Di sini dia, siswa dengan nametag Eriska bersekolah, pintar pasti, juara 1 paralel di kelasnya juga mendapatkan juara umum 1. Sayangnya keberadaannya selalu dimanfaatkan oleh teman-temannya, tapi ia tidak peduli karena menurutnya selagi ia masih memiliki teman.
"Gue gapapa dan gak ngerasa rugi punya teman yang suka manfaatin tapi dia selalu ada saat gue gak punya siapa-siapa." itu kata Riska. Gadis itu akan selalu berteman dengan siapapun dan tidak peduli apa kata orang, dia cari aman untuk bertahan hidup. Dari situ, sudah terbayang sesulit apa dia hidup, masalah hidup remaja 15 tahun itu sudah sangat rumit dan ia tidak ingin menambah beban hidupnya.
"Riskaaa," teriak Flora atau biasa di panggil Flo.
Anak orang kaya, anak pemilik sekolah tentunya. Kaya sih, tapi dia lah orang yang selama ini memanfaatkan Riska, mulai dari selalu menyontek hingga meminta uang saku pada temannya ini.
Dulu Riska pernah di bully oleh Flo dan di ancam karena tidak mau memberikan contekan dan mengerjakan PR milik Flo, juga tidak mau memberikan uang sakunya pada Flo, tapi lama-lama Flo baik saat Riska mulai tunduk, begitulah keberadaannya memang dimanfaatkan.
"Riska, lo udah baca di grup kan? Nah, kan bentar lagi kita mau perpisahan ini, jadi kita di suruh iyuran buat ngadain perpisahan. Iyuran nya kan 50 Ribu per-orang. Gue tau nih awal bulan lo udah gajian kannn? Boleh dong, lo bayarin gue, itung-itung temen kan yaa?" pinta Flo tak tahu malu.
"Iya tenang aja, gue ada kok," ucap Riska meyakinkan.
"Huaa lo baik banget sihh, janji SMA kita harus satu sekolah dan satu kelas lagi kaya sekarang," pekik Flo antusias.
Riska hanya memutar bola matanya jengah dan kembali berjalan menyusuri koridor menuju kelas 9.1
Yaps itu kelasnya.
Riska itu cantik, jenius juga, pendek sih tapi tidak gemuk, sangat mungil dan menggemaskan.
"Pagi penghuni yang datang kepagian!" sapa Riska berteriak membuat telinga pekak.
"Gak usah teriak kali, Ris. Lo pikir gendang telinga gue terbuat dari baja apa? kalo pecah emang lo mau ganti?" gerutu Farhan sebal.
"Engga," jawabnya diiringi cengiran tanpa berdosa itu, dasar gadis aneh.
"Lo udah ngerjain PR Matematika belum?" kali ini Indah bertanya seraya menghampiri-Nya.
Riska menaruh tasnya dan membuka resleting tas tersebut seraya mengeluarkan buku di dalamnya. "Udah, gue begadang tau ngerjainnya sampai jam 2 malam, susah banget soalnya itu."
"Gak percaya ish gue, pasti lo sambil nonton drakor kan? tuh mata sampe bengkak, orang sih nangis karena di gosting, lah lo karena drakor. gak asik ih," ejek Indah menyambar buku dari tangan Riska dan membawanya di tempat duduknya.
"Gitu-gitu lo harusnya berterimakasih kali, sama Riska. Bukannya nyinyir gitu. Rela loh dia begadang sampe jam segitu dan paginya lo tinggal nyalin aja, jarang-jarang temen kaya Riska gini, harus dilestarikan." itu suara Giani yang juga merupakan rombongan nyontek berjamaah.
"Nah bener tuh," timpal Flo setuju, kebiasaan anak satu ini memang sangat gemar nyaut-nyaut aja, padahal tidak diajak bicara.
"15 menit lagi masuk, tuh jawaban panjangnya gak main-main, masih mau debat? mending gak usah dikerjain." seketika semuanya panik dan segera mengambil tempat untuk menyalin.
Riska, jika yang lain sibuk mencatat, anak itu biasanya membaca materi yang akan dipelajari sambil mendengarkan musik menggunakan earphone.
••••
"Baik anak-anak, kumpulkan tugasnya!" tegas pak Ardi menggelegar di ruangan, membuat para murid merinding tentunya.
Tidak ada yang bergerak, mereka malah menatap Riska dengan tatapan permohonan, tentu mereka ingin Riska yang mengantar tugas duluan, mana kuat nyali mereka jika mengantar tugas duluan dan ditanya ini itu, mereka kan tidak faham dengan matematika, yang ada kepala mereka sakit jika otaknya diajak kompromi sedikit.
Riska memutar bola matanya jengah, selalu saja ia yang memulai duluan, baiklah tidak masalah, ia berjalan kedepan menuju meja pak Ardi dengan cengiran khasnya saat menyerahkan buku itu pada pak Ardi.
Guru matematika yang masih diperkirakan muda karena baru 25 tahun itu dengan teliti melihat jawaban dari anak didiknya yang ber-IQ tinggi ini, mencoba mencari kesalahan tapi is tidak menemukannya satu pun, semuanya benar dan ia juga mengakuinya, murid satu ini patut mendapatkan apresiasi.
"Saya puas dengan jawaban kamu," ujar pak Ardi mengacungkan jempol.
"Ayo yang lain, mana ini tugasnya? Jangan-jangan kalian gak ngerjakan lagi, udah keburu insecure liat jawaban Riska ya. Harusnya kalian itu termotivasi dong, murid teladan ini, wajib di lestarikan," lanjut pak Ardi membuat Dito bangkit dan mengumpulkan tugasnya diikuti yang lain.
"Kita ngerjakan kok pak, cuman ya emang baru ngumpul tunggu ratu kelas kita dulu ngumpul, baru kita. Gitu hehe," jelas Dito beralasan, tidak lupa cengiran di akhir kalimat.
"kamu ini, alasan aja banyak banget. Nyontek gak, kamu?" tanya pak Ardi memeriksa jawaban di buku Dito yang jawabannya benar semua sama seperti Riska.
"Nyontek dong pak, bukan Dito namanya kalo gak nyontek. Biar gak ngerti gini yang penting dapet seratus terus, kan kalo orangtua liat, bangga mereka nilai anaknya tinggi-tinggi." Dito menjelaskan bak guru yang menjelaskan pelajaran secara detail, dia terlihat bangga.
"Nah setuju itu pak. Buat orangtua seneng pak," timpal Yeni menyetujui.
"Emang orangtua kamu bangga liat nilai tinggi kamu, kalo hasil nyontek?" tanya pak Ardi lagi kali ini pada Yeni.
"Bangga dong pak asal gak dibilangin hasil nyontek, gitu." pak Ardi mengangguk saja tanpa minat.
Guru itu masih terlihat memeriksa jawaban dari siswa yang lainnya, sedangkan Riska dan yang lainnya sudah kembali duduk.
"Flora Wiratama. Kamu juga mencontek?" tanya pak Ardi membaca nama disimpul buku tersebut.
"Iya pak," jawab Flo jujur. Buat apa ditutupin jika memang itu kenyataannya, dan guru itu sudah terlanjur tahu.
"Ck.Pantas Indonesia gak maju, anak mudanya generasi nyontek." pak Ardi tampak memijat pelipisnya, pusing sepertinya.
"Nayla Amanda, coba kerjakan soal nomor 1 di papan tulis tanpa melihat buku," titah pak Ardi.
Nah, kalau sudah begini mereka semua harus berdoa supaya Tuhan berbaik hati sehingga guru itu tidak memanggil nama mereka.
"selanjutnya Fino kerjakan nomor 2, Dito nomor 3, Flo nomor 4, dan terakhir Anya nomor 5. Yang dipanggil silakan maju kedepan, 4 dan 5 bawa spidol sendiri, spidol di kelas habis."
"Untuk tugas berikutnya saya akan membuatkan soal khusus untuk Riska, sepertinya soal ini terlalu kacang untuk murid seperti Riska. Saya akan membuatkan soal yang lebih sulit. Kamu bersedia, Riska?" tanya pak Ardi meminta persetujuan.
"Iya pak," jawabnya singkat.
"Okey nice. Saya memang tidak suka penolakan."