Tiga puluh tahun setelah hari Reza dipecat di hari Selasa, dia berumur lima puluh tujuh.
Mira lima puluh lima. Reza pensiun lebih cepat—dia sudah financial independent di tahun ke-dua puluh dua nya bekerja, terima kasih kepada saham EdTech yang dia beli pelan-pelan dengan diskon karyawan dan satu investasi properti yang berhasil di Sentul. Mira masih mengelola toko buku indie online-nya, lebih besar sekarang—gudang di Tebet dengan empat orang karyawan, distribusi ke seluruh Indonesia, dan sebagai kontributor resmi di Goodreads Indonesia.
Bumi tiga puluh tujuh. Sukses. Sangat sukses dengan cara yang Reza dan Mira tidak pernah bayangkan.
Bumi adalah pendiri dan CEO sebuah perusahaan AI yang fokus pada—kontradiktif yang Mira selalu tertawakan—mendeteksi entitas non-manusia yang masuk ke kepala manusia. Bumi menemukan cara untuk "scan" otak manusia secara non-invasif, menggunakan kombinasi fMRI, EEG canggih, dan algoritma machine learning yang hanya dia dan tim kecilnya yang mengerti. Mereka deteksi kalau ada presence yang tidak natural di kerja saraf seseorang—pola yang Bumi sebut "anomali signature."
Perusahaan Bumi—namanya Anomali, dipinjam dari nama coffee shop di Senopati tempat Reza dan Mira pertama bertemu, ironi yang Bumi suka—sekarang berkantor di Bandung dan San Francisco. Mereka sudah membantu lebih dari dua puluh ribu orang yang mengalami "Sistem" seperti Reza dulu. Beberapa pasien Bumi sembuh sepenuhnya setelah melalui protokol yang Bumi rancang—kombinasi terapi psikologi, doa terbimbing, dan teknik "ground" yang Pak Wirya bantu rumuskan dari pengetahuan kakek dukunnya.
Surya tiga puluh dua. Insinyur biasa di Pertamina. Sudah menikah lima tahun dengan teman SMA-nya, dua anak (Mahesa lima, Karina dua). Tinggal di Bekasi. Kehidupannya tenang, normal, persis seperti yang dia inginkan. Surya pernah bilang ke Reza saat dia umur dua puluh, "Bapak. Saya tidak mau jadi luar biasa. Saya cuma mau jadi cukup biasa untuk pulang ke rumah dengan tenang setiap malam." Reza memeluknya saat itu—paham penuh.
Reza dan Mira tinggal di rumah sederhana di Sukabumi—yang akhirnya mereka beli, setelah dua puluh delapan tahun kontrakan di Tebet. Rumah kayu di lereng Gunung Salak. Dua kamar, satu ruang tengah dengan dapur menyatu, teras besar yang menghadap kebun. Kebun kecil dengan ayam, dua kambing, tomat, cabe, dan satu pohon beringin muda yang Reza tanam saat dia dan Mira pindah.
Suatu sore di bulan Maret, Bumi datang berkunjung. Sendirian—istrinya, namanya Naila, seorang sesama engineer Anomali yang Bumi nikahi di umur tiga puluh empat, tinggal di Bandung dengan anak mereka satu (perempuan, Cahaya, dua tahun, yang sudah mulai bicara). Bumi membawa map besar dan sebuah laptop tipis perak.
"Bapak. Ibu. Saya mau cerita sesuatu."
Reza dan Mira duduk dengan Bumi di teras. Mira bawa teh dari daun mint kebun—resep yang dia pelajari dari Bu Tirta, yang dia pelajari dari Dharma. Tradisi yang berlanjut.
"Bumi. Ada apa?"
Bumi membuka map, lalu laptop. Layar menunjukkan banyak data—grafik, statistik, peta dunia dengan titik-titik merah dan hijau.
"Bapak. Sistem yang dulu di kepala Bapak—saya pikir sekarang saya tahu dari mana. Lebih pasti."
Reza menelan ludah. Tehnya panas di tangan.
"Bumi. Dari mana?"
"Bapak. Saya tahu ini akan kelihatan gila. Tapi data saya selama lima belas tahun di Anomali menunjukkan pola yang sangat konsisten. Sistem-sistem ini... mereka tidak random. Mereka punya tujuan."
"Tujuan apa?"
"Mempersiapkan manusia untuk... transisi. Transisi dari spesies kita sekarang ke spesies berikutnya. Atau lebih tepat: spesies homo sapiens sapiens versi 2.0. Manusia yang lebih sadar, lebih terhubung dengan dimensi yang sekarang masih kita anggap supernatural."
Mira menatap Bumi. Cangkir teh dia letakkan.
"Bumi. Apa maksudnya 'spesies berikutnya'?"
"Bunda. Bapak. Saya... saya rasa Sistem-sistem ini dari masa depan kita sendiri. Versi kita yang sudah berevolusi—tubuh, otak, dimensi spiritual. Mereka kembali ke masa lalu untuk... mengarahkan kita. Memastikan transisi terjadi. Memastikan keturunan yang tepat lahir, yang akan jadi nenek moyang spesies baru."
Reza menyandar di kursinya. Pikirannya kembali ke pondok Dharma sembilan belas tahun lalu, ke teori yang Dharma bisikkan di pondok kecil itu.
"Bumi. Mas Dharma punya teori serupa dulu. Tapi dia tidak punya bukti."
"Bapak. Saya punya bukti sekarang." Bumi memutar laptopnya, menunjukkan grafik. "Anak-anak yang Sistem incar—termasuk saya, termasuk dua puluh ribu lainnya yang kami deteksi—semua punya pola otak yang sama. Pola yang dalam terminologi neurologi standar belum punya nama, tapi yang kami sebut 'reseptor multidimensi.' Otak yang bisa terhubung ke sumber informasi non-fisik. Kalau evolusi berjalan normal, dalam dua-tiga generasi, ini akan jadi normal."
"Bumi. Apakah kau... bagian dari transisi ini?"
Bumi mengangguk pelan. Senyumnya kecil tapi tegas.
"Bapak. Saya pikir iya. Naila juga, walaupun lebih lemah. Cahaya—yang baru dua tahun—polanya jelas, lebih kuat dari saya."
"Dan apa yang kau lakukan dengan ini?"
"Bapak. Saya membuat Anomali bukan untuk menghentikan transisi. Itu tidak mungkin—evolusi tidak bisa dihentikan. Saya membuat Anomali untuk membantu manusia memilih—apakah mereka mau ikut transisi dengan kontrol diri sendiri, atau apakah mereka mau ditundukkan oleh Sistem-sistem yang berperilaku seperti predator. Karena tidak semua entitas yang datang punya niat baik. Ada yang seperti Sistem yang dulu menyerang Bapak—agresif, manipulatif, ancam dengan kematian. Ada yang lebih lembut, lebih sabar."
Reza tertawa kecil. Tertawa yang dalam, dari perut.
"Bumi. Itu... itu yang Bapak ajari kau. Pilih sendiri."
"Iya, Bapak. Itu inti pelajaran terbesar saya. Itu yang saya jual ke pasien saya, yang saya bilang ke karyawan saya, yang saya tulis di setiap dokumen Anomali. Sebelum Anda bertindak, dengar diri sendiri dulu. Suara dari luar mungkin benar, mungkin salah—tapi suara dari dalam adalah satu-satunya yang Anda."
Bumi memeluk orang tuanya. Lama. Reza dan Mira memeluk balik. Tiga orang di teras rumah Sukabumi, dengan teh mint yang mulai dingin di meja, dan kebun beringin muda yang akarnya akan jadi besar suatu hari.
"Bapak. Bunda. Terima kasih untuk... mendidik saya begini. Kalau Bapak tidak mengalami Sistem dulu, kalau Bapak tidak mengajari saya untuk mendengar diri sendiri sejak umur dua—saya tidak akan ada di sini sekarang. Anomali tidak akan ada. Dua puluh ribu pasien kami tidak akan punya tempat untuk minta bantuan."
Reza menatap putrinya. Putri yang dia genggam pertama kali di rumah sakit Pondok Indah, yang Bidan bilang berat tiga kilogram dua ratus, yang sekarang memimpin perusahaan yang merubah pemahaman dunia tentang kesadaran manusia.
"Bumi. Kau tidak perlu berterima kasih ke Bapak. Bapak yang berterima kasih kau."
"Untuk apa, Bapak?"
"Untuk menjadikan kesengsaraan Bapak dulu jadi sesuatu yang berarti. Untuk... mengubah masa depan dari posisi kau sekarang."
Bumi menangis. Mira juga.
Reza tidak menangis—dia sudah belajar selama tiga puluh tahun untuk tidak menangis di momen seperti ini. Tapi dia memeluk istrinya dan putrinya, yang tiga puluh tahun lalu, di kontrakan kecil di Pasar Minggu di hari Selasa hujan, dia tidak bisa membayangkan akan ada.
Hidup bekerja dengan cara yang aneh. Sangat aneh.
Tapi adil.