Suara kicau burung yang hinggap di atas dahan pohon mangga biasanya menenangkan saat fajar menyingsing, tapi bagi Su Yeon, pagi ini adalah simfoni kegembiraan. Ia sudah mencuci gaun putihnya hingga bersih kembali dan kini sedang menyapu halaman, dalam hati berharap sedan hitam itu lewat lagi.
Dan harapannya terkabul. Namun, kali ini mobil itu tidak hanya lewat. Soo Won turun dengan membawa sebuah kotak kayu panjang yang tampak elegan.
"Tuan Soo Won!" seru Su Yeon, wajahnya berseri-seri. "Ada yang bisa saya bantu?"
Soo Won tersenyum tipis, matanya melirik ke arah pintu rumah yang tertutup. "Selamat pagi, Su Yeon. Aku datang untuk... memberikan ini sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin. Apakah adikmu ada?"
Su Yeon tertegun sejenak. Untuk Yeonseo? Namun, ia segera menepis pikiran itu. Mana mungkin pria sehalus Soo Won mencari adiknya yang selalu menanggapi urusan yang berhubungan kota dengan bengis. Mungkin Soo Won hanya salah tafsir. "Ah, Yeonseo sedang ke pasar. Tapi saya bisa menyampaikannya, Tuan."
"Begitu? Baiklah. Ini sebenarnya buku teknik mesin langka yang kudapatkan di kota. Aku harap dia... menyukainya." Soo Won menyerahkan kotak itu. Sebelum pergi, ia menatap Su Yeon lekat-lekat, mencoba mencari sisa-sisa kemarahan berapi-api yang ia lihat pada wajah identik itu kemarin, namun yang ia temukan hanyalah pemujaan.
Saat mobil itu menghilang, Yeonseo muncul dari balik jalan setapak dengan keranjang sayur. Ia membeku melihat kakaknya memeluk sebuah kotak mewah dengan wajah berbunga-bunga.
"Apa itu?" suara Yeonseo dingin, setajam mata pisau dapur.
"Ini dari Tuan Soo Won, Yeon-ah! Dia datang kemari mencari kita," ujar Su Yeon riang, mulai membuka kotak tersebut. "Lihat, ini sangat indah. Dia bilang ini sebagai permintaan maaf. Dia pasti ingin berteman baik dengan kita."
Yeonseo melihat isi kotak itu. Sebuah buku berjilid kulit tentang restorasi mesin klasik. Matanya memicing; insting skeptisme dan prasangka buruk berkelebat di benaknya. Ia tahu persis buku itu bukan untuk Su Yeon yang bahkan takut memegang palu. Itu adalah umpan pemanis khas seperti gaya hidup anak kota yang bergelimang harta. Cara Soo Won untuk "menjinakkannya" setelah penghinaan kemarin.
"Buang benda itu, Su Yeon," perintah Yeonseo dengan nada datar.
"Apa? Kenapa harus dibuang? Ini pemberian dari orang dengan maksud tulus!"
"Dia tidak memberinya karena tulus! Jangan naif! Dia memberinya karena dia pikir kita bisa dibeli dengan barang mewah!" Yeonseo menyambar kotak itu dari tangan kakaknya.
"Jangan! Kau hanya iri karena dia memperhatikanku!" teriak Su Yeon, suaranya pecah oleh tangis. Ia menarik kembali kotak itu hingga isinya terjatuh ke tanah yang becek dengan bunyi memilukan.
Yeonseo mematung. Kata "iri" yang dilontarkan Su Yeon menghantam jantungnya, menciptakan suara derit menyakitkan di telinganya seperti roda gigi yang dipaksa berputar tanpa pelumas. Selama ini ia mati-matian membanting tulang, berkubang oli dan debu hanya untuk memastikan Su Yeon bisa tetap mengenakan gaun putihnya dengan damai. Dan sekarang, hanya karena seorang pria asing berparfum mahal sanggup mempengaruhi kembarannya, kakaknya menudingnya demikian.
Ingin sekali ia membuka dan menyadarkan pikiran Su Yeon, mengingatkannya kembali pada insiden beberapa waktu silam saat orang kota yang congkak berkunjung ke desa dengan niat terselubung.
"Kau pikir dia peduli padamu?" Yeonseo menunjuk ke arah jalanan dengan tangan yang gemetar. "Bagi dia, kita hanyalah serangga di pinggir jalan yang menarik untuk dilihat sebentar. Ambil bukumu, Su Yeon. Ambil dan tidurlah dengan benda mati itu jika kau pikir itu akan menyelamatkanmu dari badai yang dia bawa."
Yeonseo berbalik, masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kayu yang rapuh itu hingga debu berjatuhan dari langit-langit. Di luar, Su Yeon berlutut, membersihkan sampul buku yang kotor oleh tanah sambil terisak pelan.
Ia tidak menyadari bahwa di dalam rumah, Yeonseo menyandarkan punggung di balik pintu sambil memejamkan mata. Dadanya sesak, berusaha mengusir aroma parfum Soo Won yang entah bagaimana seolah masih tertinggal di ujung jarinya.