Riuh rendah ruang aula utama PT Adhyasta Megatama pagi ini tidak mampu mengusir rasa penat yang menggelayuti pundak Rania Gayatri Isha. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berdiri di barisan belakang jajaran divisi pemasaran, sesekali membenarkan letak kemeja kerjanya yang mulai terasa tidak nyaman. Bagi Rania, hari ini seharusnya berjalan seperti hari-hari biasanya: melelahkan, penuh tekanan tenggat waktu, dan diisi dengan perhitungan efisiensi biaya demi memastikan adiknya bisa menebus obat sang ibu tepat waktu.
Namun, pengumuman mendadak dari jajaran direksi tentang pergantian CEO utama membuat seluruh karyawan gempar. Gosip yang beredar mengatakan bahwa putra mahkota keluarga Adhyasta telah kembali dari studinya di luar negeri dan siap mengambil alih kemudi perusahaan. Rania tidak peduli. Siapa pun bosnya, baginya dunia tidak akan berubah. Dia tetaplah Rania, sang tulang punggung keluarga yang harus memeras keringat setiap hari demi menyambung hidup.
"Rania, kamu sudah cek berkas laporan kuartal kedua? Katanya CEO baru ini sangat visioner dan perfeksionis. Jangan sampai departemen kita kena tegor di hari pertama dia menjabat," bisik Citra, rekan kerja di sebelahnya, sembari menyenggol lengan Rania.
Rania mengangguk kecil, memamerkan senyum tipis yang dipaksakan. "Sudah, Cit. Semua aman di meja manajer. Kita tinggal menunggu instruksi selanjutnya saja."
Tepat setelah kalimat itu terucap, mikrofon di podium utama berdengung pelan, menandakan acara formal akan segera dimulai. Direktur Utama yang lama—pria paruh baya berwajah wibawa—melangkah maju dengan senyum merekah. Setelah menyampaikan pidato singkat mengenai estafet kepemimpinan, suara baritonnya menggema ke seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara.
"Dan dengan bangga, saya perkenalkan Chief Executive Officer baru PT Adhyasta Megatama... putra saya, Ragas Adhyasta."
Deg.
Dunia Rania seolah berhenti berputar pada detik itu juga. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Nama itu. Nama yang selama bertahun-tahun ini dikuburnya dalam-dalam di dasar ingatan paling gelap. Nama yang selalu memicu rasa perih sekaligus kehampaan yang luar biasa.
Ragas Adhyasta? Adhyasta?
Pandangan Rania yang semula kabur karena kantuk, mendadak menajam, terkunci sepenuhnya pada sosok pria jangkung yang baru saja melangkah naik ke atas panggung. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang kini tampak lebih tegap dan berisi dibandingkan beberapa tahun lalu. Wajahnya yang dulu tirus kini terlihat lebih tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata yang tajam namun menyimpan ketenangan yang menghanyutkan.
Rania mencengkeram ujung kemejanya hingga buku-buku jarinya memutih. Lututnya mendadak lemas, seolah seluruh pasokan oksigen di dalam aula itu disedot habis.
Itu dia.
Pria yang menghilang bak ditelan bumi tepat di saat Rania berada di titik terendah hidupnya. Pria yang membiarkannya menangis meraung-raung di koridor rumah sakit, meratapi nasib karena mengira dirinya dicampakkan akibat terlalu sering merepotkan dan meminta bantuan biaya pengobatan ibunya. Rania selalu berpikir bahwa kemiskinannyalah yang membuat Ragas muak dan pergi. Dan sekarang, kenyataan menamparnya dengan begitu kejam: Ragas tidak pernah miskin. Ragas adalah pewaris tunggal dari perusahaan raksasa tempat Rania menggantungkan hidupnya selama tiga tahun terakhir.
"Terima kasih atas sambutan hangatnya," suara Ragas terdengar melalui mikrofon. Begitu dalam, berwibawa, dan sangat asing di telinga Rania. "Saya berharap kita bisa bekerja sama membawa perusahaan ini ke tingkat yang lebih tinggi."
Sepanjang pidato singkat itu, Rania tidak mendengar sepatah kata pun. Telinganya berdengung. Air mata yang hampir menetes buru-buru diputuskannya dengan kedipan kasar. Dia tidak boleh lemah. Tidak di sini, tidak di depan pria yang telah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
Satu jam setelah acara penyambutan selesai, Rania berusaha menenangkan diri di bilik kubikelnya. Dia menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Pikirannya kalut. Dia ingin resign, ingin berlari sejauh mungkin dari tempat ini. Namun, logika segera menamparnya. Bagaimana dengan biaya tebusan obat jantung ibunya bulan depan? Bagaimana dengan uang kuliah adiknya? Sialnya, dia butuh pekerjaan ini. Dia tidak boleh egois hanya karena urusan hati.
"Rania Gayatri?"
Sebuah suara interupsi membuat Rania tersentak. Dia mendongak dan mendapati sekretaris CEO baru, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi, berdiri di dekat mejanya.
"Iya, saya?"
"Pak Ragas meminta semua kepala tim dan perwakilan staf pemasaran untuk membawa berkas evaluasi ke ruangannya sekarang. Manajer Anda sedang rapat di luar, jadi Anda yang harus menggantikannya."
Jantung Rania kembali berkejaran. "A-apa tidak bisa ditunda sampai Pak Manajer kembali, Bu?"
Sekretaris itu menggeleng tegas. "Pak CEO tidak suka menunda waktu. Silakan segera ke lantai paling atas."
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Rania merapikan beberapa map tebal di mejanya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba membangun kembali benteng pertahanan yang sempat retak di aula tadi. Dia hanya bosmu, Rania. Hanya bosmu. Profesional, bisik hati kecilnya berulang kali seperti mantra.
Ruangan kerja CEO di lantai paling atas begitu luas dan mewah, didominasi oleh dinding kaca besar yang menampilkan lanskap gedung bertingkat. Saat Rania masuk bersama tiga orang dari divisi lain, Ragas sedang berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela dengan kedua tangan tenggelam di saku celana.
"Selamat siang, Pak Ragas. Ini berkas yang Anda minta dari divisi pemasaran," ujar salah satu senior Rania dengan nada takzim.
Ragas membalikkan badannya perlahan. Pandangannya menyapu orang-orang di depannya, hingga akhirnya tatapan mata elang itu berhenti tepat pada wajah Rania. Rania bisa melihat ada kilatan keterkejutan yang tertangkap jelas di manik mata pria itu, sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan penuh kerinduan, rasa bersalah, dan kepedihan yang mendalam.
Namun, Rania segera memutus kontak mata itu. Dia menundukkan kepala, memasang wajah sedingin es dan seformal mungkin.
Setelah sesi penjelasan berkas yang terasa seperti siksaan batin bagi Rania, Ragas akhirnya berbicara dengan nada datar namun tegas kepada yang lain.
"Terima kasih atas laporannya. Kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing. Kecuali... perwakilan dari staf pemasaran. Tolong tinggal sebentar, ada beberapa detail yang ingin saya tanyakan langsung."
Rekan-rekan Rania mengangguk dan segera pamit keluar, meninggalkan Rania yang membeku di tempatnya. Pintu kayu ek tebal itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka berdua.
Ragas melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar begitu berat di atas lantai karpet yang tebal. Jarak di antara mereka mengikis, hingga akhirnya Ragas berhenti tepat dua langkah di depan Rania.
"Rania..." panggil Ragas. Suaranya tidak lagi formal. Suara itu bergetar, sarat akan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Ini benar-benar kamu?"
Rania mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, menolak untuk mendongak menatap wajah pria yang dulu sangat dipujanya. "Benar, Pak Ragas. Ada yang bisa saya bantu terkait laporan divisi kami? Jika tidak ada, saya mohon izin untuk kembali bekerja."
Mendengar panggilan formal dan nada bicara Rania yang sedingin kutub, Ragas seolah tertusuk sembilu. Dia mencoba mengikis jarak lagi, tangannya terangkat ragu, hendak menyentuh bahu Rania yang tampak tegang. "Rania, tolong jangan seperti ini. Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu membenciku. Tapi aku punya alasan—"
"Maaf, Pak," Rania mundur satu langkah, dengan sengaja menghindari sentuhan Ragas. Dia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Ragas. Tidak ada lagi binar ceria dan manis yang dulu selalu Ragas rindukan. Yang tersisa di mata Rania hanyalah dinding es yang tinggi, kokoh, dan tak tertembus, melapisi luka mendalam yang belum sepenuhnya sembuh.
"Di tempat ini, Anda adalah atasan saya, dan saya adalah karyawan Anda. Tidak ada hubungan lain di luar itu. Urusan pribadi Anda di masa lalu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sekarang."
Ragas tertegun. Penolakan yang begitu mentah dan dingin itu memukul ulu hatinya. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Rania membentengi dirinya sendiri. Ragas tahu betul, dialah penyebab hilangnya senyum manis gadis itu. Dia tahu diri bahwa kehadirannya yang tiba-tiba telah mengusik kembali kedamaian yang susah payah dibangun Rania selama bertahun-tahun sendirian.
Melihat Rania yang terus defensif dan tampak tidak nyaman berada di dekatnya, Ragas mengembuskan napas berat. Dia memutuskan untuk menahan egonya. Dia tidak boleh terburu-buru. Luka Rania terlalu dalam untuk disembuhkan dalam satu hari. Dia perlu memberikan jeda, membiarkan perempuan itu bernapas, seraya mendekatinya perlahan tanpa membuatnya merasa terancam.
Ragas memundurkan langkahnya, memberi ruang bagi Rania. Ekspresi wajahnya melembut, memancarkan rasa bersalah yang teramat sangat. "Baiklah. Kalau itu yang kamu mau sekarang, saya hargai, Rania. Maaf jika kehadiran saya membuatmu tidak nyaman."
Ragas berjalan kembali ke balik meja kerjanya, mengambil sebuah map baru, lalu mengulurkannya pada Rania. "Ini proyek pameran tahunan perusahaan yang akan datang. Saya ingin kamu yang memegang kendali sebagai PIC dari divisi pemasaran. Mulai besok, kamu akan sering berkoordinasi langsung dengan saya."
Rania tertegun melihat map di tangan Ragas. Ini adalah promosi tanggung jawab yang besar, namun sekaligus berarti dia harus sering bertemu dengan pria ini.
"Pak, saya rasa masih banyak senior yang lebih kompeten—"
"Ini perintah atasan, Rania," potong Ragas lembut, namun tidak menerima bantahan. "Saya tahu kapasitas kerjamu dari rekam jejak yang saya baca. Ambillah."
Rania terdiam sesaat, sebelum akhirnya melangkah maju dan menerima map tersebut dengan ujung jari yang sebisa mungkin tidak bersentuhan dengan kulit Ragas. "Baik, Pak. Saya permisi."
Rania berbalik dan melangkah cepat menuju pintu. Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Ragas kembali terdengar, menghentikan gerakannya.
"Rania," panggil Ragas pelan.
Rania tidak menoleh, namun dia berhenti bergerak.
"Aku kembali bukan untuk menyakitimu lagi. Aku kembali untuk tinggal. Biarpun butuh waktu seumur hidup untuk meruntuhkan dinding yang kamu bangun, aku tidak akan pergi lagi."