Tak lama tedengar suara yang keras, batu2 berapi itu jatuh dan menghancurkan hampir sebagian kota
Aaarrrgghhh ...... tolong hentikan teriak seorang ibu paruh baya yang melindungi anak kecil itu
kita sudah tamat, ini adalah Neraka..
.
.
.
.
.
.
.
"Ibu aku rasa roti ini gosong ?".
ucap seorang anak kecil yang usianya sekitar 5 tahunan sambil membuka sebuah pemagang yang hanya bertutupan lempengan besi. suaranya yg lirih dan polos sambil teriak dari jauh membuat seorang wanita paruh baya mendekat
"- ya ampunn ibu lupa haru, maafkan ibu" ucap ibu paruh baya tersebut sambil segera mengambil roti yang hampir tidak layak untuk di makan lagi
Ya, anak kecil itu adalah Haru Karaka, seorang anak yang tinggal di perdesaan kecil di dekat penggunungan, Haru adalah seorang anak dari seorang ayah bernama Karaka yang tidak memiliki sihir sama sekali, dan seorang ibu bernama Zumi yg memiliki sihir tingkatan C
"apa ibu memikirkan ayah lagi?" ucap haru sambil memegang sedikit baju ibunya yg lusuh tersebut.
"tenanglah bu ayah pasti baik2 aja, ia akan pulang dengan selamat"
Zumi pun menghela nafas " haaa... kamu benar, ayah akan pulang dengan selamat, yaaaah .... sepertinya ibu akan membuat ayah makan roti gosong malam ini" ucapnya sambil tersenyum menahan khawatir.
jam pun menunjukan pukul 11 malam, ketokan pintu pun tedengar
"mas itukah kamu" ucap Zumi yg berharap sambil berusaha menahan pintu dan menunggu jawaban
"iya sayang ini aku, aku telah pulang"
"-syukurlah mas kamu baik2 aja" memeluk erat suaminya.
ayah haru atau yg kita kenal Karaka adalah seorang pekerja serabutan, ia membantu warga sampai ke desa seberang, walaupun tidak memiliki sihir, karaka termasuk orang yg cukup kuat dan pekerja keras, dunia yg penuh dengan sihir membuat karaka sulit mendapatkan kerja karna harus bersaing dengan orang2 yg memiliki sihir.
"tenanglah sayang, aku baik2 aja, kamu terlalu khawatir setiap hari" sambil mengelus rambut istrinya
"mas..... LONAN semakin banyak, para Rainbo tidak banyak berjaga di desa kita, ini sangat berbahaya bagi kamu, tolonglah jangan terlalu bekerja sangat keras, mari kita lakukan sama2 lagi seperti dulu" Tatapan zumi yg berkaca2 membuat sedikit rasa sakit di hati karaka
"tenanglah sayang, kamu tidak bisa bekerja dengan kondisimu yg sekarang, bulan depan haru berusia 6 tahun, saat itu kita akan tau apakah haru memiliki sihir atau tidak, jadi sambil menunggu aku harus bekerja keras agar walaupun haru tidak memiliki sihir, ia tetap bisa sekolah, agar bisa memiliki pekerjaan yg layak walaupun bersaing dengan banyak nya penyihir" karaka pun berusaha menenangkan istrinya
"sepertinya kamu membuat roti yg sangat nyaman malam ini sayang hahaha" ucap karaka meledek istrinya yg melihat roti yg sudah di siapkan di atas meja.
zumi pun hanya tersipu malu mendengarnya sambil meminta maaf