seorang lelaki terlihat tengah menyiapkan berbagai masakan untuk menu makan malam nya. dengan lihai ia memotong setiap bahan bahan yang akan ia masak. lelaki itu sedikit menyunggingkan sudut bibir nya saat mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekatinya.
"mau aku bantu?" tanya seorang gadis sembari melingkarkan kedua tangan nya pada pinggang lelaki itu.
"tidak perlu, aku tau kmu cape lebih baik kamu istirahat saja tunggu aku selesai masak" jawab lelaki itu sembari fokus pada apa yang ia kerjakan.
bukan nya menurut gadis itu malah semakin mempererat lingkaran tangan nya dan menempelkan kepalanya pada punggung tegap lelaki itu.
"Jika kau begini bagaimana aku menyelesaikan masak ku? "tanya lelaki itu sembari meletakan pisau yang ia pegang sebelum akhirnya ia mencoba membalikan badan nya untuk menghadap gadis itu.
gadis itu tersenyum lesu, "aku lelah biarkan aku memelukmu sebentar lagi", ia berucap sembari menelusupkan wajah nya pada d**a bidang lelaki itu, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum dan membiarkan gadis nya itu lebih lama memeluk nya sembari ikut membalas pelukan nya dan mengeluselus pundak gadisnya agar lebih nyaman.
"OMG HELLO"
gadis itu terhentak sepontan melepaskan pelukan nya saat sebuah suara memenuhi ruangan tak begitu pula dengan lelaki itu.ia, menatap heran sembari sedikit mengernyitkan dahi nya saat melihat seorang gadis di depan nya.
"aqeela" lirih gadis itu saat melihat siapa yang ada di hadapan nya.ia, aqeela berjalan mendekati gadis itu dengan wajah cemberut nya plus dengan syok.
"eonnie, apa yang kau lakukan? bukan nya jemput aku di bandara tapi kau malah bermesraan dengan laki laki di sini? di rumah ini, rumah kita? tanpa ada siapa pun?!" cerocos gadis bernama aqeela setelah ia berjalan dengan cepat ke arah gadis yang di panggil eonnie nya itu.
"wait! dia siapa lus?"
aqeela mengernyit kan dahinya sekilas, "telinga mu bermasalah! bukan nya aku panggil eonnie..".
"sutt.." gadis itu memotong kalimat aqeela dengan menempelkan jari telunjuknya pada mulut aqeela.
"harry, dia adik aku aqeela.."
"aqeela aza calista, ingat tu!." aqeela memotong kalimat gadis itu sembari melirik lelaki yang di panggil harry.
"aqeela!" ulang laki laki yang bernama harry itu.
"yes, AQEELA" ujar aqeela sembari menekan setiap huruf di nama nya itu. "no no a a, kembali ke topik!eonnie kenapa kau tidak menjemput ku? aku sudah menelfon mu berkali kali tapi kau susah di hubungi
yang membuat aku terpaksa harus cari alamat rumah ini sendiri dan alhasil aku tersesat entah kemana" lanjut aqeela menyerocos.
"maaf aqeela seharian ini eonnie sibuk sekali tidak sempat mengecek handphone sama sekali, eonnie juga ini baru pulang seperti yang kamu liat tadi eonnie sedang menambah semangat eonnie jadi.."
"idih iyuh, tidak usah di lanjut aku tau apa yang akan kau bicarakan selanjutnya, eonnie." potong aqeela yang hanya di bales kekehan kecil dari eonnie nya.
"ok, sudahi untuk pembicaraan nya lebih baik kalian istirahat dulu atau bersihkan diri kalian dan aku akan melanjutkan masak untuk makan kalian"
"lusi!"
ia, gadis yang di panggil lusi itu mengurungkan niat nya yang akan menggandeng lengan adiknya itu,"kau naik lah dulu".
"kenapa har?" tanya lusi saat aqeela telah pergi.
harry menggandeng lengan lusi dan mendudukan nya di kursi tak jauh dari tempat mereka berdiri,"Aku minta maaf karna aku tidak tau kau punya adik padahal kita sudah lama bersama tapi aku masih tidak tau apapun tentang kamu dan keluarga kamu". harry berucap setelah ia jongkok di hadapan lusi.
"harr, kamu tidak usah minta maaf itu bukan salah kamu dan aku juga tidak bermaksud untuk menutupinya dari mu aku hanya.."
"tidak usah di lanjut jika kmu tidak ingin menceritakan nya" potong harry saat lusi menggantungkan kalimat nya."sekarang naik ke atas bersihkan diri kamu, istirahat sebentar kebetulan aku juga masih cukup lama ". harry berucap sembari membantu lusi berdiri. setalah lusi pergi harry kembali melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda tadi.
.
.
" kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dulu kalau kau akan datang!". lusi melempar tas nya asal sebelum ia merebahkan tubuh nya di atas kasur tepat di samping aqeela.
"eonnie, jika aku memberitahumu terlebih dahulu apa kau akan membiarkan ku datang?" tanya aqeela setelah ia membuka matanya dan menoleh sedikit untuk melihat eonnie nya yang tengah menatap langit langit kamar.
lusi mengangguk pelan,"bagaimana kabarnya?"tanya lusi lirih.
"Dia?". aqeela memiringkan tubuh nya untuk menghadap lusi menjadikan satu tangan nya sebagai bantalan kepala. "Dia baik dan akan selalu baik".
"apa dia tau kau datang menemuiku?" lusi kembali bertanya.
"mungkin tidak tapi bisa jadi tau" jawab aqeela ambigu.
lusi menarik nafas pelan," apa kau akan lama di sini?".
"eonnie, apa kau.."
"aku takut dia mencarimu jika terlalu lama"
"aku ingin di sini"
"aku tidak ingin ada masalah aqeela, aku ingin tenang" jelas nya sembari melihat aqeela yang masih setia memandang wajah sayu eonnie nya.
"aku juga" lirih aqeela.
"ya sudah jangan bahas ini dulu, kau pergilah ke kamar mu bersihkan diri mu lihat lah kau sangat kotor". aqeela tidak menjawab ia lebih memilih bangkit dari tidur nya dan menyambar tas yang berada tepat di samping nya.
"aku tidak bermaksud memberimu masalah aku juga tidak bermaksud membuat hidupmu tidak tenang aku juga sama sepertimu ingin hidup tenang tapi aku tidak tau kemana aku harus pergi selain ke sini menemuimu". aqeela berucap setelah menghentikan langkah nya tepat di ambang pintu sebelum akhirnya melanjutkan langkah nya sedangkan lusi ia meraup wajah nya kasar di akhiri senyuman getir.
30 menit berlalu lusi dan aqeela sudah duduk manis di kursi meja makan tak luput juga harry ia sudah duduk di sebelah lusi tepat di hadapan aqeela.
"ini serius, semua makanan ini kau yang masak harr?"
"aqeela, kamu harus sopan dia lebih tua dari kamu" tegur lusi.
"ok, maaf!"
"tidak apa apa, tidak usah sungkan lagian baru pertemuan pertama" ujar harry di akhiri senyuman."kalo begitu makan lah, kau harus coba masakan ku" lanjut harry sembari mengambilkan satu sendok lauk yang berada di hadapan nya.
"terima kasih" ujar aqeela sembari menyuapkan makanan nya kedalam mulut."waww, ini enak sekali" kagum aqeela di sela sela mengunyah nya."aku harus makan banyak pokok nya".
lusi hanya tersenyum melihat tingkah adik nya sembari mengunyah tak begitu pula harry ia tersenyum di sela sela mengunyah nya.
"kok bisa sih, kau sebagai laki laki bisa masak seenak ini bahkan kalo di bandingin dengan masakan eonnie, masakanmu lebih enak"
"kau ini kalau soal makanan enak pasti seperti ini padahal kau belum pernah mencoba masakan ku yang sekarang lagian itu udah 5 tahun lalu sekarang masakan ku sudah banyak peningkatan" ujar lusi membela diri.
"Oh ya! kalo begitu aku harus coba masakan mu versi sekarang, jangan sampai sama seperti dulu".
"kau tau, eonnie mu itu bisa masak itu berkat belajar dari ku" ujar harry sembari melirik lusi.
"ishh, kau ini.." lusi berucap sambil menyenggol lengan harry.
"waww, kalo begitu ada kemauan dong eonnie berarti lain kali aku juga harus belajar agar aku bisa masak makanan enak".
"ok, kita cari waktu nya" harry berucap di akhiri dengan beberapa anggukan kecil.
"Oh ya harr, kamu setelah ini mau langsung pulang atau.."
"Ya, aku setelah ini mau langsung pulang kebetulan juga aku akan pulang ke rumah bukan ke apartemen" ujar harry saat lusi menggantungkan kalimat nya
"jadi.."
"Ya, jadi aku terpaksa harus pulang, kenapa emang?".
lusi menggeleng pelan,"tidak apa apa hanya tidak biasa aja kau kan sudah lama tidak pulang ke rumah!".
"hari ini appa menyuruhku pulang katanya ada sesuatu yang harus dia katakan" jelas harry.
"kalau begitu selesai makan kau langsung pulang saja takut appamu terlalu lama menunggu, ini semua biar aku yang bereskan".
"masih sempat, masih ada waktu"
lusi menatap harry,"harr".
"lusi" ujar harry lembut sembari menatap lusi kembali.
"kalian sudah lama pacaran?" aqela yang sedari tadi hanya diam mendengar mereka berbicara bertanya tanpa ada rasa tidak enak. lusi dan harry beralih melihat aqeela secara bersamaan."kenapa kalian tidak ada panggilan kesayangan sama sekali?" aqeela kembali bertanya saat tidak ada jawaban dari mereka berdua.
"apakah ketika orang dewasa pacaran memang seperti itu? tapi sepertinya tidak! aku juga pernah melihat orang dewasa pacaran, mereka punya panggilan kesayangan" belum sempat mereka menjawab aqeela sudah kembali buka suara.
"kita sudah cukup lama bersama" ujar harry memberitahu. "kurang lebih 5 tahun" timpal lusi yang mendapat anggukan dari harry.
"Oo" singkat aqeela.
" ini memang kesepakatan kita untuk tidak ada panggilan sayang, iya kan harr?".
harry mengangguk mengiyakan ucapan lusi.
"Oo.."