Dua minggu kemudian, Bumi naik kereta dari Stasiun Gambir ke Bandung untuk masa kuliah pertamanya.
Reza, Mira, Surya, dan Lila mengantarkan ke stasiun. Pak Wirya tidak ikut—stasiun terlalu ramai untuk pria delapan puluh satu dengan tongkat. Pak Wirya sudah pamit di Cibubur kemarin, dengan pelukan yang lebih lama dari biasa. Bumi tahu kakeknya khawatir tidak akan melihatnya lagi—delapan puluh satu adalah umur yang mendekati. Bumi tidak komentar, cuma memeluk lebih erat.
Di peron Stasiun Gambir, Mira menatap putrinya yang akan berangkat sendirian ke Bandung untuk pertama kalinya seumur hidup.
"Bumi. Anda... punya semua yang dibutuhkan?"
"Bunda. Saya cek tiga kali tadi pagi. Buku, laptop, baju, obat darurat, kalung Kakek, surat Bu Tirta, buku Mas Dharma. Semuanya."
"Dan kontrak kost di Tubagus Ismail yang Bapak Anda atur—Anda sudah ingat alamat?"
"Saya simpan di Google Maps. Tujuh menit dari ITB jalan kaki. Pemilik Bu Sumi yang akan jemput saya di Stasiun Bandung."
"OK." Mira menarik napas. "Bumi. Bunda akan rindu."
"Bunda. Saya pulang Lebaran. Tiga bulan lagi."
"Tiga bulan terasa lama."
Bumi memeluk Bunda-nya. Lalu Bapak. Lalu Surya yang lima belas, yang biasanya tidak suka peluk-pelukan tapi kali ini menerima. Lalu Lila—pelukan terakhir, paling lama, dengan air mata Lila di pundak Bumi.
"Lila. Saya akan kontak setiap hari."
"Iya, Bumi. Saya tunggu."
Kereta datang. Bumi naik. Memilih kursi dekat jendela. Melambai ke keluarga di peron.
Kereta bergerak. Reza, Mira, Surya, Lila—keempatnya melambai sampai kereta menghilang di tikungan.
***
Di kereta, Bumi mengeluarkan buku Mas Dharma. Membuka halaman pertama yang sudah dia hafal.
*"Bumi. Kalau kamu membaca ini, kamu sudah siap. Saya tidak tahu berapa umurmu—mungkin lima belas, mungkin dua puluh, mungkin tiga puluh."*
Bumi menutup buku. Menatap pemandangan dari jendela kereta—sawah-sawah Jawa Barat yang berganti dengan pegunungan saat kereta masuk Cikampek, lalu ke Purwakarta, lalu ke Bandung.
Pak Sumiarjo—teman Reza dari ITB dulu yang sekarang dosen di kampus, yang jadi mentor non-formal Bumi sejak SMA—sudah menunggu di Stasiun Bandung dengan istrinya. Bumi ketemu mereka, naik mobil ke kost di Tubagus Ismail.
Bu Sumi pemilik kost, perempuan enam puluhan yang ramah, mengantar Bumi ke kamar. Kamar di lantai dua, jendela menghadap kebun belakang dengan satu pohon mangga tua.
"Bumi. Kamar Anda. Ada lemari, meja, kasur, kamar mandi sendiri di pojok sana. Wifi di seluruh kost, password di pintu. Sarapan jam tujuh setiap pagi—nasi uduk hari Senin, lontong sayur Selasa, nasi kuning Rabu, dst. Bumi bebas pilih atau makan di luar."
"Bu. Terima kasih."
Bu Sumi keluar. Bumi membongkar koper. Memasang foto keluarga di meja—foto dengan Reza, Mira, Surya, plus selfie dengan Lila yang Bumi cetak di studio kemarin. Memasang buku-buku di rak. Buku Mas Dharma dia simpan di laci paling dalam, dengan kunci.
Pukul lima sore, Bumi ke teras kost. Kost sepi—mahasiswa yang lain belum datang, mungkin masih libur. Cuma Bu Sumi di ruang tengah menonton TV.
Bumi duduk di kursi rotan teras. Memandang langit Bandung yang sore-nya lebih oranye dari Jakarta.
Lalu, tanpa Bumi rencanakan, dia... membuka jendela kepalanya.
Pelan. Hati-hati.
Awan ungu—yang sudah delapan tahun menunggu di luar rumah pikirannya—masih ada. Tapi dia sudah lebih jauh sekarang, hampir tidak terlihat. Mungkin karena kalung Kakek-nya, mungkin karena Bumi sudah belajar lebih banyak teknik dari Paman Bima, mungkin karena Bumi yang delapan belas tahun lebih kuat dari Bumi yang enam tahun.
Bumi menatap awan ungu dari kejauhan.
*"Halo,"* Bumi pikirkan—dengan tegas, bukan undangan, cuma penyapaan netral.
Awan ungu menjawab—suara perempuan tua, lebih tua dari Bumi pernah dengar di awan mana pun:
*"Bumi. Akhirnya kau bicara dengan saya."*
*"Cuma sekali. Untuk klarifikasi. Anda siapa?"*
Awan ungu hening. Lalu:
*"Bumi. Saya... saya bukan musuh. Saya juga bukan teman dengan agenda kuat. Saya cuma... pengamat. Dari masa depan. Dari versi kau yang umur delapan puluh."*
Bumi membeku. Versi dia umur delapan puluh? Itu berarti—
*"Bumi. Saya kau. Yang sudah hidup lima puluh dua tahun lebih dari kau hari ini. Saya datang dari masa depan untuk memastikan kau tidak buat kesalahan yang saya buat saat saya membangun Anomali."*
Bumi menelan ludah.
*"Kesalahan apa?"*
*"Bumi. Saya buat partnership dengan entitas yang Bu Tirta peringatkan kau di surat. Saya pikir mereka baik. Saya salah. Anomali jadi alat mereka di masa saya. Saya datang—lewat dimensi yang saya temukan saat saya enam puluh—untuk memperingatkan kau."*
Bumi menutup matanya. Memikirkan. Lama.
*"Saya tidak yakin saya percaya."*
*"Iya, Bumi. Anda tidak harus percaya. Cuma—saat partnership itu ditawarkan suatu hari—ingat saya. Tolak. Anomali harus tetap milik kau dan Lila."*
Bumi membuka matanya. Memandang langit Bandung yang sekarang lebih gelap.
*"OK. Saya akan ingat."*
*"Bumi. Saya pergi sekarang. Saya tidak akan bicara lagi sampai partnership ditawarkan. Itu sopan—saya tidak mau ganggu hidup kau."*
Awan ungu menjauh. Bukan menghilang—tapi pergi ke tempat yang Bumi tidak bisa lihat.
Bumi menutup jendela kepalanya. Pelan. Kunci.
Lalu mengeluarkan HP. WA Lila.
*"Lila. Saya sudah di kost. Aman. Kebun belakang ada pohon mangga. Bu Sumi baik. Sepi tapi enak."*
Tiga detik kemudian, Lila balas:
*"Bumi! Kost-mu kayak rumah. Saya jealous. Bandung gimana?"*
*"Bandung dingin. Sore-nya oranye. Kost-ku di Tubagus Ismail. Tujuh menit ke kampus."*
*"Bumi."*
*"Iya."*
*"Saya akan datang weekend pertama yang Bumi bolak. Janji?"*
*"Iya, Lila. Janji."*
Bumi memasukkan HP. Menatap matahari yang sekarang sudah turun di balik gunung Tangkuban Perahu.
Bandung. Empat tahun ITB. Lalu setelah itu—pelan-pelan—Anomali.
Bukan dengan partnership entitas asing. Dengan tangan dia dan Lila. Murni. Sederhana.
Mas Dharma benar. Bu Tirta benar.
Bumi tahu sekarang—dengan kepastian yang dia belum punya saat naik kereta dari Gambir tadi pagi—bahwa hidupnya akan jadi besar. Dan dia siap.
Bumi tutup mata di teras kost. Bergumam mantra Pak Wirya yang dia sudah ucapkan setiap pagi setiap malam selama dua belas tahun:
*"Aku adalah aku. Pikiranku milikku. Suara dari luar harus diundang."*
Bandung gelap. Tubagus Ismail sepi. Bumi tidur cepat malam itu.
Kuliah dimulai besok pagi.