Raja menatap tubuh itu berlalu begitu saja. Mengabaikan rasa penasarannya yang sebenarnya sama sekali bukan urusannya.
Wanita itu sempat menengok sekilas, lalu beranjak dengan motornya. Dia tidak begitu peduli penilaian Dokter Raja terhadap dirinya seperti apa.
Seharusnya malam ini dia mematuhi perkataan suaminya. Membeli makanan yang enak-enak untuk mertuanya, lalu bersandiwara Rasya akan pulang terlambat karena lembur. Tetapi malam ini Ruma tidak ingin berbohong. Dia hanya memesan makanan tetapi tidak kunjung pulang. Ruma malah menyusul teman-temannya yang saat ini tengah makan di luar.
Bukan maksud hati tak patuh, dia hanya sedang lelah. Butuh healing untuk mengembalikan moodnya yang tengah hancur seharian ini. Apalagi besok dia mau menghadapi ujian, tentu butuh fisik yang sehat, serta hati dan pikiran yang baik.
"Sorry telat, udah pada pesen?" tanya Ruma langsung bergabung di meja yang sama. Tempat favorit bersama teman-temannya memanjakan perut.
"Baru kok, maaf aku kira kamu nggak datang. Jadi, cuma pesen tiga. Buruan pesen, nanti kita tunggu makan bareng-bareng."
"Iya, ada sedikit kendala tadi, makanya nyampainya lama," ujar Ruma beralasan. Padahal gegara Rasya yang jelas menghadangnya.
Berkumpul dengan teman senasib seperjuangan, membuat pikiran Ruma teralihkan. Sejenak dia bisa terhindar dari tekanan batin dan juga pikirannya. Sampai-sampai dia malas pulang. Kalau tidak sadar hari sudah malam, Ruma masih ingin berlama-lama di sana.
"Gaes ... aku pulang duluan ya," pamit Ruma usai makan. Walau malas, dia tetap memutuskan untuk pulang. Apalagi di rumah itu ada mertuanya. Walaupun dia bisa saja beralasan tugas malam. Sungguh, dia tidak ingin berbohong.
"Aku juga mau pulang, besok ujian kan, belum nyicil ini," timpal Mesya ikut bergegas.
Mereka berpisah kembali ke rumah masing-masing. Ruma dengan motornya yang selama ini menemaninya. Sementara dua di antaranya naik taksi. Lantaran Sada berbeda arah.
"Hati-hati Rum, sampai ketemu besok," seru Kay melambaikan tangannya.
"Ya, kalian juga," balas Ruma mengangkat tangannya sembari tersenyum. Dia langsung melajukan motornya. Belum juga setengah perjalanan, tetiba motornya berhenti.
"Loh ... loh, ini kenapa motornya. Kok mati sih," gumam Ruma panik seketika. Mendadak motor kesayangannya berhenti begitu saja. Ruma mencoba menstater ulang, tetapi tak kunjung menyala.
Wanita itu langsung turun dari kemudi. Menepikan agar tidak mengganggu perjalanan berkendara orang lain. Ia lebih dulu mematikan kontak, lalu mengecek bahan bakar.
"Bensin masih banyak, ini kenapa bisa mati gini sih," gumam Ruma kesal. Apes sekali, malam-malam begini malah pakai acara mogok segala.
Ruma mencoba menstater manual, tetapi tak kunjung hidup. Malah capek karena harus bolak-balik menyela dengan kakinya.
"Ayo dong please ... jangan mati sekarang," batin Ruma memohon. Pikiran dan hatinya langsung kacau seketika.
Beberapa kali berusaha, dia pun mencoba mencari bantuan. Barang kali ada bengkel yang masih buka. Mumpung belum terlalu malam juga.
Perempuan itu terpaksa mendorongnya. Hidupnya benar-benar tengah apes hari ini. Ingin rasanya perempuan itu mengumpat, lalu berteriak sejadi-jadinya. Namun, ia masih mikir mengingat itu di jalan. Dia belum gila, jangan sampai pikiran yang semrawut itu semakin membuat hati dan jiwanya terguncang.
Di tengah kegalauan yang melanda. Sebuah mobil berhenti tepat setelah melewatinya. Ruma ikut berhenti, memperhatikan sosok yang sepertinya tak asing turun dari sana.
"Ruma, beneran kamu ternyata, motornya mogok?" tanya Raja iba. Dia tidak menyangka akan bertemu di jalan pulang dengan suasana tidak mengenakan begini.
"Iya, nggak tahu kenapa," jawab Ruma tidak ketus seperti biasanya. Berharap Raja mau membantunya. Jujur, malam begini dia takut juga di jalan agak sepi.
"Coba sini aku lihat," ujar pria itu mencoba membantunya.
Raja mencoba melihat bagian busi, dan juga perkabelan. Tidak ada masalah, kabel juga aman. Terlihat fokus meneliti satu persatu bagian dari komponen motor itu sendiri.
Tanpa terasa Ruma menatap Raja begitu dalam. Lebih tepatnya mengamati setiap pergerakan pria itu. Saat Raja mendongak, tak sengaja tatapan mereka bertemu. Ruma langsung memutusnya sembari bertanya-tanya.
"Apanya yang rusak?" tanya Ruma mengalihkan tatapannya yang jelas kentara menyimak.
"Belum ketemu, kamu sudah dari tadi dorongnya?"
"Baru kok, mau nyari bengkel."
"Jam segini mana ada yang masih buka. Bukannya seharusnya kamu sudah pulang dari sore? Kok baru nyampai sini?" tanya Raja penuh selidik. Tidak bisa menahan rasa keponya kali ini.
"Mampir makan dulu tadi sama teman-teman," jawab Ruma jujur.
Tumben tidak sejutek biasanya. Bahkan mau menjawab dengan nada yang enak didengar.
Pria itu baru ngeh, setelah kunci kontak diputar ke posisi on, ternyata tidak ada suara apa pun alias sepi. Bersamaan dengan hidupnya lampu sistem injeksi di panel instrumen, dalam kondisi normal seharusnya terdengar suara fuel pump, tetapi ini tidak.
"Kayaknya rusak fuel pump-nya, Rum, harus diganti ini. Mondok dulu di bengkel."
"Ada rekomendasi yang bisa dipanggil nggak? Sorry ngerepotin."
"Iya, aku coba panggil bengkel," ucap Raja berniat membantunya.
"Rumah kamu masih jauh?" tanya Raja sekedar ingin tahu."
"Lumayan, dua belas menitan lagi. Kenapa?"
"Nggak pa-pa, aku pesankan taksi saja ya," ucap Raja berniat membantu.
Sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi menawarkan tumpangan hanya berdua saja juga bukan solusi. Takut membuat orang salah persepsi. Apalagi mereka bisa dibilang rekan dinas, jadi Raja memilih cari aman saja. Toh Ruma juga sepertinya tidak nyaman sekali setiap dekat dengannya.
"Biar aku saja, sebelumnya terima kasih sudah memanggilkan bengkel untukku."
"Ya," jawab Dokter Raja tak kunjung beranjak. Apakah pria itu ingin memastikan sampai orang bengkel panggilannya datang? Mungkin.
Dia baik, dia respect, mungkin Ruma salah menilai gegara kejadian malam itu. Sungguh, ia masih belum bisa lupa walau sudah jalan lebih dari satu minggu.
"Dokter Raja! Motornya kenapa, Dok?" tanya seorang pria bengkel menghampiri.
"Tiba-tiba mogok, sudah kuperiksa bagian kabel aman. Curiga fuel pump-nya yang rusak. Tolong perbaiki ya, besok saya ambil."
"Siap Dok, ini saya bawa ya," ucap pria itu pamitan seraya membawa motor Ruma. Perempuan itu pun membiarkan saja. Kali ini sepenuhnya mempercayakan pada Dokter Raja.
"Makasih, Dokter kalau mau pulang, pulang saja. Saya sudah pesan taksi," ujar Ruma merasa tak enak terjebak berdua begini.
"Iya, sebentar lagi," jawab pria itu masih menunggunya. Sengaja membuka pintu depan agar bisa leluasa duduk di sana. Mengambil air minum yang tersimpan di cup holder, lalu mengaliri tenggorokannya beberapa tegukan.
"Mau minum? Kelihatannya kamu haus setelah dorong tadi," tawar Raja mengambil botol air mineral lainnya.
"Makasih Dok," jawab Ruma menerima dengan gamang.
Wanita itu terlihat kesulitan membukanya. Raja yang melihat itu, spontan mengambil alih, lalu dengan sekali putaran membuka sealnya. Kembali memberikan pada Ruma yang kini malah tengah menatapnya dengan perasaan canggung.