"Di antara ratusan batu nisan yang berada dalam diam,
hanya ada satu yang selalu membuat langkahku terhenti."
aku berjongkok perlahan, lalu menyapu dedaunan kering yang menutupi nama di atas batu itu. sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi tanganku masih saja selalu gemetar setiap kali aku menyentuhnya
" ayahh... hulya datang."
tak ada jawaban
hanya angin yang berhembus pelan, seolah membawa kembali suara yang selama ini hidup dalam ingatanku.
orang orang bilang, kehilangan akan hanya terasa lebih ringan sering berjalannya waktu, entah mengapa aku justru sebaliknya.
semakin tumbuh, semakin aku sadar.......... ada banyak hal yang tak akan pernah bisa kembali. bukan hanya seseorang melainkan tawa yang memenuhi rumah, pelukan yang selalu menenangkan, dan perasaan bahwa aku masih memiliki tempat untuk pulang. aku mulai tersenyum pelan, meski mataku mulai terasa hangat
" Yahh.... "
" Apa ayah masih ingat? ayah dulu pernah bilang kalau
suatu hari nanti pasti hulya jadi wanita yang hebat dan kuat."
aku tertawa kecil
" Ternyata..... ayah salah."
karena sejak hari ayah pergi.... ada sesuatu dalam diri hulya yang ikut hilang
dan sampai hari ini, hulya masih belum bisa menemukannya kembali.
---
---
Kalau ada satu hal yang ingin kuulang dalam hidup, itu bukan hari ketika aku lulus sekolah. bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari ketika aku berhasil meraih sesuatu yang dulu ku impikan.j
melainkan....
hari ketika ayah berada di sampingku.......
hari ketika aku masih menjadi putri kecil ayah yang percaya bahwa selama menggenggam tangan ayah, tidak ada hal buruk yang akan terjadi. tanpa takut memikirkan hal hal yang seharusnya aku takutkan seperti sekarang ini
namun, waktu tak pernah memberikan kesempatan untuk mengulang.
ia hanya memberikan kita untuk mengenang
dan semuanya....
berawal dari rumah yang dulunya dipenuhi tawa.
..............
aku mengusap pelan nama yang terukir dalam pada nisan itu. debu-debu halus menempel di ujung jariku, sementara angin sore kembali berembus, membawa aroma tanah yang masih basah. sudah bertahun-tahun berlalu namun, setiap kali berada di tempat ini, waktu seolah memilih untuk berjalan mundur, aku masih bisa mengingat kembali siara itu.
" putri ayah.... lagi ngambek ya?."
suara yang selalu berhasil membuatku berhenti menangis, suara yang selalu terdengar suara yang selalu menenangkan dari hiruk-pikuk dunia. aku tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan takut suatu hari nanti aku benar-benar lupa bagaimana suara suara itu terdengar
" Yahh.... "
" Kalau benar manusia benar benar dilupakan
ketika tidak ada lagi yang mengingatnya...."
" Hulya.... janji akan terus selalu mengingat ayah..."
dadaku terasa sesak, bukan karena air mata.melainkan ada begitu banyak cerita yang tak lagi bisa ku ceritakan kepada orang yang paling ingin mendengarnya,
dulu, setiap kali pulang sekolah, orang yang pertama kucari adalah ayah.setiap kali mendapatkan nilai bagus, ayahlah yang paling bangga. bahkan saat aku dimarahi oleh ibu, ayah selalu berada di depanku dan berkata,
" Biar ayah saja yang dimarahi. putri kecil ayah jangan ikut menangis. "
aku terkekeh pelan, lucu, ya... dulu aku selalu berpikir bahwa ayah akan terus ada
aku kira pelukan itu tidak akan pernah hilang. aku kira akan masih banyak waktu untuk mengatakan betapa beruntungnya aku memiliki ayah sepertinya
ternyata...
tuhan hanya meminjamkannya sebentar. aku menarik napas panjang, lalu berdiri.perlahan, langit mulai berubah jingga sama seperti sore-sore yang dulu sering kita habiskan bersamanya berdua. tanpa sadar sudut bibirku mulai terangkat
" Kalau.... suatu hari... ayah... ngga ada..."
" Hulya harus tetap melihat matahari terbenam, ya..."
" Karena dimanapun ayah berada, ayah ingin selalu putri kecil ayah menemukan hal-hal indah dalam hidup."
aku menutup mata. sudah berkali-kali aku mencoba namun, sejak hari itu dunia tak pernah seiindah seperti dahulu.