Sejak pagi Juan tidak mendapatkan sedikitpun kesempatan untuk menemui Risa. Karena pagi tadi dia bangun ke siangan dan saat tiba di sekolah bel sudah berbunyi. Dengan terpaksa Juan langsung menuju ke kelasnya tanpa menemui Risa terlebih dahulu. Dan sekarang saat sudah jam istirahat Juan datang ke kelas Risa, ternyata bangku Risa sudah kosong. Saat mencarinya ke Kantin juga hasilnya sama, Risa tidak berada di sana. Pikiran Juan sudah kalang kabut, dia sangat takut jika Risa akan marah kepada dirinya sebab kemarin malam dia ikut balapan.
"Juan!"
Juan menghentikan langkahnya dan berbalik. Sinta berlari kecil menghampiri Juan.
"Pulang sekolah nonton yuk, udah lama lho kita nggak nonton bersama" ajak Sinta seraya memperlihatkan tiket nonton yang sudah ia beli. Dari tatapan yang Sinta berikan seakan akan dia sedang memohon untuk Juan menerima ajakannya.
"Pulang sekolah Gue kerja" jawab Juan seadanya lalu dia segera pergi untuk mencari keberadaan Risa. Sinta yang di tinggalkan bergitu saja terlihat sangat kesal. Pasalnya bukan hanya kali ini saja ajakannya di tolak mentah mentah oleh Juan. Bahkan setelah memperlihatkan tiket yang sudah dia beli pun Juan tetap menolak ajakannya tanpa rasa sungkan.
"Mia!" panggil Juan saat melihat Mia yang hendak menaiki anak tangga. Mia menghentikan langkahnya sembari menoleh kearah Juan.
"Kak Juan" gumam Mia, "Cari Risa, ya?" tanya Mia yang sudah hafal. Karena seorang Juan Narendra Parvipa pasti akan memanggil namanya hanya untuk menanyakan soal pujaan hatinya itu. Juan
"Iya, Lo tahu dia dimana?" tanya Juan.
Mia menunjuk ke arah kanannya, "Ada di taman belakang"
Tanpa basa basi lagi Juan segera berlari menuju tempat yang di maksud. Sedangkan Mia menatap punggung Juan yang berayun dengan masam.
"Terimakasih!" teriak Mia. Juan mendengar ejekan itu, tapi ia abaikan saja. Celotehan Adik kelas ingusan seperti Mia tidak perlu di tanggapi karena hanya membuang buang waktu saja.
●●●
Risa tersenyum senyum sambil membuka halaman buku novel yang sedang ia baca. Cerita dalam buku itu sangat romantis hingga membuat Risa tersenyum senyum sendiri. Namun suara orang yang sedang berlari membuat Risa terganggu. Risa menoleh dan ternyata itu Juan. Di tutuplah buku novel yang ia baca lalu Risa berdiri. Juan terlihat terengah-engah dengan nafasnya yang memburu.
"Risa, aku bisa jelasin semuanya, tapi - -" kata Juan dengan memegang pundak Risa. Risa yang bingung akan kehadiran Juan secara tiba tiba lantas memotong ucapan Juan.
"Kamu kenapa, Juan?" tanya Risa yang tidak mengerti. Juan tiba tiba datang dengan berlari kearahnya.
"Sa, kamu percaya sama aku kan?" tanya Juan dan Risa mengangguk cepat.
"Kamu kenapa sih?" tanya Risa yang heran. Tidak biasanya Juan bertingkah seperti sekarang.
"Ayo duduk dulu" ajak Risa menarik Juan agar duduk di bangku yang sebelumnya Risa duduki. Risa meletakkan buku novelnya lalu mengambil botol air miliknya.
"Minum dulu lalu jelasin pelan pelan" Risa menyodorkan minum pada Juan. Tapi Juan menolak air mineral yang di sodorkan oleh Risa.
Juan menatap Risa lekat lekat. Risa balik menatap Juan, dia tidak mengerti dengan tatapan Juan sekarang. Tangan Juan terulur menyentuh dahi Risa dan dahinya tidak panas.
"Kamu kenapa sih" heran Risa.
"Kamu nggak marah?" tanya Juan hati hati.
Risa menggeleng polos, "Marah? Marah atas dasar apa?" tanya Risa yang bingung. Juan mengusap wajahnya dengan kasar, ia mencoba memahami situasi saat ini. Apa iya Risa tidak marah setelah melihat dia kembali ikutan balapan motor semalaman?. Jelas jelas semalam Risa berdiri di sana menyaksikan semuanya. Dia bahkan menatap Juan malam itu dengan tatapan yang berbeda. Lalu kenapa paginya Risa justru bersikap seolah-olah dia tidak tahu apapun.
"Juan kamu kenapa?" Risa menyentuh pundak Juan. Juan hanya menoleh tanpa menjawab. Juan mencerna baik baik akan situasi ini.
"Seriusan kamu nggak marah sama aku?" tanya Juan pengulangi pertanyaan yang sama.
Risa menggeleng sambil tersenyum, "Nggak, aku gak marah sama kamu. Aku mana bisa marah sama kamu" jawab Risa, "Kamu baru bangun tidur ya? Sampai mengigau seperti ini. Rambutnya berantakan lagi" kata Risa seraya mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut Juan yang sedikit berantakan.
Juan yang melihat tingkah Risa yang normal seperti biasa jadi merasa terheran heran. Karena minggu kemarin di saat Risa tahu jika Juan kembali ikut balapan. Risa menangis sampai sampai tidak memperdulikan Juan selama tiga hari. Dan hal tersebut membuat Juan sangat frustasi. Tapi semalam jelas jelas Juan melihat Risa yang berdiri dengan jaket biru yang menempel di tubuhnya sedang menatapnya dengan sorot tajam. Apa iya Juan salah lihat? Apa iya Juan salah mengenali orang.
"Juan kamu kenapa sih, bengong terus heran deh aku"
Juan menoleh lalu tersenyum kaku, "Gak papa, aku tadi mimpi kamu marah sama aku" alibi Juan membohongi Risa. Namun dengan polosnya Risa menganggukkan kepalanya tanda ia mempercayai.
●●●
Kringh!!
Suara bel kepulangan di kumandangkan. Risa segera mengemasi buku buku beserta alat tulisnya.
"Sa, kerja kelompoknya di rumah kamu aja nggak apa apa ya" kata Mia yang sudah berdiri di samping Risa.
"Boleh boleh, kita kerjain sekarang aja gimana. Mau?"
"Hayuk" jawab Mia dengan menggandeng tangan kanan Risa. Mereka segera melangkah keluar kelas. Namun langkah mereka terhenti saat Juan datang. Juan menatap Risa dan Mia secara bergantian.
"Kami mau kerja kelompok, jadi untuk hari ini aku pulang bareng sama, Mia, ya?" ujar Risa menjawab pertanyaan yang ada di benak Juan. Juan langsung mengangguk mengerti. Juan bukan tipikal laki laki yang agresif dengan tidak memperizinkan pacarnya untuk pulang atau bermain dengan temannya. Karena selama Risa bahagia Juan juga akan bahagia. Meskipun Juan sangat mencintai Risa, namum Juan tidak pernah sekalipun membatasi Risa untuk bergaul dengan teman temannya. Risa sendiri juga selama ini tidak pernah membatasi ataupun melarang Juan untuk berteman dengan siapapun.
"Bagus deh kalau, Lo pulang sama, Mia. Jadi, Gue bisa bareng sama, Juan. Ya kan, Juan?" tanya Sinta yang kebetulan ada di sana.
"Lo, nggak di jemput?" tanya Juan. Sinta anak orang kaya. Pulang pergi sekolah dia selalu di jemput sama supir pribadinya.
"Enggak, Supir aku lagi libur. Jadi nggak apa apa kan kamu nganterin aku? lagian, Risa pulang bareng temannya" kata Sinta sambil melirik pada Risa. Risa hanya diam melihat kelakuan Sinta. Hatinya sesak ketika pacarnya sendiri sedang di goda di depan matanya. Dan yang membuatnya semakin sesak adalah anggukan kepala Juan. Juan menyetujui untuk mengantar Sinta pulang.
"Risa, aku akan mengantar Sinta pulang. Kamu pulangnya hati hati ya..." Juan mengusap puncak kepala Risa. Risa tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu juga hati hati" balas Risa. Setelah itu Juan melangkah pergi dengan diikuti Sinta. Sinta melambaikan tangannya kepada Risa, lengkap dengan senyum liciknya. Risa menghela napasnya pelan.
"Sabar ya, Sa" ucap Mia menyemangati dengan mengusap lengan Risa.
"Sabar kok, kalau nggak sabar mana bisa langgeng hubungan, Gue sama, Juan"
Mia tersenyum bangga mendengarnya. Sepahit apapun hubungan yang di jalani Risa, dia selalu saja menerbitkan senyumnya itu. Senyum yang penuh luka dan rasa pahit. Namun selagi senyumnya dan kebisuannya bisa membuat keadaan akan tetap baik baik saja. Risa sangat rela melakukan ini semua. Tidak ada suatu hal yang lebih peting baginya untuk membahagiakan semua orang yang ada di sekitarnya. Termasuk Sinta, seseorang yang begitu jahat kepadanya.
"Ayo pulang" ajak Risa kepada Mia. Mereka pun kembali melangkah menuju gerbang sekolah. Lalu berhenti di depan gerbang untuk menunggu angkot datang.