'Tunggu. Kita belum tahu apakah rumah sakit menerima janji ini.'
Hara menyentuh sudut agenda yang baru saja kututup. Suaranya membuatku kembali memandang dua huruf itu. R. A. Di bawahnya, tanggal yang akan tiba dua minggu lagi. Beberapa saat sebelumnya aku sudah membayangkan seseorang menunggu kedatanganku sejak bertahun-tahun lalu. Padahal yang ada di meja hanya tulisan ayah Kaivan. Tidak ada nomor antrean, tanda terima, atau nama lengkap.
'Aku tahu,' jawabku, meski sebenarnya baru sekarang aku sungguh memikirkannya.
Kaivan mengambil ponsel. 'Aku bisa menghubungi bagian informasi.'
'Biar aku saja.'
Dia menyerahkan nomor rumah sakit setelah mencarinya pada halaman informasi resmi. Aku menekan tombol panggil sambil memandangi Ibu Rieka. Perempuan itu duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Wajahnya letih. Sejak pagi peninggalan suaminya berubah menjadi pertanyaan yang mungkin tidak pernah dia siapkan untuk dijawab.
Petugas menerima telepon setelah beberapa nada tunggu. Aku menyebut nama lengkap dan tanggal yang tercantum pada agenda. Suaraku terdengar terlalu formal, seperti sedang menelepon debitur.
'Apakah Ibu memiliki nomor pendaftaran?'
'Tidak. Saya menemukan catatan keluarga. Saya ingin memastikan apakah pernah dibuatkan janji atas nama saya.'
Petugas meminta aku memeriksa kembali melalui bagian pendaftaran ketika jam layanan biasa dimulai. Untuk mencari dokter, dia membutuhkan nama lengkap atau poliklinik. Dua huruf tentu saja tidak cukup. Aku mengucapkan terima kasih dan menutup telepon dengan perasaan yang sulit dinamai.
Rumah sakit itu tidak sedang menungguku. Setidaknya belum ada alasan untuk percaya demikian.
'Nama yang mirip pasti banyak,' ujar Mama dari layar. 'Jangan pilih yang pertama hanya karena cocok inisialnya.'
Bapak mengangguk. 'Kirim foto halaman sebelumnya juga, Git. Bisa saja R. A. bukan dokter yang merawat persalinan.'
Aku membuka agenda sekali lagi. Di halaman sebelum catatan terdapat daftar buku dan beberapa nomor telepon. Tidak ada nama yang langsung kukenal. Tanganku berhenti pada sebuah garis di bawah kata ingatan. Ayah Kaivan menulisnya kecil sekali, hampir menyatu dengan bekas lipatan.
'Bapak pernah berkonsultasi dengan seseorang mengenai ingatanku?' tanyaku.
'Pernah. Beberapa dokter menangani kamu. Bapak harus melihat map lama untuk memastikan namanya.'
Ada masa ketika jawaban seperti itu akan membuatku menuduhnya menyembunyikan sesuatu. Hari ini aku mendengar Bapak benar-benar sedang mencoba mengingat. Dia meminta Aries mengambil map, lalu menunduk untuk membuka halaman satu per satu. Mama membantu membaca tulisan yang terlalu kecil di layar.
Kami menunggu dalam diam. Kaivan menyodorkan piring berisi roti yang sejak pagi tidak disentuh. Aku mengambil satu karena tanganku mulai gemetar. Rasa manis selai justru membuatku ingin menangis. Di kehidupan yang pernah kami jalani, Kaivan sering menyelipkan makanan ke tasku ketika tahu aku akan bekerja sampai malam. Begitu banyak kebiasaan baik yang tetap ada dalam tubuh lelaki yang juga kuingat pernah membuatku takut.
'Ratna,' kata Bapak akhirnya. 'Dokter Ratna Adiwijaya. Namanya ada pada surat konsultasi setelah kamu keluar dari ruang intensif.'
Aku menelan roti dengan susah payah. Nama itu tidak membangkitkan wajah, hanya perasaan bahwa aku pernah mendengarnya di ruangan yang dingin.
'Dokter kandungan?' tanya Kaivan.
'Dokter saraf,' jawab Bapak. 'Beliau ikut menilai gangguan ingatan Gita.'
Kami saling memandang. Selama beberapa menit terakhir, aku terlalu sibuk membayangkan orang yang kelak berada di ruang bersalin. Rupanya inisial itu mungkin menunjuk orang yang mengenalku jauh sebelum aku mengandung Bintang.
Ibu Rieka meminta agenda didekatkan kepadanya. Dia membaca daftar telepon, kemudian menunjuk satu nomor yang tintanya sudah memudar.
'Suami Ibu pernah menyebut dokter perempuan. Dia ingin bertanya mengapa Sagita dapat mengingat hal yang belum terjadi. Tapi Ibu tidak tahu apakah mereka sempat bertemu.'
Kami tidak menelepon nomor lama itu. Bu Laila menawarkan memeriksa catatan rujukan yang masih dimiliki yayasan, sementara aku akan menghubungi rumah sakit pada Senin. Kaset kecil tetap dibawa ke teknisi sesuai rencana. Hari itu berakhir dengan nama lengkap dan satu pekerjaan yang jelas, sesuatu yang terasa lebih ringan daripada ramalan baru.
Sebelum panggilan keluarga ditutup, Mama bertanya apakah aku akan meminta Ratna menjelaskan semuanya kepada kami sekaligus. Aku menggeleng. Ada pertanyaan yang belum mampu kuucapkan di hadapan Bapak, apalagi ketika Ibu Rieka dan Kaivan juga mendengarkan.
'Aku ingin masuk sendiri dulu,' kataku.
Bapak membuka mulut, kemudian mengurungkan sesuatu yang hendak dikatakannya. 'Bawa salinan hasil pemeriksaanmu. Yang asli Bapak kirim lewat Aries.'
Aku mengucapkan terima kasih. Dahulu dia mungkin akan menelepon dokter lebih dahulu dan memilih bagian mana yang boleh kudengar. Kini dia menawarkan berkas. Perubahan kecil itu terasa lebih nyata daripada semua angka di dalam agenda.
Mama tidak menanyakan apa yang ingin kurahasiakan. Dia hanya mengingatkan agar aku menulis pertanyaan ketika masih tenang, sebab di ruang periksa orang sering lupa hal yang paling ingin ditanyakan. Aku mengambil selembar kertas dan menulis satu kalimat: apakah saya dulu menceritakan satu persalinan atau lebih dari satu?
Kaivan menemaniku sampai pagar ketika Hara mengambil mobil. Aku memegang bungkusan liontin di dalam tas, memastikan pengaitnya tidak tersangkut pada buku.
'Kamu kecewa karena bukan dokter yang menangani Bintang?' tanyanya.
'Aku takut ternyata aku sendiri yang mengubah sesuatu.'
Dia tidak segera menjawab. Dari jalan terdengar pedagang lewat menawarkan makanan. Kehidupan orang lain tetap bergerak dengan cara yang sederhana.
'Kalau iya, kita cari apa yang kamu ketahui waktu mengambil keputusan itu,' katanya. 'Aku belum tahu harus berbuat apa lagi.'
Jawaban tersebut lebih menenangkan daripada janji menyelamatkan semuanya. Aku mengangguk, lalu masuk mobil Hara tanpa meminta Kaivan menjelaskan perasaannya.
Minggu kulewati dengan mencuci pakaian dan merapikan kamar. Hara menelepon dua kali, tetapi aku hanya bercerita tentang kaus yang luntur. Menjelang sore aku menulis nama Ratna pada halaman baru buku ingatan. Di bawahnya kutulis rumah sakit, lalu berhenti. Tidak ada gambar, tanggal kelahiran, atau dugaan tentang kejahatan seseorang. Aku belum mempunyai sesuatu untuk ditambahkan.
Senin pagi, petugas pendaftaran akhirnya memberiku jawaban. Tidak ada janji yang dapat ditemukan menggunakan data yang kusebutkan. Dokter Ratna memang berpraktik di sana dan menerima pasien pada tanggal di agenda, tetapi aku harus mendaftar seperti pasien lain. Untuk konsultasi mengenai riwayatku, aku diminta membawa identitas dan berkas perawatan lama.
'Saya ingin mengambil jadwal itu,' kataku.
Petugas menyebut waktu yang masih tersedia. Aku memilihnya, mencatat persyaratan, dan membaca ulang semuanya sebelum telepon ditutup. Tanggal yang sebelumnya membuatku merasa sedang ditarik oleh masa lalu kini juga memuat keputusan yang baru saja kuambil sendiri.
Kaivan berdiri di dekat meja ketika aku menutup buku.
'Sudah dapat jadwal?'
'Sudah. Ratna Adiwijaya. Bapak mengenal namanya, tapi aku belum ingat wajahnya.'
Kaivan mengulang nama itu pelan. Lalu dia duduk tanpa diminta.
'Aku ingat beliau,' katanya. 'Beliau pernah memintaku berhenti menanyakan apakah kamu masih menyayangiku.'
Aku memandangnya. 'Kenapa?'
'Karena setiap kali aku bertanya, kamu menjawab dengan tanggal.'