Siang itu perpustakaan sekolah cukup ramai, ada banyak siswa yang sedang mengerjakaan tugas. Dari dulu memang seperti ini budaya sekolahnya, walau sekolah swasta tapi kedisiplinan dan prestasinya jangan ditanya. Di sekolah ini pun ada pendidikan kepribadian, memang banyak anak-anak dari kalangan atas bersekolah di sini. Untuk sementara sekolah baru ini tetap memakai nama Rowand paling tidak sampai anak tahun satu lulus. Banyak dari mereka yang tak setuju jika nanti ketika lulus tidak ada nama Rowand diijazahnya. Apalagi hampir delapan puluh persen siswa di sekolah baru ini memang sudah bersekolah di Rowand sejak di bangku dasar. Masa ketika lulus nama sekolah mereka berubah, kan tidak lucu, walau masih satu yayasan.
Ryea dan Eliot memilih duduk di kursi agak belakang di dekat jendela, kursi yang sering mereka tempati bersama teman mereka yang lain jika berkunjung ke perpustakaan. Kursi itu sudah seperti di booking oleh mereka dan tidak ada yang mau menempatinya. Kurang rajin apa mereka, tempat berkumpulnya di perpustakaan, selain di kantin tentunya. Gedung perpustakaan sekolah ini tak kalah bagus dari gedung perpustakaan sekolah mereka sebelumnya, hanya saja desainnya lebih minimalis dan ukuran gedungnya tidak terlalu besar. Siswa siswi lainpun sudah menganggap mereka satu rombongan, di mana ada Eliot dan teman-temannya di sana pasti ada Ryea dengan ketiga gadis lainnya dan begitu sebaliknya. Ryea yang sebelumnya risih jika menjadi pusat perhatian, akhir-akhir ini sudah mengabaikan rasa risihnya itu dan terkesan cuek. Awalnyapun mereka heran kenapa bisa akrab padahal sebelum-sebelumnya tidak, tapi akhirnya mereka tidak peduli lagi dengan itu.
Dari sejam yang lalu Ryea dan Eliot masih berkutat dengat tugas mereka, sekolah mereka ini memang mengerikan jika sudah memberikan tugas liburan. Ya untung saja tugas mereka sudah tidak terlalu banyak lagi, setelah ini bisa santai. Lebih baik mengerjakan tugas di awal liburan seperti ini daripada di akhir liburan, yakinlah akan sangat malas untuk membuka lembar demi lembar tumpukan buku yang harus di jawab.
Eliot mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan melakukan peregangan, tangan dan punggunya sakit. Ia melihat Ryea yang pandangannya tak lepas dari buku di depannya.
“Masih banyak?” tanyanya.
“Tidak, tinggal sedikit lagi. Tugasmu bagaimana?”
“Sama.”
“Habis ini mau ke mana?” tanya Ryea sambil menatap Eliot.
“Ke pusat kota saja, rasa-rasanya sudah lama tidak ke sana. Lagi pula kita juga belum bisa latihan lagi kan.”
Ya sudah, ayo segera selesaikan semua tugas ini.” Mereka kembali larut dengan tugas masing-masing.
Tepat pukul dua siang mereka berdua telah selesai dengan semua tugas liburan dan setelah meletakkan buku di kamar, merekapun melesat menuju pusat berbelanjaan. Ryea merasa agak aneh, soalnya kali ini mereka pergi berdua saja. Biasanya Ryea akan pergi dengan Jean, Maria, dan Yura atau mereka akan pergi berdelapan dengan teman-teman Eliot juga. Ini bukan hal pertama, tapi tetap saja masih terasa agak canggung. Siang itu sampai sore dihabiskan Ryea dan Eliot untuk jalan-jalan, sekaligus refreshing.
***
Satu jam sebelum jam makan malam, Ryea kedatangan tamu. Rafael datang membawa pesanan Ryea, pedang kesayangannya.
“Apa kabar Rafael?” Tersungging senyum indah di bibir Ryea saat melihat Rafael.
“Kabar baik, Putri,” jawab Rafael sambil menundukkan kepalanya. Memberikan hormat padanya.
“Jangan terlalu formal seperti itu. Tidak ada siapapun di sini.” Ryea mendengus.
“Tapi itu tidak sopan.”
“Bisakah kau memanggilku dengan nama saja? Kau ini selalu saja kaku.”
“Ta-“
“Aku tidak mau dibantah, Rafael.” Tegas Ryea, ia duduk sambil berkacak pinggang.
“Baiklah kalau begitu.” Ryea tersenyum mendengar jawaban Rafael.
“Apa tujuanmu kemari membawa pedangku?”
“Benar, aku telah mengambilnya dari ruang penyimpanan.”
“Baguslah kalau begitu, aku benar-benar membutuhkannya.” Ryea merasa lega setelah pedangnya telah kembali padanya.
“Apa kau benar-benar tidak ingin kembali? Aku sempat bertemu Gabriel saat mengambil pedang milikmu, katanya ia sangat merindukanmu.” Rafael sudah tidak sungkan untuk berbicara santai, hanya saja masih terdengar kaku.
“Nanti aku akan pulang pada waktunya dan aku mohon jangan bahas masalah ini lagi.” Ryea menampilkan raut wajah kesal.
“Baiklah, aku tidak akan memaksa lagi.” Rafael menyerah membujuknya untuk kembali, yang jelas ia sudah berkata akan kembali nanti. Paling tidak Rafael sudah berusaha.
“Di mana pedangku?” tanya Ryea sambil tersenyum, ia menatap Rafael dengan sorot mata bahagia sekarang, raut kesalnya sudah hilang entah kemana.
Sedetik kemudian Rafael mengeluarkan pedang bersarung putih tersebut dan menyerahkanya pada Ryea. Ryea sangat bahagia, akhirnya bisa mendapatkan pedangnya kembali, patner tempurnya. Pedang yang ada digenggaman Ryea saat ini merupakan salah satu karya dari bangsa kurcaci dan merupakan pedang legendaris. Hanya makhluk yang memiliki kekuatan besar, berhati kuat dan pemberani yang dapat menjadi tuan dari pedang Freyr.
Kaum iblis dan mailakat tidak memiliki kemampuan penempa senjata, mereka memanfaatkan kelihaian kurcaci untuk persenjataan mereka. Di antara ribuan karya kurcaci ada beberapa senjata yang benar-benar kuat, bahkan bisa tergolong senjata legendaris, senjata legendaris itu memilih tuannya sendiri. Tidak sembarang makhluk yang dapat menggunakannya, hanya yang benar-benar sesuai yang bisa menggunakan kekuatan pedang legendaris itu secara utuh, jika tidak pedang-pedang legendaris itu sama saja dengan sampah, tak berguna.
Di antara pedang legendaris itu ada pedang Fryer, pedang milik Seraphina dan pedang Tyrfing milik Apollyon. Dua pedang ini sangat kuat, pedang milik Seraphina merupakan pedang berkuatan magis yang sangat tinggi, bahkan pedangnya bisa terbang dan bertarung sendiri, sedangkan pedang Tyrfing adalah pedang yang akan selalu menelan banyak nyawa serta pedang ini akan tetap tajam dan tidak akan pernah bisa berkarat. Dua pedang tingkat tinggi ini penggunanya harus memiliki kemampuan di atas rata-rata bahkan bisa dikatakan jauh di atas rata-rata agar bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya.
Ajaibnya kedua pedang itu muncul saat kelahiran Seraphina dan Apollyon ratusan tahun lalu, asal usulnya tidak diketahui. Pernah ada malaikat yang ingin mencoba menggunakan pedang misterius itu, malaikat tahu jika pedang misterius itu memiliki kemampuan yang tinggi. Tapi sayang, pedang itu sama sekali tidak mengeluarkan kemampuannya. Satu persatu malaikat mencoba menggunakan pedang itu dan hasilnya nihil.
Ketika salah satu kurcaci datang berkunjung ke Archangel, Michael menanyakan pedang itu pada kurcaci tersebut dan betapa kagetnya kurcaci itu saat melihat pedang yang dibawa oleh Michael kehadapannya, ia berkata bahwa tidak ada satu pun dari kaumnya yang dapat menggunakannya. Kurcaci tersebut mengatakan kalau pedang itu merupakan salah satu dari pedang legendaris yang ditempa oleh leluhur mereka dulu sekali dan bukan sembarang pedang, karena pedang itu mempunyai kekutan magis yang sangat tinggi, pedang itu hilang saat si penempanya mati dan tak pernah ditemukan lagi. Ada rumor soal pedang itu, katanya pedang itu akan muncul kembali saat pemiliknya yang sah ditemukan. Tidak ada yang tahu seperti apa bentuk asli pedang tersebut, hanya ada dokumen dan gambar dari pedang tersebut yang ditinggalkan oleh penempanya, tapi kurcaci itu dapat mengenali dengan jelas pedang yang ada pada Michael dan ia sangat yakin jika pedang dihadapannya adalah salah satu dari dua pedang legendaris tertinggi yang pernah ditempa oleh kaumnya.
Kurcaci tersebut bertanya pada Michael di mana ia mendapatkan pedang itu, Michael pun berkata pedang ini tiba-tiba muncul di ruang penyimpanan senjata dan tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Kurcaci pun mengerutkan dahinya seperti sedang berfikir keras, kemudian ia bertanya lagi apakah ada suatu kejadian saat pedang itu ditemukan. Michael berkata pedang itu muncul saat putrinya lahir. Mata kurcaci itu pun membola sempurna, ia berkata bisa jadi pedang itu adalah milik putri Michael mengingat tidak ada satu pun malaikat yang dapat menggunakannya, kurcaci itu pun mengatakan nama padang tersebut, nama pedang itu adalah Fryer. Sejak saat itu pedang tersebut disimpan dan akan diberikan kepada Seraphina saat ia sudah bisa menguasai teknik berpedang, dan benar saja apa yang dikatakan kurcaci itu, memang benar Seraphina lah pemilik pedang itu.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh malaikat, iblispun juga mengalami hal yang sama. Sebuah pedang misterius tiba-tiba muncul saat kelahiran Apollyon, pedang bersarung dan berbilah hitam legam itu muncul di Baalzebub. Ketika Lucifer mencari tahu tentang pedang hitam itu dengan menyuruh anak buahnya, ia pun tahu jika pedang itu memang untuk Apollyon dan nama pedang hitam itu ada Tyrfing.