Tepat saat itu, sebuah suara deru mesin yang asing memecah kesunyian Goseong. Bukan suara traktor tua Pak Kim atau motor bebek Pak Kades yang sering batuk-batuk. Irama kali ini adalah suara mesin yang halus, presisi, dan mahal.
Sebuah sedan hitam mewah dengan kaca film gelap meluncur pelan di jalan sempit desa. Kehadirannya tampak sangat ganjil di antara rumah-rumah beratap rumbia dan jemuran baju warga melambai ditiup oleh angin yang berhembus. Mobil itu melambat saat melewati jembatan.
Kaca mobil turun perlahan di sisi pengemudi.
Seorang pria muda muncul dari balik kemudi. Ia mengenakan kemeja biru navy dengan jam tangan perak di pergelangan tangannya yang berkilat tertimpa cahaya matahari pagi. Wajahnya bersih, dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata yang tajam namun memiliki keteduhan yang aneh.
Pria itu, Lee Soo Won, menghentikan mobilnya tepat di depan kedua gadis tersebut. Pandangannya pertama kali jatuh pada Su Yeon, gadis dengan gaun putih tampak seperti lukisan klasik hidup di tengah desa yang kumuh. Ia tertegun sejenak, matanya terpaku pada kelembutan di wajah Su Yeon.
Lalu, matanya bergeser ke samping, ke arah Yeonseo yang berdiri dengan tangan bersedekap dan tatapan menantang yang tajam seolah sedang menggertak, "Apa lihat-lihat?"
Soo Won tersenyum sopan. "Permisi. Apakah benar ini jalan menuju Balai Desa Goseong?"
Su Yeon tampak terpana, wajahnya merona merah dalam sekejap. Ia mengangguk pelan, suaranya nyaris hilang. "I-iya, Tuan. Lurus saja setelah jembatan ini, lalu Anda tinggal belok kanan di pohon beringin besar di sana."
"Terima kasih," jawab Soo Won dengan nada lembut sanggup membuat jantung Su Yeon berdebar kacau. Sebelum menaikkan kembali kaca mobilnya, ia sempat menatap Yeonseo sekali lagi, seolah mencoba membedakan dua wajah identik yang memiliki aura yang bertolak belakang tersebut.
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang mahal dan debu yang beterbangan, mengotori ujung gaun putih Su Yeon yang tadi ia jaga dengan susah payah.
“Dia tampan sekali...” gumam Su Yeon, tangannya menyentuh dadanya yang berdegup kencang.
Yeonseo menatap sisa debu di udara dengan tatapan gelap. "Dia adalah sumber masalah, Su Yeon. Orang seperti dia adalah badai. Dan badai sepertinya hanya akan menghancurkan jembatan yang memang sudah rapuh sejak awal."
Yeonseo kembali meludah ke tanah, lalu berbalik pergi meninggalkan kembarannya yang masih terpaku menatap mobil hitam yang menghilang di tikungan. Ia tidak tahu bahwa saat itu, roda takdir telah mulai berputar, dan aroma parfum pria itu akan menjadi aroma yang paling ia benci sekaligus ia rindukan di sisa hidupnya.
Langkah kaki Yeonseo terasa lebih berat dari biasanya. Debu yang ditinggalkan mobil itu seolah menempel di paru-parunya, menyesakkan. Ia benci bagaimana kehadiran satu orang asing bisa mengacaukan ritme jantung saudaranya hanya dalam hitungan detik. Baginya, ketampanan pria itu hanyalah topeng dari jurang pemisah yang nyata antara dunia mereka dan dunia luar.
"Jangan menatapnya seolah dia malaikat, Su Yeon-ah," gerutu Yeonseo tanpa menoleh. "Sepatu mengkilapnya itu tidak akan pernah sudi menginjak lumpur sawah kita tanpa rasa jijik."
Su Yeon tidak menjawab. Ia masih berdiri mematung, jemarinya sibuk merapikan ujung gaun putihnya yang kini ternoda bintik-bintik tanah cokelat akibat debu jalanan. Ada binar aneh di matanya, jenis binar yang membuat Yeonseo merasa semakin terasing. Goseong yang biasanya terasa seperti penjara, tiba-tiba terasa lebih sempit karena harapan baru yang mulai tumbuh di hati kembarannya.