"Sudah hampir satu jam kita menunggu tapi anak itu belum juga nampak batang hidungnya,'' seorang sahabat mendengus kesal karna yang di tunggu-tunggu belum juga nampak di depan matanya. mereka memang sudah janjian pukul delapan malam untuk berkumpul bersama, bukan sebuah reuni tapi hanya seperti kumpul kebo.
''Andika kau sabarlah sedikit, dari dulu kau memang orang yang tidak sabaran dalam hal menunggu,'' Aditya berkata pelan namun sedikit menusuk walaupun itu baik agar Andika bersabar dalam menunggu, Aditya yang duduk di pinggiran pelabuhan sambil mengoyang-goyangkan kedua kakinya kiri dan kanan secara bergantian, ini salah satu trick Aditya untuk menghilangkan kejenuhan saat menunggu.
"Kak coba lihat bintang yang berbentuk layang-layang itu." Andini menunjuk langit sambil mengarahkan telunjuk tepat ke bintang yang dimaksud.
''yang mana Dek,'' Aditya coba bertanya kembali dengan nada ingin tahu sambil tersenyum.
"itu Kak coba Kakak lihat baik-baik jari telunjuk ku," Andini berusaha menunjuk dengan meyakinkan agar Kakaknya bisa melihat bintang yang di maksud.
"ohhhh... itu bukan bintang Dek tapi rasi Bintang namanya," Aditya meyakinkan Adiknya bahwa memang yang di tunjuknya bukan seratus persen salah bukan seratus persen juga benar , karna Bintang dan Rasi Bintang itu memang berbeda artinya.
Aditya yang berwawasan luas memang selalu memberikan jawaban yang masuk akal dan logis buat Andini ketika mulai menanyakan sesuatu yang tidak di ketahuanya.
"memang apa bedanya Bintang dengan Rasi Bintang?" Andika bertanya tampak penasaran dari raut wajahnya sudah terlihat.
"iya apa bedanya?" Andini ikut bertanya karna keingintahuannya dengan kata-kata baru di dengarnya barusan.
Andini sudah mempelajari pelajaran Rasi Bintang dan Gugus Bintang di sekolah , mungkin saja dia lupa.
"Bintang adalah benda yang ada di langit dan dia bisa memancarkan cahaya dan Rasi Bintang adalah sekelompok Bintang yang terlihat saling berhubungan membentuk suatu coonnnnnnfiiiiiguuuuuraaaasiii." Aditya mencoba menjawab sekuat daya ingetnya yang remang-remang.
"ohhh... " Andini dan Andika menjawab kompak.
"sudahlah besok juga kalian sudah lupa lagi" Aditya tersenyum melihat kedua sahabatnya.
"terus Rasi Bintang layang-layang itu apa namanya?" Andini masih belum merasa jawaban inti dari pertanyaannya terjawab jadi dia bertanya lagi.
"itu namanya CRUX atau Rasi Crux" jawaban simpel dari Aditya membuat dua Sahabatnya ngangguk-ngangguk serasa sudah paham seratus persen.
"adakah fungsi dari Crux itu" Andika mulai penasaran model-model Bintang angkasa yang saling berhubungan itu.
"iya Kak fungsinya apa" Andini pun memulai pertanyaan tahap keduanya setelah tahap pertama sudah terjawab namun simpel walaupun dia kurang puas rasanya.
"itu yang paling atas atau pucuk namanya Bintang Gacrux , yang di bawah namanya Bintang Acrux , yang sebelah kiri Bintang Mimosa , sebelaha kanan namanya Crucids , apabila di tarik garis dari Bintang Gacrux ke Acrux , pasti akan menunjuk ke arah Selatan, naaahhh... dari sinilah para nelayan atau pelayar jaman dahulu menjadikannya kompas alam."
"ohh... jadi fungsinya sebagai kompas ya Kak? Andini menatap Aditya penuh harap agar jawabannya seratus persen benar.
"iyyyaps... kamu bentul Andini" Aditya tertawa sambil mencubit kedua pipi Andini.
Andika hanya tertawa ringan melihat Aditya mencubit kedua pipi Andini sambil menariknya kekiri dan kekanan.
"aduh... Kak sakit Kak lapasin donk," Andini merengek meminta cubitan Aditya supaya di lepas.
"tidak mau, cubitin pipi gembul kamu asik tau" Aditya tetap tidak mau melepaskan cubitan di pipi Andini.
Andika hanya tertawa melihat wanita yang mereka sudah anggap seperti adik mereka sendiri, memang Andini terkesan manja di depan Kakak-kakaknya , terlebih kepada Aditya, kadang mereka seperti seorang kekasih apabila sudah saling berboncengan di atas motor.
Seberkas cahaya membeleh remang-remang pelabuhan yang lama-kelamaan menjadi cahaya terang menyilaukan mata, mereka tetep asik bercanda ria di tempat peristirahatan sementara kapal-kapal barang yang datang dari luar kota entah dari mana datangnya hanya bertuliskan nama kapal bukan asal datangnya kapal.
Pelabuhan ini terbagi menjadi dua , yang searah gerbang masuk pelabuhan untuk kapal barang dan yang dua belok kiri dari arah masuk untuk kapal penumpang, untuk kapal penumpang agak panjang dari kapal barang , karna kapal yang masuk berukuran besar jadi butuh kedalaman tertentu agar kapal tidak kandas oleh karang laut.
"Aditya, coba perhatikan motor di pelabuhan sebelah" Andika mengarahkan tangannya ke pelabuhan kapal penumpang.
"iyah Kak itu mirip motor Hamdan." Andini melihat dengan pandangan memastikan.
"loohh... kok berboncengan yah?" muka Aditya bingung "katanya mau datang sendiri."
"ini mungkin alasan kenapa dia datang terlambat." Andika berkata seolah seperti tukang prediksi skor bola.
Motor pun berbalik arah menuju ke arah mereka yang sedang berdiri memastikan bahwa ini adalah teman yang mereka tunggu-tunggu.
"maaf bos, saya terlambat," hamdan tersenyum "soalnya teman butuh angin segar jadi saya ajak jalan." Hamdan lagi-lagi tersenyum sambil menutup gigi agar tak terlihat.
"tidak ada yang bos disini Hamdan, kita semua sama," jawab Andika yang coba menyemaratakan status bahwa kita mereka sederajat.
"Kak, perempuan yang ada di boncengan Kak Hamdan seperti Ade kenal deh," bisik Andini ke telinga Aditya.
Andika menghampiri Hamdan yang sedari tadi belum mau turun dari motornya bebeknya yang berpenumpang wanita berambut cepol poni menjuntai yang sedang asik memainkan ponsel , sementera Andini dan Aditya hanya duduk di trotoar pelabuhan.
"kamu dapat cewek ini dari mana, Ham?" Andika bertanya sambil memandang wanita berambut cepol dari segala arah.
"ya... dapat dari rumahnya lah kan, masak dari kuburan" Hamdan menjawab dengan senyuman kebesarannya.
Andini dan Aditya kompak tertawa.
"Dek, tadi katamu seperti mengenal perempuan itu" Aditya bertanya memastikan.
"iyah Kak mirip teman sekelasku, cuma agak remang jadi wajahnya tidak terlalu jelas" Andini sedikit kesal karna tidak dapat menebak.
"Dek, kalau mirip sih Kakak mungkin masih maklum, kan remang-remang , jadi wajarkan, hehe" Aditya tersenyum memaklumi.
"Hamdan, perkenalkanlah dia kepada kami , siapa tau ada tautan keluarga antara aku dan dia." sambil menatap wajah wanita berambut cepol Andika menaikkan kedua alis matanya dua kali secara urut menandakan gombalan ringan.
"sori Bos saya lupa." Hamdan tersenyum sambil menggaruk kepala yang tiba-tiba terasa gatal akibat permintaan temannya.
"kan tadi saya sudah bilang, tidak ada bos di antara kita." Andika mendengus sambil bertolak pinggang menatap Hamdan.
"ok Booo... ehh sori lupa, hahaha," Hamdan tersenyum sambil mentap lantai cor pelabuhan.
Lagi-lagi Andini dan Aditya ikut tertawa melihat tingkah laku teman mereka, dari tadi mereka memang hanya menyimak
"nama kau siapa cantik?" dengan lenggak lenggok Andika mulai mengangkat tangan kanannya sejajar denga perut , pertanda perkenalan akan segera di mulai.
"Ameliana." Singkat padat dan sudah mewakili jawaban atas pertanyaan yang di ajukan kepada Ameliana.
"jadi, mau di panggil Amel, Lia atau Ana, cantik?"tangan Andika masih tidak mau lepas dari berjabat tangannya itu.
"up to you, the choice is yours," Amel tersenyum sambil meletakkan tangan yang menggenggam ponsel di d**a dan tangan yang satunya tetap berjabat tangan.
"aduh" Andika menjadi malu, sambil menatap ke arah Aditya , untuk meminta bantuan mentraslate apa yang barusan Ameliana katakan.
"eheeem" Hamdan memberi kode tanda agar tangan Andika lepas dari tangan Ameliana.
Andika berlari kecil menuju ke arah Aditya dan duduk di antara ke dua temannya.
Ameliana dan Hamdan hanya tertawa dengan tanpa suara melihat Andika yang penasaran akan arti kata barusan, Andika memang benci bahasa inggris , tapi apa boleh buat karna dia tidak mau di terlihat bodoh di depan teman-temannya, apa lagi ada wanita baru di kenalnya , dia harus otomatis meminta bantuan Aditya.
"Dit, dia tadi pake bahasa inggris, kamu tau artinya kah?" Andika memfokuskan wajahnya ke arah Aditya berharap jawaban yang positif.
"ya tau lah, itukan bahasa inggris umum yang biasa di gunakan sehari-hari" Aditya memberi jawaban separuh hati agar Andika lebih penasaran lagi.
"terus, terus artinya apa?" masih seperti raut wajah sebelumnya Andika berharap.
"kasih tau gak ya" Aditya dengan wajah pura-pura berpikir.
"kasih tau saja Kak, kasihan Kak Dika" Andini tersenyum menahan tawa mengikuti alur candaan Aditya.
"iya iya iya , artinya terserah kau , pilihan ada padamu, begitu" Aditya memperpendek jarak tatapannya sambil menaikkan nada suaranya ke arah Andika.
"payah, mana Amel mau sama cowok yang tak tau bahasa inggris, hahaha" Hamdan tertawa seolah-olah dia sudah pandai berbahasa inggris.
"tidak lah, Amel itu tidak pilih-pilih kalau masalah cowok, yang penting baik hati itu sudah lebih dari cukup" Amel menatap Andika dan hamdi seperti memberi harapan kepada mereka.
"ohh, tenang saja saya ini laki-laki yang baik hati, tidak perlu di ragukan lagi Amel." Dengan bangga Andika mempromosikan dari , tanpa beban bahwa yang membawa Amel adalah Hamdan.
"berarrty kamu siap jadi sainganku , Andika?" Hamdan bertanya meminta kepastian perang saudara.
"yups, saya bersedia menjadi rival mu kawan." Andika menatap tumpul ke lawan perangnya.
"maaf ya, saya bukan piala yang harus di perebutkan" nada tak ingin di jadikan rebutan sontak keluar dari mulut Ameliana.
Andini dan Aditya hanya asik menonton pertengkaran ringan temannya itu, memang tidak serius tapi bisa jadi bencana kalau di hasil akhir , kalau sudah masalah cinta , hati bisa buta lupa kawan maupun lawan , itulah cinta , tapi kalau cintanya sehat hasilnya bisa positif dan bila cinta hanya karna nafsu bisa menjadi racun bagi keduanya bahkan orang tua bisa terkena racunnya.
Ameliana memang berniat hanya untuk mencari udara segar , bukan mencari pacar , bosan di rumah mumpung malam minggu jadi dia di tawarkan Hamdan untuk jalan-jalan ke Pelabuhan Cinta tempat para anak-anak muda berpacaran , ada juga yang hanya kumpul-kumpul biasa , biasanya anak-anak yang ingin balapan liar kumpulnya di Pelabuhan Cinta , setelah sepakat baru mereka menuju arena yang mereka sepakati.
"yang bilang Amel piala siapa?" Andika bertanya.
"tidak ada, cuma ya kalian memperlakukan seperti itu , jadi sama saja kan?" Amel tetap pada prinsipnya.
"Amel jam berapa mau pulang?" Hamdan bertanya seolah mengejek rivalnya.
"terserah Kak, saya kan cuma numpang," Amel merendahkan diri.
"pulang sama aku aja," Andika memberi tawaran.
"tidak bisa, kan saya kan saya keluar sama Hamdan , hamdan yang izin sama orang di rumah, jadi balik harus sama hamdan donk," Amel sebenarnya tidak ingin menolak tawaran Andika, tapi alasan barusan tidak bisa di bantah.