Gadis berambut sebahu yang dikuncir asal nampak diam sambil memainkan permen di mulutnya. Posisi kakinya sangat tidak pantas disebut sebagai seorang gadis. Duduk dengan salah satu kaki ia naikan sebagai tumpuan lengan. Kaki yang lain tetap menganggantung di bawah.
Ia duduk sendirian di pos ronda yang dibuat warga untuk keamanan. Namun sering disalahgunakan oleh anak muda seperti gadis itu untuk nongkrong dan membahas strategi kejahatan. Sungguh tempat yang multifungsi.
Aisyah Mandaginata, nama gadis itu. Ia nampak menunggu seseorang dengan mata yang tak diam dengan satu objek. Bahkan kepalanya tak segan untuk menengok ke arah lain bergantian.
Tak lama setelahnya, dua orang pemuda yang usianya tak jauh dari Manda tampak gelisah. Dapat dilihat dari langkahnya yang cepat dan matanya yang tak lepas dari arah belakang.
“Kenapa?” tanya Manda sambil menurunkan kakinya.
“Gawat, Nda. Yang punya rumah lapor polisi!” ujar salah satu pemuda dengan setengah takut.
“Di rumahnya ada kamera ternyata. Dan menampilkan muka kita.” Pemuda berambut gondrong tersebut menggelengkan kepala memikirkan nasibnya sekarang.
Manda hanya melemaskan otot tubuhnya. Usahanya kini terancam, dan mungkin saja dirinya akan terseret ke dalam bersama mereka.
“Permisi,” sapa seseorang yang tidak mereka kenal di kampung. “Tau alamat ini nggak, dek?” tanyanya langsung.
Pemuda dengan rambut pendek coklat tersebut mengambil alih kertas yang orang asing itu pegang. “Noh, jalan aja ke sana nyampe ada pertigaan. Ambil kiri terus lurus lagi. Lewati 3 kali g**g sebelah kanan baru nanti ada rumah warna coklat.”
“Aduh dek, saya gak paham. Boleh minta tolong antar?”
“Ck, si bapak banyak mau. Ikutin saya, Pak.” Pemuda berambut panjang tadi yang hendak mengantar. Namun belum juga melangkah, seseorang sudah menghentikan mereka.
“Angkat tangan!” Manda dan kedua temannya tersebut langsung reflek mengangkat tangannya ke udara.
Detak jantung mereka langsung berlomba memompa darah lebih cepat dari sebelumnya. Belum puas otaknya memikirkan nasib yang akan mereka terima, kini harus memutar kembali untuk menyelamatkan diri. Setidaknya untuk saat ini.
Pria yang baru saja menanyakan alamat, kini tidak melepaskan tangan pemuda berambut gondrong tersebut. “Ikutin saya, Dek,” ucapnya meniru apa yang dikatakan pemuda tadi.
Belum sempat polisi yang lain menghampiri mereka, Manda sudah menyusun strategi lagi dengan pola matanya yang diketahui temannya itu. Dengan hitungan ketiga ketukan kaki polisi yang berlari, kaki mereka berdua langsung berlari ke arah yang berbeda.
Di pertigaan yang sempat disebutkan tadi, Manda mengambil arah kiri dan temannya ke arah kanan. Sedangkan nasib si gondrong tadi masih di tangan polisi yang menyamar.
Manda terus berlari masuk ke g**g sempit sampai akhirnya ia sampai di sungai. Napasnya tersenggal sambil hati-hati melangkah, salah sedikit ia bisa terperosok ke bawah.
Namun nampaknya sesuatu yang ia takutkan tidak terjadi. Polisi tadi tidak mengejarnya, mereka hanya mengejar temannya. Seketika dirinya merutuk dalam hati sambil memukul kepalanya pelan.
“Lo kan di balik layar, ngapain ikut lari?” kesalnya.
Akhirnya Manda melipir kembali naik. Mungkin ia akan naik setelah ia berjalan beberapa saat. Agar nantinya tidak bertemu dengan polisi. Akan bilang apa nantinya jika polisi tadi bertanya kenapa dia ikut lari?
Setelah berjalan beberapa menit, ia naik ke pemukiman warga kembali. Ia mengkhawatirkan temannya, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun.
Kejahatan itu bukan sekali dua kali ia lakukan. Baru beberapa kali, hanya saat dirinya keluar dari bangku SMA dan menunggu pengumuman kelulusan. Di rumah membuat dirinya bosan jika untuk melihat ibunya yang memasak untuk anak santri.
Akhirnya ia berteman dengan anak kampungnya untuk melakukan hal tersebut. Mereka tidak menyebut dirinya sebagai perampok, pencuri atau maling. Mereka hanya meminta sedikit uang jajan saja. Tapi yang namanya kejahatan tetap saja.
Tugas Manda hanya memasukan obat tidur di minuman yang ibunya buat untuk petugas ronda. Saat mereka terlelap, barulah kedua temannya beraksi. Dalam aksinya mereka memiliki janji.
Tidak melukai siapa pun, tidak mengambil barang, hanya mengambil uang secukupnya, dan harus membaginya dengan sama rata.
“Anaknya Umi Fatimah itu.” Manda mendengar suara yang tidak mengenakan dari kumpulan ibu-ibu.
“Celananya sobek, bajunya pendek, Ya Allah. Minimal pake kerudung atau apa gitu. Biar keliatan anak Kyai.” Manda memelankan langkahnya.
“Udah lah, Bu. Anak mereka ini.”
“Ya tapikan bapaknya mampu mendidik anak santri yang banyak, masa anaknya sendiri nggak bisa?” Manda masih mendengar suara ibu-ibu dengan make up tebal tersebut. Seperti di kampung lainnya, dia adalah biang gosip.
“Saya liat ya, Bu. Dia kan mainnya sama cowok yang putus sekolah itu. Apa yakin dia masih segel?”
“Bu, itu Mandanya denger loh,” tegur salah satu ibu-ibu dengan kerudung segi empatnya yang bercorak. Dia yang sejak tadi mendinginkan suasana agar ibu ber-make up tebal tersebut tidak ketelaluan.
“Nggak masalah, Bu. Biar mikir gitu, kasian bapaknya loh. Amalnya gak keterima gara-gara anak gadisnya nggak nutup aurat. Eh, nggak tau juga kalo masih gadis.” Ibu tersebut nampak tertawa setelah menaikkan suaranya satu oktaf.
Manda memberanikan diri menghampiri ibu-ibu yang terdiri dari 4 orang tersebut. Bibirnya tersenyum ramah tak luntur sedikitpun saat menghampiri mereka. Jari-jari tangannya ia tautkan satu sama lain di bawah dan kaki yang ia putar-putar membentuk corak abstrak.
“Ibu, tau nggak? Kalau sulam alis itu di larang? Terus kalo pake kerudung ada punuknya juga nggak boleh, kaya unta. Tau kan? Itu loh emasnya nggak boleh keliatan. Ibu punya suami kan? Pakai parfumnya kalo di rumah aja, hidung saya nyampe mampet tadi.”
Ibu-ibu tersebut nampak geram dan menampilkan ekspresi marah. “Kamu!” gertaknya sambil menunjuk Manda dengan jarinya. Setelahnya ia bersedekap d**a dengan sombong. “Sekarang mau main sama siapa kamu? Kedua temen kamu udah ketangkep polisi. Harusnya sih kamu juga ikut.”
“Bu, tau ngga? Kenapa bapak saya awet muda padahal usianya di atas ibu-ibu sekalian?” Tatapan mereka langsung bertanya-tanya, tak terkecuali biang gosip yang membuat Manda harus repot-repot bergabung dengan mereka. “Karena bapak saya nggak pernah mengurusi urusan orang lain. Apa lagi mengabsen dosa orang lain.”
Setelah itu Manda pergi dengan perasaan yang bahagia. Bahagia karena mampu membungkam mulut biang gosip. Bahkan dia melihat betapa merah wajah yang full dengan make up dan alis tebal tersebut.
Manda melanjutkan jalannya hingga ke arah jalan raya. Setidaknya ia bisa keluar dari kampungnya untuk sementara hingga polisi pergi membawa temannya. Bukannya tak setia kawan, hanya saja kedua temannya yang memaksa agar Manda tidak ikut andil. Mereka berdua sudah putus sekolah sejak lama, Manda yang baru saja lulus jangan sampai terperosok jauh ke hidup mereka.
Belum jauh ia berjalan, telinganya mendengar suara tak asing. Sebuah sirine, entah itu mobil polisi atau ambulan. Yang pasti sekarang Manda harus sembunyi.
Ia melipir ke mobil hitam disampingnya. Menepi agar mobil tersebut menutupi tubunya hingga saat mobil polisi lewat tidak akan melihat Manda.
“Permisi.” Manda terkejut hingga terjungkal ke belakang.
Kata permisi masih terngiang di kepalanya. Takut jika dia adalah polisi yang menyamar, Manda langsung berlari tanpa melihat siapa yang menyapanya tadi.
Pria dengan masker yang menutupi hidung dan mulutnya itu hanya memandang aneh Manda yang berlari. Dirinya hanya ingin bertanya kenapa gadis itu berjongkok di samping mobilnya. Bukan untuk memfitnahnya sebagai maling.
“Anak aneh.”