Tahun kesepuluh pernikahan, di hari Senin pagi yang biasa-biasa saja, Reza menerima telepon dari istri Dharma.
"Mas Reza."
Reza mengenal suara Dharma's wife—Bu Tirta, panggilannya. Dia baru bicara dengan Bu Tirta dua kali dalam sepuluh tahun, keduanya saat acara keluarga. Tapi suara Bu Tirta hari ini berbeda. Lebih pelan. Hampir berbisik.
"Bu Tirta. Iya."
"Dharma... Dharma kena serangan jantung. Tadi pagi, saat dia di kebun. Saya pulang dari pasar dan ketemu dia... saya panggil ambulan, tapi terlalu jauh dari rumah sakit besar. Tidak bertahan."
Reza duduk di meja kerjanya. HP di tangan. Layar kanan masih menunjukkan Slack dengan pesan dari junior-nya tentang bug di production. Tidak relevan sekarang.
"Bu Tirta. Saya... saya turut berduka."
"Mas Reza. Dharma... menulis sesuatu untuk Anda. Sebelum dia pergi."
"Apa, Bu?"
"Buku catatan. Yang dia simpan di pondok. Dia sudah bilang ke saya beberapa bulan lalu—'Kalau saya pergi duluan, kasih buku ini ke Reza.' Dia sudah tahu, mungkin. Atau merasakan."
Reza ke Lembang dua hari kemudian. Dengan Mira dan Bumi (Surya tinggal dengan Bu Sari di Cibubur—anak lima tahun terlalu kecil untuk pemakaman, Mira bilang). Mereka naik mobil—Honda Brio yang masih sama, dirawat baik-baik, dua belas tahun usianya tapi mesinnya halus.
Pemakaman Dharma sederhana. Di kebun belakang pondoknya—tempat yang sama Reza dan Mira berdoa sembilan tahun lalu, di akar beringin yang sekarang terlihat lebih tua. Beberapa keluarga, beberapa teman dekat, beberapa tetangga Lembang yang dalam sepuluh tahun mengenal Dharma sebagai "Pak Dharma yang punya tomat enak."
Pak Wirya datang juga. Lima belas tahun lebih tua dari saat pertama Reza ketemu dia, sekarang tujuh puluh empat. Tapi masih tegap, masih jalan tanpa tongkat. Bu Sari tidak ikut—tinggal di rumah jaga Surya. Bima sudah dewasa, dua puluh sembilan tahun, datang sendiri. Sekarang bekerja sebagai konselor di sebuah lembaga di Yogyakarta, bantu anak-anak autis lain untuk menemukan suara mereka. Dia memeluk Reza tanpa diminta.
"Mas Reza. Mas Dharma awan ya hilang. Dia bersih sekarang. Pergi dengan baik."
"Iya, Bima. Iya."
Setelah pemakaman, Bu Tirta mengundang mereka semua ke pondok untuk teh. Pondok yang hampir tidak berubah dari sembilan tahun lalu—peti kayu di sudut masih sama, walaupun rantainya yang dulu ada sudah dilepas, terbuka untuk siapa pun yang mau lihat isinya.
Bu Tirta menyerahkan buku catatan ke Reza. Sampul kulit cokelat. Tebal. Lebih tebal dari buku catatan lama Dharma.
"Mas. Dharma menulis ini selama dua tahun terakhir. Untuk Anda. Untuk Bumi."
Reza membuka buku. Tulisan tangan Dharma yang dia kenal—rapi, kecil, dengan diagram di pinggir halaman. Halaman pertama:
*"Reza. Kalau kau membaca ini, saya sudah tidak ada. Tidak masalah. Saya hidup baik tujuh belas tahun setelah pondok ini. Sembilan dengan Tirta. Dua belas tanpa Sistem. Lebih dari yang saya pikir saya akan dapatkan setelah saya pulang dari Singapore tujuh belas tahun lalu, hancur dan kosong."*
*"Buku ini untuk Bumi. Untuk anak-anak kau. Untuk siapa pun yang akan menghadapi Sistem seperti yang kita hadapi dulu."*
*"Saya menulis pengetahuan saya. Cara mengenali Sistem—pola percakapan, pola penawaran, pola eskalasi. Cara melindungi diri—Faraday cage, alam, ketulusan. Cara menghapus—doa, dengan kalimat yang dari hati, bukan formula."*
*"Reza. Kau tahu kenapa saya menulis untuk Bumi spesifik?"*
*"Karena Bumi akan ditargetkan suatu hari. Bukan oleh Sistem yang sama yang dulu menyerang kau. Tapi oleh entitas yang lain. Mereka akan datang. Mungkin saat dia umur belasan, mungkin saat dia umur dua puluhan. Saya tahu—saya 'merasakan' di tahun-tahun terakhir saya, dan saya percaya pada apa yang saya rasakan sekarang. Tirta juga merasakan, walaupun dia tidak bisa jelaskan."*
*"Reza. Beritahu Bumi. Saat dia siap. Saat dia umur delapan belas, mungkin. Bukan lebih cepat—anak-anak butuh masa kanak-kanak yang utuh sebelum dibebani. Tapi pasti sebelum dia umur dua puluh lima."*
*"Bumi akan tahu apa yang harus dilakukan. Bumi anak yang kuat. Lebih kuat dari saya, lebih kuat dari kau. Kau dan Mira sudah memberi dia dasar yang saya tidak punya: rumah yang tenang, kepercayaan untuk mendengar diri sendiri, cinta tanpa agenda. Kalau itu pondasi, sisanya dia bisa bangun sendiri."*
Reza membaca seluruh buku malam itu. Mereka menginap di pondok—Bu Tirta minta mereka tinggal, "rumah ini terlalu sepi sekarang." Mira membaca juga, dengan Bumi yang tidur di pangkuannya. Bumi bangun beberapa kali—mungkin merasakan beratnya buku di tangan ibunya—tapi tidak banyak bicara.
Mereka tidak bilang ke Bumi yet. Bumi sembilan tahun—belum waktunya.
Tapi mereka membuat keputusan: saat Bumi delapan belas, mereka akan beritahu. Persis seperti yang Dharma sarankan. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat.
Sembilan tahun lagi.
Bumi sekarang anak ceria. Suka membaca novel anak (Mira sudah membatasi—"belum saatnya kau baca novel orang dewasa, walaupun ibu kau jual"), suka kucing (mereka sekarang punya tiga ekor lagi—pengganti Susu dan Gula yang sudah lama pergi). Tidak ada tanda-tanda khusus yang dramatis. Tapi kadang-kadang dia bicara hal yang aneh untuk anak sembilan tahun—tentang "perasaan" tertentu di rumah, tentang "energi" tetangga, tentang mimpi yang dia ingat detilnya.
Dan Reza dan Mira hanya saling menatap di saat-saat itu. Tidak komentar di depan Bumi. Tidak menakuti. Tapi mengingat.
Bumi akan jadi siapa pun dia mau jadi. Pilihan dia.
Tapi Reza dan Mira akan siap. Apa pun yang datang.
Sebelum mereka pulang ke Jakarta keesokan harinya, Reza menyempatkan ke kebun belakang pondok. Sendirian. Tanpa Mira, tanpa Bumi.
Dia berdiri di akar beringin yang sama. Di tempat yang sama dia berdoa sembilan tahun lalu.
"Mas Dharma," Reza bilang ke pohon. Suara pelan, hampir bisik. "Terima kasih. Untuk semua yang Mas kasih saya. Saya akan jaga buku ini. Saya akan kasih ke Bumi pas waktunya. Mas tenang di sana."
Pohon beringin tidak menjawab, tentu. Tapi angin lewat di antara daun-daunnya, membuat suara seperti orang yang menarik napas dalam.
Reza menyimpan suara itu di kepalanya.
Lalu pulang.