“Buka matamu dan tatap aku.”
Suara rendah itu mengalun bagai mantra, membelai gendang telinga dengan kuasa mutlak.
Telapak tangan pria yang lebar dan kokoh merengkuh pinggangnya, menarik tubuh mereka tanpa sisa ruang, lalu membawanya melayang dalam pusaran rasa yang memabukkan. Tiap kecupan yang jatuh di sepanjang leher menjelma api kecil, menjalar membakar urat nadi, menuntut penyerahan diri secara utuh. Sentuhan itu tidak lagi sekadar memuja, melainkan merusak dan membangun ulang dirinya dalam dekap d**a bidang yang menghanyutkan.
“Lebih dalam, Raven.”
Raven menenggelamkan wajah di ceruk lehernya, menghirup aroma kulitnya seolah ia adalah candu satu-satunya di dunia yang sekarat. Setiap gerakan jemarinya di atas kulit wanita itu terasa begitu menghipnotis, menuntunnya pada puncak kebasahan yang membuat lutut kehilangan tenaga. Bibir pria itu membakar setiap jengkal permukaan tubuhnya dengan keintiman yang menenggelamkan, mengubah rasa takut menjadi kepatuhan manis yang luar biasa.
Kemudian bergerak dalam ritme yang memabukkan. Mengalun dengan irama yang membuat wanita di bawahnya tak lagi bisa menahan diri.
Jari-jari Natalie gemetar di atas halaman buku bersampul hitam itu, menelusuri tiap baris kalimat yang merayap di kulit seperti sentuhan jemari panas tak kasat mata. Diksi-diksi itu meracuni kepalanya, membedah hasrat perempuan yang lama meringkuk dalam imajinasi terlarang.
Di dalam fiksi kelam tersebut, sang tokoh pria menjelma badai yang meruntuhkan benteng pertahanan.
Napas Natalie putus di tenggorokan. Gelombang panas menyengat dari perut bagian bawah, menghantam kesadarannya hingga berkeping-keping. Lembaran kertas di pangkuannya terasa semakin berat oleh peluh tipis yang meruap di ujung jemari.
Buku di tangannya terlepas ke atas selimut. Tanpa sadar, punggungnya melengkung kecil di atas kasur yang empuk. Tangannya sendiri bergerak turun, menelusuri lekuk pinggang dan paha dengan sentuhan gemetar, menerjemahkan tiap diksi liar sang penulis menjadi nyata di atas kulitnya sendiri. Sensasi menggelinjang itu menghantam bertubi-tubi, membuat bibirnya terbuka dalam desahan tertahan yang memecah malam, menyerah sepenuhnya pada buaian nikmat yang membuatnya terlena tanpa sisa. Hingga suara ketukan di pintu kamarnya menginterupsi aktivitasnya yang tak wajar.
“Nath, sudah saatnya pergi.”
Suara Elena terdengar lantang memanggil nama sang putri. Natalie membuang napas dengan kasar. Sejujurnya, hari ini adalah hari di mana ia dan sang ibu pindah ke rumah ayahnya yang baru. Pria yang entah siapa, yang dinikahi Elena diam-diam.
“Iya, Bu. Tunggu sebentar,” sahut gadis itu lirih.
Natalie bangkit. Memejamkan mata sebentar demi menetralkan debar dalam dadanya sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi. Ia berniat membasuh muka dan membersihkan diri sekenanya sebelum pindah.
Usai mengemas novel-novel kesukaannya, ia menggeret koper menuju ke halaman. Mobil jemputan sudah menunggu. Lengkap dengan sopir dengan senyum ramah yang menyapa Elena dan Natalie ketika mereka keluar dari rumah.
“Dengar! Kita akan pindah ke rumah yang lebih baik daripada rumah ini. Jadi, Ibu harap kamu akan terbiasa dengan keadaan baru kita,” jelas Elena.
“Iya, Bu,” sahut Natalie singkat.
Sejujurnya, ia tak yakin jika keputusan ibunya menikah itu sudah tepat. Nyatanya, trauma rumah tangga yang mereka alami tidak separah yang terlihat. Ayahnya hanya tidak bertanggung jawab dan memilih kabur ketika kebutuhan mereka makin banyak.
Mobil mewah itu akhirnya meluncur mulus membelah jalanan. Natalie sibuk memperhatikan kelebat bangunan di pinggir jalan dan pohon-pohon yang mereka lewati. Setengah jam kemudian, mobil yang membawa mereka memasuki gerbang tinggi sebuah kawasan hunian mewah di pinggir kota. Natalie menatap ke luar jendela dengan mata membelalak. Rumah di hadapan mereka berukuran masif bergaya arsitektur klasik modern, dikelilingi halaman luas yang asri dan pagar tinggi menjulang.
Sudah bisa ia bayangkan bagaimana level penghuninya. Jelas berbeda dengan sang ayah yang bahkan hanya mampu mengajak mereka tinggal di sebuah rumah sewaan.
“Gimana, Nath? Bagus, kan, rumahnya?” tanya Elena.
Natalie membuang napasnya dengan kasar, lalu mengangguk lemah. Sepertinya ia bisa menebak, orang seperti apa yang dinikahi sang ibu. Jelas bukan kalangan biasa.
Sopir menurunkan semua koper dan barang bawaan mereka. Sementara pintu utama dibuka dari dalam dan seorang pelayan bergaun rapi tersenyum.
“Selamat datang Nyonya Elena dan Nona Natalie. Tuan sudah menunggu di ruang tengah,” sapanya.
“Halo, Maria. Terima kasih.”
Elena mengusap tangan ART itu pelan, lalu menggandeng lengan Natalie menuju ke ruang tengah bangunan megah tersebut. Setelah melewati ruang tamu yang didominasi warna gelap, mereka manapakkan langkahnya di marmer putih bersih yang wangi. Seorang pria duduk di sofa, ia menunduk mengamati tablet di tangannya yang berpendar.
“Tuan, Nyonya Elena dan putrinya sudah tiba.”
Laporan dari sang pelayan menarik perhatian pria itu, seketika ia mendongak. Tersenyum ramah pada wanita yang baru saja ia nikahi dan putrinya yang langsung terkesiap.
“Selamat datang di rumah ini.”
Natalie terkejut ketika mengetahui bahwa yang ada di hadapannya adalah dosennya di kampus. Damian melepas kacamatanya, lalu mengulurkan tangan ke arah Natalie seperti pria biasa yang berkenalan pada anak tirinya. Nyatanya, sikapnya ini sangat berbanding terbalik ketika ia sedang mengajar di kelas.
Sementara Natalie masih terpaku. Di hadapannya kini berdiri Profesor Damian. Dosen sastra yang terkenal kaku dan dingin. Sering tidak mentolerir kesalahan kecil apa pun ketika memberikan tugas. Namun, kini Natalie melihatnya sebagai ayah tiri yang ramah.
“T-terima kasih Profesor,” sahut Natalie gugup seraya menyambut uluran tangan Damian.
“Kamu pasti kaget, ya, Nath. Iya, ibu menikah dengan Damian. Dosen yang mengajar di kampus kamu. Kita sudah lama saling kenal,” jelas Elena di tengah kecanggungan yang terjadi.
Natalie hanya mengangguk lemah mendapati kenyataan yang terlihat aneh baginya. Saat itu, Damian tersenyum dan kembali membuka suara.
“Saya harap setelah ini kita bisa belajar hidup sebagai keluarga,” katanya.
“Tentu saja, Damian. Kita sekarang adalah keluarga,” sahut Elena senang.
Natalie hanya bisa mengangguk lagi. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Namun, tak lama pelayan yang tadi membantu mereka datang lagi. Ia menyampaikan jika kamar sudah siap untuk ditempati. Jadi, Damian meminta Natalie dan Elena untuk membawa barang-barang mereka masuk.
Pelayan tadi kemudian membimbing Natalie menuju kamar tidur di lantai dua untuk merapikan barang-barangnya. Kamar itu luas, bernuansa abu-abu elegan, dengan jendela besar menghadap ke arah taman belakang.
Setelah meletakkan koper, Natalie teringat ada satu tas jinjing berisi buku catatan kuliah yang tertinggal di bagasi mobil di luar. Dia bergegas keluar kamar untuk mengambilnya di lantai bawah.
Saat melewati lorong menuju tangga, langkah Natalie terhenti di dekat pintu kamar utama yang tidak tertutup rapat. Suara bariton Damian terdengar jelas dari dalam ruangan.
"Kamu bisa memakai kamar ini sepenuhnya, Elena," ucap Damian tenang. "Aku akan menempati kamar di sebelah. Kita tidak perlu saling membebani."
Elena tersenyum, lalu mengangguk lemah.
“Terima kasih, Damian. Aku tahu pernikahan ini hanya sebatas saling menguntungkan saja. Aku akan menjalankan peranku dengan baik, jangan khawatir.”
Natalie terpaku mendengar ucapan sang ibu. Ia menutup mulutnya dengan tangan demi menjaga suaranya agar tidak keluar, lalu menggeleng lemah.
“Jadi, mereka nggak saling cinta?” batinnya mengambil asumsi cerdas.