Udara pagi di Kota Padang sudah terasa hangat meskipun jam belum menunjukkan pukul delapan. Di kedai kopi kecil yang terletak di pinggir jalan raya dekat Pasar Raya, aroma kopi robusta yang gosong bercampur dengan harum ketumbar dari warung makanan sebelahnya membuat suasana pagi terasa lebih hidup. Andi duduk di meja luar kedai, tangan memegang gelas kopi hangat sementara matanya mengawasi anaknya yang sedang bermain dengan batu bata kecil di sudut pekarangan kedai.
"Pak Andi, mau tambah kopi lagi nggak?" tanya Bu Yeni, pemilik kedai yang sudah kenal Andi sejak dua tahun yang lalu, saat ia baru saja menjadi duda.
Andi menggeleng dengan senyum lembut. "Nanti aja Bu, sekarang ini sudah cukup buat saya fokus kerja." Ia menggeser laptop kecil yang ada di atas meja, layarnya menampilkan lembar kerja administrasi untuk usaha catering kecil yang ia jalankan bersama saudaranya.
Rafli, anaknya yang berusia lima tahun, tiba-tiba berlari mendekat dan memeluk kaki Andi. "Papa, saya mau makan lontong sayur ya. Tadi liat Om Udin bikinnya, harum banget!"
Andi mengangkat Rafli ke pangkuannya, mengusap rambut anaknya yang masih sedikit basah karena berkeringat. "Baik dek, nanti Papa antar kamu ke rumah Om Udin aja ya. Sekarang Papa harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu biar bisa beli baju baru buat Rafli bulan depan."
Saat itu, seorang wanita datang ke kedai dengan membawa tas jinjing berwarna biru muda. Rambutnya yang panjang disanggul rapi, mengenakan baju batik hitam bergaris putih dan rok panjang. Ia melihat-lihat tempat duduk, dan matanya akhirnya jatuh pada meja Andi yang masih ada kursi kosong. Dengan sopan ia menghampiri.
"Maaf ya Pak, bolehkah saya duduk di sini? Tempat lain sudah penuh semua."
Suaranya lembut, dengan logat Padang yang khas yang membuat Andi merasa akrab. Ia mengangguk dengan ramah. "Silakan saja Bu, silakan duduk."
Wanita itu tersenyum dan duduk, kemudian memanggil Bu Yeni untuk memesan kopi dan kue talam. Saat menunggu pesanannya, ia melihat Rafli yang sedang bermain dengan jari-jari tangannya di pangkuan Andi.
"Anak Pak ya? Lucu sekali. Berapa umurnya?" tanya wanita itu dengan senyum hangat.
"Anda benar Bu, namanya Rafli, sudah lima tahun," jawab Andi sambil menggendong Rafli lebih erat. "Sedikit saja dia melihat orang baru, langsung ingin berteman."
Betul saja, Rafli sudah mulai menatap wanita itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Tante nama apa ya?" tanya Rafli dengan suara yang kecil tapi jelas.
Wanita itu tersenyum lebih lebar, merentangkan tangannya untuk mengulurkan tangan pada Rafli. "Nama saya Yuli dek, boleh saja memanggil Tante Yuli ya."
Rafli dengan senang hati mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Yuli. Saat itu juga pesanan Yuli datang—gelas kopi dan potongan kue talam yang masih hangat. Aroma pandan dari kue itu membuat Rafli melihatnya dengan mata membelalak.
"Tante, itu apa ya? Kayaknya enak banget!" kata Rafli dengan penuh rasa ingin tahu.
Yuli langsung mengambil satu potongan kecil dan memberikannya pada Rafli. "Ini kue talam dek, coba deh rasanya. Kalau suka, Tante belikan lagi ya."
Rafli menerima dengan senang hati dan segera mencicipinya, kemudian mengangguk dengan puas. "Enak Tante! Manis dan lembut!"
Andi merasa sedikit malu tapi juga terharu melihat keramahan wanita ini. "Maaf ya Bu Yuli, Rafli ini suka sekali sama makanan manis."
"Tidak apa-apa Pak Andi, saya juga suka sama anak-anak. Saya sendiri juga punya anak lho, namanya Siti, sudah tujuh tahun sekarang," ujar Yuli sambil mengeluarkan foto dari dompetnya. Di foto itu, seorang gadis kecil dengan baju warna merah sedang tersenyum di depan rumah dengan pagar bambu. "Dia sekarang tinggal sama neneknya di daerah Nagari Koto Tangah, karena saya kerja di sini saja."
Andi melihat foto itu dengan perhatian. "Cantik sekali anak Bu. Kalau boleh tahu, kerjaan Bu apa ya?"
"Saya bekerja sebagai perawat di klinik kecil dekat Jalan Ahmad Yani Pak," jawab Yuli sambil menyendok kopinya. "Sudah hampir tiga tahun saya bekerja di sana. Sebelumnya... sebelum saya pindah ke sini, saya tinggal di luar kota saja."
Ada sedikit jeda dalam suaranya saat menyebutkan masa lalu, tapi segera ia kembali tersenyum. Sementara itu, Rafli sudah mulai mengajak Yuli cerita tentang teman-temannya di taman kanak-kanak. Andi hanya bisa menyaksikan dengan senyum, merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa nyaman saat berbincang dengan wanita ini. Udara pagi di Kota Padang yang biasanya hanya terasa biasa saja, kini terasa lebih hangat dan penuh makna.
"Pak Andi, maaf ya saya harus pergi dulu. Jam kerja sudah hampir tiba," ujar Yuli setelah melihat jam tangannya. Ia segera membayar pesanannya dan berdiri. "Senang bisa bertemu dengan Pak dan Rafli ya. Semoga bertemu lagi nanti."
Sebelum pergi, ia mengusap kepala Rafli dengan lembut. "Jangan lupa ya dek, kalau ingin ketemu Tante lagi, bisa bilang sama Papa kamu ya. Tante akan ajak kamu makan kue lagi."
Setelah Yuli pergi, Rafli melihat ke arah jalan dimana Yuli hilang pandang. "Papa, kapan kita bisa ketemu Tante Yuli lagi ya?"
Andi hanya tersenyum, melihat gelas kopi yang sudah dingin di atas meja. Ia sendiri tidak tahu kenapa, tapi hati nya merasa bergetar sedikit. Seolah ada sesuatu yang mengatakannya bahwa pertemuan dengan wanita bernama Yuli itu bukanlah kebetulan semata di tengah hiruk-pikuk kehidupan di Kota Padang yang selalu penuh dengan harum makanan dan cerita orang-orang.