Lalu, Robusta pun mulai bercerita mengenai informasi yang sudah dia korek dari Flo. Tentu saja dia melakukannya dengan cara tak kentara agar Flo tak curiga padanya.
Shin tak tahu selihai apa Robusta saat melakukannya. Tapi, sepertinya Robusta tipe yang suka berkata-kata manis, sehingga membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa terbuai. Terlebih dari segi fisik pun, Robusta memiliki tubuh yang lumayan proposional. Siapa tahu Flo merasa nyaman bersama Robusta, sehingga tanpa berprasangka buruk, dia tanpa sadar menceritakan apa saja padanya.
“Jujur saja, aku sendiri terkejut dengan informasi ini. Maksudku, aku bahkan masa bodoh dengan buku-buku di sana. Menurutku cuma dewa kematian yang kurang kerjaan saja yang tergila-gila pada buku.” Robusta mendengus dengan nada meremehkan. “Tapi, sepertinya aku harus mengubah cara berpikirku. Selama ini aku tak peduli dengan pekerjaanku sebagai penjaga perpustakaan akademi. Siapa yang menduga rupanya buku-buku di sana begitu menakjubkan…” Entah kenapa kata-kata Robusta terkesan misterius.
“Bisakah kau ke intinya saja? Buku apa yang sudah dibaca Flo?” kejar Shin tak sabar.
“Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja. Jadi, begini. Selama ini, kita tentu tahu bahwa kelahiran dewa kematian adalah sesuatu hal yang misterius. Tak seperti di dunia manusia di mana para bayi lahir setelah laki-laki dan perempuan memadu kasih…” Robusta menekankan kata memadu kasih dengan petikan dua jarinya di udara. “Sayangnya, tak demikian dengan di dunia kita. Ingatan pertama kita umumnya adalah saat kita berada di panti perawatan. Kau tahu itu mirip apa? Ya, seolah kita ini anak yatim piatu di dunia manusia.”
“Sebenarnya itu tidak bisa disamakan, tapi kadang aku terpikir begitu juga. Tapi, bukannya itu hal yang wajar? Tak ada konsep kelahiran seperti halnya manusia di sini,” sahut Shin cepat.
“Nah, itu dia yang ingin kubicarakan. Karena tak ada konsep kelahiran yang sama seperti di dunia manusia, tentunya kita pun jadi bertanya-tanya awal mula kita bisa berada di sini.”
“Jadi, dari mana kita berasal?” Shin jadi ingin tahu.
“Pertanyaan yang bagus.” Robusta mengacungkan jari telunjuk, lalu menggoyangkannya perlahan. “Inilah yang dibaca Flo di perpustakaan akademi. Ehm, sebelumnya aku minta maaf kalau apa yang kuceritakan ini sedikit berbeda dengan apa yang kudengar dari Flo. Tapi, kurang lebih sama, walau cara penyampaian kami berbeda.”
Shin mengibaskan tangannya tak sabar. “Ah, itu bukan masalah penting sekarang. Aku ingin kau cepat menceritakan apa yang kau dengar dari Flo. Terserah dengan cara yang bagaimana.”
“Baiklah. Baiklah. Jangan terburu-buru. Oke?” Robusta menarik napas sejenak. “Jadi, begini. Ah, sebenarnya aku tak paham siapa sosok ini. Apa kau kenal Tuan Yang Diperagungkan? Kata Flo, dia penguasa-entah-apa. Jujur, aku tak mengenalnya. Maksudku, bukan masalah besar kalau aku tak mengenalnya kan? Tapi, kata Flo, dia-lah yang bertanggung jawab atas kelahiran kita di sini.”
Tuan Yang Diperagungkan. Ah, beliau, pikir Shin. Dia tak menyangka Robusta akan menyinggung soal beliau. Untuk dewa kematian dengan strata sedang sepertinya, tentunya pembahasan mengenai Tuan Yang Diperagungkan terasa absurd sekali. Malah bisa dibilang sangat tak masuk akal, mengingat kebanyakan dari mereka tak pernah memikirkan mengenai kehidupan dalam berbagai aspek di segala dunia.
Bisa dibilang dewa kematian seperti Robusta memang tak punya pemikiran atas hal itu sama sekali. Itulah yang membedakan tingkat intelegensia antar strata. Semakin rendah strata, makin sedikit pula yang mampu mereka pikirkan. Walau tak bisa menyebut mereka terbelakang, tapi kalau di dunia manusia, mungkin itulah kondisi yang mereka jalani.
“Baiklah. Aku tahu siapa Tuan Yang Diperagungkan ini. Jadi, selanjutnya apa yang terjadi?” Shin makin penasaran.
“Ehm, jadi begini. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda dengan dunia manusia, tapi pada dasarnya kita masih berhubungan dengan mereka. Wah, aku sedikit tak mempercayai hal ini. Tapi, jiwa kita sebelumnya pernah tinggal di sana, meskipun kita tak mengingatnya. Ah, Flo sempat menyebut-nyebut mengenai RESET atau hal-hal semacam itu. Maaf, kalau aku agak keliru.”
Shin seketika mengernyitkan alis mendengar penuturan Robusta. Jiwa dewa kematian sebelumnya tinggal di dunia manusia? Apa itu mungkin? Tapi, bagaimana bisa? Shin sungguh tak mengerti dengan apa yang sebenarnya dibicarakan Robusta. Menurutnya sangat tak masuk akal kalau jiwa dewa kematian sebelumnya tinggal di sana.
“Apa kau tidak salah dengan semua ini? Kau tak mengada-ada?” tanya Shin memastikan. “Kau tahu sendiri kehidupan antara dua dunia sangat berbeda. Bagaimana mungkin kita sebelumnya tinggal di sana? Dalam bentuk apa?”
Tiba-tiba saja, satu kesadaran seolah menghantam bagian belakang kepala Shin, membuatnya terdiam membisu. Akhirnya, dia menyadari maksud dari ucapan Robusta sebelumnya. Tinggal di dunia manusia. Jiwa. Ah, padahal sudah jelas sekali. Kenapa Shin tak kepikiran ke arah sana?
“Kalau begitu…”
Belum sempat Shin mengatakannya, tiba-tiba saja terdengar suara gedoran di depan pintu. Shin dan Robusta yang sebelumnya sedang serius berbicara, langsung menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka sama-sama mengerjap, karena suara gedoran itu begitu keras dan menginterupsi percakapan mereka.
“Apa kau punya urusan dengan siapa pun yang menggedor pintu sekeras itu?” tanya Shin dengan mata menatap ke arah pintu. Anehnya, meski pintu digedor sedemikian rupa, Robusta seperti tak berminat untuk membukanya—malah kelihatannya dia merasa enggan sekali untuk beranjak dari tempat duduknya sekarang.
Shin bukannya mengada-ada. Buktinya Robusta tetap bergeming dan tak berminat membuka pintu. Sementara itu, suara gedoran makin keras, yang membuat Robusta memalingkan muka dengan wajah muàk. Alis Shin mengerut melihat sikap Robusta. Siapa pun yang ada di depan pintu, sepertinya Robusta enggan menemuinya.
“Robusta, keluar kau!”
“Aku tahu kau ada di dalam!”
“Kalau kau tak segera keluar, kubakar kamarmu ini!”
“Aku sungguh-sungguh! Jangan diam saja kau!”
Kali ini, kalimat bernada ancaman itu yang terdengar. Sekali lagi, Shin memandang Robusta untuk melihat ekspresi dewa kematian itu. Masih sama seperti sebelumnya, dia kelihatan masa bòdoh, meski sampai diancam segala.
Selama beberapa menit kemudian, pintu kamar Robusta terus digedor tanpa henti oleh entah siapa pun yang ada di luar sana. Akhirnya, karena tak ada hasil apa-apa—toh Robusta kelihatan tak peduli juga—gedoran itu pun terhenti. Robusta yang awalnya kelihatan masa bòdoh, begitu pintu kamarnya terbebas dari serangan gedoran di luar sana, akhirnya bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati pintu, lalu menempelkan telinganya di sana, sekadar memastikan tak ada yang menginterupsi pembicaraannya lagi.
“Siapa itu tadi?” tanya Shin kemudian sambil berjalan mendekati Robusta. “Apa kau sedang terlibat masalah, makanya dia sampai mencarimu ke sini?”
“Diam sebentar.” Robusta mengacungkan jari telunjuknya ke depan agar Shin tak terlalu banyak bicara.
Dengan perlahan, Robusta lalu membuka pintu kamarnya untuk memastikan siapa pun yang mengganggunya tadi sudah lenyap dari depan itu. Saat itulah, suatu kejadian yang tak terprediksi berlangsung secepat kilat di hadapan Shin—yang jujur saja membuatnya melongo kaget. Bagaimana dia tidak kaget kalau mendadak Robusta disergap sampai terjengkang dan tubuhnya diduduki sosok yang sepertinya menggedor pintunya tadi.
“Nah, aku tahu kau ada di dalam! Tamat riwayatmu, Robusta!” seru sosok itu dengan mata melotot tajam.
“Ah, siàl!” gerutu Robusta sebal, karena tak menyangka dia akan dijebak sedemikian rupa.
Shin yang melihat pemandangan di depannya itu hanya bisa menggaruk lehernya yang tidak gatal. Karena sepertinya Robusta sedang terlibat urusan yang serius, akhirnya dengan hati-hati dan tanpa kentara, Shin memutuskan untuk kabur saja dari rumah Robusta. Sebenarnya, hal ini amat disayangkan, karena dia belum mendengar penjelasan lengkap dari Robusta. Tapi, apa boleh buat. Dengan situasi yang ada, tak mungkin juga dia menunggu Robusta.
Begitu keluar dari area rumah peristirahatan Robusta, Shin memutuskan untuk berjalan untuk mencari rickshaw yang bisa mengantarnya pulang. Karena rumah peristirahatan Robusta berada di tempat seperti ini, tak banyak rickshaw yang berkeliaran untuk mencari penumpang.
“Kira-kira apa dugaanku benar?” Tiba-tiba saja, Shin jadi teringat pembicaraannya dengan Robusta tadi. Kalau memang benar, dia masih tak paham kenapa Flo sampai menyebutnya produk gagal.
Ah, sepertinya Shin masih butuh waktu untuk mencerna semua hal ini.
-to be continue-