Raja terus mengamati sampai Ruma masuk bersama seorang wanita. Sementara wajah Rasya terlihat begitu kesal.
Pria itu semakin penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Namun, tak gegabah menyapa Rasya lantaran tak punya alasan yang tepat maksud keberadaannya di sana.
Setelah beberapa menit berlalu, Rasya memutuskan masuk. Namun, langkahnya terhenti saat prasangkanya merasakan ada seseorang di luar sana yang seperti tengah mengamati pergerakannya.
Raja sendiri langsung beranjak cepat begitu melihat Rasya menoleh. Dia perlu tahu lebih dulu tanpa melibatkan siapa pun.
"Kaya ada orang," gumam Rasya berjalan mendekat. Sekilas seperti melihat bayangan orang lain, tetapi tak begitu jelas. Ia yang hendak masuk malah penasaran untuk melihat dulu siapa dibalik pepohonan hias itu.
Sementara Raja yang berada di tempat persembunyiannya pun harap-harap cemas sembari menyiapkan prakata barang kali ditemukan oleh Rasya. Dia berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat.
"Rasya, ngapain kamu masih di luar?" seru Nyonya Ranti melihat putranya tak kunjung masuk.
"Mi, iya Mi sebentar," sahut pria itu lalu berbelok. Urung untuk melihat apa yang membuat hatinya tidak tenang. Walaupun hatinya masih penasaran. Namun, siapa juga malam-malam begini berkeliaran di komplek orang. Mungkin memang hanya perasaan Rasya saja.
Rasya berjalan cepat meninggalkan halaman rumahnya. Seketika Raja dibalik persembunyiannya merasa lega. Hampir saja, dia bertatap muka dengan Rasya.
"Mereka ada hubungan apa ya?" gumam Raja jelas kepo.
"Astaghfirullah ... seharusnya aku pulang. Ini kenapa hati jadi gini banget sih," batin pria itu berjalan mendekati mobilnya yang terparkir lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan pulang, bahkan sampai rumahnya, Raja terus kepikiran. Dia sampai kesal dengan dirinya sendiri sebab otak itu tidak bisa teralihkan.
"Apa yang terjadi denganku ya Rabb, kenapa aku teringat terus dengan wanita itu. Ini tidak boleh terjadi, bukankah dia mempunyai suami? Lalu, apa hubungannya dengan keluarganya Rasya?" Raja terngiang-ngiang sampai rumah.
Sementara Ruma yang kelihatan begitu lelah, diam saja saat Rasya memarahinya. Sudah menjadi bagian dari kebiasaan pria itu mengeluarkan prakata yang tidak enak didengar. Dia dalam kondisi malas debat, malas marah, dan tidak ingin meladeni perkataan pria yang berstatus suaminya itu.
"Sebaiknya kamu masuk kamar, Rum, mandi, terus istirahat," ucap Mami Ranti berbaik hati. Kaget, saat tadi melihat Rasya begitu emosi sampai memarahinya di luar.
"Iya Mi, terima kasih, maaf Ruma jadi buat Mami menunggu tadi. Apakah Mami sudah makan?"
Ada rasa bersalah di hati Ruma terhadap mertuanya yang selama ini memperlakukan baik itu.
"Sudah, Mami sudah makan pesanan kamu. Apa kamu juga sudah makan?" balas Mami Ranti seperhatian itu.
Ruma mengangguk, melihat pergerakan Rasya masuk, Ruma langsung undur diri pamit ke kamar. Dia berjalan menuju kamarnya, Ruma lupa kalau saat ini bahkan tengah mengungsi di kamar suami. Hal itu tentu membuat Rasya semakin gemas dan kesal.
"Ruma, mau ke mana? Masuk ke kamarmu!" seru pria itu berjalan cepat menghampirinya.
Ruma baru menyadari kekeliruannya hari ini. Namun, sungguh ia malas dan lelah berasa dalam satu ruangan bersama suaminya.
"Kamu jangan cari gara-gara ya, niat banget mau buat Mami curiga. Kamu hutang penjelasan tentang hari ini," bisik Rasya menarik gemas tangan istrinya.
"Kami ke kamar dulu, Mi," pamit Rasya lembut. Meredam emosi yang kini tengah menyala.
Entahlah, apa yang sedang terjadi dengan Rasya. Bukankah katanya tidak harus ikut campur urusan masing-masing. Kenapa dia begitu marah dan berisik hanya karena Ruma pulang terlambat.
"Lepas," kata Ruma menariknya kasar. Dia menyorot dingin Rasya yang saat ini tengah menatapnya dengan kemurkaan.
Wanita itu berlalu begitu saja, tidak ingin peduli atau menjelaskan apa pun. Ia mengambil ganti di lemari, lalu beranjak ke kamar mandi. Lelah, kesal, bergemuruh menjadi satu dalam kalbu. Beruntung tadi ada Raja yang membantu. Ruma tidak tahu bagaimana nasibnya malam ini di tengah sepi yang mogok seperti tadi.
"Ruma! Mandi apa tidur!" seru Rasya mengetuk pintunya. Dia masih saja dalam keadaan kesal. Seperti ingin melampiaskan semuanya pada Ruma.
"Kenapa Mas, kamu mau pakai kamar mandinya?" tanya Ruma keluar dengan santai.
Rasya terdiam melihat wajah segar Ruma yang baru saja keluar. Dia mengekor langkah Ruma yang mendekati meja rias.
"Dari mana saja kamu?" tanya Rasya kali ini menahan suaranya. Tidak seemosi tadi, mengecilkan suaranya yang lantang.
"Aku kan sudah bilang motorku mogok, bagaimana caranya aku pulang begitu saja," jelas Ruma mengulang tadi. Dia kesal sendiri diperlakukan seperti ini.
"Kan bisa telpon, minta tolong nggak harus banget pulang selarut ini."
"Kapan kamu peduli, ck ... bukankah kamu sibuk dengan Rina." Ruma mencibir gemas.
"Kamu cemburu? Walaupun aku bersamanya, setidaknya aku ingat pulang untuk menghargai orang di rumah."
"Maaf Mas, aku lelah, bisa minta tolong untuk tidak membahasnya lagi."
"Sejak kapan kamu menjadi pembangkang? Kamu seperti bukan Ruma yang aku kenal selama ini."
"Iya Mas, ini Ruma yang asli. Kamu salah kalau menilaiku menjadi wanita penurut," ujarnya kesal. Berlalu begitu saja lalu menempati sofa.
Rasya menghela napas kasar. Kenapa justru ia makin kesal saat melihat Ruma bersikap dingin dan cuek begini. Apakah gegara tadi di rumah sakit. Terus Ruma merasa sakit hati dan cemburu. Ia bahkan tahu sendiri betapa sakitnya hati pria itu ketika harus menerima pernikahan mereka lalu meninggalkan kekasihnya.
Pria itu beranjak menuju pembaringan, menatap punggung Ruma yang berselimut rapat. Dia bahkan hampir tidak pernah menampakan lekuk tubuhnya di depan matanya. Bagaimana Rasya tertarik dengan istrinya yang serba tertutup itu. Sedangkan Rina, dia begitu seksi dan menggoda.
Malam yang panjang, menyelimuti masing-masing hati dari ketiga manusia yang merasa sedang tidak baik-baik saja. Ruma yang kepikiran dengan rumah tangganya yang hambar dan membosankan. Bahkan ia merasa tidak b*******h untuk melanjutkan. Menunggu hari yang tepat untuk mengakhiri semuanya dan berbicara pada kedua orang tuanya.
Rasya dengan pikiran dua wanita yang tiba-tiba sangat mengusiknya. Dia tidak mencintai Ruma, tetapi wanita itu istrinya. Dia yang begitu mencintai Rina, tetapi hubungan mereka terhalang statusnya.
Sedangkan Raja, cemas dengan perasaannya sendiri. Mendadak ia kepikiran perempuan sampai sebegini mengusik hatinya. Jujur, kemarin Raja sangat kesal dan marah. Mengira Ruma sengaja menjeratnya untuk kepentingan pribadi. Namun, malam ini, sepertinya dia melihat sisi lain dari wanita itu. Pria baik itu terus kepikiran sepanjang malam. Sampai ia beristighfar banyak-banyak. Padahal dia juga tidak lama lagi akan menikah setelah menjalani ta'aruf dengan seorang perempuan.
Hati Raja mendadak galau, walaupun sudah meredamnya dengan banyak kegiatan dan kesibukan. Seolah bayangan satu malam bersama Ruma kembali menyala menghangatkan otak dan perasaannya.
Pagi harinya, ia begitu bersemangat ke rumah sakit. Dia bisa saja berangkat lebih siang sesuai jam tugasnya. Namun, Raja justru ingin segera sampai ke rumah sakit. Tempat itu seperti ada magnet untuknya. Dia merasa bersemangat untuk hal lain.
"Terima kasih," ucap Ruma pada Rasya yang tumben-tumbenan pagi ini bersedia mengantarnya ke rumah sakit.
Perempuan itu sudah menolak, dia malas banyak drama di depan mertuanya. Namun, Rasya yang tidak ingin melihat ibunya menaruh curiga. Pagi ini terpaksa berbaik hati mengantar Ruma sampai tempat tugas.
"Ruma! Rasya!"