Brak!
Bunyi berisik dari arah parkiran berhasil menarik perhatian pengawas sekolah karena alarm keamanan langsung berbunyi nyaring. Jen, salah satu siswi di Soeltan High School sedang membuat ulah lagi. Namun, seperti biasa penyakit cerobohnya kumat. Lagi-lagi dia tertangkap Madame Agatha yang secepat kilat sudah ada di TKP. Jen tadi hanya bermaksud untuk mengempiskan sepeda milik Profesor Kaminarikyo bukan merobohkan semua sepeda di parking area. Jen kesal karena selalu mendapat nilai jelek di pelajaran musik dan bukunya ditempel upil Profesor yang eksentrik itu. Semua juga tahu Jen sangat alergi upil. Bahkan untuk membersihkan hidungnya saja setiap bulan Jen khusus ke rumah sakit karena tangannya akan alergi jika terkena upil.
"Jen! Kamu bikin ulah lagi! Kali ini kamu nggak bisa menebusnya dengan membayar denda!"
Bentakan Madame Agatha tidak semenyeramkan mukanya yang dibalut makeup tebal dengan bentuk alis yang fenomenal. Alis badai menyapu pantai, begitu Jen menamainya. Jen setengah mati menahan tawanya agar Madame killer itu tidak semakin marah. Bisa-bisa hukumannya jadi dobel.
"Sorry Madame, nggak sengaja," jawab Jen dengan muka sok baik.
"Enggak sengaja katamu! Kenapa bisa berantakan, begini?"
"Em, tadi nggak sengaja … kesenggol."
"Follow me, i will give you some gift," ucap Madame Agatha dengan mulut beracunnya. “Saya pastikan kamu akan senang dengan hadiah ini.”
Jen tahu pasti dia akan dapat hukuman. Dia memang ceroboh. Kali ini hukuman harus dilaksanakan. Tidak bisa dibayar dengan uang karena bulan ini Jen sudah dapat dua sanksi dan ini yang ketiga. Padahal itu ide bertiga; Jen, Bram, dan Zul. Namun, hanya Jen yang selalu tertangkap di TKP. Entahlah, sepertinya Bram dan Zul punya ilmu menghilang ala ninja. Mereka selalu menghilang dengan cepat.
"Gimana Bram, sudah aman belom?" bisik Zul.
“Tunggu sebentar, Jen baru mau dibawa pergi Madame Agatha,” bisik Bram.
“Udah belum,” bisik Zul lagi.”
"Aman. Jen sudah dibawa Madame Agatha. Ayo kita ikuti."
Baru saja mereka berdua keluar dari persembunyiannya di belakang tangga lobi sekolah, Bryan sudah ada di depan mereka dan memandang kedua juniornya dengan tatapan tajam.
"Mana Jen?" tanya Bryan ketus. Bryan adalah senior mereka. Dia termasuk siswa VIP di sekolah itu. Wajahnya tampan dan selalu jadi juara olimpiade sains. Sayang wajahnya tidak pernah ramah dan berkesan jutek. Bryan hanya peduli pada Jen.
"Tadi ada di sini bareng kita, terus …."
Belum sempat Zul menyelesaikan kalimatnya dengan sedikit gugup, Bryan sudah menarik tangannya. Zul terkejut sekaligus senang, dia merasakan hawa panas seketika mengalir di peredaran darahnya, ada getaran yang tidak biasa. Detak jantungnya melompat-lompat tidak beraturan. Seketika Zul menoleh, berharap Bryan merasakan hal yang sama, tetapi, kenyataan tidak sesuai hipotesis, wajah Bryan tetap datar seperti biasanya. Terlihat jelas tidak ada cinta di matanya. Zul putus ada dan mendengus kesal dan melepaskan genggaman Brian dengan kasar. Bryan hanya menatap keheranan.
"Coba tanya saja Madame Agatha, tadi Jen bersama si monster itu," kata Zul berlalu dan langsung menarik tangan Bram, yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Kita ke kantin yuk, aku lapar," ajak Zul ke Bram.
Bryan langsung menuju ruangan Madame Agatha tanpa menoleh lagi. Dasar cowok dingin, batin Zul pilu. Zul sejak awal masuk sekolah sudah suka dengan Bryan, tetapi cowok itu sama sekali tidak peduli.
Di tempat lain Jen terlihat sangat kesal. Sudah tiga puluh menit dia berada di toilet OB sejak tragedi di parkiran tadi. Dia mulai mengomel sendiri. Keringat bercucuran di wajahnya, padahal dia belum melakukan apa pun, hanya berdiri mondar-mondair sambil memandangi alat kebersihan yang diberikan Madame Agatha tadi.
"Menyebalkan. Kenapa harus toilet OB, sih!" teriak Jen sambil melempar sikat WC elektrik ke sembarang arah dengan kesal.
"Aww, sakit, Neng!" teriak Mr. Suklin kepala OB di Soeltan High School. "Kepala orang benjol, nih!"
"Sorry Pak, SE-NGA-JA!"
"Makanya jangan bandel!" kata Mr. Suklin. "Dihukum, kan, jadinya."
"Berisik! Nih duit sejuta ambil. Buruan bersihin!"
"ASHAAAAAAP!"
Dengan cekatan Mr. Suklin menelepon dua anak buahnya untuk membersihkan toilet dengan bayaran dua ratus ribu per orang. Lumayan masih untung enam ratus ribu, tidak usah capek-capek kerja, batin Mr. Suklin. Di Soeltan High School hanya Mr. Suklin yang masa kerjanya paling lama dan bisa disuap untuk melakukan apa pun asal ada uangnya. Prinsipnya asal ada uang dan bukan suatu kejahatan, apa pun akan dilakukan. Jen tidak peduli berapa uang yang harus dikeluarkan karena yang penting hukumannya selesai. Jen tahu Madame Agatha sengaja ingin membuatnya jera dengan menyuruh membersihkan toilet OB yang tidak ada alarm kebersihannya alias jorok. Bukan Jen namanya kalau tidak punya seribu akal buat lolos dari hukuman.
"Jen, kamu di sini rupanya."
Kedatangan Bryan membuat Jen yang sedang menonton drama korea dari ponselnya terkejut. Jen merasa tidak enak karena terlalu sering kena hukuman, tidak seperti Bryan yang disiplin.
"Eh, Bri, kok tahu gue di sini?"
"Dari Zul dan Bram tadi."
"Kurang ajar! ke mana kedua anak itu?"
"Lagi makan di kantin."
"Ahhhh, ngeselin. Pokoknya Jen mau ngambek. Mereka makan enak sementara gue di hukum," oceh Jen kesal.
“Sudah jangan marah, kamu disuruh ngapain?” tanya Bryan.
“Tuh, nyikat WC,” jawab Jen kesal.
Bryan ingin tertawa melihat spontanitas gadis itu, tetapi diurungkan takut Jen marah. Cowok itu berusaha menenangkan Jen dengan menyentuh pipinya lembut, lalu merapikan beberapa anak rambut yang berantakan dan mengusap muka Jen yang berkeringat. Jen biasa saja menanggapi perhatian Bryan. Orang tua mereka adalah sahabat karib. Jen dan Bryan sudah di jodohkan dari sebelum mereka lahir. Bryan malah senang dengan perjodohan itu. Jen tidak menolak ataupun menyetujui. Biasa saja. Di sekolah tidak seorang pun tahu hal itu. Kecuali sepasang mata yang mengawasi Jen dan Bryan. Sepasang mata yang diam-diam sering memperhatikan mereka dengan penuh kebencian dan amarah.
Hari itu hanya ada kelas Prof. James, Jen berencana untuk menghukum dua sahabatnya itu karena membiarkan Jen di hukum madame Agatha.
"Jen tunggu, please jangan marah." Bram duduk di samping Jen.
Tuh, kan, akhirnya kamu merasa bersalah, batin Jen. Jen masih kesal karena kedua temannya malah kabur saat dia butuh bantuan. Jadi, jen pura-pura ngambek. Jen yang biasanya lincah dan menyapa siapa saja tampak pendiam dan memasang muka jutek. Bram dan Zul langsung tidak enak hati.
"Iya, maafin kita ya," kata Zul yang ternyata sudah di kelas juga.
"Kemarin kita sudah muter-muter nyariin kamu," jelas Zul.
"Nyariin katamu! Kalian malah enak-enakan di kantin kamu bilang nyariin!" Jen makin kesal dan berpindah tempat duduk di sebelah Hiro Kagawa- yang katanya anak konglomerat Jepang. Orangnya sedikit misterius dan suka bikin eksperimen aneh.
Zul memandang Bram yang hanya bisa mengangkat bahu pasrah karena Profesor James sudah memasuki kelas.
"Morning class!"
"Morniiing!"
Selama pelajaran Prof. James, tidak satu pun yang masuk ke otak Jen. Dia hanya memikirkan untuk menjahili Bram dan Zul dengan pura-pura ngambek. Hiro Kagawa yang berada di sampingnya malah sibuk mengamati wajah Jen yang manis kalau sedang manyun gitu. Sebuah pikiran tidak wajar muncul di otak Hiro Kagawa. Hiro jadi senyum-senyum sendiri membayangkan Jen dalam eksperimennya.
"Apa lu liat-liat? Punya pikiran kotor, ya, lu!"
"Punya mata kan harus digunakan dengan baik," jawab Hiro Kagawa sambil nyengir.
Sementara itu, Profesor James kembali melanjutkan pelajarannya.
"Planet bumi ini sebenarnya memiliki planet kembaran yang diciptakan sedetik setelah bumi tercipta. Namanya Morte-Orbis*, Planet yang indah, damai, tanpa ada konflik dan masalah berbeda dengan bumi yang selalu penuh dengan kejahatan. Morte-Orbis* adalah jawaban dari keinginan manusia untuk hidup damai dan muda selamanya. Untuk bisa sampai di Morte-Orbis* kita harus melakukan pura-pura mati dengan bimbingan seorang pemandu."
"Prof boleh tanya nggak?"
"Silahkan Han Ji."
"Apa tidak ada jalan lain ke Morte-Orbis* selain pura-pura mati?"tanya Han Ji antusias.
"Tidak ada!"
"Bagaimana mau pura-pura mati Prof, pura-pura move on saja nggak bisa!"
Kelas langsung riuh penuh gelak tawa. Semua menoleh ke arah Han Ji yang sedang melirik ke arah Mei Hwa-mantannya. Dylan mengepalkan tinjunya ke arah Han Ji yang disambut dengan cengiran. Han Ji masih saja berharap bisa balikan dengan Mei Hwa meski gadis itu jelas-jelas sudah punya pacar Dylan. Jen sudah ingin tertawa geli tapi diurungkan karena Bram melihat ke arahnya. Dia harus bertahan untuk tetap ngambek. Jaga imej Jen, batinnya.
"Oke class, saya lanjutkan. "Untuk bisa melakukan pura-pura mati kita butuh seorang pembimbing atau semacam pemandu. Satu-satunya orang yang bisa melakukannya hanya Dennis Reeve. Saat ini dia sudah berada di sana. Dengan kata lain tidak ada harapan bagi kita untuk bisa ke sana. Kita akan tetap di bumi selamanya, tua, dan mengalami kematian sampai sebuah teknologi mungkin bisa membantu kita ke sana."
Siswa masih antusias mendengarkan penjelasan dari Profesor James saat bell panjang mengakhiri pelajaran. Jen langsung berdiri dan mulai melangkah keluar kelas tanpa menoleh ke arah Bram dan Zul. Jen berlalu dengan gaya yang menurutnya keren. Dia berharap Bram dan Zul akan memanggilnya dan membujuknya untuk kembali.
"Jen!"
Kan bener, mereka manggil, batin Jen.
"Apa!" sahut Jen ketus tanpa menoleh.
"Lu, mau tinggalin tas lu di kelas?"
"Ha-ha-ha ...." Zul tertawa.
Jen selalu begitu. Kalau tidak ceroboh pasti lupa. Padahal Jen termasuk pandai hanya saja suka seenaknya sendiri dan tidak dewasa. Itu yang membuat Bram suka sekali meledek Jen. Jen kesal karena kedua sahabatnya justru meledeknya habis-habisan.
"Ahh, gue kan mau ngambek," rengek Jen membuat Bram gemas dan mengacak-acak rambutnya. "Udahlah, lu nggak pantes ngambek gini, jelak tauuu."
"Jangan berani menyentuh Jen!" ucap Bryan dengan suara dingin sambil mencengkeram lengan Bram. “She’s mine.”
Bram mengalah dan mundur. Bram tidak mau menyulut keributan dengan Bryan. Statusnya yang hanya Sultan KW di Soeltan High School bisa terancam. Lagi pula, bukan itu tujuannya sekolah di sekolah bergengsi ini. Dia sudah capek-capek ikut ujian masuk sekolah itu dengan susah payah.
"Sudah Bri, tadi Bram cuma bercanda."
"Whatever!" jawab Bryan.
Digandengnya tangan Jen keluar kelas dengan mesra. Bram mengepalkan jemari tangannya.
“Bryan itu siapanya Jen, sih. Gayanya kayak pacar yang posesif,” gumam Bram.
Ada sesak di d**a Zul melihat perhatian Bryan ke Jen. Seandainya itu gue, batin Zul sedih. Mei Hwa yang duduk di sampingnya mulai memahami kalau Zul suka dengan Bryan. Mei langsung memeluk Zul untuk memberi empaty.
"Come on baby, kita pulang," kata Dylan menggandeng tangan Mei Hwa.
"Duluan yah, Zul."
"Iya, Hwa," jawab Zul sambil bersiap melangkah keluar kelas.
“Bye, Bram,” ucap Zul.
Tinggal Bram yang ada di kelas. Bram melangkah dengan lesu. Entah kenapa melihat Bryan yang sangat protektif terhadap Jen membuatnya sedih. Sekarang susah sekali bercanda dengan Jen. Bahkan dia harus merencanakan kejahilan semata-mata agar bisa dekat-dekat dengan Jen. Saat kelas telah kosong, ada sepasang mata masih mengawasi diam-diam. Memperhatikan seisi kelas. Hawa dingin segera memenuhi ruangan.
Catatan:
*morte-orbis adalah planet kembaran bumi ciptaan James-Joseph seorang penulis di w*****d dalam cerita sci-fi yang berjudul Pura-pura Mati.