Anomali Education berkembang pesat dalam dua tahun setelah Cahaya pindah ke Bandung.
Bumi dan Lila pikir awalnya cuma sekolah kecil untuk 40 anak. Tapi setelah Cahaya dan Lukas mulai sekolah, orangtua dari klien Anomali lain juga minta anak mereka masuk. Dalam dua tahun, Anomali Education buka kampus kedua di Jakarta, ketiga di Singapore, plus rencana di Tokyo dan Manila.
Total siswa Anomali Education sekarang: 320 anak di empat kampus (Bandung, Jakarta, Singapore, plus Tokyo yang baru launch tahun ini).
Cahaya umur sembilan, kelas empat. Lukas delapan, kelas tiga (mereka beda umur tapi sahabat dekat).
Bumi 37. Lila 34. Anomali Group 11 tahun, total 540 karyawan, klien 28,000 keluarga, sekolah 320 siswa. Empat negara aktif.
Profesor Hendarwati 70 tahun, sudah benar-benar pensiun lagi—Anomali sekarang punya tiga senior scientific advisors yang ambil alih (semuanya peneliti Profesor dari UNPAD dulu). Tapi Profesor masih datang sekali sebulan untuk diskusi strategis.
Hendro 38, masih CTO. Punya tim engineering 80 orang sekarang.
Maria 42, masih pimpin Asia Tenggara dari Manila. Akira 39, Tokyo. Priya 35, Mumbai. Plus Hee-jin 33 di Seoul, plus Linh 28 yang baru di Vietnam.
Tim eksekutif Anomali yang biasanya 6-7 orang, sekarang 12 (regional directors, plus 5 corporate functions).
***
Suatu sore Sabtu, Bumi dan Lila duduk di teras rumah Bandung mereka. Cahaya dan Lukas main di kebun belakang—Lukas di rumah Cahaya hampir setiap weekend, Pak Lukas-bapak udah biasa.
"Bumi. Saya pikir saya bicara dengan Cahaya tadi pagi."
"Bicara apa, Lila?"
"Cahaya bilang dia mau jadi penulis. Bukan ilmuwan, bukan pengusaha, bukan apa pun seperti kita."
Bumi menatap Lila. "Penulis?"
"Iya. Dia bilang dia suka cerita. Suka tulis cerita pendek di buku catatan-nya. Dia mau jadi seperti... seperti Bunda Bunda kamu, dia bilang."
Bumi tertawa. "Cahaya kelihatan suka Bunda Mira."
"Iya. Setiap visit Sukabumi, Cahaya minta dibacain buku Bunda Mira. Dia tahu Bunda Mira menulis novel sebelum dia lahir."
Bumi memikirkan. "Lila. Apakah Cahaya tidak tertarik Anomali?"
"Bumi. Saya tanya dia tadi. Cahaya bilang Anomali penting tapi bukan tujuan hidupnya. Dia mau cerita-cerita. Mungkin tentang Anomali—mungkin tentang lain."
"Lila. Kita... kita harus dukung."
"Iya. Itu yang saya bilang ke Cahaya. 'Cahaya. Bunda dukung apa pun yang Cahaya pilih.'"
Bumi meletakkan kopinya. "Lila. Saya ingat Bapak saya pernah bilang—'Anak yang dibesarkan dengan cinta akan pilih jalannya sendiri. Tugas kita cuma menyediakan dasar yang baik.' Saya pikir Cahaya akan pilih jadi penulis, bukan jalan saya."
"Bumi. Anomali tidak butuh dia untuk lanjut."
"Tidak. Anomali butuh banyak orang—Cahaya cuma satu kemungkinan. Sekarang Anomali punya 540 karyawan, 320 siswa, ribuan klien. Anomali akan tetap ada, dengan atau tanpa Cahaya sebagai successor."
Lila menggenggam tangan Bumi. "Bumi. Anda lebih tua daripada saya kira."
"Lila. Saya 37."
"Saya bilang lebih dewasa. Bukan tua secara umur."
Bumi tertawa.
***
Suatu malam, Cahaya datang ke kamar tidur Bumi-Lila dengan buku catatan kecil di tangan.
"Bapak. Bunda."
"Cahaya."
"Cahaya tulis cerita. Boleh Bapak Bunda baca?"
Lila menerima buku catatan. Membuka halaman pertama.
Tulisan tangan Cahaya yang masih agak besar, sembilan tahun. Tapi rapi. Dengan judul:
*"Bumi dan Awan Ungu"*
Lila membaca diam-diam selama lima menit. Lalu menatap Cahaya.
"Cahaya. Anda... menulis tentang Bapak?"
"Iya, Bunda. Tentang Bapak yang umur enam dengar suara pertama. Tentang Kakek Buyut Wirya. Tentang Mas Dharma yang Cahaya tidak pernah ketemu tapi Bapak sering cerita."
Bumi menerima buku catatan dari Lila. Membaca cerita Cahaya tentang dirinya sendiri yang umur enam—dari sudut pandang anak sembilan tahun yang membayangkan masa kecil Bapaknya.
Cerita itu... bagus. Sederhana, tapi punya hati.
"Cahaya."
"Bapak."
"Cahaya akan jadi penulis besar suatu hari."
"Bapak. Cahaya cuma tulis cerita untuk diri sendiri."
"Saat ini. Tapi suatu hari, Cahaya akan tulis cerita untuk dunia. Dan dunia akan baca."
Cahaya tersipu. "Bapak. Saya cuma sembilan."
"Iya. Tapi Bapak sembilan dulu juga sudah ngerasain banyak. Cahaya juga. Ceritanya akan beda dari semua orang."
Cahaya memeluk Bapak-nya. Lalu Bunda-nya. Lalu pamit ke kamar.
Lila menatap Bumi.
"Bumi. Cahaya tulis cerita kita untuk dirinya. Suatu hari mungkin dia tulis untuk publik."
"Lila. Mungkin. Tapi itu Cahaya yang putuskan."
***
Malam itu, sebelum tidur, Bumi membuka jendela kepalanya pelan—kebiasaan yang dia tetap lakukan setiap malam, scan ringan untuk memastikan tidak ada entitas yang dekat dengan keluarga.
Awan-awan yang dulu ada di sekitar kepala Cahaya—yang sekarang sembilan—sudah jauh, sangat jauh. Mungkin sepuluh meter atau lebih dari rumah pikiran Cahaya. Mereka sopan, mereka tidak masuk.
Cahaya yang dilatih sejak umur dua, sekarang punya pertahanan natural. Ditambah kalung Kakek Buyut yang masih dia pakai. Ditambah komunitas anak-anak Anomali Education yang juga punya kapasitas dan terlatih.
Cahaya aman.
Bumi tutup jendelanya. Memeluk Lila yang sudah tertidur. Bumi sendiri tidur cepat.
Di kamar Cahaya, anak yang sembilan tahun tetap menulis di buku catatan. Cerita lain. Tentang Bunda Mira yang menulis novel di rumah Sukabumi. Tentang Kakek Reza yang membaca cerita untuk Cahaya. Tentang dunia yang Cahaya tahu lebih kompleks dari yang dia teman-teman bayangkan, tapi yang dia pelajari menerima dengan tenang.
Cahaya tidur jam sebelas. Lebih cepat dari biasa—besok ada outing kelas ke kebun teh.
Di kebun belakang, ayam-ayam yang Mira beri ke Bumi sebagai hadiah pindah Bandung—sepuluh ekor sekarang—berkokok pelan. Ada yang aneh di malam itu, ayam pertama bangun lebih awal.
Mungkin bukan apa-apa. Mungkin sesuatu.
Bumi tidak akan tahu sampai dua tahun lagi.