Seperti biasa, setiap pagi Wira pergi ke kedai untuk bersiap berjualan bakmie. Ia selalu berangkat bersama dengan Kirana, namun mereka berpisah di persimpangan.
Jika Kirana berbelok ke kiri, jalan menuju kedai lurus ke depan. Tapi kali ini Kirana ingin sekali menengok kedai dan membantu ayahnya bersiap. Lagipula hari ini, adalah hari sabtu. Dan Kirana menyebutnya hari santai. Hanya ada dua jam mata pelajaran, dan selebihnya di gunakan untuk ekstrakulikuler. Dan jam 10.00 waktu setempat, sekolah telah usai.
"Kirana, kau mau kemana nak?" tanya Wira yang melihat Kirana mengayuh sepedanya mengikutinya.
"Tentu saja membantu ayah. Ini masih pukul 06.00 yah, masih banyak waktu untuk membantu ayah!"
Wira tersenyum melihat putrinya yang begitu bersemangat. "Baiklah kalau begitu nak!"
Akan tetapi mereka dikejutkan dengan kedai di penuhi beberapa orang. Dan mereka adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kedai.
"Ada apa ini pak? kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Wira kebingungan.
"Pak Wira. Apa kedai bapak kerampokan? tadi malam ada beberapa orang datang kesini dan mengobrak-abrik tempat ini pak!" terang salah satu orang.
Kirana dan Wira pun terkejut mendengar penjelasan orang tersebut. Dan mereka berdua segera masuk ke dalam kedai. Dan benar saja kedai tersebut tidak terkunci, mereka telah merusak gemboknya.
"Astaga?" Kirana dan Wira begitu terkejut saat melihat kedai itu berantakan. Bahkan meja dan kursi mereka rusak. Beberapa mangkuk dan gelas yang di buat untuk berjualan juga pecah.
"Ada apa ini ayah? siapa yang melakukan ini semua?" teriak Kirana.
Wira mendekap erat Kirana. "Tenanglah nak, sebaiknya kau pergi ke sekolah saja. Ayah akan membereskan semuanya!"
Wira sebenarnya tahu, ini pasti perbuatan Bhisma. Karena melarang Kirana untuk berdekatan dengan Ken. Akan tetapi Wira tetap tidak ingin menceritakan semuanya kepada Kirana. Ia tahu, kebahagiaan Kirana adalah Ken, tidak mungkin Wira tega merenggut kebahagiaan putrinya.
Akan tetapi tiba-tiba Kirana melihat selembar kertas yang terjatuh di lantai kedai. Karena penasaran, Kirana pun mengambilnya, dan membaca pesan di kertas tersebut.
'JAUHI KEN. INI PERINGATAN KEDUA!'
Kirana begitu terkejut saat membaca pesan yang tertulis di kertas itu.
"Apa ini ayah? jauhi Ken? peringatan kedua? apa sebelumnya mereka pernah memperingatkan ayah soal ini?" tanya Kirana kebingungan.
Wira hanya menundukkan kepalanya, sebenarnya ia ingin menyembunyikan semuanya dari Kirana. Akan tetapi Kirana telah mengetahui semuanya dari kertas itu. Prawira pun memilih untuk diam, dan hanya menatapi Kirana, ia takut salah bicara dan membuat Kirana bersedih.
"Nak Kirana, kau berangkat sekolah saja, biar kami yang membantu ayahmu!" perintah orang-orang yang ada di depan kedai tadi. Prawira dan Kirana memang di kenal sebagai orang yang baik dan sopan. Mereka senang membantu dan berbagi, untuk itu di saat mereka kesulitan banyak yang ingin menolong mereka.
"Baiklah pak, tolong bantu ayah Kirana. Aku akan pergi ke sekolah!" kata Kirana sembari berpamitan.
Tidak lupa Kirana mengantongi surat tersebut, dan pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah...
Ken dan Dimas melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Akan tetapi langkah Ken terhenti saat melihat Kirana berada di ruang administrasi sekolah.
Ken menepuk pundak Dimas. "Dimas, bukankah itu Kirana?"
Dimas pun menoleh ke dalam ruangan itu. "Iya benar itu Kirana. Kenapa Ken?"
"Sepertinya dia dalam masalah" kata Ken khawatir.
Sementara di dalam ruang administrasi, Kirana menundukkan kepalanya. Ia merasa gundah karena biaya sekolahnya yang menumpuk.
"Totalnya 4juta sekian ini bu?" tanya Kirana sembari menunjuk selembaran yang di berikan petugas administrasi tersebut.
"Iya Kirana. Berikut adalah biaya yang belum kau bayar, termasuk buku dan biaya yang menunggak sejak kau berada di kelas dua. Dan beasiswa yang kau dapatkan, hanya berlaku untuk membayar SPP."
"Baiklah bu, saya akan segera membayarnya, terimakasih"
"Baik Kirana. Sama-sama"
Kirana pun pergi dari ruangan itu dengan raut wajahnya yang begitu risau. Sejak ibunya sakit, semua hasil berjualan ayahnya habis untuk pengobatan ibunya dan bertahan hidup. Di tambah lagi hutang ayahnya yang menumpuk. Sekeras apapun mereka membayar hutang ke rentenir itu. Hutang itu tetap saja belum lunas. Karena bunga dan dendanya terus berjalan.
Ken yang tadinya bersembunyi di balik dinding, ia pun masuk ke dalam ruang administrasi.
"Ken kau mau kemana?" tanya Dimas.
"Sebentar saja!" jawab Ken. Dimas pun akhirnya memutuskan untuk membuntuti Ken.
"Permisi bu. Boleh saya tahu, berapa biaya tunggakan Kirana?" tanya Ken kepada petugas administrasi.
"Baik sebentar. Saya cek dulu" kata petugas tersebut sembari mengoreksi komputernya. "Tunggakannya sebesar, empat juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah"
Ken mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia kemudian mengambil salah satu kartu ATMnya dan memberikan kepada petugas tersebut.
"Ini bu, aku akan membayar semuanya. Tapi, jangan mengatakan hal ini kepada Kirana!"
Dimas tercengang menatapi Ken yang menurutnya begitu luar biasa.
"Baiklah. Kau anak baru itu ya?" tanya petugas tersebut.
Ken pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah semua biaya di selesaikan oleh Ken, mereka berdua pergi dari ruangan tersebut.
"Ken, wahh...kau benar-benar pria yang luar biasa" ungkap Dimas terkagum-kagum.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Ken dengan tiba-tiba.
"Pernah. Tapi aku tidak sampai melakukan hal ini, karena aku sendiri tidak memiliki begitu banyak uang!" papar Dimas murung.
"Ini bukan soal uang Dimas. Tapi, kau akan terluka jika melihat orang yang kau cintai bersedih. Begitu juga denganku. Saat melihat Kirana yang murung keluar dari ruang administrasi tersebut, aku merasa terluka. Hanya ini yang bisa aku lakukan, agar ia tidak lagi murung. Benar kan?" ungkap Ken sembari duduk di kursi kantin.
"Kau benar Ken. Wah...aku akan belajar darimu cara mencintai seseorang dengan benar!"
"Hah kau ini bisa saja!"
Kirana tiba-tiba berdiri di depan Ken, menatapnya dengan tatapan yang tajam. Keduanya begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Kk-Ken, sepertinya akan ada perang dunia. Aku ke kelas dulu" ujar Dimas yang lalu kabur meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang terjadi?"
"Apa ini?" tanya Kirana sambil memperlihatkan secarik kertas yang berisi peringatan untuk menjauhi Ken.
Ken begitu terkejut melihatnya. Ia segera mengambil kertas itu dan membacanya.
Kirana lalu pergi meninggalkan Ken begitu saja. Sementara Ken merasa panik dan ingin menjelaskan sesuatu kepadanya.
"Kiran, Kirana. Aku benar-benar tidak tahu tentang ini. Aku akan segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi"
"Untuk itu mari kita akhirnya semuanya. Kau tahu? mereka hampir saja menghancurkan kedai ayahku. Itu adalah tempat satu-satunya untuk ayahku mencari nafkah. Lalu kenapa kau tega menghancurkannya?"
Ken segera meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. "Kirana dengar, aku tidak tahu soal ini. Tolong jangan menuduhku! aku akan cari tahu semuanya"
Kirana melepaskan tangannya dari genggaman Ken. Ia lalu berjalan meninggalkan Ken, sementara Ken tetap mengejarnya. Sampai ia melihat seseorang berdiri di depannya.
Seseorang yang tidak asing baginya. Ia adalah wanita yang begitu cantik berhati lembut dan juga jangan. Bahkan dari senyumnya saja, semua orang menyadari jika ia adalah pribadi yang tenang. Namun tidak semua orang berhasil mendapatkan perlakuan hangat tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja, termasuk Kirana.
"I-Ibu Nirina?"
"Ibu? kenapa ibu di sini?" tanya Ken kebingungan. Begitu juga dengan Kirana. Keduanya saling bertatapan.
"Ken, tolong setelah pulang sekolah. Undang Kirana untuk makan siang di rumah kita!"
"Ma-Makan siang?" ujar Ken terkejut. Namun ia paham, jika sesuatu pasti terjadi. Ibunya tidak akan repot-repot datang sendiri ke sekolah, jika tidak ada yang penting.
"Baiklah. Ken akan mengajak Kirana nanti sepulang sekolah!"
"Kirana, aku menunggumu. Tolong jangan mengecewakanku!"
"Baik, ibu Nirina" ujar Kirana sambil menunduk memberi hormat.
Setelah itu, Nirina pergi dan masuk ke mobilnya.
"Kau pasti bersekongkol dengan ibumu untuk masalah ini?"
"Kirana, ibuku bukan orang seperti itu, aku sangat mengenalnya"
Beberapa menit kemudian...
Sekolah telah usai. Ken menggandeng tangan Kirana begitu saja.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Kirana karena terkejut.
"Aku hanya melakukan sesuatu agar kau tidak kabur. Karena ibuku sudah mengundangmu untuk kedua kalinya, aku tidak ingin membuatnya kecewa"
Kirana menghela nafasnya dan menurut. Tanpa di sadari, momen itulah yang paling dibenci oleh para wanita di sana. Yaitu saat melihat Kirana dan Ken bersikap romantis layaknya sepasang kekasih.