Selama 24 tahun hidupku, aku belum pernah membayangkan bahwa aku harus menghadapi sebuah perceraian. Sampai sebuah bunyi ketok palu terdengar nyaring di ruang pengadilan, aku seakan kembali ke sebuah kenyataan bahwa aku harus benar-benar menghadapi percerain di umur yang bahkan belum memasuki seperempat abad ini.
Apa yang harus aku lewati setelah ini? Aku bahkan tak berani untuk membayangkan akan seperti apa. Bukan jadi satu hal yang aneh bila seseorang yang telah bercerai dipandang sebagai orang yang gagal dalam sebuah hubungan. Apalagi di tengah masyarakat, orang yang telah bercerai pasti dipandang negatif.
Terlebih aku adalah seorang perempuan yang otomatis akan menyandang gelar janda. Pikiran negatif tak pernah lepas dari seorang janda, bahkan seorang janda yang tersenyum untuk keramahan saja dianggap menggoda, apalagi bila janda bergaul dengan banyak orang, dia akan dianggap sebagai pemanis untuk digoda.
Meski banyak hal yang aku pikirkan setelah perceraian, saat keluar dari ruang pengadilan aku merasakan lega luar biasa serta rasa sesak yang perlahan menghilang setelahnya. Badai perceraian akhirnya berhasil aku lewati, jadi aku meyakini bahwa apapun yang aku lewati setelah ini akan berhasil aku lewati.
Melangkah dengan mantap dan melihat bagaimana cara hidup yang baru, sedikit membuat aku berdebar. Orang-orang baru, hubungan baru, hingga pertemanan yang baru sudah menunggu aku yang baru ini. Meski ada ketakutan menyandang status janda ini, aku akan terus mengingat aku sudah melewati badai paling besar dihidupkan maka gerimis ataupun hujan harusnya tak akan menumbangkan ku.
Namun seiring berjalannya waktu, perjalanan janda ini semakin berat dan berliku. Sampai aku disadarkan oleh kenyataan bahwa ternyata sepanjang perjalan setelah bercerai ternyata sama menakutkan dan menyakitkan saat bercerai. Secara berurutan harus menghadapi banyak kekecewa dari suatu hubungan, pekerjaan, dan dalam menggapai mimpi untuk memiliki gelar sarjana.
Bukan hanya kisah tentang aku yang seorang janda, namun ternyata orang disekitarku harus menghadapi hal yang sama dengan yang telah aku lewati. Secara naluriah aku ingin merangkul dan membantu mereka melewati fase perceraian dan melewati badai setelah perceraian.
Kisah tentang keresahan wanita dalam menghadapi sebuah fase perceraian, melewati tahapan kehidupan yang harus disandingkan dengan gelar janda ini ternyata tak semudah dengan apa yang dipikirkan orang lain. Aku mencoba sebaik mungkin untuk melewati setiap halnya.
Perkenalkan, aku Amira Setyaningsih dan kisah perjalananku tentang hubungan, pekerjaan hingga meraih mimpi gelar sarjana dengan segala prasangka yang disandingkan dengan status jandaku dan bagaimana caraku ingin mengubah sudut pandang masyarakat tentang seorang janda.