Seorang pria paruh baya termenung menatap putrinya yang berada di ruang perawatan. Air matanya terus mengalir meratapi nasib putri kesayangannya yang begitu mengenaskan.
Sedangkan di sisi lain, sang istri pun tidak ada bedanya dengan sang suami. Bahkan wanita itu sempat pingsan karena shock.
"Ini karma untuk saya," ujar pria paruh baya itu. "Dulu, Kayla pun pernah mengalami hal ini, apakah ini balasan?"
"Sudah takdirnya seperti ini Mas Rega, ikhlaskanlah," jawab Arga—adik ipar Rega—sambil mengelus punggung pria itu.
"Bagaimana kehidupan Yaya nantinya, Ga? Dia bahkan masih berusia 16 tahun," lirihnya lagi.
"Percayalah bahwa Allah pasti akan memberikan kebahagiaan untuk Yaya, Mas," ucap Retalia seraya tersenyum kecil.
Tapi ternyata, hidup tidaklah seindah yang kita inginkan. Banyak masalah yang menimpa Shaniya setelah itu, mulai dari beberapa pria yang menolaknya setelah mereka tau bahwa dia adalah korban pemerkosaan, hingga trauma yang masih ia rasakan hingga dirinya menginjak dewasa. Bagaimanakah caranya untuk mendapatkan kebahagiaannya itu?
Tiga hari lamanya gadis itu terbaring tanpa membuka mata.
Ketika akhirnya kelopak mata Shaniya bergerak, Kayla yang pertama kali menyadarinya. Wanita itu berdiri terlalu cepat sampai kursi di belakangnya nyaris terjatuh.
"Ya? Yaya, ini Mama, Sayang," ucap Kayla sambil menggenggam tangan putrinya yang dingin. "Alhamdulillah, ya Allah, alhamdulillah."
Rega berlari memanggil perawat. Sebentar saja ruangan itu penuh; dokter memeriksa, perawat mencatat, dan di tengah semua kesibukan itu Shaniya hanya diam. Matanya terbuka, menatap langit-langit, tapi tidak satu pun dari mereka yang ia lihat.
"Yaya," panggil Rega dengan suara bergetar. "Nak, ini Papa."
Tidak ada jawaban.
Dokter itu menarik napas, lalu menepuk bahu Rega pelan. "Fisiknya akan pulih, Pak. Tapi yang seperti ini butuh waktu. Jangan dipaksa bicara."
Malam harinya, ketika lampu koridor rumah sakit sudah diredupkan, Kayla masih duduk di sisi ranjang. Ia mengelus rambut putrinya berulang-ulang, seperti dulu ketika Shaniya kecil susah tidur.
"Mama tau rasanya, Ya," bisik Kayla dengan air mata yang jatuh ke sprei. "Mama tau. Dan Mama minta maaf karena Mama gak bisa jagain kamu."
Untuk pertama kalinya, jemari Shaniya bergerak. Menggenggam. Sangat pelan, tapi Kayla merasakannya.
***
Dua bulan setelah keluar dari rumah sakit, Shaniya belum juga mau keluar kamar.
Seragamnya masih tergantung rapi di balik pintu, tidak pernah tersentuh. Setiap pagi Kayla mengetuk, membawa nampan berisi bubur dan segelas susu, lalu meletakkannya di meja belajar ketika tidak ada jawaban.
"Mas, sampai kapan begini?" tanya Kayla suatu malam di ruang tengah.
"Sampai dia siap," jawab Rega singkat. Padahal pria itu sendiri tidak tau kapan.
Arga dan Retalia datang di akhir pekan. Retalia membawa martabak manis kesukaan Shaniya, lalu naik ke lantai dua tanpa mengetuk terlalu keras.
"Yaya, ini Tante. Tante bawa martabak. Kalau gak dibuka pintunya, Tante makan sendiri loh semuanya," ucap Retalia dari balik pintu.
Hening beberapa saat. Lalu terdengar bunyi kunci diputar.
Retalia masuk, duduk di lantai bersandar pada ranjang, dan tidak bertanya apa pun. Ia hanya membuka kotak martabak dan makan, seolah tidak ada yang aneh di rumah itu. Setengah jam kemudian, Shaniya bersuara untuk pertama kalinya sejak kejadian itu.
"Tante," lirihnya serak. "Yaya kotor, ya?"
Retalia berhenti mengunyah. Ia berbalik, menangkup wajah keponakannya dengan kedua tangan, lalu menatap mata gadis itu dalam-dalam.
"Dengerin Tante baik-baik. Yang kotor itu orang yang jahat sama kamu. Bukan kamu. Kamu itu korban, Ya. Korban gak pernah salah."
Malam itu Shaniya menangis sampai suaranya habis. Dan di luar pintu, Rega mendengarkan semuanya sambil menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar.
***
Waktu memang berjalan, tapi ia tidak menyembuhkan segalanya.
Shaniya kembali sekolah setahun kemudian, pindah ke kota lain, tinggal di rumah Arga. Ia lulus, lalu kuliah, lalu menjadi gadis yang orang-orang bilang cantik dan pendiam. Yang mereka tidak tau, gadis itu selalu memilih tempat duduk paling dekat pintu, dan tidak pernah mau pulang di atas jam sembilan malam.
Semester tiga, Shaniya pernah pingsan di dalam lift kampus.
Bukan karena sakit. Hanya karena seorang pria asing masuk dan berdiri terlalu dekat, dan pintu lift itu menutup terlalu lambat. Napasnya hilang begitu saja, telinganya berdenging, dan yang ia ingat berikutnya adalah wajah teman-temannya yang panik di lantai dasar.
"Ya, kamu kenapa? Sakit, ya?" tanya salah satu temannya sambil mengipasi wajahnya dengan buku.
"Gak apa-apa," jawab Shaniya sambil memaksakan senyum. "Cuma telat sarapan."
Sejak hari itu ia selalu naik tangga, bahkan sampai lantai lima, dan tidak pernah sekali pun menjelaskan alasannya kepada siapa pun.
Ada beberapa pria yang datang. Ada juga yang serius.
Salah satunya sempat sampai membicarakan tanggal.
"Aku mau kamu tau satu hal dulu sebelum kita lanjut," ucap Shaniya waktu itu, di sebuah kedai kopi yang mulai sepi. Tangannya menggenggam gelas yang sudah dingin. "Waktu umur enam belas, aku... aku korban pemerkosaan."
Pria di depannya diam. Terlalu lama diam.
"Kamu serius?"
"Aku gak akan bercanda soal itu."
Pria itu mengusap wajahnya, menatap ke luar jendela, lalu tersenyum dengan senyum yang paling menyakitkan yang pernah Shaniya lihat. "Ya, aku... aku harus mikir dulu, Ya. Keluargaku juga, kamu tau sendiri kan gimana."
Shaniya mengangguk. Ia bahkan sempat berkata terima kasih.
Pesan pria itu tidak pernah masuk lagi setelah malam itu.
Malam itu ia pulang, melepas sepatu di teras, dan mendapati Kayla masih menunggu di ruang tengah dengan televisi yang menyala tanpa ditonton.
"Gimana?" tanya Kayla.
Shaniya duduk di sebelah ibunya, menyandarkan kepala di bahu wanita itu, lalu menggeleng.
"Dia pergi, Ma."
Kayla tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Tangannya hanya mengusap lengan putrinya naik turun.
"Berarti bukan dia," ucap Kayla akhirnya. "Kalau memang jodoh, dengar cerita kayak gitu pun dia gak akan kemana-mana."
"Kalau gak ada yang mau, gimana?"
"Ya gak apa-apa." Kayla mencium puncak kepala Shaniya. "Kamu tetap anak Mama. Nikah itu bukan piala, Ya. Kamu gak lagi ikut lomba sama siapa pun."
Shaniya tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak sore. Tapi tetap saja, ada yang patah di dalam dirinya, dan ia tidak menceritakannya kepada siapa pun.
Sejak saat itu Shaniya membuat kesimpulan sendiri: lebih baik ia yang mengatakannya lebih dulu, supaya orang-orang punya kesempatan untuk pergi lebih cepat. Lebih tidak sakit. Begitu pikirnya.
***
Enam tahun berlalu dari malam yang mengubah hidupnya.
Sore itu Kayla mengetuk pintu kamar putrinya dengan wajah yang sulit disembunyikan. Ada senyum yang ia tahan sejak tadi.
"Ya, nanti malam ada tamu."
Shaniya yang sedang melipat mukena menoleh. "Tamu siapa, Ma?"
"Ada yang mau datang, sama orang tuanya." Kayla duduk di tepi ranjang, menepuk tempat di sebelahnya. "Kamu masih inget Ryan? Katingmu waktu kuliah dulu."
Gerakan tangan Shaniya berhenti.
"Mama..."
"Mama gak maksa," potong Kayla cepat. "Tapi Papa kamu udah kasih izin buat dia datang. Kalau kamu gak mau, ya bilang aja nanti. Yang jawab tetap kamu, bukan Mama, bukan Papa."
Shaniya menunduk. Mukena di pangkuannya ia remas tanpa sadar.
"Ma, kalau nanti dia tau..."
"Ya, Sayang." Kayla meraih tangan putrinya. "Sampai kapan pun, itu bukan aib kamu. Dan Mama percaya, Allah udah nyiapin seseorang yang gak akan pergi cuma karena masa lalu."
Di bawah, Rega sudah lebih dulu gelisah sejak siang.
"Mas yakin sama anak ini?" tanya Kayla ketika turun mengambil air.
"Papanya udah ketemu, orangnya sopan," jawab Rega sambil membetulkan letak taplak meja yang sebenarnya sudah rapi. "Tapi kalau nanti Yaya bilang tidak, ya sudah. Aku gak mau lagi lihat anakku dipaksa siapa pun, termasuk sama bapaknya sendiri."
Kayla mengangguk. Ia tau, sejak enam tahun lalu, laki-laki itu tidak pernah benar-benar berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Kayla mencium kening Shaniya lama sekali, lalu berdiri dan berjalan ke pintu.
"Mandi, dandan yang cantik. Mama tunggu di bawah."
Pintu tertutup pelan.
Tinggal Shaniya sendiri di kamar itu, dengan cahaya jingga yang masuk lewat jendela dan suara azan Maghrib yang mulai terdengar dari kejauhan. Ia menghela napas panjang, lalu menengadahkan wajahnya ke atas.
"Ya Allah," bisiknya. "Kali ini jangan sakitin Yaya lagi."
Ia bangkit, mengambil air wudhu, lalu menggelar sajadah menghadap jendela yang tirainya sengaja ia buka lebar-lebar. Dalam sujud terakhirnya, doanya cuma satu dan diulang berkali-kali: berikan Yaya orang yang tidak akan lari.
Dan malam itu pun datang.