Safire memarkir motornya di depan toko kue kecil yang letaknya berjarak sepuluh bangunan dari tempat kerja Yehana. Begitu ia masuk ke dalam, matanya di kejutkan oleh sosok Damirn yang duduk sambil menyeruput secangkir frappucinno hangat. Pria dengan jas biru malam itu mendelik kearah Safire.
"Selamat pagi, Tuan." Safire membungkukkan tubuhnya. Damirn sama sekali tak mengubris, ia hanya mengedip sekali lalu kembali meminum minumannya.
"Tadi aku memeriksa keadaaan ibumu, dan tampaknya ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, temui dia hari ini, kau pasti rindu padanya, 'kan?" Damirn berucap dingin, mendengar perkataan Damirn membuat Safire berlutut di hadapannya, mata gadis itu berbinar.
"Benarkah Tuan?"
Damirn mengangguk, "kau tadi menghantar Yehana?" tanyanya, Safire mengangguk pelan, ia tersenyum manis. "Iya Tuan,"
"Bukannya aku tidak menyuruhmu untuk bertindak seperti itu?" Damirn menatap Safire, tatapannya begitu menusuk, membuat Safire menjadi cemas. "A,aku... a,ku hanya---"
"Lakukan itu setiap hari, jangan biarkan dia berangkat bersama oranglain." potong Damirn pada kalimat Safire, "Aku pergi dulu," Damirn berdiri, tanpa menunggu jawaban Safire. Pria itu segera melenggang keluar toko.
Safire hanya bisa terdiam, tidak menyangka kalau Damirn tidak marah akan tindakannya yang semena-mena. "Aku tahu, Tuan sebenarnya orang baik... percayalah padaku Tuan, aku tidak akan membiarkan Yehana bersama pria lain selain anda." ucap Safire pelan.
STALKER OBJECT
Damirn menghentikan mesin mobilnya, ia membuka kaca. Menatap pemandangan yang berhasil membuat emosinya tersulut. Di dalam butik, tampak Danial tengah berbicara bersama Yehana, cukup lama Damirn memperhatikan dua orang berbeda gender tersebut, sampai akhirnya ia memilih menutup kaca jendela kembali lalu membawa mobilnya menjauh. Wajahnya menekuk, mata blackjetnya lurus kedepan, ia kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dengan kedua alis yang masih menekuk, Damirn mengarahkan mobilnya ke toko bunga, ia tak mau marah berlama-lama karena itu tidak baik. Ia tidak mau kehilangan hati kalau terus bertingkah seperti ini, membunuh Berlin sudah bisa ia jadikan pelajaran paling berharga dalam hidupnya karena sudah menuruti nafsu dan membela sifat possesifnya.
Damirn harus melawan kegelapan yang sudah menguasai setengah hatinya. Ia takut kalau terus meladeni sifatnya yang terlalu mencintai sesuatu, bisa-bisa membuatnya kembali kehilangan orang yang di cintainya, dan orang itu adalah Yehana.
Gadis dengan nametag Rebecca Cordi di d**a kanannya menoleh kearah pintu dengan senyuman khas begitu Damirn masuk kedalam toko, gadis itu melepas ponsel yang sebelumnya ia pegang. "Hai, Damirn... kenapa kelihatan kesal?" tutur Rebecca, Damirn terdiam, ia memilih mengeluarkan dompetnya lalu memberikan uang yang cukup untuk membayar bunga yang selalu ia beli setiap hari.
"Kau tahu, aku... mengenal gadis beruntung yang selalu mendapat bunga darimu ...."
Damirn menatap Rebecca yang masih dengan senyumannya. Ia ikut menatap Damirn dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Mata hazel yang ia dapat dari sepasang lensa kontak itu menyelami mata Damirn, mencoba membaca isi pikiran pria tersebut. "Dia gadis cantik yang bekerja di sebuah butik, 'kan?" Rebecca mengambil beberapa bunga mawar dari bejana air,
"Bagaimana kau bisa tahu?" Damirn akhirnya tak bisa menahan kalimat penasarannya lebih lama, seharusnya tak ada yang tau selain orang suruhannya mengingat Damirn yang begitu teliti dalam melakukan apapun. Rebecca melebarkan senyumannya, ia kemudian tertawa geli. "Jadi aku benar? hahaha... padahal tadi aku hanya menebak saja, karena aku pernah melihatmu bersamanya beberapa hari lalu, waaaah aku benar-benar iri."
Damirn menautkan alisnya, ia benar-benar tidak menyukai gadis di hadapannya ini. "Berikan bungaku lalu aku akan segera pergi ...."
"Baiklah, baiklah, maafkan candaanku kalau itu membuatmu tersinggung. Ini... semoga harimu menyenangkan ya, Damirn." Rebecca menarik uang yang Damirn letakkan diatas meja kasirnya, senyuman tak henti ia berikan kepada Damirn, walau sekalipun senyumannya tak pernah di balas Damirn. Setelah mendapat apa yang ia butuhkan, Damirn segera melenggang keluar, menyisakan Rebecca di dalam sana.
Sendirian.
Senyumannya memudar, ia duduk di atas kursi. Mencopot wig yang dipakainya lalu menuangkan micelar water untuk menghapus segala riasan yang hari itu di pakainya.
"f**k!" umpat Rebecca pelan.
STALKER OBJECT
Malam kian melarut, sebentar lagi butik tempat dimana Yehana bekerja mencapai batas jam kerja. Yehana tiba-tiba mengingat perkataan Ronald tadi malam, ia terdiam lalu mengambil ponsel yang ia taruh di saku seragamnya, Yehana membuka silikon ponselnya. Mengamati kartu nama yang semalam ia dapat dari Ronald. "Apa ku hubungi saja?" Yehana terlihat menimbang-nimbang, pada akhirnya ia memilih untuk menghubungi nomor Ronald meski hanya sekedar mengirim pesan singkat.
Yehana : Malam Ronald, bisa kita bertemu besok?
Dengan setengah ragu, Yehana mengirim pesan tersebut. Lampu tempat di mana Yehana berada tiba-tiba mati, menyadari kalau ruangan tempat di mana para manekin serta baju mahal itu berada sudah gelap, segera Yehana menuju pintu belakang. Menyusul Fiola dan beberapa teman lainnya.
"Hng, Yehana... kau masih di sini?" tanya Fiola sembari melepas higheels yang di pakainya. Yehana tersenyum, "tentu saja, jam kerja, 'kan baru saja berakhir." ucapnya lalu membuka loker, mengambil baju ganti yang di pakainya tadi pagi berangkat kerja.
"Aku duluan ya,"
Fiola mengangguk, membuat Yehana melenggang kearah toilet. Begitu Yehana kembali ke tempat loker, hanya tersisa dua orang rekan kerjanya di sana, Fiola dan beberapa rekannya yang bekerja di lantai bawah sudah tak terlihat, Yehana kurang mengenal dua orang gadis yang terlihat sedikit senior itu, alhasil ia hanya tersenyum kecil lalu membungkukkan tubuhnya tanda kalau Yehana sedang menyapa dengan sopan dan hormat.
"Eh, Yehana... kenapa belum pulang?" tanya salah satu dari wanita yang tengah berbicara itu. Yehana behenti, ia menyelipkan anak rambutnya di daun telinga. Sambil tersenyum Yehana menjawab, "ah, tadi resleting seragamku macet, makanya aku sedikit lama di dalam toilet." jawab Yehana jujur, membuat senior kerjanya yang bertugas di lantai dua itu mengangguk mengerti. Setelah berpamitan Yehana lalu keluar, udara dingin kontan menyambut tubuh kecilnya. Yehana menghela nafas, ia terus mencoba menghubungi Danial tapi tak ada jawaban.
"Katanya mau menjemputku, kenapa tidak datang? Dasar ...." gerutu Yehana pelan sambil menatap layar ponselnya. Mata Yehana terus terarah ke sisi kanan dan kiri jalan, yang berhasil ia temukan hanya sepasang lampu mobil yang tampaknya masih jauh.
"Semoga itu Danial," harap Yehana, menunggu sedikit lama. Mobil itu akhirnya mendekat, sebuah mobil asing dengan warna marun gelap. Dahi Yehana berkernyit, ia memundurkan langkahnya, bersiap kabur kalau saja orang di dalamnya adalah orang jahat. Jendela mobil perlahan turun, senyum lebar menyambut Yehana. Ronald duduk di kursi kemudi sambil melambaikan tangannya.
"Hai ...." ucapnya sambil menaik-turunkan alisnya.
Melihat siapa yang berhenti membuat Yehana bernafas lega, sudut bibirnya tertarik keatas. "Ronald... mau kemana?" tanya Yehana, Ronald masih dengan senyumannya.
"Pulang, aku ada kelas malam di kampus. Kau sendiri, sedang apa di sini sendirian?"
Yehana mengangguk, "aku baru pulang kerja, dan sekarang sedang menunggu temanku menjemput." mendengar perkataan Yehana membuat Ronald melebarkan senyumannya.
"Naiklah, aku akan mengantarmu... sudah hampir jam sebelas dan tidak baik kalau kau berdiri di tepi jalan seperti itu, apalagi sendirian." Yehana tersenyum, tapi ia menggeleng. "Kau teruskan pulang saja, temanku pasti akan datang sebentar lagi ...."
Ronald sempat diam sejenak, "Yakin? Bagaimana kalau yang datang malah orang jahat? ayolah Yehana... biarkan aku berbuat baik." Ronald melepas sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil. Di tangan kanannya terdapat sebuah saputangan berwarna hitam. "Mari," ajak Ronald kembali. Kalau mengikut hati, Yehana tidak akan menolak, namun mengingat fakta kalau ia barusaja mengenal Ronald membuat dirinya ragu.
"Tidak usah Ronald ...." kekeuh Yehana, membuat Ronald terdiam.
"Kalau begitu... akan ku paksa." ucapnya pelan lalu segera menyekap mulut Yehana dengan sapu tangan yang di pegangnya. Untuk sesaat Yehana mencoba memberontak, namun bau obat dari sapu tangan yang di tempelkan Ronald di mulutnya menyita habis kesadarannya. Alhasil, Yehana tak sadarkan diri.
STALKER OBJECT