Saat di meja makan hanya terdengar suara dentingan suara sendok beradu dengan piring. Risa mengaduk aduk nasi goreng di piringnya dengan pelan. Sesekali mata Risa melirik ke arah Arif yang terlihat sangat menikmati sarapannya. Sepintar itu kah ekting Arif di depan keluarganya? Seorang Suami dan seorang Bapak yang menjadi panutan di keluarganya. Tidak bisa di pikir secara jerni jika Arif bisa tega melakukan tindakan buruk dengan membuang saudara kembar Risa.
Suatu kebohongan besar telah ia sembunyikan dengan sangat rapi tanpa jejak. Namun sepandai apapun Arif menyembunyikan kebohongannya, kebusukkannya akan tercium juga. Kini Risa sudah menyadari kenapa selama ini Arif selalu bersikap dingin terhadap dirinya. Lain dengan Barra yang sangat di manja oleh Arif. Sebelumnya Risa pikir kemungkinan besar karena Barra adalah anak laki laki, dan Barra juga anak bungsu di keluarganya, jadi maka dari itu dia sangat di manja. Namun setelah mengetahui ini semua Risa jadi sadar. Jika sikap Arif yang dingin terhadap nya itu karena Risa bukanlah anak kandungnya.
"Kak, kenapa makanannya hanya di aduk aduk? Di makan dong, Kak." celetuk Barra yang memperhatikan Risa yang melamun tanpa memakan nasi di piringnya. Tak hanya Barra yang heran, Winda juga yang sedari tadi memerhatikan Risa juga heran.
"Kamu sakit, Sa? Wajah kamu pucat" sahut Winda. Risa menggeleng lemah dengan menerbitkan senyum tipis.
"Risa berangkat sekarang ya, Ma" jawab Risa seraya berdiri lalu mendekati Arif dan mencium punggung tangan Arif. Risa juga melakukan hal yang sama dengan Winda.
"Kamu tidak apa apa, Sa?" tanya Winda khawatir melihat wajah Risa yang pucat.
"Risa baik baik aja, Ma" jawab Risa sekenanya. Setelah itu Risa pergi keluar rumah. Ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya sudah berada di depan rumahnya dan siap mengantarkan Risa ke sekolah.
Saat tiba di sekolah, suasana masi sepi karena Risa berangkat lebih awal. Langkahnya pelan menelusuri koridor sekolahnya.
Dug!
"Maaf maaf" kata Risa cepat karena tanpa sadar dia menabrak seseorang.
"Eh, Risa? Iya iya nggak apa apa kok" balas Raka. Risa terlihat tersenyum canggung lalu kembali melangkah meninggalkan Raka. Raka masih berdiri di tempat sambil memperhatikan punggung Risa yang menjauh.
"Nggak biasanya Risa begitu" gumam Raka. Gadis seperiang Risa mendadang bungkam dengan wajah tanpa ekspresi tentu akan membuat tanda tanya bukan.
●●●
Juan mengetuk ngetukkan bulpen ke mejanya. Dia masih memikirkan gadis yang berdiri di area balapan malam itu. Jelas sekali jika gadis itu adalah Risa. Tapi kenapa Risa seolah bersikap biasa saat Juan menemuinya kemarin? Apa Risa berpura pura baik baik saja padahal dia sedih.
"Oy, ngelamun aja!" ujar Raka menepuk bahu Juan.
"Tumben berangkat pagi, ada piket?" tanya Juan. Dan Raka menggelengkan kepalanya.
"Males aja lama lama di rumah kena omel, Bunda" akuh Raka. Mendengar itu lantas Juan tersenyum kecil. Jika Raka merasa malas karena Bundanya selalu mengomeli, Juan justru ingin sekali mendengar omelan dari Ibunya. Namun sayangnya sampai detik ini ia tidak tahu di mana keberadaan ibunya.
"Oh iya, tadi di koridor Risa nggak sengaja nabrak Gue"
Juan menaikkan sebelah alisnya, "Terus Lo nggak terima gitu?" tanya Juan sinis.
"Ya enggak gitu. Cuma Dia seperti lagi banyak pikiran gitu, mana wajahnya pucat. Apa Dia sakit ya?" tanya Raka. Juan lantas menegakkan punggungnya.
"Risa sakit?" tanya Juan balik.
"Lah, ngapain Lo tanya Gue. Yang pacarnya Risa kan Elo, Tong. Tapi itu cuma prediksi Gue sih"
Juan segera berdiri dan melangkah menuju kelas Risa. Di lihatlah kelas itu, bangku Risa kosong. Juan menoleh ke kanan kiri. Kira kira dimana keberadaan Risa sekarang. Seketika Juan teringat tempat yang sering di kunjungi Ceweknya itu. Juan berjalan cepat menuju taman belakang sekolah. Dan saat tiba di sana ternyata benar, Risa ada di sana. Duduk sendirian dengan earphone yang menggantung di telinganya. Tanpa bicara Juan mendudukkan dirinya di samping Risa. Risa hanya diam tak menoleh. Pandangannya kosong seperti orang banyak pikiran. Wajah Risa juga pucat pasi.
"Risa?" panggil Juan dengan menyentuh bahu Risa. Risa terperanjat lalu menoleh. Segelintir air mata mengalir di kedua kelopak matanya. Juan yang melihat itu tentu memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Risa segera menghapus air matanya lalu melepas earphone nya.
"Kamu di sini? Sejak kapan?" tanya Risa dengan tersenyum seperti biasanya. Sedangkan Juan memandang tajam kepada Risa.
"Kamu sakit?" tanya Juan, dan Risa menggeleng.
"Enggak... Aku baik baik aja" balas Risa. Jujur saja Risa tidak merasa sakit sama sekali. Atau mungkin sakitnya tidak terasa karena sibuk memikirkan di mana saudara kembarnya.
"Kamu pucat" kata Juan yang lalu menyentuh dahi Risa, "Panas" katanya lagi.
Risa diam, tidak tahu harus berkata apa. Ingin sekali Risa bercerita soal ini. Tapi ada rasa takut di hati Risa untuk menceritakan masalah sebesar ini.
"Mau aku gendong ke UKS?"
Risa memukul pelan lengan Juan, "Kamu apaan sih" dengus Risa. Risa mencoba untuk tersenyum untuk membohongi perasaanya yang sesungguhnya dari Juan. Tapi Juan, dia mengenal Risa dengan baik lebih dari Risa mengenal dirinya sendiri.
"Ayo, aku antar ke UKS." Juan menuntun Risa untuk berdiri dan memegangi Risa untuk berjalan bersamanya.
"Nggak usah lebay deh... Aku kuat jalan sendiri" keluh Risa karena Juan terlalu berlebihan terhadap dirinya. Tanpa protes Juan membiarkan Risa berjalan sendiri.
Setibanya di UKS Juan menyuruh Risa untuk berbaring di ranjang. Juan juga memberikan roti, obat, serta teh hangat untuk Risa. Dalam hening Juan hanya menatap Risa tanpa jeda. Tatapan intens penuh kekhawatiran.
"Sakitnya di bagian mana?" tanya Juan lembut.
"Hanya sedikit pusing" jujur Risa. Risa sangat mencintai laki laki di depannya ini. Lihat saja bagaimana caranya memperlakukan Risa dengan sangat istimewah. Juan jutek tapi dia lembut, tatapannya tajam tapi penuh dengan perhatian.
"Perasaan kemarin malam aku sudah suruh kamu istirahat dan makan. Tapi kenapa paginya sakit begini? Apa semalam nggak makan dan kurang tidur?" tanya selidik Juan.
"Aku semalam makan kok. Istirahatnya juga cukup, cuma ya memang udah takdirnya aja sakit" alibi Risa.
"Takdir itu bisa di cegah kalau kamu mau, Sa. Kamu nggak perlu bohongin aku. Lingkaran mata kamu hitam, kamu kurang tidur kan semalam?"
Risa menggerakkan bola matanya tidak tentu. Juan selalu bisa menebak apapun pada dirinya. Sangat sulit membohongi Juan.
"Aku... Kemarin malam susah tidur" cicit Risa menurunkan pandangannya. Juan meraih tangan Risa, dan menggenggam nya.
"Mikirin apa sampai susah tidur hm?"
"Kalau aku bilang mikirin kamu, kamu percaya nggak?" canda Risa tersenyum geli. Mana bisa Risa berkata jujur untuk masalah satu ini. Dari pada dia harus jujur mending dia bohong saja.
"Tentu saja enggak" dengus Juan. Meskipun memasang wajah datar, namun Juan tak bisa mengendalikan rona merah di pipinya.
"Juan wajah kamu memerah" bisik Risa pelan tak lupa dengan gelak tawanya. Juan semakin menatap tajam kepada Risa. Namun beberapa detik kemudian tawa Juan ikut lepas bersama dengan suara tawa Risa.
Seenggak dengan begini Juan mungkin tak akan bertanya tanya lagi. Pikir Risa