Setahun setelah Lila pindah ke Bandung, Bumi dan Profesor Hendarwati selesai paper akademik mereka.
Judulnya: **"Atypical Default Mode Network in Pediatric Subjects with Self-Reported Inner Voice Phenomena: A 200-Subject fMRI Study with Machine Learning Pattern Detection."**
Dua ratus subjek—anak-anak antara umur enam dan delapan belas—yang Bumi dan Profesor scan otak menggunakan fMRI di lab UNPAD selama dua tahun. Subjek dari sekolah-sekolah di Bandung dan Jakarta yang setuju ikut riset, dengan izin orangtua.
Hasil: 27% subjek (lima puluh empat anak) menunjukkan pola Default Mode Network yang berbeda secara statistik dari 73% sisanya. Pola ini, yang Bumi sebut "anomali signature" di paper, terkait dengan self-report subjek tentang "mendengar suara di kepala" atau "merasakan presence yang tidak dijelaskan."
Paper di-submit ke Journal of Neuroscience Research di Amsterdam. Reviewer skeptis di awal—seperti yang Profesor harapkan—tapi data Bumi solid. Setelah tiga round revisi, paper diterima untuk publikasi.
Hari pengumuman penerimaan, Profesor Hendarwati mengundang Bumi ke kantornya.
"Bumi. Kita berhasil. Paper akan publish bulan depan."
"Profesor. Terima kasih untuk dua tahun ini."
"Bumi. Saya yang berterima kasih. Kamu yang bawa saya ke riset yang lebih berarti dari yang saya pikir saya akan kerjakan di karir saya."
Bumi tersenyum. "Profesor. Saya boleh... saya boleh bicara tentang langkah berikutnya?"
"Anomali. Iya, Bumi. Saatnya. Saya tunggu pertanyaan ini."
"Profesor. Saya dan Lila—pacar saya, mahasiswi SBM ITB—mau bangun perusahaan. Berbasis paper kita. Untuk bantu anak-anak yang punya 'anomali signature' belajar melindungi diri."
Profesor Hendarwati mengangguk. "Bumi. Saya akan jadi advisor, tidak founder. Saya kasih nama saya untuk legitimasi awal—orangtua akan lebih percaya kalau perusahaan baru punya advisor profesor neuroscience yang publish di jurnal internasional."
"Profesor. Terima kasih."
"Bumi. Tapi tunggu paper publish dulu. Setelah itu kau boleh launch perusahaan dengan referensi paper. Itu legitimasi yang sulit dibantah."
"OK, Profesor. Saya tunggu."
***
Paper publish bulan berikutnya. Tidak viral di media—jurnal akademik biasanya tidak. Tapi di komunitas neuroscience, paper Bumi-Hendarwati jadi bahan diskusi yang serius.
Beberapa profesor di luar negeri—Stanford, Tokyo, ETH Zurich—email Profesor Hendarwati untuk kolaborasi. Beberapa dokter anak di Jakarta dan Surabaya tertarik—mereka punya pasien dengan profile yang cocok dengan "anomali signature" di paper.
Bumi dan Lila—yang sekarang Bumi 22 dan Lila 19, semester 4 SBM—mulai persiapan launch Anomali.
Mereka bahas bareng di kafe Yellow Truck Coffee yang sudah jadi office mereka tidak resmi. Lila punya buku catatan business plan yang sekarang sudah halaman 47.
"Bumi. Kantor Anomali pertama—di mana?"
"Lila. Bandung dulu. Dekat kampus, dekat lab Profesor."
"OK. Saya cari tempat. Mungkin co-working space awal, lalu kantor sendiri kalau revenue stabil."
"Tim awal: kamu, saya, siapa lagi?"
"Hendro?"
Bumi memikirkan. Hendro yang sekarang lulus dari Tek Info ITB tahun lalu, kerja sebagai software engineer di startup di Jakarta. Hendro yang awan-nya sudah benar-benar pergi tiga tahun lalu setelah Bumi ajarin teknik dari Mas Dharma.
"Lila. Saya akan tanya Hendro. Dia software engineer—bisa bangun platform Anomali. Plus dia tahu pengalaman 'awan' dari sisi pertama. Itu kombinasi yang sulit dicari."
"OK. Plus dokter—kita butuh dokter anak yang bisa intake pasien."
"Saya pikir Profesor Hendarwati punya kontak. Mungkin dia introduce kita ke beberapa dokter anak yang dia kerjasama riset."
"Plus konselor—orang yang ahli komunikasi dengan anak. Saya pikir Paman Bima."
Bumi menatap Lila. "Paman Bima sudah lima puluh delapan. Dia masih kerja konselor anak autis di Yogyakarta."
"Bumi. Tanya dia. Mungkin Paman Bima mau jadi advisor atau partner—Yogyakarta-Bandung tidak terlalu jauh. Dia bisa konsultasi remote, plus datang ke Bandung sebulan sekali untuk training tim kita."
"OK. Saya tanya."
***
Tiga bulan kemudian, Anomali resmi terdaftar sebagai perusahaan.
PT Anomali Konsultasi Indonesia. Pendiri: Bumi Wijaya (CEO), Lila Anto (CMO/COO), Hendro Tjahjadi (CTO). Advisor: Prof. Dr. Sri Hendarwati (chief scientific advisor), Bima Wirya (chief consulting advisor, remote dari Yogyakarta).
Kantor pertama: ruangan 30 meter persegi di gedung co-working WeWork Dago. Tim awal lima orang.
Klien pertama: empat keluarga di Bandung yang Profesor Hendarwati referensikan—anak-anak mereka pasien Profesor di lab, scan otak menunjukkan "anomali signature."
Bumi 22, Lila 19, Hendro 23. Generasi muda yang membangun perusahaan dari paper akademik dan pengalaman pribadi.
Anomali dimulai. Pelan-pelan. Murni. Tanpa partnership entitas. Tanpa shortcut.
Persis seperti yang Bu Tirta peringatkan di surat empat tahun lalu.