Pov Layla.
Saat itu. Living room, ruangan yang biasa digunakan keluarga untuk berkumpul, saling berbagi cerita, kehangatan, serta kasih sayang kini telah beralih fungsi menjadi ruang penindasan. Bahkan ruangan mewah ini selalu menjadi saksi bisu saat aku di bentak, dimarah dan disiksa oleh kedua manusia tidak tahu malu yang tak lain adalah ayah tiri-ku bersama istri keduanya, yaitu Tanteku sendiri.
“ Gak, aku gak mau nikah sama om-om ” Teriakku.
“ DIAAAM!!.. Diam! ” Bentak Tante Eka dengan suara begitu keras, karena sudah sekian kalinya aku membantah di setiap ucapan mereka.
“ Kau ini ternyata..” wanita tua itu berjalan semakin mendekat kemudian jari telunjuknya tanpa segan menoel keras dahiku, membuat kepalaku terhuyung ke belakang, namun tatapan penuh kebencian ku tak lepas darinya. “Memang benar-benar anak tidak tahu diri!.. tidak tahu juga cara berterima kasih! ” ia melanjutkan dengan tempo pelan tapi begitu terdengar menindas.
“ Hahah.. Berterimakasih?, untuk apa memangnya? ” Ya. Aku tetap berani untuk melawan walaupun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“ KURANG AJAAAR.... mulutmu selalu kotor!!. ” Plak!... Benar bukan?, satu tamparan mendarat di pipi sebelah kiri ku dari Tante Eka... aku sendiri bahkan tidak tahu lagi rasanya; sakitkah? atau hanya perih?
“ Jangan mulai lagi Layla!, kamu itu selalu bantah sama tante mu!. Lagipula memang benar yang tantemu bilang, kamu memang sudah seharusnya berterima kasih sama kami. Kami yang sudah nyekolahin kamu, kami juga yang ngerawat kamu sejak kematian ibumu!.. Jadi wajar saja jika kami meminta balas budi darimu. Tapi sepertinya.. kau mewarisi sifat egois dari ibumu.. ” See.. ayah tiriku akhirnya turun tangan juga, bahkan mengoceh perihal balas budi karena jasa mereka yang begitu mulia. Aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata itu. cih.. sekalian saja ku ludahi muka mereka berdua.
Katanya tadi merawat-ku? Apa aku tidak salah dengar, aku rasa kalian bukan merawat-ku, tapi menyiksaku. Namun kata-kata itu hanya mampu terucap didalam hati.
“ Tapi tetap saja aku gak mau menikah sama om-om yah ” Ucapku dengan suara parau karena ingin terisak. Well aku memang terlahir menjadi gadis yang cengeng sedari dulu. Entah dari mana aku mendapatkan bakat menangis ini.
“ Jangan menangis, gak ada gunanya Layla, kamu akan tetap ayah nikahin sama om Tio ” Tegas pria yang ku panggil ayah.
“ Gak mau!, kenapa enggak Indri aja yang nikah sama om-om itu!!. ” Jawabku secara spontan.
Plak!... Satu kali lagi, tamparan berhasil mendarat di pipiku tapi kali ini di pipi sebelah kananku, dan pelakunya tak lain adalah Tante s****n itu.
“ Kau benar-benar enggak tahu malu ya!!, Bisa-bisanya nyuruh anak kesayangan kami buat menikah sama si tua bangka itu ” Omel Eka. Hatiku tertawa getir mendengarnya.
“ Apa kau tahu betapa pentingnya peran om Tio di perusahaan saat ini Layla, kita sangat membutuhkan om Tio Layla... Lagipula semua ini untuk memajukan perusahaan ibumu ” Bujuk rayu si ayah tiri yang tidak tahu malu. Seketika aku terbungkam saat ayah tiri s****n ini membawa-bawa nama ibuku, walaupun aku tahu itu hanya akal-akalan mereka saja, tapi.. Entah mengapa hati ini terasa berdenyut tidak karuan. Aku ingin menangis sejadi-jadinya mengingat sosok itu. Sosok yang aku rindukan.
Tapi tiba-tiba terbesit sebuah rencana dari otak cemerlang ku untuk mengakhiri semua ini. Aku kembali mengingat perkataan salah satu satpam senior di rumahku, dia adalah pak Malik salah satu orang yang paling peduli denganku. Beliau pernah mengatakan kalau kematian ibuku sudah direncanakan oleh ayah tiri-ku. Tapi aku tidak semudah itu percaya. Dan pak Malik juga seringkali menawariku untuk kabur dari rumah ini, dan aku menolaknya karena aku masih ingin mempertahankan hak-ku di rumah ini. Namun sepertinya kali ini dapat aku pertimbangkan lagi ajakan dari pak Malik tempo hari.
“ Kalau kau tidak mau menikah sama om Tio, serahkan semua surat warisan mu Layla ” Timpal Tante Eka yang selalu kekeh ingin merebut surat wasiat itu dariku.
“ Enggak, aku gak akan pernah memberikan hak-ku kepada siapapun ” Bantahku.
“ Kalau begitu menikahlah sama om Tio, lagi pula hidupmu akan jauh lebih baik dari pada kau tinggal disini bersama kami, kau juga akan mandi uang setiap harinya kalau kau mau menikah sama dia Layla, jadi pikirkanlah baik-baik ” Rayu Tante Eka.
Aku diam sedang memikirkan suatu hal. Tapi hal itu membuat Tante dan ayah tiri-ku percaya bahwa mereka berhasil membujuk-ku untuk menikahi tua bangka itu.
Eka tersenyum sinis melihat ekspresi Layla. Ia yakin anak itu pasti tidak akan menolak lagi kalau sudah di imingi harta, karena memang semua wanita pada dasarnya memiliki tabiat yang sama pikir Eka. Wanita paruh baya itu juga sudah mulai menyusun rencana di otak dangkalnya. Setelah memastikan mendapat keuntungan dari pernikahan Tio dan Layla, maka secara perlahan ia akan membuat keponakan sialannya ini ikut bersama ibunya ke neraka di sana dengan cara yang sama. Hahah.. wanita itu tertawa di dalam hati mengingat rencananya untuk ke depan. Tapi setelah itu ia menghela nafas. Seandainya saja keponakannya ini ingin suka rela melepaskan surat warisan itu pada mereka, maka sudah dipastikan gadis itu tidak akan mengalami ini semua, melainkan sudah mereka tendang dari rumah ini.
Begitu Pula dengan Burhan, lelaki paruh baya itu menyunggingkan senyum. Ia merasa lega. Ternyata anak tirinya ini lebih muda ditipu ketimbang ibunya dulu. Dan kini, tinggal satu langkah lagi ia dapat melebarkan sayap kekayaannya sampai ke seluruh benua Asia kemudian menguasai semua harta warisan Lisa. Almarhum istri pertamanya.
“ Okey,, aku setuju, memang lebih baik aku pergi, lagipula untuk apa aku bertahan di rumah ini bersama orang seperti kalian yang tidak pernah punya hati. ” ucapku dengan nada angkuh seperti biasa.
“ Hemmm...” Tante Eka berdehem sambil memutar bola mata jengah, seolah malas mendengar omonganku barusan, begitupun dengan ayah tiri-ku. “ Baguslah kalau itu keputusanmu. ” Ucapnya diiringi senyum kecut lalu beberapa saat berubah menjadi seringai liciknya.
“ Tidurlah!, kau harus beristirahat yang cukup, besok pagi om Tio ingin bertemu denganmu. ” perintah ayah tiri-ku dengan suara sangat lembut. Aku tidak menjawab, dan langsung melangkah menuju ke kamarku.
Sebelum sampai di depan pintu kamar, tiba-tiba ada suara seseorang yang menahan ku dan membuatku kesal.
“ Wow.. Ada yang bakal nikah sama om-om nih,, haha.. kasihan deeehh... ” Ejek Indri. Sepupuku sekaligus anak kandung ayah tiri-ku bersama Tante Eka. Cih... ingin sekali aku mengoyak habis mulut s****n itu yang sungguh tidak tahu malu, tapi mengingat tidak ada gunanya berdebat dengan gadis bodoh sepertinya lebih baik tidak usah dipedulikan, aku pun langsung masuk dalam kamar.
Setelah pintu tertutup, tiba-tiba saja tubuhku lemas membuat bahu belakangku menempel pada daun pintu lalu perlahan tubuh lemas ini menyusut sampai terduduk lemas di lantai. Cairan bening pun tak segan lagi menerobos keluar dari sela kelopak mata. Tak tahan, aku mulai mengeluarkan Isak. Kenapa begitu malang nasibku, malang tanpa siapapun di hidup ini, tapi.. tak masalah bukan, ini juga bukan akhir, aku masih dapat merubahnya bukan. Ku hapus cairan bening dari kedua mataku, ku paksa tubuhku bangkit dari lantai menuju ranjang.
Ku buka laci nakas di samping ranjang tidur. Di sana terdapat beberapa lembar foto Almarhum ibuku bersama ayah kandungku. Tergambar di salah satu lembar, dia sedang menggendong seorang anak laki-laki, dan disampingnya terdapat seorang pria dewasa yang sedang memeluk mereka berdua, kemudian ada pula foto dimana ibu sedang mengandungku saat itu dan seorang anak laki-laki yang juga ku tahu itu kakak laki-lakiku, anak itu duduk manis di samping almarhum ibuku dengan kedua tangan yang melingkar seolah sedang memeluk perut ibu. Dulu ibu sering sekali bercerita tentangnya yang selalu ingin menggendong tubuh mungilku yang masih bayi.
Aku mengusap selembar foto yang ku punya dan membenamkan di d**a. Entah rasa apa ini, rasanya nyeri, dadaku sakit seolah menahan rindu pada seseorang, tapi pada siapa? ibu kah? atau kepada mereka yang tak pernah ku temui?. Rasanya begitu penuh dan sesak. Aku ingin mengabaikan semuanya! tapi tidak bisa... Aku hanyalah gadis biasa yang cengeng. Mungkin di depan orang lain mereka menganggapku sombong dan angkuh, tapi nyatanya semua itu hanya topeng. Topeng untuk menutupi ketakutan akan kekalahan ku saja.
Dari kecil aku hanya hidup bersama ibuku, karena ayah kandungku dan ibu sudah lama bercerai ketika usiaku baru menginjak dua tahun. Dan kini aku sama sekali tidak mengetahui dimana keberadaannya, ibu pun tak pernah mengatakan apapun tentangnya, entah dimana dia dan bagaimana, ibu tidak pernah membahasnya.
Dahulu ibu hanya pernah bercerita, kalau ayahku bekerja di luar kota dengan membawa kakakku Rangga, bersama dengannya. Namun sampai saat ini, aku tidak pernah mengenali sosok kedua laki-laki tersebut, dan aku hanya dapat melihat mereka dari bingkai foto ini, karena hanya foto inilah yang aku punya.
Tapi setelahnya terbesit kembali rencana ku tadi untuk kabur dan membawa semua surat warisanku dari rumah ini besok malam. Saat sedang berfikir seperti ini, tiba-tiba saja tenggorokan ku terasa sangat kering. Aku pun segera keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur untuk menghilangkan rasa dahagaku.
Ketika melewati ruang kerja ayah tiri-ku, aku melihat pintu ruangan itu sedikit terbuka, lampunya pun masih menyalah pertanda masih ada orang di dalam sana, lalu tanpa sengaja aku mendengar ada suara Tante Eka dan Ayah tiri-ku. Jarang aku mendapatkan kesempatan ini, tanpa segan ku dekatkan wajah di sela daun pintu yang sedikit terbuka, kuintip mereka dari luar. Tiba-tiba mataku terbelalak mendengar yang mereka ucapkan.
“ Jangan dulu Eka, kamu jangan terburu-buru. Dengar!.. sebelum anak ini mati, aku mau dia buat Tio senang dan percaya sama dia ”
“ Maksud kamu? ”
“ Aku mau Layla hamil dulu. Setelah itu, kau boleh melakukannya ” Aku menelan ludah kasar. Melakukan apa? Apa yang akan mereka lakukan padaku?. Apa?.
“ Mas, aku rasa gak perlu tunggu dia hamil, itu kelamaan mas, gimana kalau dia gak hamil-hamil, bakal lama kita dapetin harta warisannya ” ucap Tante Eka.
“ Kamu harus sabar dulu sayang, kita jangan gegabah, kita harus ambil hati Tio lebih dulu, nah setelah itu baru kita kirim dia ke kuburan ikut ibunya ”
“ Terserah kau saja lah Mas, tapi jangan sampai salah obat kaya dulu lagi ya, buat obat yang kaya mama waktu itu, kan enak cepet matinya.. jangan kaya Lisa kelamaan, lima tahun gak mati-mati eh malah sakit-sakitan ”
“ Iya, itu bisa kita urus nanti, sekarang mendingan kamu lihat ini, foto calon menantu kita. ” ucap ayah tiri-ku sambil menunjukan sebuah foto kepada istrinya.
Tubuhku gemetar, mataku terasa perih ingin menangis. Ini aneh?. Harusnya aku lega mengetahui fakta sesungguhnya, tapi kenapa jadi begini. Kenapa hatiku seolah tidak terima. Ternyata selama ini aku hidup bersama dua orang pembunuh. Sungguh bodoh, bodoh!... Seharusnya aku mendengar perkataan pak Malik sedari dulu. Seandainya saja aku menyadari semua ini dari awal, pasti aku sudah pergi dan membawa semua surat-surat harta warisan itu jauh-jauh. Sekarang tekadku sudah bulat untuk pergi dari rumah ini. Malam ini juga!!.
Perlahan-lahan aku melangkah mundur menjauh dari pintu, tapi sialnya tanpa sengaja tanganku malah menyenggol vas bunga di atas meja nakas hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di keadaan senyap seperti ini.
" SREEAAKK...
Aku terdiam beberapa saat di tempat dengan detak jantung yang terpompa lebih cepat dari biasanya hingga di keadaan senyap seperti ini dapat terdengar sampai ketelinga ku, pori-pori kulitku juga terasa membesar mengeluarkan keringat dingin dari sana. Segala doa ku panjatkan didalam hati pada momen ini, semoga yang di dalam sana tidak mendengar apapun. Cukup lama aku berada di posisi mematung seperti ini hingga akhirnya dengan sedikit keberanian netraku melihat ke sekeliling ruangan untuk memastikan bahwa tidak ada yang menyadari keberadaan-ku disini tapi...
“ Kau... ”
Mataku membulat dengan wajah pucat pasih dan degup jantung yang semakin keras hingga ke kepala. Kenapa bisa dia berada di sini?.
Bersambung..