Malam semakin larut, tapi Ryea tidak bisa beristirahat dengan tenang. Pikirannya penuh dengan segala hal buruk yang akan menimpanya. Ia memang tidak butuh tidur, tapi ia bisa tidur jika mengehendakinya, lagipula selama ingatannya belum kembali ia sudah biasa untuk tertidur. Ucapan Rafael dan Eliot berputar-putar di kepalanya dan itu membuatnya tak tenang. Sepertinya ia tidak diizinkan untuk istirahat sejenak. Ryea gelisah, dari tadi ia memutarkan badannya ke kanan dan ke kiri.
“Sekarang apalagi yang akan terjadi padaku.” Ryea menghembuskan nafas berat,
“Percuma saja aku memikirkannya, aku tidak dapat petunjuk apapun dan sekarang aku malah tidak bisa tidur untuk menjernihkan kepalaku sebentar.”
Ryea bangkit dari tempat tidurnya, ia menuju balkon dan memandang ke arah laut. Angin malam menerpa wajahnya dengan lembut, Ryea memejamkan matanya sejenak untuk merasakan angin malam yang menyentuh kulit wajahnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang mendekat dengan cepat, Ryea membuka matanya dan melihat Eliot sudah berada di sampingnya.
“Ka-kau, membuatku kaget saja," kata Ryea berang.
“Maaf. Aku tak sengaja melihatmu, jadi kuputuskan untuk menemuimu,” balas Eliot dengan polos, sayap hitamnya tampak berkilauan malam ini.
“Tapi tidak seperti itu juga. Bagaimana jika ada yang mengetahuinya? Kau ini cari mati,” ucap Ryea kesal.
“Tenanglah tidak akan yang tahu, aku sudah melakukan tindakan pencegahan,' katanya bangga.
“Ah terserah kau saja.” Ryea mengalihkan pandangannya dari Eliot dan menatap laut.
“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini? Bukannya istirahat.”
“Aku tidak bisa. Pikiranku mencegahku untuk istirahat.”
“Kau masih memikirkan yang tadi? Astaga! Apapun itu cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Tinggal dihadapi saja, tak usah dijadikan beban pikiran. Ada aku di sini.”
Ryea terkejut, ada perasaan hangat di hatinya ketika Eliot mengatakan hal itu. Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang di luar nalarnya. Hal-hal yang tidak mungkin terjadi kalau saat ini ia berada di Archangel. Dulu ia sempat menginginkan lelaki di sampingnya ini bersama dengannya, menemaninya dalam waktu yang lama dan sekarang hal itu menjadi kenyataan, setidaknya untuk saat ini.
Ryea menatap Eliot dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
“Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Eliot. Ia menyipitkan matanya.
“Tidak, aku senang kau berkata seperti itu. Terima kasih.” Ryea tersenyum.
“Untuk apa kau berterima kasih segala, aku melakukannya karena keinginanku sendiri.” Ia senang mendengar ucapan Ryea, hanya saja ia tak menunjukkannya. Beginilah karakter aslinya, apa yang dia ucapkan bertentangan dengan perasaan dan bertindak semaunya.
“Kau selalu seperti ini dari dulu, dasar.” Ryea tersenyum dan mengalihkan tatapannya.
“Aku, ya, aku dan tak akan pernah berubah.” Ryea memutar bola matanya.
Ryea masih betah di balkon dan tidak berniat untuk tidur dan Eliotpun masih menemaninya. Malam semakin larut, sepertinya sudah lewat tengah malam. Suasana semakin sunyi dan sepi, tapi suara deburan ombak semakin jelas terdengar. Lama mereka berdua terdiam sambil melihat laut di malam hari, sampai akhirnya Eliot melihat sesosok bayangan aneh berada di halaman depan asrama. Bayangan itu tertutup bayangan gedung asrama putra, walau tidak terlalu jelas wujudnya, tapi Eliot bisa melihat kepalanya bergerak seperti melihat daerah sekitar.
Eliotpun menarik tangan Ryea dan duduk di balik tembok balkon. Ryea tersentak dan hampir saja berteriak karena kaget, tapi Eliot menutup mulutnya dan mengangkat jari telunjuk ke mulutnya menyuruh Ryea untuk diam. Ryeapun mengangguk dan paham kenapa Eliot menariknya. Perlahan Ryea menarik tangan Eliot untuk melepaskan mulutnya, dan ia pun menggenggam tangannya.
“Siapa?” tanya Ryea pelan.
“Entah, aku tidak tahu, gerak geriknya mencurigakan,” jawab Eliot suaranya tak kalah pelan dari suara Ryea.
“Lagi?” tanya Ryea frustasi, baru saja ia bisa melupakan beban pikirannya, tetapi sudah ada masalah baru.
“Tenanglah. Ada aku di sini.” Eliot melepaskan tangannya dari genggaman Ryea dan menarik baru Ryea untuk mendekat padanya. Ryea hanya diam dan meletakkan dagunya di atas bahu Eliot.
“Baru saja aku melupakan masalah yang aku hadapi, sekarang malah sudah datang masalah baru. Kenapa secepat ini, apa aku tidak diizinkan untuk tenang sebentar.” Ryea mendengkus. Hembusan nafasnya mengenai telinga Eliot dan Eliotpun merasa geli.
“Mereka pasti datang cepat atau lambat, mau bagaimana lagi.” Eliot mengusap-usap kepala Ryea pelan.
“Tapi aku belum siap.”
“Mereka tidak akan menunggumu siap, ingat itu.”
“Menyebalkan. Sekarang apalagi maunya?”
“Entahlah, dari gerak geriknya sepertinya makhluk itu sedang mencari sesuatu atau sedang mengamati tempat ini. Nanti akan kubereskan, jangan khawatir.”
“Aku harus segera pulih, Eliot, bersembunyi seperti ini bukan seperti diriku.”
“Kau pasti akan segera pulih, aku jamin itu.”
“Semoga saja benar. Aku lelah seperti ini terus.”
“Istirahatlah, sepertinya kau sangat lelah. Besok kita latihan seharian. Jagalah kondisi tubuhmu dengan baik, kau itu baru saja mendapatkan kekuatanmu kembali. Tubuhmu butuh penyesuaian.”
“Lebih baik kau kembali saja ke kamarmu.” Ryea tidak menanggapi perkataan Eliot karena memang benar apa yang diucapkannya.
“Kau mengusirku? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu seperti ini, pasti kau tidak akan beristirahatkan.”
“Aku akan berisitirahat. Kau kembali saja.”
“Tidak. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, lagipula aku belum tahu apa tujuan makhluk tadi, tidak mungkin aku membiarkanmu begitu saja.”
“Kau ini keras kepala sekali, menyebalkan.”
“Terima kasih. Aku memang seperti ini dari dulu. Bukannya kau sudah tahu,” jawab Eliot santai.
“Ka-kau....” Ryea kehabisan kata-kata.
“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Lebih baik kau tidur sekarang.”
Ryea menghembuskan nafas kasar, kemudian ia menyenderkan kepalanya di bahu Eliot. Eliot terkesiap, maksud ucapannya tadi menyuruh Ryea untuk tidur di kamar, bukan di sampingnya. Ryea sepertinya tidak menyadari maksud ucapannya tadi, tapi sudahlah malah lebih bagus seperti ini. Eliot mengusap kepala Ryea dengan pelan, tak lama kemudian terdengar nafas teratur, akhirnya Ryea terlelap juga dan tanpa sadar Ryea memeluk perut Eliot dan menyembunyikan kepalanya di bahu Eliot.
“Kau tahu, sudah dari lama aku mengharapkan hal ini terjadi dan akhirnya terjadi juga. Untuk sementara, aku tidak menyesali keadaan yang sedang kita hadapi sekarang. Yang akan terjadi nanti, mari kita cari jalan keluarnya bersama.” Eliot mengecup puncak kepala Ryea dan mempererat pelukannya.
Eliot menutup matanya, tapi ia tidak benar-benar tertidur, ini dia lakukan agar kewaspadaannya tidak menurun. Padahal ia tidak perlu terlalu waspada, lagipula sepertinya makhluk itu bawahan salah satu petinggi iblis, tapi karena Ryea bersamanya mau tidak mau ia harus memasang sikap waspada.
“Kuharap kau berada di sana sampai besok. Aku masih ingin seperti ini bersama Ryea,” kata Eliot. “Apa sebaiknya aku memasang tabir di sekelilingmu, agar para bawahan itu tidak bisa mengenalimu? Tapi tabir itu tidak akan mempan untuk mengelabui iblis tingkat tinggi dan sepertinya memang harus, karena aku tidak bisa dua puluh empat jam berada di sampingmu.” Eliot memikirkan gagasannya itu sementara matanya tertutup.
Masih ada beberapa jam lagi sebelum matahari terbit, Eliot memutuskan untuk beristirahat sejenak tanpa menurunkan kewaspadaannya.