Ini hari kedua Senja bekerja di salah satu Perusahaan properti terbesar di kota ini. Dulu pernah punya mimpi bekerja di perusahaan besar tapi bukan sebagai OB. Impiannya kandas ketika harus berhenti kuliah setelah ayahnya meninggal.
Cita-cita terbesarnya dulu adalah menjadi seorang pengajar seperti ayahnya yang seorang guru di sekolah menengah. Tuntutan ekonomi setelah ayahnya sering sakit membuat senja berfikir untuk bekerja di perusahaan besar agar bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya. Dan kini dia bener-benar bekerja di perusahaan besar walau hanya menjadi seorang OB.
Jalanan mulai ramai, Senja berdesakan dengan penumpang bus menuju ke tempatnya bekerja. Dia cukup lega ketika sampai di depan kantor suasana masih tampak sepi. Senja tidak ingin dihari kedua bekerja dia datang terlambat. Dia melangkah dengan cepat menuju ruang loker karyawan setelah absen terlebih dahulu. Setelah berganti pakaian dan memakai masker, Senja bersiap-siap untuk memulai pekerjaan. " Senja, pagi sekali kamu datang " Sapa bu Endah, karyawan senior yang dipercaya mengatur tugas OB. "Iya bu, saya sengaja datang pagi takut terlambat" jawab Senja. " Bagus, kamu memang harus datang lebih awal setiap hari agar absenmu bagus. Pertahankan ya " Kata bu Endah sambil tersenyum. Dia senang melihat karyawan baru yang semangat bekerja.
" Oh iya Sen, pagi ini kamu bersihin ruangan pak Arka ya. Kamu tahu kan ruangannya? Mumpung masih pagi beliau pasti belum datang. Harusnya Danang yang bersihin tapi tadi ijin berangkat siang "
"Iya bu, saya tau ruangannya. Kalau begitu saya mulai saja ya bu, takut pak Arka datang" jawab Senja sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.
*
Ruangan tampak sepi, dengan cekatan Senja membersihkan ruangan itu. Saat melewati meja pak Arka ada sekat yang menghubungkan dengan ruangan santai dan kamar mandi. Tanpa memperhatikan sekitar, Senja asik membersihkan kaca besar di ruangan itu. Terdengar suara kecapan dari arah belakang. Senja pun menoleh, dan hampir saja dia berteriak. Tampak dua orang sedang berc*m*u di sofa. Sesaat Senja terdiam melihat tatapan tajam pria itu, dengan isyarat matanya meminta Senja keluar dari ruangan. Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu, Senja pun berlari keluar. Didepan pintu Senja berhenti mengatur nafas sejenak. Sungguh pemandangan tadi membuatnya tidak enak, dan mungkin akan menjadi masalah.
" Kamu sedang apa ? " tanya seseorang dari arah ruangan sebelah.
" Maaf pak, saya habis membersihkan ruangan pak Arka" jawab Senja pelan.
" Saya tidak pernah lihat kamu, karyawan baru? " tanya Bayu.
" Iya pak, nama saya Senja. Saya baru dua hari bekerja disini " jawab Senja sambil membuka maskernya. Sesaat bayu tertegun dengan kecantikan Senja.
" Pak Arka sudah datang ? " tanya Bayu
"Sudah pak, ada di ruangannya. Kalau begitu saya permisi" jawab Senja sambil berlalu menuju lift. Dia ingin istirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di dalam ruangan Arka tampak kesal. "Ada apa sih , yang " tanya Mentari. "Ga ada apa-apa" jawab Arka kesal. " Kamu kenapa jadi kesal gitu, karena OB yang masuk tadi ?" tanya Mentari lagi.
"Iya OB baru kayaknya"
"Ya biarin lah, mungkin dia tidak tahu kita didalam" kata Mentari mencoba menenangkan kekasihnya.
"Lagian kamu kesini pagi banget"
"Ya kan aku lagi banyak kegiatan, mumpung kamu lagi dikantor pagi. Kalau ngga pagi kita susah ketemunya" jawab Mentari.
Suara pintu diketuk dari luar. "Masuk " Bayu pun masuk ke ruangan.
" Pagi pak, pagi Mentari "
" Pagi Bay "
" Pagi Mas Bayu, Ya sudah aku pulang dulu ya, maaf ngga nemenin kamu sarapan" Pamit mentari sambil mencium tangan Arka.
"Hati-hati dijalan ya, kabari aku kalau sudah selesai kuliah"
"Ok "
Mentari pun keluar dari ruangan itu. Bayu tampak tersenyum melihat atasannya."Pagi sekali pak ketemuannya" tanya Bayu sambil menggoda.
"Iya sampai ada OB yang lihat tadi"
"Maksudnya OB yang tadi bersih-bersih di ruangan ini ?"
"Iya, biasanya Danang yang bersih-bersih"
"Dia karyawan baru, baru dua hari bekerja disini pak"
"Oh pantas saja, seenaknya masuk ke ruangan" jawab Arka kesal.
*
Pagi ini rasanya cape malas sekali untuk berangkat kerja, setelah solat subuh Senja ijin untuk bermalas-malasan di kamar. Biasanya dia membantu ibunya memasak atau membantu menyiapkan keperluan sekolah Icha, adik bungsunya.
Suara pintu diketuk dari luar
" Senja ada mentari di depan " suara ibu memanggil.
" Ya Bu " belum sempat Senja bangun Mentari sudah masuk ke kamar.
" Ngapain pagi-pagi ke sini ?" tanya Senja
" Ya kalo ngga pagi mana bisa aku ketemu kamu" jawab Tari asal sambil ikut duduk di tempat tidur.
" Iya sih lama juga kita ngga ketemu "
" kamu sih, ngga mau kerja di kantor papa " kata Mentari sedikit kesal
" Ya maaf aku sudah terlanjur bekerja di perusahaan yang sekarang "
" Kan kamu bisa pindah"
" Aku sudah terlanjur nyaman bekerja disana" Senja mencoba mencari alasan, dia hanya ingin bekerja dengan usahanya sendiri. Senja merasa sudah terlalu banyak merepotkan Mentari dan keluarganya.
" Ya sudah, tapi aku masih tetap berharap kamu bekerja di kantor papa, biar kita bisa sering ketemu" Senja hanya menanggapinya dengan tersenyum.
" Sebenernya aku ke sini mau ngasih tau kamu seminggu lagi aku mau tunangan"
Senja mengubah posisi duduknya hingga menghadap Mentari.
" Yang bener, sama siapa ?" tanya Senja heran.
" Arka, kekasihku semalam dia melamarku. Maaf ya aku belum kenalin ke kamu" jawab Mentari, tampak binar kebahagiaan dimatanya.
" Kamu ngga nungguin aku " tanya Senja pura-pura marah.
" Ngga lah, nungguin kamu mau sampai kapan. Kamu aja selalu menghindar kalo ada cowok deketin " jawab Mentari
" Ya kan masih milih yang bisa nerima aku apa adanya " jawab Senja
" Iya aku tahu, semoga kamu juga secepatnya dipertemukan dengan orang yang baik, bisa kasih kamu dan keluargamu kebahagiaan"
" Aamiin " mereka pun tertawa bersama, hingga suara ibu memanggil.
" Senja, Tari sarapan dulu ya "
" Iya Bu" jawab mereka
Mereka pun keluar menuju meja makan. Sudah tersaji makanan sederhana yang menggugah selera.
" Pagi Icha, Bagas, sudah siap-siap mau berangkat sekolah. Nanti kakak antar ya " kata Mentari.
" Pagi Kak Tari, boleh deh jadi hemat tenaga pagi-pagi. Ngga perlu jalan kaki" jawab Bagas
" Ngga usah Tari, nanti ngrepotin kamu"
" Iya nak Tari, nanti malah merepotkan" kata ibu juga, merasa tidak enak.
" Ngga apa-apa Bu, sekalian nanti pulang kan searah" jawab Mentari
" Ya sudah sekarang dimakan mumpung masih hangat" ibu mempersilahkan mereka untuk makan.
" Ya Bu, sudah lama ngga makan masakan ibu , kangen loh" jawab Mentari
Mereka pun makan dengan lahab.
*
Pagi itu Senja tampak begitu sibuk, dia ditugaskan untuk menyiapkan keperluan untuk meeting pagi ini. Padahal dia sudah janji pada Mentari hari ini mau menemaninya menyiapkan persiapan pesta pertunangan. Tapi Senja tidak dapat ijin cuti, dan hanya diperbolehkan pulang lebih awal. Sebenarnya semua karyawan juga mendapatkan undangan untuk ikut acara pesta dari keluarga pak Arka, ini yang membuat bertanya-tanya kenapa acaranya bisa waktunya bersamaan.
" Senja, bisa tolong ke ruang fotocopy "
" Baik Bu " jawab Senja sambil menerima map ya ada ditangan Bu Dewi.
" Jumlahnya ada dicatatan depan ya, tanks Senja" Senja hanya mengangguk sambil berlalu. Hanphone Senja bergetar, ada panggilan masuk.
" Sen, kamu dimana? " tanya Mentari
" Aku masih di kantor, maaf aku ga dapet cuti" jawab Senja.
" Yah, aku ijinin deh ke kantor kamu " kata Mentari memohon.
" Ngga usah, ini sebentar lagi juga aku pulang. Aku dapat ijin pulang lebih awal. Kamu lagi dimana ?" tanya Senja.
" Aku lg dijalan, tadinya mau jemput kamu. Tapi..." tiba-tiba suara panggilan terputus dan tanpa sengaja Senja menabrak seseorang. Hingga berkas yang dibawa pun jatuh berserakan.
" Maaf Pak" Senja meminta maaf sambil mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Sementara Arka mrmperhatikan gadis berkerudung hitam dan memakai masker itu.
" Kamu yang kemarin ke..."
*