"Baik! Aku akan segera ke kantor. Persiapkan semua berkasnya. Nanti saya tinggal tanda tangani berkas tersebut." Ujar Janne lalu segera menutup teleponnya dan segera bergegas pergi menuju kantor dengan mobilnya.
Dukkk-
"Arghhh! Sakit banget.. pintu sialan!!" gerutunya pada pintu yang membuat keningnya kesakitan itu. "Lho.. kok burem?? Aau ah serah!" ucapnya dengan nada sedikit kesal.
30 menit Janne sudah sampai di depan kantornya. Kantor yang mewah nan megah dengan furniture minimalis classic membuat kantor ini sangat di kagumi semua orang. MRVIP adalah perusahaan furniture yang classic dan terkenal di Indonesia. Tempatnya pas sekali di daerah Bandung, tempat dimana ia dilahirkan. Tidak hanya dalam bidang furniture saja, tetapi pendirinya adalah seorang pelukis terkenal. Ya.. dia adalah Janne Brown. Namanya memang ia samarkan dengan nama Janne Brown. Karena katanya... itu nama pribadinya, cukup keluarganya saja yang tahu.
"Selamat pagi, Bu. Semoga harinya menyenangkan." Sapa salah satu staff kantornya kepada Janne. Janne yang melihatnya membalas sapaannya dengan senyuman manisnya.
Janne menaiki lift dan menekan tombol lantai 3, dia bersandar di dinding liftnya dan memejamkan matanya sebentar. Ia lelah karena belum beristirahat sama sekali. Tetapi dia tetap melakukannya karena ini adalah hobby-nya.
"Selamat pagi, Bu. Akhirnya sampai juga, ya? Bagaimana perjalanan menuju kantor, lancar?" tanya sekretaris Janne yang bernama Siska.
"Oh Siska, santai saja. Sangat lancar." Balas Janne dengan senyumannya kemudian dia duduk di mejanya.
"Huftt~" Hembusan nafasnya membuat Siska langsung menoleh pada bos-nya itu. Dia merengkuhkan badannya. Lalu melihat bos-nya itu.
"Ibu tidak papa?" Janne menggelengkan kepalanya lalu tersenyum dan menunjukkan ibu jarinya bahwa dia baik-baik saja. Lalu sekretarisnya kembali duduk di meja kerjanya.
Janne kemudian melanjutkan pekerjaannya, membuka setiap berkas dan membacanya dengan cermat. Lalu sesekali tangannya bergerak menandakan bahwa dia sedang menandatangani kontrak kerja dari beberapa perusahaan.
Saat berkas terakhir dia menatap sekretarisnya yang sedang duduk dengan tatapannya menghadap laptop itu. Karena tersadar ia sedang di tatap oleh bos-nya itu, dia tersenyum kikuk.
"A-ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya dengan sopan.
"Apa ada berkas lagi yang harus saya tanda tangani?" sahut Janne pada Siska.
"Ah.. itu. Hanya itu saja, Bu. Untuk jadwalnya ibu hari ini, ah sebentar.. saya lupa," cicitnya lalu membuka buku schedule bos-nya.
"Untuk jadwal selanjutnya.. hanya bertemu klien saja, Bu. Jumlah klien hanya satu orang.. untuk berdiskusi tentang lukisan yang akan di pesan olehnya. Dan waktunya jam 3 sore, klien mengajak Ibu bertemu sembari makan sore." Lanjutnya dengan senyuman diakhir kalimatnya.
Janne mengangguk mengerti lalu menandatangani berkas terakhir. "Sudah selesai, ini artinya dari jam 10 sampai jam 3 sore saya kosong, bukan? Saya akan berkunjung kerumah orang tuaku dulu di rumah. Ada 4 jam waktu yang tersisa. Kalau begitu saya permisi, ya?"
Siska mengangguk mengiyakan ucapan bos-nya. Lalu berdiri dan membukukan tubuhnya untuk memberikan salam padanya. " Hati-hati di jalan, Bu. Semoga sampai tujuan."
Janne melirik ke arah sekretarisnya itu lalu tersenyum dan memberikan "Ok" dengan kedua jarinya. Siska tersenyum lalu kembali duduk di meja kursinya dan mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai dan menemani bos-nya untuk bertemu klien.
Janne tersenyum ke setiap pegawainya, terkenal ramah tetapi sangat irit kata. Dia kemudian mengambil handphonenya dan menekan tombol telpon.
"Ibu, aku akan kerumah ya? Ibu ingin aku belikan apa?" tanyanya kepada ibunya.
"Ibumah mau bakso, neng. Beliin ya? 4 bungkus aja. Terus beliin bolu kukus aja buat si ujang. Teteh lagi main dirumah ibu." Ucapnya di seberang telpon.
Janne yang mendengarnya tersenyum manis. "Ada lagi ibu? Minumnya?"
"Teh, mau beli apa atuh? Itu si Neng nanya. Minumnya mau apa?? Boba wae? Boba aja cenah Neng."
Janne tertawa pelan lalu dia hanya menganggukkan kepalanya. "Oke siap ibu, neng tutup telponnya ya?"
Dia mematikan teleponnya lalu berjalan ke parkiran dimana mobilnya itu berada. Janne masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesinnya, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dia sesekali berhenti di jalan hanya untuk membeli bakso. Bakso Mae adalah favorit ibunya dan keluarganya. Meskipun hanya di jalanan, rasanya sama seperti bakso-bakso di restoran terkenal di Indonesia. Ia lanjutkan ke toko kue, untuk membeli Bolu pesanan sepupunya.
Untuk terakhir kalinya, dia berhenti di stand yang menjual Boba, dia tersenyum senang ketika semua pesanan keluarganya itu ia belikan. Dia sangat bahagia karena hal kecil ini. Bukankah itu adalah keinginan semua orang di dunia?