HEYOW MY LOVES I'm theha! in my first book, I brought Nana as the main character. Soo yeah! let's start the journey, happy reading darlingヾ(˙❥˙)ノ
Like a comet
Blazing 'cross the evening sky
gone to soon
Like a rainbow
fading in the twinkling of an eye
Gone to soon
Michael Jackson
Ckrek!
Suara yang di keluarkan dari sebuah kamera membuat Azzura menatapnya tajam. Dika tertawa sangat puas melihat hasil jepretan candid nya, wajah tak terkontrol Azzura yang di tangkap jelas oleh kameranya.
"Hahahah sumpah Ra, lo jelek banget!" Dika tertawa ngakak sambil menunjukan hasil fotonyaa pada Azzura.
"Dika! Hapus fotonya!" Teriak Azzura kesal, sedangkan Dika hanya menjulurkan lidahnya sambil berlari menjauh dari Azzura yang sudah membawa sapu siap memukul nya.
"Hey jangan lari-lari." Peringat dari seorang guru yang dilewati oleh Dika dan Azzura.
Mereka berdua sama sekali tidak menggubris dan terus berlari menyusuri koridor, Dika menghadap ke arah Azzura untuk meledek dan berlari dengan cara mundur.
Dug!
Kaca jendela terbuka membentur kepala Dika dengan cukup keras membuatnya terjatuh sambil terlentang, Azzura yang melihat itu membuka lebar mulutnya terkejut sama dengan Haidar si pelaku pembuka jendela.
"Dika! Ini angka berapa?" Haidar mengacungkan kedua jari nya di hadapan Dika yang masih terlentang.
"Empat, Dar kenapa muka lo ada dua." Dan seketika semuanya gelap, Dika tak sadarkan diri alias pingsan.
"Wow! Karma secepet itu." Kagum Azzura sambil memandangi Dika yang sedang di gotong ke UKS oleh teman-temannya.
Karena Azzura merasa bersalah pada Dika jadinya dia menemani Dika di ruangan UKS, sambil sekalian bolos pelajaran. Ini yang dinamakan sambil menyelam sambil minum air. Azzura duduk sambil membaca novel tebal yang sudah mau tamat.
"Aduh!" Ringis Dika yang sadar dari pingsannya, ada memar di jidat Dika.
"Lo gak papa dik?" Tanya Azzura sambil membantu Dika untuk duduk.
Dika menggeleng dan memegangi jidatnya yang memar. Pintu terbuka sambil menampilkan seorang wanita paruh baya dengan wajah khawatirnya langsung memeluk Dika diikuti oleh Haidar di belakangnya.
"Ibu kok-" ucapan Dika terpotong saat mendengar ibunya menangis, Dika memelototi Haidar yang tersenyum kikuk. Haidar sama sekali tak menyangka jika ibunya Dika akan se khawatir ini.
"Ibu jangan nangis, Dika gak papa. Ibu, Dika malu di liatin temen-temen Dika." Ujar Dika sambil mengelus punggung sang ibu yang sudah mulai tenang.
"Kamu gak berdarah kan?" Sang ibu mengelus kepala Dika, dan Dika menggeleng.
Haidar dan Azzura saling melirik bingung, ibunya sampai sebegitu khawatir padahal Dika cuma terbentur sedikit. Dika hanya tersenyum kikuk bersiap-siap menjadi ejekan teman-temannya karena pasti akan dianggap sebagai anak mamih.
To be continue...