Aku masih saja menangisi kebodohanku. Aku yang terlalu buta akan pesonanya, sampai tak mencari informasi kalau ternyata dia masih belum resmi menceraikan istrinya itu. Informasi yang aku dapatkan hari itu memang mengatakan kalau keduanya sudah berpisah. Tapi kehadiran wanita itu siang tadi seolah sebuah tamparan yang akhirnya menyadarkanku.
Kenapa di saat aku mulai bergantung padanya malah baru menyadari hal ini?
"Hana, apa yang terjadi? Kenapa pintunya dikunci? Kata mama kamu tadi pulangnya menangis. Ada apa, sayang?" Suara papa di depan pintu kamarku mengiringi bunyi ketukannya. "Bukain pintunya, Hana. Papa mau masuk."
Aku mengabaikan suara papa. Lebih memilih untuk berdiam diri, menyembunyikan wajahku di balik bantal yang sudah basah oleh air mataku.
"Hana..." Papa juga belum menyerah untuk memanggilku. "Buka pintunya atau papa dobrak ini?"
"Hana masih mau sendiri pa," kataku pada akhirnya sebelum papa nekat mendobrak pintu. Suaraku bahkan sangat parau.
Helaan nafas terdengar sebelum langkah kaki yang semakin menjauh.
Kulirik kembali ponselku di atas nakas -yang baterainya terpaksa kukeluarkan setelah beberapa kali terlihat nama Rex di sana menelefonku. Dia belum menyerah juga untuk memberikan penjelasan padaku setelah semua penjelasan panjang yang dia berikan sepanjang perjalanan pulang tadi. Aku hanya menulikan telinga dengan semua yang dia katakan. Tidak mendengarnya sama sekali, apalagi membalas ucapannya.
Seseorang sepertinya sedang membuka pintuku dari luar. Ah, aku lupa kalau papa punya kunci cadangannya. Sosok tegap papa masuk tanpa mempedulikan tatapan tidak suka dariku.
"Ada apa dengan putri papa, hm?" Papa duduk di sebelahku. Wajah dan tatapannya yang penuh kasih sayang untukku membuat air mataku kembali jatuh. Aku tidak pernah menyukai suasana sedih seperti ini.
"Apa yang Rex lakukan padamu? Dia tidak berbuat jahat kan? Papa sudah mengingatkannya."
Aku menggeleng. "Dan aku juga bukan anak kecil yang tidak bisa menyelamatkan diri dari hal buruk seperti yang papa bayangkan. Tapi ini jauh lebih sakit lagi, pa."
Kening papa berkerut. "Memangnya apa yang dia lakukan? Apa dia berselingkuh?" Ada nada geli di dalam suara papa.
Lagi-lagi aku menggeleng, kemudian menatap ke dalam mata coklat papa yang tajam. "Ternyata dia belum sah bercerai dengan istrinya," lirihku takut-takut.
"Apa?"
Sudah kuduga kalau reaksi papa akan seperti ini. Dan pastinya akan memikirkan ulang tentang hubungan kami. Dia tidak akan mungkin rela jika aku menikah dengan seseorang yang masih memiliki istri sah. Menerima kenyataan kalau Rex seorang duda keren -alias duren- saja sangat sulit, apalagi dengan kebenaran yang seperti ini. Rencana pernikahan itu pasti akan terkikis.
"Lalu dimana b******n itu sekarang? Kenapa dia tidak datang pada papa dan meminta maaf? Dia sudah berjanji sama papa untuk tidak akan membuatmu menangis dan terluka. Lalu ini apa?" Papa mendesis penuh kemarahan.
Aku hanya menggelengkan kepala di dalam pelukannya.
"Kamu tenanglah, biar papa yang akan menangani semuanya. Papa tidak akan biarkan dia bebas. Papa akan membalaskan yang setimpal untuknya."
Aku menahan tangan papa yang hendak beranjak. Menatap takut ke arahnya dan menggelengkan kepala. "Jangan, pa."
"Kenapa? Papa hanya ingin membuat dia sadar akan apa yang telah dia lakukan pada putri papa."
Aku menggeleng keras. "Tidak, pa. Hana tidak ingin dia terluka. Hana sayang sama dia."
Papa mendudukkan dirinya kembali di kasur. "Kenapa putri papa jadi sebodoh ini sih? Apa yang kamu lihat dari pria br*ngsek seperti dia, hm? Apa kebohongannya belum cukup membuktikan kalau dia bukan seorang pria yang baik?" Tatapan papa seolah sedang mengasihaniku.
Aku tidak tau, papa. Aku tidak tau. Aku hanya menyayanginya.
"Ya sudahlah kalau memang itu yang kamu inginkan. Ingat, jangan menyembunyikan apapun dari papa sama mama. Kami ada untuk mendengarmu, sayang."
"Dia baik-baik saja?" Mama muncul dari balik pintu dengan wajah cemasnya. Papa mengangguk mengiyakan. "Mm, kita makan malam dulu. Makan malamnya sudah siap."
Dan apa yang aku rasakan berimbas pada rasa makanan yang masuk ke dalam mulutku. Semuanya terasa pahit, sangat tidak enak. Aku membenci rasa yang satu itu.
~~~
"Kak, Rex nanyain kabar kakak sama aku." Bima datang melapor ke kamarku. Karena tidak mendapat balasan dariku, mungkin pria itu memanfaatkan hubungan kerja samanya dengan Bima untuk mendapatkan kontak Bima.
"Aku harus balas apa?" lanjutnya lagi saat tak mendengar jawaban apa-apa dariku.
"Tidak perlu dijawab. Biar dia yang cari tau sendiri."
"Kakak yakin? Apa kakak mau membuatnya khawatir?" Ada nada mengejek dari cara bicara Bima. "Oh ya, besok kami akan ada pertemuan lagi di kantor. Aku kira makan siang bersama bukan ide yang buruk."
Ya, kalian pergilah makan siang.
Ini bukan masalah tidak ada waktu untuk bertemu, tapi aku harus meyakinkan diriku lebih dulu.
"Bima, kakak mau tidur. Kalau mau berisik, sana keluar saja." Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
Adikku itu hanya mendengus sebelum menuruti perintahku. Aku tau kalau dia hanya ingin membantuku, tidak ingin aku seperti ini terus.
~~~
"Akhhh..."
Aku meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa pegal. Udara pagi ini terasa sangat segar menyambutku. Apalagi mama yang sudah membukakan jendela kamarku, membuat udara pengap dalam kamar berganti. Sinar matahari pagi bahkan memasuki kamarku.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi setelah menyadari kalau ternyata ini sudah hampir jam delapan pagi. Uhm, sangat jauh dari waktu bangunku biasanya.
Hanya mencuci muka dan menggosok gigi, aku langsung menuju meja makan. Perutku terasa sangat lapar. Mungkin karena semalam aku tidak makan banyak.
"Oh, anak gadis papa sudah bangun ternyata. Cepat sekali, sayang," goda papa.
Aku tersenyum. "Pagi, papa."
Kulihat Bima yang duduk di sisi lain meja makan mengikuti langkahku dengan tatapan menuntutnya. Aku tau. "Pagi, adikku yang tampan. Pagi, mama," sapaku satu per satu. Bima langsung menyunggingkan senyum.
"Tidurmu nyenyak?" tanya mama sambil membawakan sop yang baru dimasaknya. Sampai hari ini Bi Inah masih belum kembali bekerja juga. Jadinya mama yang melakukan semuanya sendiri.
"Hm," balasku sambil mengangguk. Mengangkat gelas berisi s**u yang sudah tersaji dan meneguknya. Mama mengacak rambutku pelan.
"Apa yang kamu rencanakan hari ini?" selidik papa.
"Hm? Aku tidak merencanakan apa-apa, pa. Apa papa punya sesuatu yang baik untuk dilakukan?" tanyaku sambil menjilat bibir atas yang aku tau pasti ada bekas s**u di sana. Berharap papa memang mempunyai ide yang baik.
"Menjadi tukang kebun, barusan papa sama mama membicarakannya," celutuk Bima yang membuat papa terkekeh.
"Apa? Jadi tukang kebun? Tidak, terima kasih, pa." Tawa papa semakin meledak. Diikuti oleh mama yang kembali membawakan makanan lain ke meja dan duduk di sebelah papa.
"Papa sama mama memang baru membicarakannya. Tapi papa tidak mungkin setega itu meminta putri kesayangan papa yang lagi patah hati untuk menjadi tukang kebun." Bima ikut tergelak. "Bagaimana dengan ikut papa ke kantor?" lanjut papa setelah tawa mereka mereda.
"Jangan kak. Yang ada nanti kakak akan digodain sama kuli di sana." Bima menyahut dari duduknya.
Papa menoleh ke arah Bima. "Ke kantor, Bima. Bukan ke lapangan." Papa yang adalah seorang kontraktor membuatnya selalu berhubungan dengan para kuli. Tapi itu adalah kesenangan tersendiri bagi papa. Katanya berteman dengan mereka-mereka itu sangat menyenangkan. Tidak seperti saat ia berteman dengan orang-orang dari kelas atas yang ada di kantor. Jauh lebih menarik dan berwarna.
"Tapi kalau papa ke kantor, pasti akan membosankan. Tidak ada yang bisa dilakukan," sergahku.
"Lalu kamu maunya kemana?"
"Liburan!" girangku.
Papa menggeleng. "No! Ini belum waktunya untuk liburan. Memangnya kamu, sepanjang waktu liburan," kata papa.
"Aku kerja kali, pa. Buktinya aku bisa hidup tanpa sokongan dana dari papa sama mama."
"Tapi dari Bima." Aku meringis. Sesekali aku memang mendapat bala bantuan dari adikku ini. Tapi kan tidak selalu. Hanya di saat aku sedang sekarat saja. Dan ternyata papa tau.
Aku segera memalingkan pandanganku ke arah Bima. Dia malah terlihat santai menikmati sarapannya. Seolah tidak mendengar pembicaraan ini. Ugh, jangan-jangan dia mengadu sama papa.
~~~
Aku menyusuri ruangan Bima sementara dia masih mengadakan pertemuan dengan kolega bisnisnya. Pada akhirnya aku memilih untuk ikut dengannya. Menolak tawaran dari papa yang sepertinya malah lebih membosankan.
Kulirik jam tanganku, masih tersisa satu jam lagi sebelum makan siang. Seperti yang dikatakan oleh Bima sebelumnya, mereka akan selesai sebelum jam makan siang. Itu berarti aku masih harus menunggunya sekitar satu jam ke depan. Kuputuskan untuk membuka komputer di mejanya. Mencuri internet gratis darinya. Aku mempunyai sesuatu yang ingin aku bagikan ke blog pribadiku. Cerita tentu saja.
Tidak butuh waktu lama hingga jemariku menari-nari di atas papan keyboard. Mengetikkan apa yang sedang dipikirkan oleh otakku. Namun dering ponselku menginterupsi. Sebelum ikut dengan Bima pagi tadi, aku sudah mengembalikan ponselku seperti semula. Memasang kembali baterainya. Dan memang yang kudapati di dalamnya semua adalah notifikasi dari Rex.
Nomor tak dikenal.
Siapa lagi yang mungkin menghubungiku? Tidak mungkin Rex lagi, karena dia sedang rapat bersama Bima di ruangan lain.
"Halo." Dengan baik hati aku menjawabnya. Tidak ada yang bisa menebak kalau saja itu adalah berita baik. Dan karena perasaanku memang sedang baik, maka aku akan meladeninya sekalipun dia hanya orang iseng -nantinya.
"Dengan mbak Hana?" Suara seorang pria terdengar dari seberang. Suara yang sangat asing untukku.
"Ya, saya bicara dengan siapa?"
"Saya Ridho, mbak. Dari ER Entertainment. Kami tertarik dengan novel karya mbak yang berjudul Cahaya Cinta Demon, dan berniat untuk menjadikannya film layar lebar. Apa mbak berminat? Kita bisa bicarakan lebih lanjut lagi."
Eh? Ini benar-benar berita baik untukku. Firasatku tadi ternyata benar. Sejak lama memang aku memimpikan hal ini, tapi belum percaya diri untuk menawarkannya. Untuk novel yang dia sebutkan itu, memang menjadi best seller tahun lalu. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau akan ada produser yang tertarik.
"Iya, boleh. Kapan kita bisa bertemu untuk membicarakannya?"
~~~
Aku menghentikan taksi di depan kantor Bima, meminta sopir untuk mengantarkanku secepatnya ke alamat yang pria itu tadi kirimkan padaku. Tidak peduli kalau jam makan siang akan tiba dalam sepuluh menit lagi. Bahkan aku melupakan cerita yang akan aku bagikan tadi. Ini lebih excited untukku.
Deringan ponsel terdengar saat aku masih duduk tidak tenang, meminta sopir paruh baya itu untuk melaju lebih cepat. Aku merogoh tas dan menjawabnya tanpa melihat siapa yang menghubungi.
"Ya, ada apa?"
"Kamu dimana? Bima bilang kamu ada di ruangannya, tapi tidak ada siapa-siapa di sini." Eh, suara ini? Kulihat ponselku, dan benar saja itu adalah Rex.
"Aku sedang ada urusan, mendesak. Nanti saja." Kututup segera panggilan itu tanpa menunggu dia membalas lagi.
Dan hanya berselang beberapa detik sampai terdengar deringan lagi. Sudah pasti itu adalah dia. Kuabaikan saja, kebetulan suara sopir taksi mengatakan kalau kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku pikir sopir taksi itu akan kesal dengan sikapku tadi yang mendesaknya.
"Mbak Hana?" Seseorang langsung menghampiriku saat aku melangkahkan kaki memasuki gedung beberapa lantai itu. Di bagian atasnya memang terpampang jelas tulisan ER Entertainment. Salah satu rumah produksi ternama di negeri ini.
Hm, melangkah memasuki gedung ini benar-benar tidak pernah kuduga. Dan terjadi secepat ini.
Pria yang aku lihat di ID-nya bernama Agus itu akhirnya mengantarkanku ke sebuah ruangan untuk menemui Ridho -yang tadi menelefonku.
~~~
Ini benar-benar luar biasa. Untuk pertama kalinya tulisanku akan dijadikan film layar lebar. Aku sampai kehabisan kata-kata, bagaimana untuk mengungkapkan perasaanku kali ini. Rasanya seakan aku berada di atas awan. Kami sudah membicarakannya tadi, dan keputusan final akan dilakukan segera.
"Hana? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak berniat menjadi artis juga kan?" Pria itu mendekatiku sembari melepaskan kacamatanya. Di belakangnya seseorang mengikuti sambil membawakan dua tas kecil.
"Oh, hai Sean. Tidak, aku hanya ada urusan kecil tadi."
"Lalu?"
"Ya, aku akan pulang sekarang. Sedang menunggu Agus memanggilkan taksi untukku."
Sean melirik jam tangannya. "Hm, baiklah. Aku masuk dulu. Aku sedang terburu-buru," pamitnya dan kuangguki.
Entah apa yang terjadi, taksinya lama sekali. Aku sempatkan untuk membuka ponselku yang tadi ku-silent. Ada beberapa notif dari Rex dan Bima. Sepertinya mereka memang menungguku. Ku-redial Bima.
"Kakak dimana sih? Dari tadi ditelefonin nggak jawab sama sekali. Kakak baik-baik saja kan? Sekarang ada dimana?" Bukannya mengucapkan salam lebih dulu, dia malah menyerocos panjang seperti kambing kehujanan.
"Tidak apa. Kakak akan kesana sekarang. Kalian ada di ruangan atau dimana?"