" Mentari mengalami kecelakaan, dan tidak dapat melanjutkan pertunangan ini. Dia akan menjalani pengobatan di luar negeri dan untuk pertunangan ini dia meminta sahabatnya untuk menggantikannya sementara sampai Mentari benar-benar sembuh " Papa Aditya menjelaskan dengan pelan. " Dimana Mentari Om, aku ingin menemuinya" tanya Arka.
" Mentari tidak mau menemui kamu, dia sudah berangkat ke luar negeri " Papa Aditya terpaksa harus berbohong tentang keberadaan Mentari.
" Aku akan membatalkan acara pertunangan ini Om, aku akan menunggu sampai Mentari benar-benar sembuh"
" Tidak nak Arka, acara ini tidak bisa dibatalkan begitu saja. Tamu sudah datang, Mentari tidak akan senang kau membatalkan acara ini. Dia akan merasa bersalah, dan pasti akan sulit untuk menjalani pengobatan " kata Papa Aditya mencoba meyakinkan.
" Pak Aditya, kita tidak apa-apa jika harus menunda acara ini sampai Mentari sembuh" Ayah Surya mencoba untuk mencari solusi.
" Tidak Pak Surya, Mentari meminta untuk tetap melanjutkan acara ini dengan mengganti dirinya dengan sahabatnya. Aku mohon penuhi keinginan Mentari sampai dia sembuh " kata Papa Aditya dengan sedikit memohon.
" Apa kau yang akan menggantikan Mentari ?" tanya Bunda Amira. Senja yang merasa sedang diperhatikan menjawab dengan menganggukan kepalanya.
" Siapa namamu tadi ?" tanya Ayah Surya.
" Senja Om" . Sementara Arka sangat tidak ingin tahu siapa wanita yang akan menggantikan Mentari.
Acara akhirnya tetap dilanjutkan, setelah perdebatan antara Arka dan ayah Mentari. Sementara sesuai permintaan Senja, Keluarga Arka akan memperkenalkan Senja dengan nama Maharani.
Acara berlangsung sesuai rencana, Senja tetap terlihat cantik walaupun tetap menggunakan masker. Senja punya alasan dengan menutupi identitasnya. Dia baru menyadari kekasih Mentari yang sekarang menjadi tunangannya adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja.Senja ingin tetap bekerja seperti biasa tanpa ada yang mengenali kalau dia yang telah bertunangan dengan Pak Arka. Hingga acara selesai Arka dan Senja tetap terdiam tanpa saling menyapa, hanya sesekali menyapa para tamu undangan. Setelah acara selesai papa Aditya pun memutuskan pulang lebih dulu. Sementara Dhenis tetap disana menunggu Senja. " Senja, kamu pulang dengan siapa ?" tanya Dhenis yang sengaja mendekati Senja. " Eh, Kak Dhenis belum pulang, aku pulang sendiri ini mau pesen ojek online" jawab Senja, karena tidak mungkin Arka mau mengantarkan pulang. "Biar aku antar kamu pulang" jawab Dhenis. "Ngga usah kak, nanti merepotkan"
" Ngga apa-apa, ayo sudah malam, ibu pasti sudah menunggu " jawab Dhenis. Sementara Arka hanya memperhatikan interaksi mereka. Arka tidak peduli dengan Senja, karena yang ada dipikirannya hanya Mentari.
Setelah mereka berpamitan, Dhenis dan Senja pun pulang. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. " Senja, terima kasih ya sudah membantu Mentari " Dhenis mencoba membuka obrolan diantara mereka berdua. " Sama-sama kak, Mentari juga sering membantuku. Jadi sudah seharusnya aku juga membantunya". jawab Senja. " Oh iya, kenapa kamu menolak bekerja di perusahaan papa, bukankah itu lebih baik daripada bekerja sebagai office girl ?" tanya Dhenis. Senja pun tersenyum, setelah membuka maskernya. Seketika Dhenis terpaku melihat senyum diwajah Senja, hingga dia fokus mengendarai mobilnya lagi. " Aku kan cuman lulusan SMA kak, kuliah juga berhenti. Jadi untuk sementara pekerjaan ini yang cocok untukku" jawab Senja. Sebenarnya dia bisa pindah ke perusahaan papa Mentari dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi dia tidak mau terus merepotkan keluarga Mentari. " Kamu kan bisa belajar" kata Dhenis mencoba meyakinkan Senja. " Mungkin lain waktu kak, untuk saat ini aku sedang menikmati pekerjaan ini" jawab Senja lagi.
Mobil Dhenis berhenti di depan pagar rumah Senja. Rumah sudah tampak sepi. Senja masuk ke rumah setelah mobil Dhenis melaju pergi.
Pagi ini Senja tampak ragu berangkat kerja, tapi dia harus tetap semangat. Suasana kantor sudah tampak ramai. Rupanya Senja berangkat terlalu siang. Senja berlari menuju loker tempat ganti karyawan. Saat di lobby Senja datang bersamaan dengan kedatangan Arka. Laki-laki itu menatap sekilas gadis yang berlari dan memakai masker. Tiba diruangan Arka duduk dikursi kerjanya. Pikirannya masih tertuju pada Mentari. Dia masih tidak mengerti apa tujuannya mengganti dirinya dengan office girl diperusaannya. Pintu diketuk dari luar."Masuk" Senja pun masuk dengan membawa secangkir kopi. Arka masih menatap Ponselnya. " Permisi pak, ini kopinya" kata Senja sambil meletakkan kopi didepan Arka. " Kenapa kamu berangkat kesiangan, bukannya kamu harusnya datang lebih pagi" tanya Arka tanpa melihat ke arah Senja. " Iya Pak maaf, saya tadi sudah ijin datang ke kantor telat" jawab Senja pelan. Arka melirik sesaat. "Kenapa kamu pakai masker terus?" tanya Arka. " Saya alergi debu Pak " jawab Senja asal. " Terus kenapa kamu kerja jadi office girl disini. Mending sekarang kamu pergi dari kantor ini , kamu bisa kerja di kantor papanya Mentari sebagai staf " kata Arka. "Bapak tidak sedang memecat saya kan? " tanya Senja. " Kalo iya memangnya kenapa, saya bebas mau pecat kamu. Atau... kamu ada maksud dengan saya" jawab Arka dengan sedikit curiga. Senja membuka maskernya " Tidak sama sekali Pak, saya hanya sudah nyaman dengan pekerjaan ini". Arka mengamati wajah Senja, " Ingat ya, tentang pertunangan kita hanya sementara. Dan kamu hanyalah karyawan saya. Jangan berharap lebih kamu "
" Iya pak, saya mengerti " jawab Senja. " Ya udah, lanjutkan pekerjaan kamu ".
*
Hari semakin sore, Arka keluar dari kantor. Tampak Bayu sudah menunggu di depan dengan mobilnya. Saat mobil akan melaju, pandangan Arka tertuju pada seseorang diseberang jalan. Senja masuk ke sebuah mobil, tampak Dhenis membukakan pintu untuk Senja. Arka hanya tersenyum sinis melihat pemandangan itu. "Bayu, kamu tahu kenapa Senja tetap bekerja di kantor kita. Kau lihat dia dekat dengan Kak Dhenis, lebih baik kan kalau dia pindah ke kantor papanya Mentari" tanya Arka.
" Entahlah Pak, mungkin ingin bisa dekat dengan Pak Arka" jawab Bayu asal.
" Kenapa harus dekat denganku, hubungan kita kan cuma sementara" jawab Arka dengan ketus.
"Tapi saya senang kalau Senja tetap bekerja dikantor, saya jadi bisa lebih dekat dengan dia... yah meskipun nantinya harus bersaing dengan Pak Dhenis" jawab Bayu lagi membuat Arka terdiam dan kemudian tertawa.
" Hahaha.... Kau akan bersaing dengan Dhenis untuk mendapatkan Senja. Aku dukung kamu " Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Bay, kamu harus lebih serius mencari dimana Mentari berada " Arka masih tetap mencari dimana Mentari berada.
" Baik Pak " jawab Bayu.