" Iya Mas... " Jawab Andini memandang Hermansyah dengan mata yang semakin berkaca-kaca, tanpa ia merasa air matanya semakin deras mengalir.
" Bagaimana kamu bisa berfikiran seperti itu An..." Tanya Hermansyah heran, sambil mengusap air mata kekasihnya itu.
" Karena aku mendapat informasi dari teman sekelas ku dulu, si Irma namanya, kalau dia pernah bertemu kakakku di warung bakso Pak Giman. Waktu itu Irma sedang bersama pacarnya. Sedangkan kakakku Mas Johan bersama temannya. Tapi untungnya Mas Johan tak mengenali Irma, meski mereka sempat beradu pandang, tapi Irma masih ingat dengan kakakku. Karena Irma sering main ke rumah ku waktu kami masih sama-sama duduk di bangku SMA..." Andini menelan ludahnya, menghentikan percakapannya, karena mungkin itu terasa berat bagi Andini untuk menceritakannya.
" Terus apa hubungannya dengan kita..." tanya Hermansyah heran, menatap lebih dalam pada Andini, karena diselimuti rasa penasarannya.
" sebenarnya Irma ingin menegur kakakku, tapi karena Kakakku sudah mengalihkan pandangannya, akhirnya Irma mengurungkan niatnya. Lagi pula dia juga ingin menjaga perasaan pada pacarnya. tapi dalam pertemuan itu ada sesuatu yang sangat penting ia ingin sampaikan kepadaku..." Andini kembali menelan ludahnya, disertai isak tangis yang sedikit dia Tahan. mungkin hatinya terasa sangat berat untuk benar-benar menceritakannya.
" sesuatu Apa itu Andini... Ayo coba ceritakan jangan membuat aku semakin penasaran...." Hermansyah pun, semakin ingin meyakinkan Andini agar meneruskan cerita yang ingin disampaikan oleh Andini kepadanya, dengan menggenggam erat kedua tangan Andini, dan menatap Andini lebih dalam.
" di pertemuan itu, Irma bilang kepadaku, kalau dia mendengar sendiri percakapan antara kakakku dengan teman lelakinya yang bernama Rio. bahwa mereka berdua ada kesepakatan untuk kakakku menjodohkan aku dengan pria yang bernama Rio itu... dan apabila kakakku berhasil mendekatkan aku dengan Rio maka Rio akan memberikan hadiah kepada kakakku sebuah motor sport racing keluaran terbaru yang termahal yang memang Kakakku dambakan selama ini...." lagi lagi Andini menghentikan ceritanya.
" gila Tega betul kakakmu... mau mengorbankan adiknya hanya untuk sebuah sepeda motor racing yang ia dambakan..." Hermansyah menajamkan pandangannya ke arah lain, dia benar-benar geram dengan sikap mas Johan yang sangat terlalu itu.
" sebenarnya siapa sih Rio itu..." tanya Hermansyah lebih penasaran lagi dengan sosok yang bernama Rio itu.
" kalau menurut informasi yang Irma dapatkan Rio itu ketua geng motor di sebuah desa yang berjarak 3 desa dari sini. Dia anak orang kaya, Anak Juragan padi dan juga juragan perkebunan, ayahnya juga Katanya punya bisnis di perkotaan." jawab Andini memandang kosong ke area persawahan.
" Terus bagaimana dengan perkenalan dengan kamu Andini Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Rio. kok Rio bisa tahu tentang kamu..."
" Aku juga nggak tahu Mas. Aku juga belum pernah bertemu dengan Rio. tapi sepertinya kakakku memperkenalkan aku pada Rio lewat fotoku yang ia simpan di hp-nya..." jawab Andini memandang Hermansyah lagi.
" bisa jadi juga begitu... mungkin diantara kedua orang tuamu dan kakakmu telah terjadi kesepakatan untuk mengadakan sesuatu yang menjadi penghalang Cinta Kita. ya itu diantaranya syarat-syarat yang ditentukan oleh ayahmu. sehingga terasa berat bagiku Seandainya aku harus memenuhi keinginan ayahmu. Mungkin memang sudah menjadi tujuan kakakmu untuk menjauhkan aku dengan kamu. agar kamu bisa dekat dengan Rio, supaya tercapai juga apa yang diinginkan oleh kakakmu. Demi Sepeda motor racing yang ia inginkan..." Hermansyah mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan Dia sedikit telah membuka tabir yang selama ini membuat dia hidup dalam kegelisahan. semenjak dia diajak bicara oleh ayah Andini tentang permasalahan keseriusan hubungan mereka berdua. hingga masalah pengajuan persyaratan untuk pernikahan mereka. yang membuat hampir-hampir Hermansyah menyerah dibuatnya.
" mungkin Mas Herman ada benarnya juga... terus bagaimana langkah kita selanjutnya mas..."
" untuk sementara kita jalani saja dulu seperti biasa, sambil kita berbagi tugas..."
" tugas Apa itu mas..." tanya Andini heran.
" aku tetap akan pergi ke kota melanjutkan Rencanaku melamar pekerjaan di sana... sedangkan kamu yang aku minta... kamu cari informasi sebanyak-banyak tentang Rio..."
" untuk apa Mas..." tanya Andini heran lagi.
" begini sayang... seandainya ada sebuah pertempuran dan kita terlibat di dalamnya, maka alangkah lebih baik kalau kita mempelajari dulu Siapa musuh kita. Apa kelebihannya dan apakah kekurangannya... setelah kita tahu kelebihannya, maka minimal kita harus menyamakan kekuatan dengan mereka. dan apabila kita mengetahui kelemahan mereka, maka kita harus mengincar titik lemah mereka ,agar mereka menjadi benar-benar lemah dan menjadi kalah.."
" Oh begitu ya mas... Siap kalau begitu komandan 86...!!! " tiba-tiba Andini berubah sikap, seketika itu juga membuat Hermansyah terheran-heran. dengan senyuman manisnya, Andini memberi hormat pada kekasihnya itu, yang membuat Hermansyah tersenyum kecil juga.Tapi tiba-tiba...