Hiro menjatuhkan teropong itu di atas kasur, lalu buru-buru pergi ke toilet karena ada panggilan alam. Saat sedang menuntaskan panggilan alam sembari asyik bersiul, mata Hiro tidak sengaja memperhatikan dinding kamar mandi. Dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Ini dia pangkal masalahnya, batin Hiro. Hiro dengan serius mengamati seluruh area kamar mandi. Dia tahu kamar mandi itu didesain khusus agar tidak bisa ditembus dengan teropong biasa. Brilliant.
Dinding kamar mandi itu semakin ke atas semakin tebal. Penyangga dinding pasti dibuat besi beton nomor satu. Itulah alasannya kenapa teropong ciptaan Hiro hanya mampu menangkap bagian kaki saat mengintip sesorang di princess room. Sensor UltraSpectrum yang disematkan pada teropongnya tidak mampu memaksa cahaya menembus dinding yang lebih tebal.
"Sial!"
Hiro tampak gusar dan segera menuntaskan urusannya di toilet, tetapi dia tidak segera keluar karena masih ingin mengamati dinding kamar mandi. Sesaat kemudian, aroma aneh mengganggu konsentrasinya.Pons varoli atau jembatan varol yang menghantarkan impuls bolak-balik dari otak besar ke otak kecilnya mulai terganggu dan mempengaruhi empat syaraf karnial sehingga Hiro tampak sulit bernapas dan ekspresi wajahnya jadi aneh.
"Ah, sial. Gue lupa tekan tombol dual flush! Pantesan bau banget!””
Hiro langsung menekan tombol dual flush, lalu keluar kamar bermaksud membeli minuman bersoda untuk menghilangkan rasa mual. Kepalanya juga sedikit pusing mencium aroma sisa metabolismenya sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya karena kesal, selama berjalan dari lorong prince room pikirannya menerawang, sibuk mencari solusi. Dia bahkan tidak menyadari sama sekali kalau beberapa detik yang lalu bajunya telah ditempel upil oleh Profesor Kaminari, saat berpapasan. Bau itu benar-benar mengganggu kinerja otaknya.
Hiro memasukkan selembar uang seratus ribu ke Vending Machine, menekan tombol, lalu menunggu minuman yang dia pilih dikeluarkan. Dua orang siswa berjalan melewatinya sambil berdiskusi. Hiro pura-pura tidak acuh dan sibuk dengan ponselnya.
"Gimana perkembangan penelitian lo dan Prof. Thomzgonez tentang sensor kamera Night Vision? Udah rampung belum?" tanya seorang siswa yang kebetulan lewat pada teman yang berjalan bersisian dengannya.
"Udah dong," jawab temannya itu.
“Bagaimana fungsinya? Apa hasilnya bagus?”
“Hasilnya luar biasa.”
Hiro yang tidak sengaja menguping tersentak. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman licik. Ah, itu dia solusinya. Jika aku menggabungkan sensor Nigh Vision dengan sensor UltraSpectrum, maka teropongku akan bisa memaksa cahaya menembus objek yang jauh lebih tebal, batinnya. Hiro kembali ke kamarnya setelah mendapatkan minuman yang diinginkan.
Sekarang Hiro tinggal memikirkan bagaimana caranya masuk ke laboratorium Prof. Thomzgonez. Itu bukan perkara mudah mengingat tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Saat Hiro sedang berpikir keras, seseorang menekan tombol mode tamu di pintu ruangan Hiro. Lagu Idea dari Gen Hishino mengalun hingga ke kamar Hiro. Hiro membuka pintu kamar dan mendapati Bram berada di depan pintu room-nya. Tombol merah di remote pintu ditekan oleh Hiro.
"Hai. Masuklah. Tumben kemari, ada apa?"
"Gue cuma mau kasih tahu, lo di suruh ke ruangan Prof. Thomzgonez sekarang."
“Pucuk dicinta ulam pun tiba,” cetus Hiro.
“Apa maksudnya?” tanya Bram penasaran.
“Enggak ada. Gue kan ngefans berat sama profesor itu,” elak Hiro.
Setelah menyampaikan pesan Prof. Thomzgonez, Bram bermaksud keluar, tetapi langkahnya terhenti saat melihat teropong di tangan Hiro.Tatapannya penuh curiga.
"Apa itu?"
"Oh bukan apa-apa. Hanya mainan." Hiro menyembunyikan teropongnya dibelakang punggungnya.
Bram yakin itu teknologi baru seperti penemuan-penemuan Hiro lainnya. Dasar orang Jepang. Kalian selalu tergila-gila dengan teknologi, batin Bram.
"Apa pun itu. Asal bukan untuk iseng ngintipin seseorang di seberang sana! Terutama Jen!"
Deg!
Hiro langsung kaget. Ini anak punya indra keenam kali, ya, batin Hiro. Ucapan Bram itu benar adanya. Hiro memakai lagi jaket hoodie-nya dan bergegas ke luar ruangan diikuti Bram di belakangnya. Di tangga mereka berpisah. Bram masuk ke ruangannya dan Hiro menuju garasi untuk mengambil sepedanya.
Julia baru keluar dari ruangan Prof. Thomzgonez saat Hiro hendak menekan tombol di pintu.
"Lo, Hiro, kan? Jadi ini calon asisten baru Profesor? Selamat, ya!" ucap Julia dengan nada tidak memuji, tetapi lebih terkesan sinis.
“Lo siapa? Gue kenal?” tanya Hiro tengil.
“Dasar robot!”
Hiro hanya tersenyum sekilas dan langsung masuk ke ruangan Prof. Thomzgonez. Hiro tahu, Julia adalah asisten Profesor Thomzgonez sebelumnya.
"Kamu sudah dengar dari Julia tadi, sekarang kamu asisten baru saya," sambut Profesor berbadan tegap itu.
Profesor merapikan beberapa tabung percobaannya lalu mempersilakan Hiro duduk. "Duduklah. Mulai sekarang kamu punya akses untuk masuk ke laboratorium ini dengan bebas. Ini tanda pengenal kamu. Saya tahu kamu tertarik dengan teknologi dan sering melakukan eksperimen untuk menciptakan penemuan terbaru." Prof. Thomzgonez menyerahkan ID card baru khusus untuk Hiro.
"Arigatou, Thomz-sensei. Terima Kasih." Hiro
“Iie, douitamashite. Menurut kamu, bagaimana jika sensor kamera night vision disematkan dalam kacamata para sniper?”
“Di Jepang teknologi itu sudah lama digunakan,” jawab Hiro singkat. Dia tidak mau menjelaskan panjang lebar karena takut tujuannya akan terbaca profesor di depannya itu.
“Kudengar juga begitu. Kamu sempat mempelajarinya?”
“Secara otodidak saja, sih. Sekadar ingin tahu.”
“Ada beberapa project siswa yang memiliki minat khusus pada sains yang belum sempat saya teliti ulang. Lain waktu mungkin kamu bisa membantu saya. Sekarang saya masih ada urusan, jadi besok kamu bisa mulai aktif sesuai jadwal yang akan segera saya kirim ke email kamu.”
“Baik, Prof.”
Hiro melangkah keluar dari ruang laboratorium. Dia berjalan dengan gaya elegan sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana dan sedikit bersiul. Benar kata orang, di mana ada kemauan, di situ ada jalan, batin Hiro. Selangkah lagi, maka keinginan Hiro untuk menyempurnakan teropongnya akan terwujud. Tunggu, Jen. Misi selanjutnya tidak akan seru tanpamu. Senyum nakalnya mengembang.
Sejak kembali dari ruangan Profesor Thomzgonez, wajah Hiro tampak riang. Bersekolah di Soeltan High School baginya cukup menyenangkan. Ada hal-hal di luar rutinitas yang bisa dia kerjakan. Hiro bukan cowok yang banyak teman, dia cenderung memisahkan diri dari pertemanan dan memilih fokus dengan dirinya sendiri. Di kelas dia termasuk yang paling jenius, bicaranya lugas dan kadang menyinggung perasaan orang lain. Satu-satunya ketertarikan Hiro adalah pada teknologi.
Hiro baru saja mau masuk ruangannya ketika sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
“Ya ampun, lu lagi, lu lagi. Sial amat gue hari ini,” oceh Hiro.
“Ngapain di ruangan Profesor itu,” tanya Bram kepo.
“Bukan urusan lu, “ sahut Hiro langsung ngeloyor masuk ke ruangan dan menguncinya.
“Awas kalau lu macam-macam dengan penemuan lu!” teriak Bram.
Hiro mengacungkan jari tengahnya dan masuk kamar. Penat pikirannya seharian tadi. Dia langsung tidur memeluk teropongnya.