Semesta menggelengkan kepalanya, tapi mungkinkah sosok Aya di masa lalunya adalah Rain? Mata yang dimiliki Rain sama persis dengan mata kecil Aya yang cantik.
Membayangkan masa kecil mereka yang penuh tawa membuat Semesta tersenyum kecil kala mengingatnya, hingga satu alasan membuat dirinya harus meninggalkan gadis kecilnya, Aya.
Hingga satu bentakan dari gadis di sebelahnya membuat Semesta tersentak.
"Berisik!"
Berisik katanya? bahkan Semesta hanya melontarkan satu kalimat tentang mata Rain yang persis seseorang dan gadis itu sudah merasa terusik.
Jika Aya adalah Rain, kenapa gadis itu menjadi seseorang yang tak tersentuh? bahkan tak perduli pada sekitarnya lagi
Sedetik kemudian Semesta melihat gadis itu berlari keluar kelas dan Semesta hanya mendengus pelan.
***
Rain berlari keluar kantin ketika tau bahwa hujan kembali turun dengan deras, meninggalkan semangkuk bakso dan teh hangat yang baru ia pesan.
Karena hujan lebih penting, pikirnya
"Rain! jangan main hujan lagi!"
"Rain!"
Bahkan gadis itu menghiraukan teriakan khawatir dari kedua sahabatnya.
Dyra dan Alexa menghela nafas lelah.
Mereka tau Rain menyukai hujan, tapi disisi lain Rain selalu saja tumbang setelah menikmati hujan entah apa penyebabnya membuat mereka khawatir.
Teriakan Dyra dan Alexa juga mengundang tatapan mata lain menatap objek gadis yang sedang berlari keluar kantin dan menembus hujan, Semesta.
Semesta terus memperhatikan Rain yang asyik memejamkan matanya dibawah hujan, sampai tak sadar raganya menghampiri Rain dan berdiri di sebelah gadis itu, membiarkan tubuhnya basah oleh rintik hujan.
"Ck, gadis munafik!"
Rain membuka mata dan mendelik tajam
"Lo nggak tau apa-apa! Dan gue nggak suka diusik!"
Gadis itu memberi peringatan, sedangkan laki-laki di depannya hanya menatapnya tenang.
"Gue tau hanya dengan hujan lo nggak munafik karena seluruh tangisan akan mendapat kebebasan.
Rain Azalea, nama gue Semesta dan gue tau segalanya"
"Lo bukan Tuhan!" ucap Rain penuh penekanan, gadis itu menatap Semesta dengan tatapan permusuhan, Rain sungguh tidak suka di usik.
Semesta hanya tersenyum tipis lalu berkata dengan tenang
"Mata lo cantik Rain"
Rain terpaku, gadis itu seakan dejavu atas ucapan Semesta, spontan gadis itu menggeleng
Tidak mungkin, dia...
Rain hanya berdecak dan berniat meninggalkan Semesta
Sedetik setelah itu pandangannya menggelap dan tubuhnya luruh tepat di dekapan Semesta, dibawah guyuran hujan.
***
Rain melenguh pelan saat merasakan sedikit pening di kepalanya dan gadis itu tak asing lagi saat memfokuskan pandangannya dengan ruangan ini, UKS.
Lo nggak bosen apa Rain nempatin ruangan ini tiap hari?
Ia menertawakan dirinya sendiri yang terlalu lemah setelah bermain hujan.
Ck, kayak anak kecil lo!
umpatnya pada diri sendiri sembari tersenyum miris
Rain menyapu pandangan mencari kedua sahabatnya hingga ia kembali membeku saat bertemu pandang dengan tatapan Semesta.
Kenapa bisa dari tadi ia tidak sadar dengan keberadaan laki-laki itu?
Semesta mendekat ke arah Rain yang sedari tadi diam, sepertinya gadis itu tak perduli atas keberadaannya.
Semesta tersenyum dan mengusap kepala Rain dengan berani, tanpa perduli bagaimana nanti penolakan Rain.
"Hai Aya apa kabar?"
Rain merasa tubuhnya membeku, dan tanpa disadari setetes air mengalir dari matanya.
Semesta mendekapnya dalam pelukan erat, walau laki-laki itu merasakan Rain yang awalnya memberontak dan terus saja berucap lirih
"Gue benci lo Ata"
Setelah Semesta merasa gadis di dekapannya mulai tenang, ia melonggarkan pelukan.
Rain, gadis itu menatapnya tak lagi tajam, melainkan digantikan tatapan kecewa yang amat kentara.
"Maafin gue Aya, gue nggak bermaksud untuk-
"Lo nggak tau gimana bodohnya gue bertahun-tahun nunggu lo buat datang ke taman itu! lo nggak tau gue disana sendirian sampai tante gue berkali-kali nemuin gue pingsan karena ngelewatin makan siang hanya demi nunggu lo! gue nggak peduli sama keadaan tubuh gue sendiri demi gue bisa berharap ketemu lo!, main hujan sendirian di taman itu sampai sore berharap lo bakal datang dan nyatanya!? lo ngingkarin janji Ata! lo nggak pernah sekali datang nemuin gue setelah itu!"
Rain makin terisak seiring bahunya yang bergetar hebat, Semesta yang melihat itu berusaha mengusap bahu Rain, namun yang ia dapat tetaplah penolakan dari gadis itu.
Segitu bencinya kah lo sama gue Rain?
Mereka kembali saling diam, dengan Rain yang sudah mulai tenang dari tangisnya.
"Gue ngalamin mimpi buruk itu lagi Ata dan itu gara-gara lo! gue benci lo! gue benci lo ninggalin gue saat itu!gue benci!"
Semesta membeku, tak menyangka bahwa gadis di depannya sangat hancur karena kepergian dirinya.
Semesta sebenarnya tidak tau luka sehebat apa yang telah dialami gadis ini, ia hanya tau bahwa Rain terluka dan ia hanya ingin melindungi gadis itu dari traumanya.
Semesta yang menyadari awal pertemuan mereka, Rain adalah seorang gadis yang tertutup dan rapuh namun tak sedikitpun pernah menceritakan lukanya pada siapapun.
"Gue punya alasan waktu ninggalin lo Rain, gue-"
"Ya ampun Rain! udah gue bilang kan lo pasti pingsan-,ups!"
Semesta dan Rain sontak menoleh ke arah suara.
Alexa menutup mulutnya saat melihat Rain dan Semesta duduk berhadapan dengan jarak yang terlalu dekat.
"Ck! selalu aja kebiasaan!" Dyra menggerutu sedangkan Alexa hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alexa dan Dyra mendekati mereka, tatapan Alexa berubah tajam saat melihat Rain sahabatnya menangis di hadapan Semesta, bahkan ia saja tak pernah melihat Rain menangis selama ini, karena gadis itu begitu tertutup dan dingin bahkan kepadanya dan Dyra.
"Semesta lo apain sahabat gue sampai nangis kayak gini hah!?" Alexa menatap mata elang Semesta yang diam tak bergeming di tempatnya.
"Kenapa lo diam!?"
Semesta tak perduli atas kemarahan Alexa, ia tau dirinya bersalah.
Rain, gadis itu menangis karena dirinya.
Semesta menatap Rain dalam, gadis itu masih sesenggukan disisa tangisnya, Semesta berusaha menggenggam tangan Rain namun yang ia dapat tetap tepisan penolakan dari gadis itu.
"Gue mohon maafin gue Rain, percaya sama gue bahwa gue punya alasan kenapa ninggalin lo dulu, gue nggak punya pilihan lain-
" Pergi.."
ucap Rain lirih
Semesta menggelengkan kepalanya, ia tak mau menyerah, ia takut kehilangan gadis di depannya lagi
"Maafin gue Rain..maaf"
lirih Semesta
"Gue bilang pergi!"
Rain makin makin terisak, Semesta memilih menuruti perkataan Rain untuk meninggalkan gadis itu,setidaknya sedikit waktu agar gadis itu lebih tenang.
Alexa dan Dyra hanya terpaku ditempatnya, mereka termangu atas keadaan Rain yang sebelumnya tidak pernah sehancur ini.
Sepertinya kedatangan Semesta memberi pengaruh besar pada sahabatnya, mungkin tentang masalalu mereka yang tidak diketahui olehnya.
Alexa dan Dyra bergegas memberi pelukan agar sahabatnya lebih tenang.
"Udah Rain, kita akan selalu ada buat lo"
Alexa mengusap punggung Rain pelan
"Ata, laki-laki itu kembali"