Semalam, Zainal Abidin dilarikan ke rumah sakit setelah tiba-tiba mengalami serangan jantung. Riana, sang istri, yang pertama kali menyadari napas suaminya tersengal dan dadanya terasa nyeri, panik bukan main. Tanpa sempat membangunkan kedua anaknya yang masih terlelap, ia meminta Mang Didi menyiapkan mobil.
Sebelum berangkat, Riana sempat berpesan kepada Bik Rum, asisten rumah tangga yang telah bekerja puluhan tahun dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
“Bik, nanti setelah anak-anak bangun dan sarapan, baru bilang ya. Jangan bikin mereka panik subuh-subuh.”
Bik Rum hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Pagi itu, suasana rumah besar keluarga Zainal terasa berbeda. Biasanya, aroma kopi buatan Riana bercampur dengan suara berita yang tengah viral dari televisi ruang makan. Namun kini, meja makan terasa lebih lengang.
“Bik, Ayah sama Bunda mana? Kok belum turun? Tumben,” tanya Zidan sambil menarik kursi.
Zara yang baru saja duduk ikut menoleh. “Iya, biasanya Ayah udah nongkrong duluan di meja makan.”
Bik Rum terlihat gelisah. Tangannya meremas ujung celemeknya.
“Anu, Mas… eem… anu…”
Zidan menghela napas pelan, sementara Zara mulai mengerutkan dahi.
“Pak Haji…pak haji semalam dibawa ke rumah sakit, Mas Zidan, Mbak Zara.”
“APA?!” Zara dan Zidan berdiri bersamaan, kursi mereka bergeser kasar kebelakang.
“Kapan?”
“Kenapa?”
Pertanyaan mereka keluar hampir bersamaan.
Zara menoleh kesal. “Lo diem dulu dong, Dan.”
“Iya, iya…”
Zara menarik napas panjang, kemudian
“Kenapa nggak ada yang kasih tahu Zara, Bik?”
"Kenapa Zara nggak dibangunin?"
"Terus sekarang Ayah gimana?"
"Bunda udah telepon belum?"
Zidan mengangguk cepat menyetujui semua pertanyaan kakaknya.
Bik Rum sudah membuka bibir mencoba menjelaskan, tetapi Zara terus memberondongnya dengan pertanyaan. Hingga akhirnya wanita tua itu menyerah. Ia menutup lagi bibirnya. Menunggu.
Zara akhirnya berhenti bertanya.
"Bik, Bik Rum ko diam. Ada apa, bik? cepat bilang,"
“Mbak Zara, Mas Zidan, tenang dulu. Bibik gimana mau jawab kalau begini?”
Zara menghembuskan napas panjang. “Oke, oke. Bibik ngomong.”
“Semalam sekitar pukul sebelas, Pak Haji kumat jantungnya. Sesak napas. Bu bidan panik, langsung minta Mang Didi anter ke rumah sakit. Tapi nggak usah khawatir, Mbak Zahirah langsung menyusul setelah Bu bidan telepon.”
Zidan memiringkan kepala. “Ka, bukannya jam segitu biasanya lo belum tidur?”
Bik Rum ikut menimpali, “Iya, Mbak.”
Zara menggaruk pelipisnya. “Tiga hari ini gue sibuk rapat UKM. Kemarin pulang sore banget. Hari ini mulai pertandingan antar kelas. Jadi semalam gue memang capek banget.”
Ia duduk kembali perlahan. Tiba-tiba rasa bersalah menyelusup. Kenapa gue nggak bangun? Kenapa gue nggak tahu apa-apa?
“Jadi sekarang Ayah gimana, Bik?” suara Zara mulai melemah.
“Bu bidan belum telepon lagi.”
Ketiganya terdiam. Nasi dan lauk di meja terasa hambar. Zara memang anak yang paling dekat dengan sang ayah. Sejak kecil, ia selalu menjadi “putri kecil” kebanggaan Zainal.
Baru saja keheningan terasa menekan, ponsel Zara bergetar di atas meja.
Layar menampilkan satu nama: Tersayang.
Zara langsung menyambar ponselnya.
“Assalamualaikum, Bunda! Kenapa semalam nggak bangunin Zara? Ayah sekarang gimana? Zara boleh nggak hari ini nggak masuk? Zara mau ke rumah sakit, Bun…”
Di seberang sana terdengar tawa kecil.
“Waalaikumsalam, Zara, anak Bunda yang paling bawel. Maaf ya, Nak. Semalam Bunda panik banget. Kamu juga dari habis makan malam langsung tidur, kayak yang capek banget. Abis gali sumur ya?”
Zara meringis. “Bunda ih! Siapa juga yang gali sumur. Zara rapat UKM sampai sore.”
Riana tersenyum, meski matanya sempat basah mengingat kondisi suaminya beberapa jam lalu.
“Alhamdulillah, Ayah sudah sadar. Masih belum stabil, tapi lebih baik. Kamu doakan Ayah ya. Terus… kamu masuk kuliah dulu. Bukannya pagi ini ada kuis kimia sama presentasi teori, iya kan?”
Zara terdiam. Kenapa harus hari ini?
“Nanti setelah selesai, kamu boleh izin pulang lebih cepat. Bunda yang bicara sama Om Roy.”
“Iya, Bun…”
Zidan memberi kode meminta ponsel. Ia pun berbicara singkat dan mendapatkan izin lebih dulu ke rumah sakit.
Setelah telepon ditutup, Zara hanya bisa menghela napas panjang.
Ayah sudah sadar… alhamdulillah. Tapi kenapa rasanya tetap nggak enak? batin Zara.
Ia tidak tahu bahwa di rumah sakit, sang ayah tengah memikirkan hal lain yang jauh lebih besar.
Tadi malam, Zainal Abidin sempat tak sadarkan diri selama beberapa jam. Ketika akhirnya membuka mata, hal pertama yang muncul di benaknya bukan rasa sakit, melainkan sebuah janji lama.
Janji masa muda.
Janji kepada sahabatnya.
“Bun…” suara Zainal serak. “Hubungi Mas Bowo. Ayah harus bicarakan perjodohan Zara dan Mahesa. Ayah khawatir…”
“Sssttt!” Riana cepat menyentuh bibir suaminya. “Jangan banyak ngomong dulu, Yah.”
Namun Zainal menggeleng pelan.
“Sekarang, Bun. Jangan nanti. Ayah nggak tahu umur.”
Kalimat itu membuat d**a Riana sesak. Ia tahu betul betapa keras kepala suaminya jika sudah menyangkut prinsip.
Dengan berat hati, ia meraih ponsel di meja kecil samping ranjang. Setelah beberapa dering, panggilan tersambung.
***
Di rumah megah keluarga Prabowo Nugroho Adiwilaga, Aini Wilanti baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika ponselnya berdering.
“Mami habis ngomong sama siapa?” tanya Prabowo dari balik pintu kamar.
“Riana, Pi,” jawab Aini pelan. “Zainal semalam serangan jantung.”
“APA?!” Prabowo terkejut.
“Sekarang sudah sadar. Tapi…” Aini berhenti sejenak, memikirkan permintaan sahabat lamanya itu. “Dia minta kita datang sekarang juga. Soal janji dulu.”
Prabowo terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis.
“Memang waktunya sudah tiba.”
"Huuus!Jangan bicara sembarangan, Pi ah...doakan Zainal, supaya cepat sembuh, cepat sehat."
"Apa sih, mami. Siapa yang berpikir kesitu sih,"
Aini berjalan ke jendela. Pagi itu cerah, tetapi hatinya terasa campur aduk. Ia menyayangi Riana seperti saudara. Namun ia juga tahu, janji suami mereka bukan hal kecil.
“Pi… anak-anak jaman sekarang beda. Apa Mahesa mau?” gumamnya pelan.
Prabowo mendekat. “Mahesa anak kita. Dia sudah dewasa. Dia paham arti janji.”
Meski mengangguk, Aini masih merasa ada kegelisahan. Ia membayangkan sosok Zara yang terakhir dilihatnya bertahun-tahun lalu. Gadis kecil cerewet dengan pita di rambutnya.
Sekarang dia sudah dewasa. Seperti apakah dia?
“Ya sudah. Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Prabowo tegas.
“Mahesa ikut,” tambahnya.
Aini tersenyum tipis. “Asik, ketemu besan.”
"Jangan gosip dirumah sakit,mi."Bowo memperingati.
***
Riana berusaha menghibur suaminya.
Namun di balik candaan itu, ada degup cemas yang sulit dijelaskan.
Di ruang rawat inap VIP, Zainal menatap langit-langit putih. Selang infus terpasang di tangannya, monitor jantung berbunyi pelan.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi? batinnya.
Ia tak ingin meninggalkan dunia dengan hutang janji. Sahabatnya dulu pernah menyelamatkan bisnisnya di masa sulit. Dan mereka sepakat, kelak anak-anak mereka akan dipersatukan.
Riana kembali duduk di samping ranjang.
“Ada apa, yah? masih berpikir soal Zara dan Mahesa?,” tanyanya pelan.
Zainal mengangguk lalu memejamkan mata sesaat.
Sementara itu, di rumah, Zara berdiri di depan pintu, mengenakan kemeja putih dan celana jeans biru, menunggu mang didi mengeluarkan motornya dari garasi. Ia menatap bayangannya sendiri.
Ayah sakit. Jangan bikin Ayah kepikiran.
Entah kenapa, ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Di meja makan, Zidan yang sudah mendapatkan izin dari bundanya kini bersiap berangkat ke rumah sakit lebih dulu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pertemuan pagi itu akan menjadi awal perubahan besar dalam hidup kakak keduanya.