“Senja lu di pangil sama bu Kania di Ruang BK” tiba-tiba Gabby yang menghampirinya di kantin sekolah saat jam Istirahat.
“haa, ngpain guru BK manggil aku?” Tanya Senja dengan mengerutkan Dahinya sambil menatap Gabby.
“ya mana gua tahu, tadi pas Gua balik dari Toilet ketemu sama bu Kania, dia minta gua manggilin lu” ujar Gabby.
“aku bikin salah apa? Kok bisa di panggil ke BK” Kata Senja lirih sambil mengigit bibir bawahnya.
“udah jan banyak mikir, sono temuin bu Kania” ujar Gabby kembali.
Senja pun dengan ragu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan gabby dan teman-teman lainnya menuju Ruang BK.
Sesampainya diruang BK,
Tok…tok…tok…
Ketuk Senja pada pintu ruang BK.
“ya masuk” terdengar suara Bu Kania dari dalam ruangan.
Perlahan senja membuka pintu ruangan BK,
Ceklek…..
Pintu pun terbuka, Nampak Ibu Kania sedang duduk di meja kerjanya seorang diri di temani laptop di mejanya.
“Senjani ya” ujar bu kania saat menatap senja yang sudah berdiri di depan pintu.
“ii…iya… bu” jawab senja sedikit gugup.
Wajar senja merasa gugup karena setahu Senja ruang BK adalah Ruangan untuk anak-anak yang bermasalah, mengingat kembali Senja dari pertama masuk sekolah tidak pernah melakukan kesalahan jadi merasa bingung kenapa dia harus di panggil keruang BK.
“ayo sini duduk” kata Bu Kania kembali, menyuruh senja duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Tanpa banyak kata senja menurut dan segera melangkahkan kaki dan duduk dikursi yang di tunjuk oleh ibu Kania.
“nggak usah takut, ibu Cuma mau ngobrol sebentar sama kamu” kata Ibu kania mencoba mencairkan suasana karna dia tau saat itu terlihat wajah gugup senja saat berhadapan dengannya.
Senja mencoba mengangkat wajahnya yang sedari tadi takut menatap Bu kania.
“Ibu dengar dulu waktu kamu di SMP kamu sering ikut kejuaraan lomba puisi ya” ujar Bu kania kembali.
“dari mana ibu tahu?” Tanya Senja, karena setahu senja sejak iya pindah kejakarta tidak ada yang tahu kalau dulu semasa senja SMP sering ikut lomba puisi.
“tadi ibu buka internet nggak sengaja lihat profil kamu pernah menjadi juara Umum lomba puisi dikota mu” jelas Bu kania.
Senja terkejut, karena baru ini dia tahu dan menyadari kalau dirinya pernah menjadi berita hangat di Internet.
“iya bu itu dulu” kata senja yang melengkungkan senyumannya malu-malu.
“waah, sekolah kita beruntung mempunyai anak yang berprestasi” puji bu Kania.
“ah ibu bisa aja” kata Senja.
“kalau begitu kamu bisa kan mewakili sekolah kita untuk ikut lomba baca puisi antar sekolah” ujar bu Kania.
Senja menelan salivanya terkejut mendengar ucapan bu kania.
“ta…ta..pi bu sayakan masih baru di sekolah ini?” ujar Senja yang mencoba untuk menolak permintaan Bu kania.
“ya apa masalahnya kalau kamu baru?” Tanya Bu kania pada Senja.
“mungkin disekolah ini ada yang lebih bagus dari saya bu?” ujar senja.
“kalau ada yang lebih bagus ngapain saya pangil kamu” kata Bu kania.
Kini Senja tidak mempunyai alasan lagi untuk menolaknya, jujur dari dalam hatinya Senja merasa terhormat di pinta untuk mewakili sekolah namun di sisi lain senja merasa tak nyaman karena dia siswi baru di sekolah itu, mungkin ada yang lebih baik darinya untuk mewakili sekolah.
“Gimana mau?” Tanya Bu Kania membuyarkan lamunan Senja.
“kalau boleh tahu lombanya kapan?” kata Senja.
“masih lama sih bulan depan, sengaja saya kabarin sekarang biar kamu bisa siap-siap dan berlatih sebelum perlombaan” jelas Bu Kania.
“baiklah bu kalau begitu, saya akan coba mewakili sekolah untuk perlombaan ini” kata senja.
Terlihat lengkungan senyum dari wajah Bu Kania saat mendegar senja menerima tawarannya.
“oke, ini modul perlombaan, kamu bisa pelajari semua dan bisa menentukan puisi apa yang akan kamu bacakan nanti” kata Bu Kania sembari menyerahkan Modul Puisi pada Senja, senja pun menerima modul itu dan melihat sekilas isi modul tersebut.
Bu kania diam dan memandangi senja yang sedang sibuk membolak-balik modul membaca isi modul secara singkat.
“baik bu nanti akan aku pelajarin dulu dirumah” ujar Senja.
“ya sudah kamu bisa kembali kekelas” ujar Bu kania.
Senja pun berpamitan pada bu Kania dan meninggalkan Ruang BK. Tak lupa iya menutup kembali pintu Ruang BK, dan berbalik meninggalkan Ruang BK.
Saat Senja berjalan menuju kelas sambil asyik membolak balik modul tiba-tiba seorang laki-laki mendekatinya.
“hy” ujar laki-laki yang bertubuh tak jauh tinggi darinya dan berambut cepak, menghentikan langkah senja, senja pun menatapnya.
“iya kak ada apa?” ucap Senja yang tahu kalau laki-laki itu kakak tingkatnya, memang Senja tak mengenalnya, namun iya melihat lambing di lengan tangannya yang menunjukkan kalau laki-laki itu tingkat 3 sama seperti Firman.
“boleh kenalan nggak?” katanya mengulurkan tangan.
“Senjani Kak” ucap Senja tanpa menyambut uluran tangan kakak tingkatnya itu. Tangannya memeluk modul yang diberikan ibu Kania di depan dadanya.
Laki-laki itu menarik tangannya saat tahu senja Nampak tak terlihat menyukainya, namun laki-laki itu masih berusaha bersikap ramah dan sopan pada Kania.
“Gua Maxi” ujar Maxi.
Senja hanya diam tak merespon ucapan Maxi padanya.
“gua boleh nggak main kerumah lu nanti” kening Senja berkerut. Menatap Maxi yang tersenyum padanya. Dalam hati senja berkata
“ini cowok kenapa sih? Sok kenal gitu. Padahal baru aja kenal udah Tanya boleh main kerumah nggak?” ujar Senja dalam Hati.
“gimana boleh nggak” Tanya nya lagi.
“eum…. Boleh” ujar Senja singkat tak banyak kata.
“BTW, sabtu ini kita mau camping lu mau ikutan nggak” Tanya Maxi kembali.
“ya tuhan Sumpah ini cowok over Pede banget. Baru aja kenalan udah berani ngajakin aku camping” ucap Senja lagi dalam hati.
“maaf ya kak, aku nggak bisa” tolak Senja.
“oke nggak apa-apa” ujar Maxi dengan santai.
“oh ya kak maaf saya mau balik ke kelas dulu” pamit senja yang tak ingin berlama-lama berhadapan dengan maxi.
“ngapain ke kelas sekarang kan belom jam masuk” ujar Maxi yang mencoba menghalang Senja.
“saya mau ngerjain Tugas tadi kak” ujar Senja yang terpaksa berbohong.
“oh gitu, ya udah nggak apa-apa nanti kita ngobrol lagi ya” ujar Maxi
Tanpa menjawab Senja berjalan meninggalkan Maxi yang masih cengengesan, hingga hilang dari hadapan maxi. Setelah maxi tak terlihat lagi senja pun bernafas lega, senja menyandarkan tubuhnya didinding sekolahan merasa lega karena tak perlu menghadapi si maxi gila pikirnya.
Tiba-tiba Firman dan teman-temannya lewat di hadapan senja, mata senja dan Firma saling menatap, terukir lengkungan senyum di wajah imut Firman, senja pun membalas senyuman itu.
Sedikit menyingkir dari gerombolan teman-temannya firman menghampiri senja yang sedang menyandarkan tubuh di dinding sekolahan.
“ngapain lu disini” Tanya Firman
Cepat-cepat Senja merapihkan posisi berdirinya.
“nggak ngapa-ngapain kak” ujar senja.
“tumben sendiri, nggak bareng-bareng sama temen-temen lu” ujar firman kembali.
“nggak, tadi aku dari Ruang BK nemuin bu Kania” kata Senja.
“ngapain keruang BK, lu bikin kasus ya” ledek Firman.
“bu…bukan kak, aku nggak bikin kasus” kata Senja mengelak dan Firman pun terkekeh melihat Senja yang salah tangka.
“terus ngapain ke BK” Tanya Firman kembali setelah kekehannya terhenti.
“Bu Kania memberi ini pada ku” Senja menunjukkan modul yang ada di tangannya, karena penasaran Firman meraih modul yang ada di tangan Senja.
Dilihatnya cover modul yang bertuliskan “Panduan Lomba Puisi Antar Sekolah”, keningnya berkerut dan kini matanya melirik Senja.
“lu mau ikut lomba Puisi” Tanya Firman, senja pun menganggukkan kepala.
“bagus donk, sukses ya” ucap Firman kembali.
Sambil mengembalikan modul yang ditangannya dan menyerahkan pada Senja kembali.
“oh ya Nja, Ntar pulang sekolah tungguin Gua ya di Pos kemarin. Ada yang mau Gua omongin sama lu” kata Firman dengan mimic wajah yang serius.
“eh… iya kak” ujar senja.
“tapi lu sendirian aja nggak usah bawah temen lu” sambung firman kembali.
“baik kak” jawab senja.
Firman pun tersenyum menatap Senja,
“ya udah gua gabung ma temen-temen dulu ya, sampai ketemu nanti”kata Firman yang pergi meninggalkan Senja dan melambaikan tangannya.
Ada sedikit rasa getar dalam d**a senja, entah tak tahu rasa apa yang saat ini senja rasakan. Melihat Firman tersenyum dan melambaikan tangannya membuat lutut senja terasa lemas untuk berdiri.
Mungkinkah senja mulai menyukai Firman, dan firman juga menyukainya. Semua pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari di kepala senja. Hingga terdengar bel masuk berbunyi membuat lamunan senja membuyar.
Senja pun beranjak meninggalkan tempat itu kembali menuju kelas.
*****
Sementara saat Firman kembali bergabung dengan teman-temannya.
“cewek baru ni man” ujar Yopi yang menyikut lengan Firman.
“calon” ujar Firman terkekeh.
“busyeeet…. Cepet amat lu move on dari Eriana” sambung Army
“tapi boleh juga tu adek kelas, cakep bahkan lebih cakep dari Eriana man. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih hidungnya juga mancung kayak orang arab gitu” puji Dexa pada Senja.
Firman hanya tersenyum mendengar celotehan para sahabatnya itu.
“kapan mau lu resmiin, jangan lama-lama entar diembat orang” ujar Robby.
“ntar pulang sekolah rencananya” jawab Firman.
“tapi man, jujur ni lu nggak jadiin…. Si” ucap Yopi
“Senjani namanya” sambung Firman
“nah iya Senjani pelampiasan lu kan buat manas-manasi si Eriana” ujar Yopi kembali
“waah, tega lu Man kalu emang lu jadiin Senjani Pelampiasan lu” sambung Army.
“ya nggak lah, gua nggak sejahat itu kali” ujar Firman sambil mentoyor kepala Yopi.
“siapa tau aja lu khilaf man” kata Army kembali.
“jujur ya sebenernya gua tu belum 100% move on dari Eriana, tapi gua nggak mau munafik gua juga suka sama Senja pas pertama kali kenalan sama dia kemarin” jelas Firman.
“saran gua ya, lupain aja tu Eriana, lu coba jalani ama si Senjani” ujar Dexa
“bener itu Bro, lagian Eriana kan yang udah mutusin lu bukannya lu” sambung Robby.
Firman membayangkan wajah senja yang tersenyum manis padanya tadi, memang benar yang dikatakan para sahabatnya. Eriana sudah meninggalkannya dengan alasan yang tak masuk akal. Namun Firman sulit untuk menerima kata putus dari Eriana karena Firman benar-benar mencintai Eriana sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SMA.
Hatinya pun sakit bila harus mengenang memori indah bersama Eriana, dimana ada Firman disitu selalu ada Eriana yang selalu menemani Firman. Setiap kali memandang eriana dari kejauhan rasa sakit itu semakin dalam.
Firman ingat pesan Nadine kemarin untuk mencoba membuka hati pada Senjani, gadis cantik yang menurut Nadine serasi dengannya. Sebelum memutuskan untuk menembak Senjani, dari hari perkenalan dengan Senjani itu Firman berpikir berulangkali untuk menjadikan Senjani penganti eriana.
“woii… ngelamun aja udah bel masuk ni” ujar Yopi yang menepuk pundak Firman.
Firman pun beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah kaki sahabatnya berjalan menuju kelas mereka, dan mengikuti kegiatan pelajaran di jam terakhir.
*****
Jam pulang pun berbunyi semua anak berhamburan keluar meninggalkan kelas, Senja mengingat janji nya pada Firman yang akan bertemu di post satpam siang ini.
“Nes, aku duluan ya udah janjian sama kak Firman mau ketemuan” ucap Senja pada Nesya.
Mendengar ucapan Senja, Nesya, Fizha dan endah berbalik memandangi Senja dengan tatapan penuh Tanya.
“kalian kok lihatin aku kayak Gitu” Tanya Senja yang bingung melihat tatapan teman-temannya.
“Kak Firman itu siapa Nja” Tanya Fizha yang begitu penasaran.
“kakak kelas kita zha” kali ini Nesya yang menjawab.
“sejak kapan lu deket sama kakak kelas” Tanya Fizha kembali dengan tatapan yang lekat.
“hmm… deket si enggak Cuma baru kenal aja kemarin” jelas Senja.
“bau…baunya ada yang bakalan jadian nih sama kakak kelas ni” ucap Endah yang menyenggol lengan senja dengan bahunya.
“apaan sih, orang Cuma berteman doank” kata Senja yang wajahnya kini mulai merona.
“ya awalnya teman ntar ujung-ujungnya deman” ledek Nesya, membuat Nesya, Fizha dan Endah tertawa bersamaan.
Wajah senja kini kembali merona, malu mendengar ledekan dari ketiga teman-temannya.
“udah ah, akum au nemuin kak Firman dulu. Nggak enak ntar dia nungguin” ujar Senja yang langsung menyandang tasnya ke bahu.
“cie…cie…. Yang mau ketemuan sama pujaan hati” olok Endah kembali, dan mereka pun tertawa.
“mo gua temenin nggak” tawar Nesya.
“nggak usah Nes, biar aku sendirian aja” kata Senja dengan yakin.
“ah lu Nes nggak peka amat, orang mau dua-duaan lu malah mo jadi kambing congek” ucap Fizha sambil mentoyor kepala Nesya.
“aw… sakit tahu” kata nesya sambil mengelus kepalanya.
Semua tertawa melihat kelakuan Fizha dan Nesya. Akhirnya mereka keluar kelas bersamaan. Ketika sudah mendekati pos satpam, Nesya dan teman yang lainnya pun berpamit pada Senja saat mereka melihat Firman sudah menunggunya berdiri di samping pos Satpam. Mereka pun meninggalkan Senja seorang diri.
Dari kejauhan Firman melihat Senja ya sudah berpisah dengan segerombolan teman-temannya, senja pun menatap kea rah Firman. Firman tersenyum pada senja. Sambil menarik nafas dan menghela kasar mengatur debar jantungnya yang mulai tak beraturan, Senja pun memberanikan diri melangkahkan kakinya mendekati Firman.
“udah lama nunggunya ya kak?” ujar Senja pada Firman , ketika Senja sudah berada dihadapan Firman.
“nggak juga kok, baru aja” jawab Firman sambil menyapu rambut dengan tangannya. Sehingga Nampak wajah Ganteng dan imutnya.
“duduk sana aja yuk” ujar Firman yang menunjuk sebuah bangku panjang yang tak jauh dari Pos Satpam. Senja pun mengangguk mengikuti langkah Firman yang berjalan menuju bangku panjang tersebut.
Kini mereka sudah duduk bersebelahan di bangku tersebut, suasana canggung pun tercipta, mereka diam dalam hening. Senja lebih memilih untuk menunduk tak berani menatap firman berharap firman tidak mendengar detak jantungnya semakin tidak beraturan. Untuk pertama kalinya senja rasakan saat berduaan dengan Firman.
“Senja…” ucap Firman yang mulai memberanikan diri untuk bicara. Setelah ia diam untuk beberapa saat.
“iya kak” jawab senja yang masih saja tertunduk tak berani menatap wajah firman.
“gua boleh Tanya sesuatu nggak” kata Firman dengan sedikit hati-hati.
“Tanya apa?” ujar Senja.
“hmmm… tapi lu jangan marah atau pun tersingung ya?” ucap Firman yang mulai memutar posis tubuhnya sedikit menghadap Senja.
“iya aku janji kak” jawab senja, sambil melintir ujung roknya untuk mengurangi rasa groginya.
“lu udah punya cowok belum?” tanpa basa-basi Firman langsung bertanya langsung pada senja.
Kini senja memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Firman, yang sedari tadi sudah menatap Senja dengan wajah yang Nampak terlihat cemas.
“memangnya kenapa kak?” ujar Senja.
“ya gua nggak mau aja ganggu pacar orang” kata Firman yang kini mengalihkan pandangannya kedepan.
“aku nggak punya pacar kok kak” kata Senja yang mencoba bersikap tenang.
Firman pun menoleh ke senja dan terukir sebuah senyuman, Nampak wajah legah terlihat dari raut wajah firman.
“bagus donk” ujar Firman.
“kok bagus kak?” kata senja yang Nampak bingung.
“ya bagus lah berarti gua ada kesempatan ni buat jadi cowok lu” ujar Firman.
“haah….maksudnya kak?” Senja tersontak kaget mendengar ucapan yang dilontarkan Firman baru saja.
“iya… gua mau jadi cowok lu, boleh?” ulang Firman. Kini Firman tersenyum lebar menatap Senja yang terlihat Nampak salah tingkah.
“gimana? Boleh nggak?” Tanya Firman kembali. Kini senja menelan salivannya yang tiba-tiba nyangkut di kerongkongannya. Senja bingung harus menjawab apa, di satu sisi senja memang mengagumi sosok laki-laki yang kini dihadapannya, namun disisi lain senja ragu akan rasa yang dia rasakan saat ini. Haruskah dia terima atau haruskah dia tolak. Sungguh tak pernah senja bayangkan harus di tembak sama bintang lapangan idola para cewek-cewek satu sekolah.
“ya tuhan aku harus jawab apa?” ucap Senja lirih dalam hati.
“ooh… gua tahu lu pasti nggak maukan nerima gua” ucap Firman yang sedikit terlihat sedih dan kecewa, karena senja masih belum juga memberikan jawaban padannya.
“bu…bukan begitu kak” cepat-cepat senja menyelah perkataan Firman.
“nggak apa-apa kok Nja, lu berhak kok nolak gua” ujar Firman. Kini firman yang Nampak tertunduk lesu, karena firman mengira senja tak akan menerima dia.
“iya deh kak Senja mau” langsung Senja menjawab, firman pun menoleh dengan mata melotot setengah tak percaya mendengar perkataan senja yang akhirnya menerima dirinya untuk jadi kekasihnya.
“bisa ulangin nggak Nja” kata Firman yang langsung meraih kedua tanggan Senja dan menggenggamnya dalam genggamannya.
“iya aku mau kak” ulang Senja dengan memberikan senyuman termanis pada Firman. Firman pun tanpa kata lagi langsung mendekap tubuh senja dalam pelukannya.
“Makasih ya Senja” bisiknya, senja pun mengangguk dan tersenyum.
Firman sangat terlihat bahagia saat cintanya di terima oleh senja, walau sejujurnya dalam hati firman belum 100% bisa mencintai Senja sepenuh hati karena sebagian hatinya masih dibawah pergi oleh Eriana mantan terindahnya. Namun Firman sedikit berharap agar Senja bisa mengobati lukanya itu dan bisa melupakan Eriana sepenuhnya.
Kini Firman merenggangkan pelukannya dan kembali memegang tangan Senja dan menatap Senja yang masih saja tersenyum padanya.
“jadi mulai sekarang kita jadian ya” kata Firman, senja pun mengangguk.
“ya udah kalau gitu kita pulang yuk udah siang juga, biar aku anter ya” kata Firman yang sembari melirik jam di tangannya.
“nggak usah kak, aku naik taxi aja” tolak Senja yang masih cangung harus pulang bareng sama Firman.
“lah kok naik taxi. Kan aku ini sekarang pacar mu senja” ujar Firman yang megelus kepala Senja dengan manja.
“tapi……”
“tapi kenapa?” Tanya Firman dengan mengerutkan keningnya.
“aku belum terbiasa kak pulang bareng cowok” jelas Senja yang Nampak malu-malu.
“makanya mulai sekarang harus dibiasain” ujar Firman, yang langsung mengenggam tangan Senja dan mengajak Senja menuju parkiran Motor.
Kali ini senja tak bisa menolaknya, senja pun akhirnya mengikuti langkah Firman yang masih saja mengenggam tangan Senja. Sesampainya di parkiran motor, Firman langsung memasangkan helm ke kepala Senja dan tak lupa mengunci pengait helmnya. Di tatapnya wajah cantik Senja dengan tatapan sayang. Dan kemudian Firman menghidupkan Motornya, menoleh kearah senja memberika aba-aba pada senja untuk segera naik. Senja pun akhirnya naik dengan berpegangan dengan pundaknya Firman, setealah memposisikan duduknya, firman pun melajukan motornya keluar dari perkarangan sekolah.