Untuk mempersiapkan diri dalam rapat khusus yang akan digelar besok, Shin pun pergi ke perpustakaan umum demi membaca beberapa materi yang pernah dipelajarinya di akademi. Perpustakaan umum terletak di jantung kota. Perpustakaan itu sangat besar dan selalu menjadi tempat tujuan para murid akademi atau pun dewa kematian secara umum yang ingin menghabiskan waktu untuk belajar mengenai seluk-beluk dewa kematian.
Shin naik rickshaw untuk sampai ke sana—mengingat jaraknya cukup jauh dari rumah peristirahatannya. Tadi sebelum berangkat, Nan menyemangatinya dengan riang gembira. Meski tak tahu apa yang terjadi, Snowy pun ikutan mengeong sambil menggosokkan badannya ke kaki Shin. Melihatnya, Shin jadi merasa terhibur. Snowy memang sudah sepenuhnya menjadi milik Nan. Walau begitu, sikapnya yang ramah padanya membuat rasa trauma Shin akan kucing berangsur-angsur memudar—meski tentu saja tak bisa hilang sepenuhnya.
Rickshaw yang dinaiki Shin akhirnya sampai di perpustakaan umum kota. Seperti biasa, Shin selalu menambahkan beberapa puluh yele tiap membayar tarif rickshaw. Ada beberapa penarik rickshaw yang menyadari kebiasaan Shin itu dan mengucapkan terima kasih. Tapi, kebanyakan hanya menanggapinya sambil lalu seolah itu adalah hal lumrah yang dilakukan dewa kematian seperti Shin.
Ketika hendak masuk perpustakaan umum, mata Shin terarah pada pemandangan yang tak dia sangka-sangka. Sebenarnya, dia tahu itu akan terjadi. Toh, dia-lah yang sedari awal memintanya. Yang tak disangka Shin, sosok itu sedang melancarkan usahanya sesuai permintaan Shin.
Ya, sosok itu adalah Robusta yang dipekerjakan Shin untuk mengorek informasi mengenai apa yang sudah didapat Flo dari perpustakaan akademi. Dua dewa kematian itu terlihat berbincang akrab di meja kanopi di depan café tak jauh dari perpustakaan umum.
Melihat Robusta dan Flo dari kejauhan, spontan saja Shin menyembunyikan dirinya agar dua dewa kematian itu tak melihat sosoknya. Shin tahu Flo bukan tipe yang cepat mundur meski Shin dengan lugas menolaknya—bahkan Violet sampai menciumnya segala demi mengusir Flo.
“Rupanya Robusta bertindak cepat,” pikir Shin dengan mata terus mengawasi gerak-gerik Robusta dan Flo. Kalau dilihat dari cara mereka berinteraksi, sepertinya Robusta dan Flo lumayan dekat. Beberapa kali Robusta mencondongkan tubuhnya ke arah Flo sambil mengatakan sesuatu. Tak lama kemudian, Flo tertawa seperti menanggapi apa pun yang diucapkan Robusta padanya.
“Kau sedang memata-matai siapa, Shin?”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat Shin terkaget-kaget. Shin yang awalnya sembunyi di balik pilar perpustakaan umum kota, jadi sedikit salah tingkah, karena ketahuan sedang mengintip Flo dan Robusta. Terlebih yang memergokinya adalah Violet, yang entah bagaimana sedang ada di depan perpustakaan umum kota. Sepertinya seniornya itu sedang ada urusan yang membuatnya harus berada di sini sekarang.
“Ah, eh, Senior…” sapa Shin dengan cengiran lebar di wajahnya. “Senior ada urusan di sini?”
“Begitulah.” Violet melongokkan kepala ke arah pandang Shin tadi. “Jadi, siapa yang kau amati sedari tadi? Aku jadi penasaran…”
“Itu… bukan siapa-siapa kok. Senior tak perlu mencari tahu juga…” Shin meneguk ludah gugup sambil melirik meja Flo dan Robusta yang tadi sempat jadi sasaran pengamatannya diam-diam. Untunglah meja terdekat Flo sudah ada yang menempati, jadi sosok Flo dan Robusta tak terlalu kelihatan dari tempatnya berdiri sekarang. Tak seperti sebelumnya di mana dua dewa kematian itu tampak jelas dari tempat persembunyian Shin.
“Sepertinya kau sedang melakukan sesuatu yang bersifat rahasia. Baiklah, aku tak akan mengganggu…” Violet mengedipkan matanya dengan sorot jenaka.
Shin sekali lagi cuma bisa nyengir. Apa pun yang dipikirkan Violet sekarang, sepertinya seniornya itu tak ingin terlalu ikut campur atas apa yang dilakukan Shin. Untunglah kalau begitu. Kalau Violet bersikeras mencari tahu, Shin akan merasa malu sekali karena diam-diam sudah melakukan transaksi dengan Robusta hanya untuk mengorek informasi dari Flo.
Tiba-tiba saja, satu fakta melayang-layang dalam benak Shin. Robusta dan Violet. Ya, sampai detik ini, dia belum menemukan apa gerangan relasi antara mereka berdua. Shin jelas-jelas tak mendapat keterangan apa pun dari Robusta. Sementara itu, tak mungkin pula Shin menanyakannya langsung pada Violet.
“Shin, kau mau masuk tidak?” tanya Violet sambil melangkahkan kakinya menuju pintu masuk perpustakaan.
“Ah, iya.” Shin mengekor di belakang Violet. Mereka pun akhirnya menginjakkan kaki ke area perpustakaan.
Langit-langit perpustakaan yang begitu tinggi dan berbentuk kubah seketika terlihat oleh mata Shin dan Violet. Meskipun Shin sudah sering berkunjung ke sini, tetap saja perpustakaan selalu menjadi tempat yang membuatnya merasa kagum. Ribuan literatur ada di tempat ini. Aneka buku baik tebal maupun tipis yang berisi informasi mengenai dunia dewa kematian tersebar di seluruh penjuru ruangan yang dihiasi rak setinggi dua meter, hingga membutuhkan tangga untuk mengambil literatur di rak tertinggi.
Sayangnya, ada satu hal yang kurang dari perpustakaan dunia dewa kematian. Berbeda dengan perpustakaan di dunia manusia yang selain dipenuhi oleh literatur nonfiksi, ada pula literatur fiksi yang berupa buah karya manusia. Literatur fiksi itu meliputi novel, novela, cerita pendek, kumpulan puisi, maupun naskah drama. Di sini, hal-hal semacam itu bukanlah komoditas utama, bahkan bisa dibilang tak ada. Menyedihkan memang. Tapi, Shin bisa memahami bahwa kaumnya bukan tipe yang kreatif, tak seperti kaum di dunia manusia.
Kadang Shin berpikir andai banyak dewa kematian yang menuangkan imajinasinya dalam bentuk literatur fiksi, mungkin Shin akan menjadi salah satu yang ikut serta. Violet pernah berkata Shin memiliki kemampuan menulis yang bagus, mirip penulis di dunia manusia. Sayangnya, kemampuan itu tak laku di sini, karena sejatinya dewa kematian tak memiliki kemampuan berfantasi layaknya manusia.
Menyoroti hal tersebut, kadang membuat Shin berpikir untuk benar-benar pindah ke dunia manusia. Shin merasa dunia manusia lebih cocok untuknya, dibanding tempat kelahirannya sendiri. Hal ini pula yang menjadi bahan pertanyaan di benak Shin. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bukannya seharusnya itu sedikit tak masuk akal?
“Shin, kau melamun?”
Suara itu membuat Shin yang sedang berdiri di depan sebuah rak menoleh kaget. Dia tak sadar gara-gara terlalu serius memikirkan perpustakaan di dunianya, membuatnya tak juga mengambil literatur yang dia butuhkan. Dengan kagok, dia pun menoleh dan mendapati Violet menatapnya dengan pandangan heran seolah pikiran Shin sedang berkelana ke tempat lain.
“Ah, ada sesuatu yang kupikirkan,” jawab Shin sambil mengelus ujung hidungnya dengan jari telunjuk, tanda dia merasa sedikit malu. “Omong-omong, untuk apa Senior ke sini? Ada literatur yang Senior cari?”
“Begitulah,” jawab Violet sembari menunjuk buku di tangannya. “Tentunya kau sudah mendapat surat yang menginformasikan kalau kau termasuk dewa kematian khusus yang diturunkan ke dunia manusia. Apa aku benar?”
“Senior benar.” Shin mengangguk kecil. “Karena aku sudah lupa sama sekali materi mengenai musibah di dunia manusia yang mengharuskan banyak dewa kematian pergi ke sana, makanya aku pergi untuk membaca materi yang dibutuhkan. Siapa tahu akan berguna nantinya.”
Violet seketika menunjukkan buku yang dipegangnya. “Sebenarnya, kau tak perlu melakukan itu. Itu tugas pusat untuk memberi rangkuman saat rapat nanti. Karena aku juga bertugas untuk memberikan materi, makanya aku pergi ke perpustakaan hari ini. Jadi, sebenarnya kau tak perlu repot-repot melakukannya.”
“Ternyata begitu.” Shin manggut-manggut. “Yah, kupikir dengan ikut membaca juga, maka aku bisa lebih memahami kondisi nanti. Tapi, kalau memang aku tak perlu repot-repot melakukannya, bagaimana kalau aku membantu Senior saja?” Shin sengaja menawarkan diri, karena menurutnya ini kesempatan bagus untuk berdekatan dengan Violet. Lagipula kesempatan ini jarang terjadi. Bertemu Violet tanpa sengaja di perpustakaan pun merupakan kejadian langka, jadi kenapa tak dimanfaatkan saja?
Mendengar tawaran Shin, Violet tersenyum, lalu mengacak rambut jùniornya itu. “Seperti yang kubilang, kau tak perlu repot-repot melakukannya. Itu sudah tugas kami yang bekerja di pusat. Kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk rapat dan saat musibah itu terjadi.”
Gara-gara rambutnya diacak oleh Violet, Shin merasa jantungnya berdegup dengan cepat. Dia pun menelan ludah, berusaha agar tak bersikap bodoh di depan Violet.
“Ba-baiklah kalau begitu.” Shin sedikit terbata. “Jadi, apa aku bisa menunggu Senior saja? Mungkin nanti kita bisa sedikit mengobrol? Senior bilang aku boleh menghubungi Senior kalau mau berdiskusi soal masa depan kan?” Shin ingat sekali kata-kata Violet itu. Ya, dia sadar sedang mencari-cari alasan agar bisa bersama Violet sedikit lebih lama.
“Ehm, boleh saja. Tapi, untuk sekarang, aku perlu menyusun materi dulu. Setelah itu, baru kita bisa mengobrol. Bagaimana? Apa kau mau?”
“Tentu saja!” sahut Shin semringah. Bahkan andai dia disuruh menunggu selama sewindu misalnya, asal dia bisa meluangkan waktu bersama Violet, Shin tak akan merasa keberatan sama sekali. Baginya, Violet selalu layak ditunggu sampai kapan pun.
-to be continue-