Pukul tiga lewat sepuluh, langit di atas depo masih sewarna timah. Pram berdiri di depan loket kru dengan surat tugas yang sudah ia lipat-buka entah berapa kali sejak semalam, sampai garis lipatnya hampir menembus kertas. Di pojok atas, namanya tercetak tanpa kata yang selama empat tahun selalu menempel di belakangnya: asisten. Hari ini cuma ada Pram Wicaksa, masinis. Ia membaca baris itu sekali lagi, seolah huruf-hurufnya bisa berubah kalau ia berkedip.
"Tidur nggak semalam?" Pak Sugeng, petugas pengawasan dinas, menyodorkan buku ekspedisi tanpa mengangkat kepala. Stempel di tangannya turun-naik seperti detak.
"Tidur, Pak," jawab Pram. Bohong kecil yang sopan. Ia tidur dua jam, sisanya membayangkan urutan pemeriksaan sampai matanya pegal.
Ia membubuhkan tanda tangan, menerima kunci dan radio, lalu berjalan ke arah jajaran lokomotif yang berbaris di bawah lampu sorot. Bau khasnya menyambut lebih dulu daripada bentuknya: solar, oli panas, besi yang menyimpan dingin malam. Bagi orang lain mungkin bau itu sesak. Bagi Pram, ini bau yang membuat bahunya turun, yang membuat napasnya jadi teratur. Di luar pagar depo ada dunia tempat ia selalu salah ucap, salah duduk, salah jadi anak. Di dalam pagar ini ada urutan yang jelas, dan kalau ia mengikuti urutan itu dengan benar, ia tidak akan salah.
Nomor seri lokomotif CC-nya sudah ia hafal dari papan penugasan. Ia memutari badannya pelan, senter di tangan, menjalankan pemeriksaan keliling seperti dulu diajarkan. Roda, ia tepuk pelan dengan punggung tangan, mendengarkan. Kampas rem, ia tunduk dan menyorot celahnya. Tabung angin, ia baca jarumnya. Kaca depan, ia usap dengan lap yang selalu ia bawa sendiri karena lap depo seringnya bekas oli. Pemeriksaan ini dulu ia lakukan berdua dengan masinisnya. Sekarang sepasang mata itu cuma miliknya, dan kesadaran itu menempel seperti rompi basah.
Naik ke kabin, ia disambut deretan tuas dan jarum yang sudah jadi alfabetnya sendiri. Ia duduk di kursi kanan—kursi masinis—dan untuk sesaat tidak melakukan apa-apa. Empat tahun ia duduk di kursi kiri, mengamati, menyodorkan, mencatat. Kursi kanan terasa lebih tinggi dari yang ia ingat, walau ia tahu tingginya sama. Ia meletakkan telapak tangan di tuas pengendali, merasakan dinginnya logam menyerap ke kulit, lalu menariknya pelan tanpa menggerakkan apa pun, sekadar menghafal ulang berat dan jarak mainnya.
Lampu kabin menyala kuning lemah. Di radio, suara-suara malam saling sahut: nomor kereta, nomor petak, kode-kode pendek yang bagi telinga awam terdengar seperti gumam. Pram menyetel volume, menyebut identitasnya, melapor siap. Suara dari seberang menjawab datar, profesional, dan entah kenapa kalimat sependek itu membuat dadanya hangat. Ada orang di ujung sana yang tahu ia ada, tahu nomor keretanya, tahu ia bagian dari satu mesin besar yang malam ini bergerak serentak di sepanjang pulau.
Kondektur naik, menjabat tangannya cepat, mengabarkan jumlah rangkaian dan beban. Pram mengulang angkanya dengan suara keras—kebiasaan yang ditanamkan instruktur sampai ke tulang—karena angka yang diucapkan dua kali lebih kecil kemungkinannya salah masuk kepala. Beban menentukan segalanya: seberapa cepat ia boleh melaju, dan yang lebih penting, seberapa jauh keretanya butuh ruang untuk berhenti. Hitungan itu bukan rumus di kertas; itu nyawa yang dibagi jarak.
Sinyal keluar di ujung emplasemen masih merah. Pram menunggunya seperti menunggu izin dari sesuatu yang lebih tua dari dirinya. Ketika lampu itu berganti hijau, perubahan warnanya begitu sederhana—cuma cahaya yang bertukar—tapi seluruh tubuhnya merespons. Ia membunyikan semboyan keberangkatan, klakson panjang yang membelah subuh, dan untuk pertama kalinya bunyi itu keluar atas perintahnya sendiri, bukan perintah orang di sebelahnya.
Ia membuka tuas pelan. Lokomotif menggeram, lalu bergerak. Rangkaian di belakang menarik satu per satu dengan sentakan kecil yang merambat seperti gelombang, sambungan demi sambungan menegang. Pram merasakan beban itu lewat punggungnya sendiri. Roda mulai berputar, dan emplasemen pelan-pelan bergeser ke belakang kaca. Lampu-lampu wesel, tiang sinyal, gudang tua dengan atap seng karatan—semua mengalir mundur, dan ia maju.
Kecepatan naik bertahap. Ia membaca tiap sinyal jauh sebelum melewatinya, menyebutnya keras-keras sendirian di kabin: "Hijau. Aman." Dulu ada yang menjawab kalimat itu. Sekarang hanya gema. Tapi ia tetap mengucapkannya, karena suara yang diucapkan membuat mata lebih awas, dan karena ada sesuatu yang menenangkan dari mendengar dirinya sendiri menyatakan bahwa jalan di depan terbuka.
Di kejauhan, langit mulai retak oleh garis jingga tipis. Kereta melaju membelah petak pertama, melewati persawahan yang masih hitam, melewati rumah-rumah yang jendelanya belum menyala. Pram menyandarkan sikunya, tidak terlalu santai, tidak terlalu kaku, persis di titik yang membuatnya bisa bereaksi cepat tapi tidak lekas lelah. Ia merasa, untuk satu pagi ini, semuanya berada di tempatnya. Ada sinyal yang memberitahunya kapan boleh maju. Ada jadwal yang memberitahunya ke mana ia menuju dan jam berapa harus tiba. Ada aturan yang, kalau ia patuhi, akan menjaganya dari salah.
Ia tidak tahu—belum tahu—bahwa profesi ini menyimpan satu jenis salah yang tidak diatur oleh aturan mana pun. Pagi itu ia hanya tahu bahwa tangannya tidak gemetar lagi, bahwa angka di speedometer naik mulus, dan bahwa di kabin sempit ini, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa cukup. Garis jingga di langit melebar jadi merah, lalu emas, dan kereta yang ia kemudikan menyongsongnya seperti sesuatu yang dijanjikan.