“Ke mana kau akan bersembunyi?” ucap nenek bertudung hitam itu begitu tiba-tiba, membuat gadis yang duduk di sampingnya tampak kebingungan.
Gadis itu menoleh ke sekitarnya, memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan sang nenek misterius yang tidak dikenalnya itu di sana. Nenek itu mengenakan mantel hitam panjang bertudung yang lusuh. Bekas tambalan bahkan terlihat di beberapa bagian mantelnya.
Apa dia gelandangan? pikir si gadis sambil terus mengawasi gerak-gerik sang nenek.
Gadis itu mengamati lebih seksama. Punggung sang nenek sedikit bungkuk dan kepalanya tertunduk. Sayangnya, penerangan di taman itu cukup minim, membuat si gadis jadi tidak bisa melihat wajah sang nenek dengan jelas.
“Maaf?” Setelah asyik mengamati dan memastikan bahwa nenek itu memang benar berbicara padanya, si gadis berkacamata itu mengalihkan pandangan pada sang nenek lalu meminta nenek itu untuk mengulangi kata-katanya.
“Kau itu ingin pergi dan bersembunyi, kan? Kau sudah lelah dengan kehidupanmu saat ini. Semuanya terasa palsu bagimu. Kau ingin kehidupan yang nyata. Kau ingin hidup sesuai apa yang hatimu inginkan.”
Kali ini, sang nenek menoleh ke arahnya. Gadis muda itu terkejut bukan main. Bukan hanya karena sang nenek misterius itu telah berhasil membaca seluruh isi kepalanya, tapi juga karena rupa sang nenek dan tatapan tajam yang diberikannya terasa sangat menakutkan di bawah cahaya lampu taman yang temaram.
Si-siapa dia? Bagaimana nenek ini bisa mengetahui segala yang kupikirkan? Gadis itu terbelalak. Meskipun tatapan sang nenek benar-benar membuatnya tidak nyaman, tapi entah mengapa ia tidak bisa memalingkan wajahnya. Gadis itu bahkan merasa tak bisa bergerak dan sulit bernapas.
“Jangan takut. Aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu.” Seolah mengetahui ketakutan yang dirasakan gadis itu, sang nenek mencoba menenangkan.
“Ta-tapi, b-bagaimana kau ...?” ucap gadis itu terbata-bata.
“Maksudmu, bagaimana aku bisa mengetahui segalanya?” Nenek itu tertawa. Tawanya melengking dan tak kalah menakutkan dari ekspresi wajahnya. “Kurasa kau tidak perlu tahu bagaimana aku tahu, gadis muda. Dengan pertanyaanmu itu, apa artinya semua yang kukatakan memang benar? Kau ingin kehidupan yang nyata. Kehidupan layaknya orang normal. Kau ingin kehidupan yang tenang, tanpa perlu mengkhawatirkan tatapan atau penilaian orang lain terhadapmu. Aku benar, kan?”
Nenek itu tersenyum, matanya masih menatap lurus mata gadis itu, seolah ia sedang berusaha menyelami seluruh isi kepala dan hati gadis yang kini terlihat gemetar ketakutan oleh semua perkataannya.
“Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu jawabannya. Oleh sebab itu, saat ini aku ingin menawarkan sebuah bantuan kecil untukmu.” Nenek itu menggenggam tangan si gadis dengan lembut, bermaksud meredakan rasa takut gadis itu. Setelah tangan dalam genggamannya berhenti gemetar, sang nenek merogoh sesuatu dari balik mantel panjangnya. Mengeluarkan sebuah benda bulat yang tampak berkilauan ketika disinari cahaya redup bulan purnama yang semula tertutup awan.
“Benda ini mampu memberi sedikit bantuan.” Nenek itu menyerahkan benda bulat berkilauan dari sakunya pada si gadis. Sebuah benda yang sangat cantik. Sebuah benda yang siapa pun tak akan pernah menduga bahwa itu adalah benda milik seorang nenek tua berwajah menyeramkan dengan jubah mantel kumalnya.
“Ce-cermin?” Gadis itu membolak-balik cermin di tangannya, lalu menatap sang nenek dengan pandangan bertanya-tanya.
Nenek itu kembali tersenyum. Kali ini senyumannya menyiratkan bahwa ia menyembunyikan rahasia. Sebuah rahasia yang akan ia bagi sebentar lagi dengan gadis berkacamata yang tampak gelisah memandangnya.
“Kau tahu? Benda yang berada di tanganmu itu adalah ... Speculum Magica.”
***