menyentuh Air kolam yang dingin itu.
"bahaya akan kembali mengintaimu Ana.."
"karena itu pernikahan atau perjodohan kalian dipercepat."
"Darega mungkin orang yang sangat kejam dan kamu takut dengannya."
"tapi bagaimana jika selama ini dialah orang yang selalu melindungimu tanpa kau tau."
"pertemuan terakhir kalian membuat kau takut dengan ya tapi Darega malah tidak bisa jauh darimu."
"hati ini adalah hari yang selalu Darega tunggu."
"terkadang yang mencintaimu tidak tahu caranya menunjukkan cintanya."
"tapi dia akan selalu melindungimu