Gelap, takut dan dingin.
Itulah yang Yehana rasakan sekarang, ia tak kenal daerah tempat tinggal Damirn, dan itu semakin membuat jantungnya berpacu cepat, mengetahui kalau Damirn adalah orang yang selama ini menjadi penguntitnya saja sudah cukup membuat Yehana takut setengah mati. Ia terus memicu langkahnya kedepan, tak ada lampu jalan sama sekali, di kiri kanan jalan juga hanya terdapat pohon-pohon menjulang tinggi yang menghalangi sinar bulan.
Di tengah Yehana sedang berlari, sebuah tangan menarik lengannya, membuat dirinya masuk ke dalam pelukan seseorang.
"Kalau ingin pergi, biarkan aku mengantarmu."
Mata Yehana membesar ketika ia menatap wajah pria yang tengah mendekapnya, orang itu adalah Damirn yang kini sedang menatap Yehana dengan sorot mata yang dalam dan tanpa ekspresi wajah sedikitpun. Yehana mencoba memberontak dengan cara menggeliatkan tubuh kecilnya, namun semakin kuat ia berusaha, semakin erat pelukan yang Damirn berikan.
"Jangan membantah Yehana... tempat ini jauh dari kota, dan kalau kau bersikeras untuk tetap pergi dengan cara berlari, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, pertama kau akan di makan hewan buas, lalu kedua kau akan bertemu penjahat yang akan memperkosa lalu membunuhmu." jelas Damirn dengan nada serius,
"Lalu apa bedanya denganmu?!"
Damirn terdiam, ia terus menatap manik mata Yehana. Damirn memejamkan matanya sejenak, lalu mengeratkan pelukannya pada Yehana.
"Aku tidak pernah berniat jahat padamu Yehana," ucap Damirn setengah berbisik, mencoba menenangkan Yehana yang detak jantungnya berpacu sangat cepat, "aku mohon, dengarkan aku... biarkan aku obati lukamu lalu mengantarmu pergi dari sini, setelah itu... aku berjanji kalau aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu,"
Yehana terkesiap ketika mendengar ucapan Damirn, ia perlahan menjadi tenang. "Dari pergerakan tubuhmu, kau sepertinya setuju? Benar begitu?" Yehana mengangguk, Damirn merenggangkan dekapannya, ia masih menatap Yehana dengan lekat, namun kini dengan sorot mata yang berbeda, kedua retina matanya mengisyaratkan kesedihan.
"Mari,"
Yehana diam saja ketika Damirn menuntun lengannya untuk kembali ke mansion Damirn,
Senyap.
Tak ada dialog diantara mereka, Yehana menatap punggung Damirn yang tegap, sulit rasanya percaya kalau orang di hadapannya itu adalah orang yang selama ini ia takuti, pasalnya Damirn di mata Yehana begitu sempurna, hampir tak bercelah. Dari sifatnya, penampilannya, juga gaya hidupnya.
"Setelah aku membiarkanmu mengantarkanku, kau benar-benar akan pergi meninggalkanku, 'kan?" tanya Yehana,
"Hm, bukan hanya kau... aku juga akan meninggalkan Indonesia," jawab Damirn, Yehana menghentikan langkahnya, membuat Damirn melakukan hal yang sama. "Kemana kau akan pergi?" tanya Yehana pelan, Damirn menoleh kearahnya sejenak, menyerang Yehana dengan tatapan dinginnya.
"Kau tak perlu tahu ...."
Damirn kembali melangkah, menuntun lengan Yehana untuk mengikuti pergerakannya, mereka berdua kembali saling terdiam, yang terdengar malam itu hanya bunyi jangkrik serta hembusan angin malam yang menabrak dedaunan pohon pinus.
Damirn serta Yehana masuk keruangan yang sebelumnya Yehana lari dari sana, "Duduklah, ini takkan lama." ucap Damirn lalu beranjak, ia menjangkau kotak p3k yang tergeletak di atas lantai marmer berwarna hitam di kamarnya, Yehana menatap sekitar, pemandangan kamar Damirn membuat dirinya bergidik ngeri. Bagaimana tidak, semua dinding itu di penuhi oleh namanya, juga foto dirinya yang di balut oleh bingkai besar dan mahal. Mata Yehana berhenti di sebuah foto Damirn tengah mengenakan jas dokter bersama seorang gadis yang tangannya memegang tongkat jalan. Yang membuat Yehana tertarik adalah wajah gadis itu, sangat mirip dengan dirinya,
"Kau lihat apa?" tanya Damirn yang kini sudah berada di depannya, pertanyaan Damirn berhasil membuat Yehana menatapnya, gadis itu hanya menggeleng pelan, ia tak mau menanyakan soal foto yang barusaja ia lihat meski sebenarnya ingin. Damirn mengangguk paham, "Maaf." ucapnya pelan lalu mengusapkan kapas yang sudah ia beri alkohol ke luka Yehana, sangat pelan dan hati-hati sehingga Yehana tidak meringis sama sekali. Di posisi mereka yang sekarang begitu berdekatan, Yehana terus menatap mata hitam pekat Damirn, sebelum malam ini, gadis itu selalu gagal menebak arti dari tatapan Damirn, serta isi fikiran pria itu. Namun sekarang, matanya jelas mengisyaratkan kesedihan, mata Yehana berkaca, dirinya jelas masih merasa takut sekarang, bahkan sangat takut, namun di sisi lain, ia juga merasa sedih, dan apa itu alasannya,
Yehana tidak tahu.
Damirn selesai membalut luka Yehana dengan perban, ia kemudian berdiri. "Ayo... aku antar," ucapnya lalu melenggang keluar, sebelum menyusul langkah Damirn, Yehana sempat menyentuh perban yang Damirn pasangkan di pipinya.
"Damirn!" panggil Yehana,
Damirn menghentikan langkahya, Yehana menelan ludah, "itu... k,kau juga terluka, sebelum kita pergi, a,apa boleh aku mengobatinya?"
Damirn tersenyum miring, "Jangan bersimpati padaku, kalau kau terus mengulur waktu, aku bisa berubah fikiran dan mungkin... kau tidak akan pernah keluar dari sini." ucap Damirn dingin lalu kembali melangkah.
STALKER OBJECT
Matahari belum keluar sama sekali, namun Safire sudah keluar dari kamar kostnya dengan tergesa, setelah mendapat telfon dari Damirn beberapa saat lalu, wanita dengan umur 21 tahun itu memacu motor maticnya, perkataan Damirn yang tiba-tiba mengatakan kalau pagi ini ia akan pulang ke Amerika membuat Safire amat terkejut.
Saat Safire tiba di mansion Damirn, terlihat Damirn tengah memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil,
"Tuan!" panggil Safire sambil menghentikan motornya dengan tergesa, ia tak bisa menahan airmata saat melihat kenyataan kalau Damirn tidak main-main dengan ucapannya.
"Safire?!"
"Tuan tidak bisa pulang sekarang, bagaimana dengan restoran? Bagaimana dengan ibuku dan bagaimana dengan Yehana? kenapa Tuan mau meninggalkan semua itu begitu saja?" ucap Safire dengan penuh emosi, ia tak bisa membendungnya, alasan utama dia seperti ini adalah perasaan tersembunyinya pada Damirn, tapi sebisa mungkin ia mengesampingkan itu semua mengingat Damirn yang begitu terobsesi mendapatkan Yehana.
Damirn terdiam, ia menatap Safire dengan tatapan yang tak bisa di artikan, "Kau tak perlu khawatir soal ibumu... sesampainya di Amerika nanti, aku akan mengirim uang untukmu, jadi kau bisa memindahkan ibumu ke rumah sakit besar, dan dengan arti lain, kau bebas... kontrak kita selesai."
Safire menggeleng kuat, "tidak Tuan! Anda tidak bisa seperti ini. Ibuku belum sadarkan diri dan tuan sendiri belum mendapatkan Yehana, ini tidak sesuai perjanjian kita." tukas Safire tak terima, Damirn tersenyum simpul, "Restoran serta toko kue, kau saja yang urus... kau sedari dulu ingin sekali punya toko kue sendiri, 'kan?"
"Tuan!!!" jerit Safire marah, karena Damirn sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dengan benar.
Damirn menghela nafas, "Safire... aku tahu keputusan yang ku pilih ini benar, aku sudah kehilangan Amily, dan beruntungnya sekarang... aku bertemu Yehana, tapi sepertinya kehadiranku hanya membuatnya menderita serta dalam bahaya, aku menginginkannya Safire... tapi aku tidak mau membuat gadis yang ku cintai menderita, kau adalah satu-satunya orang yang paling tau diriku, dan bukannya kau selalu mendukung keputusanku?"
"Tapi Tuan---"
Damirn tersenyum, ia menyentuh pucuk kepala Safire, "jangan membantah, hiduplah dengan tenang sesuai perkataanku, maka aku akan menemuimu di suatu hari nanti, lagipula... sudah satu tahun aku tidak mengunjungi makam Amily,"
Perkataan final Damirn membuat Safire terdiam, ia tak bisa menahan langkah Damirn yang kini hendak masuk ke dalam mobil, meski sebenarnya ia sangat ingin. Mata Safire mengikuti mobil Damirn yang kini sudah beranjak meninggalkan halaman mansionnya, Safire meluruh duduk. Tangis gadis itu pecah, ia menangis hingga matahari mulai menampakkan diri. Setelah puas melampiaskan emosinya Safire lalu mendongak, "masih sempat," ucap Safire tiba-tiba, dengan berlari kecil ia menuju motornya lalu ikut pergi.
STALKER OBJECT
Sejak Damirn mengantarkan dirinya pulang kemarin malam, Yehana tak bisa tidur sama sekali. Ia takut kalau ia tidur, Damirn tiba-tiba masuk ke dalam kamar kostnya, Yehana bangkit dari duduknya, membuka lemari lalu mengeluarkan tas besar dari dalam sana. Yehana menghela nafas,
"YEHANA!"
Sontak perhatian Yehana teralihkan kearah pintu, ia kenal suara yang menyerukan namanya serta menggedor-gedor pintu kostnya dengan penuh emosi. Yehana berjalan menuju pintu dengan ekspresi bingung, ia membuka pintu dan menemukan Safire dengan mata yang sembab.
"Ayo cepat!" tanpa dialog lain, Safire langsung menarik lengan Yehana.
"Mau kemana Safire? Dan kenapa matamu sembab?" tanya Yehana bingung, Safire menghentikan langkahnya, "Damirn... dia mau ke Amerika, ayo kita harus cepat sebelum pesawatnya tiba!" Safire hendak menarik lengan Yehana lagi, namun Yehana diam di tempat.
"Safire..." panggil Yehana, Safire menoleh kearahnya, "aku tidak mau, biarkan saja orang sinting itu pergi." gumam Yehana pelan, Safire jelas mendengar itu, namun ia memilih mengkerutkan dahi, barangkali ia salah dengar.
"Apa?"
Yehana menatap manik mata Safire, "kataku, biarkan saja orang sakit jiwa itu pergi!"
Safire melongo, "a,apa katamu?"
"Orang sa---"
Plakkk!
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi kanan Yehana, perkataannya membuat Safire tersulut emosi dan ringan tangan. "Jaga mulutmu! kau tidak tahu kondisi Tuan! Kalau sampai dia pulang ke Amerika, maka semuanya akan gawat."
Dahi Yehana bekernyit, "tuan?"
STALKER OBJECT