“Pulang jam berapa?” Al mengirim pesan singkat itu kepada sang istri. sesekali ia melirik jam, seharusnya Celine sudah di rumah tiga puluh menit dari sekarang. Lima menit, sepuluh menit, bahkan hingga dua puluh menit setelahnya Celine tak kunjung membalas. Ia masih ingin membicarakan perihal kepindahan mereka ke apartement, ia masih ingin bernegosiasi, ia masih ingin meminta persetujuan Celine akan hal itu.
“Gimana? Belum di balas ya?” Di sampingnya ada Dianty, yang sesekali mengintip ke arah ponsel pria bertubuh tegap itu, berharap nama Celine tiba-tiba muncul di sana.
“Belum.” Balas Al, singkat. Dianty mengangguk, sesekali ia tersenyum menyapa para suster dan dokter yang mengenalnya. Ya saat ini mereka berdua tengah berdiri di koridor ru